Siapakah Dirimu?

Kali ini aku dibuat olehmu bertanya-tanya tentang sosokmu. Apakah aku mengenalmu? Ataukah kita sebatas pernah berpapasan dan hanya mengetahui nama? Aku tak tahu, jawaban mana yang akan kau jawab. Keberadaanmu adalah nyata, aku meyakininya. Sosok yang mungkin akan membuatku kembali mengingat masa lalu. Karena aku yakin, bahwa dengan sedikit membongkar-bongkar ingatan di masa lalu, aku mungkin bisa temukan kamu di sana. Terselip di sebuah kenangan sederhana tentang awal pertemuan atau sebuah obrolan yang menyenangkan. Continue reading

Advertisements

Bukan Tentang Itu

Hidup adalah sebuah perjalanan dan pertemuan adalah satu titik yang dihubungkan oleh garis-garis takdir yang memang telah ditulis, bahkan sebelum kita lahir. Perpisahan, bukanlah hal yang luar biasa, ia sama seperti halnya pertemuan. Hanyalah bagian dari titik yang dihubungkan oleh garis takdir. Bukan tentang siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan tetapi tentang perjalanan dari kehidupan ini, apakah memang menuju arah yang sama atau arah yang berbeda? Kita memiliki arah persinggahan masing-masing. Kita hanya membersamai dan dibersamai  orang lain yang asing di hidup kita, yang kemudian tak lagi menjadi asing karena sebuah perkenalan. Kemudian saat kita berpisah, kita bisa saja bersedih karena ia yang dulunya asing telah menjadi seseorang yang dekat dalam kehidupan kita. Sekali lagi, bukan tentang meninggalkan dan tinggalkan, ini semua hanya tentang sebuah perjalanan yang memang sedang kita tempuh. Hingga akhirnya kita semua menuju akhir yang sama, cepat atau lambat…

Mengirim Rindu

Mengirim rindu; aku tak tahu bagaimana cara terbaik untuk mengirim rindu. Hal terburuk dari sebuah rindu yang kita rasa adalah saat kita tak mampu untuk mengutarakannya pada sosok yang kita rindu. Dan aku masih sering dapati, perasaan rindu yang sampai saat ini tak bisa aku sampaikan padanya. Aku ingin mengirim rindu ini padanya. Sayangnya begitu pekat rasa takut yang kurasa. Jikalau rinduku ini hanyalah perasaan yang kurang terjaga. Mungkin memang benar harus ada beberapa perasaan yang cukup dijaga di dalam hati saja. Hingga akhirnya ia dirasa cukup pantas untuk diungkapkan…

​Bukan Kebetulan

Aku selalu meyakini bahwa tak ada yang namanya kebetulan. Pertemuan kita di saat kuliah bukanlah kebetulan karena kita satu fakultas, bukan pula karena aku menjadi panitia ospek waktu itu. Pertemuan kita adalah kehendak-Nya tidak kurang dan tidak lebih. Bahkan saat kita tak sengaja berpapasan di perpustakaan kampus dan hanya sempat saling melambaikan tangan, itu pun bukan kebetulan. Sadar atau tidak, kita memiliki nilai sendiri-sendiri saat bertemu seseorang. Mungkin bagimu berpapasan atau bertemu dan mengobrol denganku adalah hal yang biasa saja. Karena mungkin aku bukan sosok yang spesial dalam hidupmu. Tetapi sangat berbeda dengannya, yang pertemuannya cukup berharga bagimu. Hingga kau tulis di dalam cerita-ceritamu. Dan mungkin tidak kebetulan pula bila akhirnya aku bisa dekat denganmu. Menjadi teman dekat yang sering sekali mendengar ceritamu. Semenjak beberapa waktu yang lalu, kita menjadi lebih akrab dari saat kita awal bertemu dahulu…