Nuna Kecil (Edisi Sampingan) – Bukan Cerpen

Aku ga pernah nyangka kalo cerpen Nuna Kecil terus berlanjut hingga saat ini. Meski saat ini pun sedang enggak ditulis atau pun dibuat konsep ceritanya. Namun, Nuna kecil ini kisah yang sampe saat ini enggak berminat aku tamatin. Lanjut terus. Kayak Doraemon yang enggak tamat, Nobita yang enggak lulus-lulus SD. Begitu pula dengan sosok Lupus yang SMA terus. Aku buat konsep Nuna kecil sebagai siswi SMA dan sampai saat ini pun masih terus memperjuangkan ceritanya sebagai siswi SMA. Meski di beberapa cerita aku mengisahkan tentang dia yang udah lulus SMA atau pun sudah lebih dewasa tetapi ketika mengonsep lagi tentang Nuna Kecil, cerita akan kembali saat ia menjalani masa SMA-nya. Sampe saat ini sih masih ga ada kelanjutan dari ceritanya. Ha wong cerita yang mau dibuat seri ini mandeg di awal. Semakin lama jadi semakin enggak produktif nulis nih. Enggak punya semangat. Semoga kisah Nuna Kecil kembali lagi nanti.

Namanya Juga…

semalem mimpi lucid dream, di mana aku tau kalo itu mimpi. Sadar kan kalo ini mimpi jadi coba cubit dll. Pembuktian bahwa itu mimpi.

Setelah sadar, aku berniat bangun dari mimpi itu. Agak susah sih tapi akhirnya bisa bangun juga. Eh ternyata setelah lama aku baru sadar itu masih di dalam mimpi juga. Ternyata mimpi lucid drean di dalam mimpi.

aku menyadari itu mimpi karena akhirnya aku terbangun dari sana. Beraktivitas, melakukan kegiatan sehari-hari. Tanpa aku sadari ada keganjilan di sana. Hingga entah kenapa kok satu kejadian terulang-ulang terus. Dan baru aku sadari. Itu pun masih di dalam mimpi.

Aku buka mata pelan. Kamar gelap. Aku ga tau lagi ini lagi di mana. Selang beberapa lama baru sadar. Ini kamarku. Nah barulah aku benar2 bangun dari mimpi. Kebanyang ga tuh, berapa tingkat mimpinya…
Di setiap tingkat mimpi aku ketemu temen2 lama… unik sih… tapi sebaiknya ga perlu terulang…
Nb: aku baca doa loh sebelum tidur… 

Rame-rame FM Edisi 2

“Satu dua tiga Rame-rame FM, selamat malam Rame-rame youngster,” sapa Dika mengawali siaran malam ini.

“Dengan berberat hati, aku ingin katakan bahwa malam ini aku harus siaran sendirian, karena Mbak Tikanya sedang liburan, entah dia pergi ke Medan atau ke Pamekasan. Sebetulnya enggak ke tempat-tempat itu sih, cuma mau buat kata-kata yang pas rimanya biar kayak rapper.”

“Yuk, awali malam ini dengan satu lagu dari Nidji. Lagu dari album pertamanya berjudul Sudah,” suara lagu mulai mengeras, Dika pun mengecilkan volume mikrofonnya.

“Helo ma men…, Pak produser yang setia menemani, apa kabar malam ini? Masih galau Pak? Besok libur loh…, akhir pekan gitu,” Dika yang tak pernah puas ngisengin Febrian memulai aksinya.

“Bagusnya cowok jomblo kayak kamu kasih siaran di akhir pekan aja ya, biar dunia bisa lebih damai dan mungkin bisa menghibur dirimu,” balas Febrian.

“Asal naikin gaji sih oke aja, ya ga?” Dika memberi kode pada kru yang bertugas dan mereka hanya memberi acungan jempol.

Obrolan yang meriah akhirnya berakhir ketika Dika harus kembali siaran. Para kru yang bertugas pun kembali berada di posisinya masing-masing.

Continue reading

Telpon

Tigapuluh menit telah berlalu. Anna merasa begitu kesal karena harus menunggu sendirian di sebuah taman kota. Sore ini ia janjian dengan Genta untuk nonton bareng tetapi sampai saat ini sosok Genta masih juga belum nampak. Anna akhirnya berinisiatif untuk mengirimkan pesan singkat ke Genta. 

Hei, cepetan dong. Aku udah bosen nunggu nih!

Limabelas menit berselang, pesan Anna belum juga dibaca oleh Genta. Anna pun kembali mengiriminya pesan singkat.

Ah Genta!!! Aku udah bosen banget nunggu di sini!!! Cepetan sampe!!! Pokoknya aku minta beliin es krim, aku sebel!!! 
Lima menit berlalu dan seperti yang terjadi sebelumnya. Pesan Anna belum pula dibaca oleh Genta.

Anna makin kesal, sebal, dan dongkol. Ia pun memutuskan untuk menelpon Genta. Sayangnya, telponnya tak diangkat pula. Ia kembali menelpon Genta. Akhirnya telpon tersambung.

“Genta, kamu ngapain aja? Aku udah lama nunggu nih!” ucap Anna dengan nada galak.

“Anna, maaf ini Tante Mira,” balas suara dari seberang.

“Oh, maaf tante. Anna kira Genta. Anna lagi janjian sama Genta sore ini tetapi Genta belum juga sampai sini,” Anna mencoba memberi alasan akan ucapannya yang kurang sopan tadi.

“Anna, Tante minta maaf. Genta tidak bisa menepati janjinya,” suara yang Anna dengar terasa berat dan tercekat. Ia merasa Tante Meri berucap sembari menahan tangis.

“Tante, ada apa?” tanya Anna lirih. Ada rasa takut yang pelan-pelan memeluk dirinya.

Tak ada suara yang terdengar. Anna hanya mendengar suara Tante Meri yang sesenggukan.

“Tante…, sekarang Tante ada di mana?” Anna bertanya dengan suara yang semakin lirih. Ketakutan sudah memeluknya dengan erat kini. Degup jantungnya makin kencang berpacu, keringat dingin, dan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia begitu takut bila setelah ini ia dapati suatu berita yang menyedihkan.

Selesai…

10 Februari 2017

Lupakan Saja Judul, Tak Ada Pun Tak Masalah

Aku hanya seorang yang ia kenal

Tak lebih

Yang mana tak perlu banyak waktu untuk berkomunikasi

Hilang pun ia tak akan peduli

Dan sebaliknya

Aku begitu senang ia membaca chatku

Berharap ia membalasnya

Namun, apakah ia ada waktu?

Aku ingin segera selesaikan

Antara hubungan yang berlanjut

Atau berhenti di sini…