Semua Menang, Semua Senang

Di sebuah kelas, seorang guru bertanya pada murid-muridnya.

“Anak-anak, apakah ada 2 juara 1 dalam kompetisi liga sepak bola?” Tanya guru tersebut.

“Tidak,” jawab murid-murid secara kompak.

“Lalu ada berapa juara 1 dalan kompetisi tersebut?” Tanya sang guru kembali.

“Hanya ada satu, Pak,” jawab seorang murid.

“Bagaimana dengan perlombaan balap motor?”

“Apakah bisa ada 2 juara satu?” Lanjut sang guru.

“Tidak,” murid-murid kembali menjawab dengan kompak.

“Bapak, jadi penasaran. Kenapa cuma ada satu juara ya? Kenapa enggak dua, tiga, empat, atau semua saja yang menjadi juara?”

“Itu tidak mungkin, Pak. Karena pialanya cuma ada satu,” jawab seorang murid.

“Nah, kalau begitu buat saja banyak piala. Agar semua menang, semua senang.”

Semua anak terdiam. Sang guru tersenyum.

“Inilah dunia, anak-anak. Hanya ada sedikit orang yang ada di puncak piramida. Namun, ingatlah ini. Ada sebuah lomba, yang mana semua yang ikut lomba itu bisa menjadi pemenang, tidak saling bersaing tetapi saling membantu satu sama lain,” sang guru memberi nasihat.

Terlihat semua murid begitu penasaran akan lomba yang akan diberitahukan oleh sang guru. Sang guru pun tersenyum sembari menjelaskan tentang lomba tersebut.

“Lomba yang bisa dimenangkan oleh semua yang ikut di dalam lomba tersebut adalah lomba berbuat kebaikan. Kita semua semua di sini, kalian semua dan bapak bisa ikut dalam lomba ini dan menjadi pemenangnya. Karena lomba dalam kebaikan berhadiah Jannah (surga) di mana Allah tak akan pernah batasi jumlah yang masuk di dalamnya selama mereka memang layak masuk di sana. Dan kita, berlomba-lomba mendapatkan surga dengan berbuat baik, beribadah, saling mengingatkan. Alih-alih membuat kita kalah, membantu mengajak, dan mengingatkan pada hal baik, semua yang kita lakukan itu membuat kita makin mendapat nilai positif untuk meraih hadiah berupa surga.”

Murid-murid terlihat mengangguk-anggukkan kepala. Sang guru tersenyum lalu kembali bertanya.

“Wahai murid-muridku, sudahkah bersiap untuk berlomba dan menjadi juara bersama-sama?”

“Ya, kami siap!” Jawab murid-murid dengan lantang.
Permadi Heru P

6 Juni 2017

Alhamdulillah Ya Allah…

Alhamdulillah ya Allah, tapi beneran deh ga sengaja…   

Sore ini, azan sudah berkumandang saat aku sedang jalan menuju Masjid Darul Islah. Sesampainya di sana, aku langsung dipersilakan duduk untuk menikmati iftar. Alhamdulillah, berbuka dengan segelas teh hangat, gorengan, dan es kelapa muda.

Seusai berbuka, dilanjut dengan sholat Maghrib berjamaah. Pas ketika tahiyat akhir… suara hujan mulai mengeras. Hujan yang tiba2 datang membuat udara panas berubah dingin. Sebetulnya hari ini sudah cukup sejuk sih udara. Hujan tak pula berhenti setelah aku sholat bada Maghrib. Ini bisa bikin gagal makan di masjid. 

Alhamdulillah, hujan tidak memadamkan niatan makan berjamaah di masjid, yeay…! Dengan semangat jomblo mencari jodoh (semangat 45 udah terlalu mainstream, dan pula semangat jomblo mencari jodoh itu ga kalah hebat atau mungkin lebih hebat [halah]), kuterjang hujan dengan jaket parasutku. Sebetulnya sih hanya turun dari lantai 2 ke lantai 1 tapi kalo hujan deres gini ya jadi sebuah perjuangan tersendiri.

Kalo ga salah lauk kali ini cukup oke, tadi ga sengaja liat. Dan setelah ikut ngantri. Jeng-jeng-jeng… tibalah giliranku mengambil nasi, karena masih ada orang di belakangku, aku jadi ngerasa agak terburu2 mengambil jatahku. Aku mulai dengan menyendok nasi. Ga banyak, cukup aja. Ada sambel ati kentang, dikit aja. Ada selada juga meski hari ini sudah Rabu (maaf kalo guyonannya jayuz). Lalu… lalu… ayam bakar…😍😍😍  uwow… senangnya hati ini. Dalam hati, pengen nih dada plus paha tapi kalo aku kayak gitu ya ga sopan. Masa ya maruk… ya pastilah aku milih dada… lalu setelah selesai ambil lauk lain aku mencari tempat duduk untuk makan. Alhamdulillah, waktunya makan. Dan saat melihat isi di piringku. Aku heran, kan tadi aku ambil dada. Kok ada paha? Loh…

Aku mulai mengintrogasi para calon pengisi perut yg berada di atas piring. Hei, kalian, jangan ngumpet di bawah selada dan krupuk udang, karena udanglah yg biasa berada di balik batu. Aku mulai menggeledah isi piringku, satu persatu aku cocokkan dengam daftar yg sepertinya aku ambil. Oke, semua ada. Termasuk dada ay bakar. Eh, bentar. Dada ayam bakar? Kok ada? Eh ini paha bakar… jadi… aku ga sengaja ambil 2? Dada dan paha? Astaghfirullah…

Ya Allah, ga sengaja nih.

Eh bentar…

Alhamdulillah ya Allah, tapi beneran ini ga sengaja loh…

AKHIRNYA AKU MAKAN DENGAN DAMAI. Tanpa dipungkiri masih ada perasaan bersalah karena ga sengaja ambil jatah ayamnya 2…

TAMAT 

Ramadhan di Tahun 2017

Setelah azan Maghrib terdengar, Ramadhan telah dimulai. Berlomba-lomba untuk mendapatkan banyak pahala dan bonus-bonus dimulai..

Selamat menyambut Ramadhan semua…
Dari Permadi Heru, seorang saudaramu…😊

Sebutlah Namaku Di Dalam Doamu

Kita tak pernah tau, doa siapa yang akhirnya diijabat (dikabulkan) oleh Allah sesegera mungkin. Karena aku yakin, doa kita pasti didengar dan dijawab oleh Allah. Oleh karena itu, izinkan aku untuk memintamu untuk sebut namaku pula dalam doamu. Dalam sujud-sujudmu, karena mungkin saja Allah mengabulkan doa-doamu sesegera mungkin untuk kebaikanmu dan orang-orang yang ada di dalam doamu.

Doakanlah aku, sebutkanlah namaku dalam doa-doamu. Ingatlah aku di dalam doa minta ampun pada-Nya, agar aku pun diampuni segala dosanya. Ingatlah aku di dalam doa minta keberkahan, keselamatan, dan ketetapan dalam islam di dunia dan di akhirat, agar Allah pun menyayangi dan mencintai aku di setiap waktu, hingga di hari pembalasan aku pun mungkin terselamatkan karena doamu.

Mohon sebutkanlah namaku di dalam doamu. Karena aku pun saudara seimanmu… 
Permadi Heru P

Merelakan

Apa yang sebenarnya kita relakan? Tidak ada yang mutlak kita miliki, tidak untuk nyawa kita sendiri. Sehingga tak perlu pula merasa begitu bersedih saat kehilangan. Karena pada dasarnya semua hanyalah milik-Nya. Ia bisa saja sewaktu-waktu mengambil apa yang memang menjadi milik-Nya. Selalu siap akan kehilangan, selalu siap akan kepergian. Itulah yang harus kita jaga di dalam diri kita. Agar kita bisa menikmati apa yang Ia pinjamkan kepada kita.

Sampai pada waktunya tiba, kita sudah siap untuk melepaskan. Karena merelakan apa yang memang bukanlah milik kita adalah hal yang memang harus kita persiapkan. Tak ada yang perlu untuk dipersedih, karena awalnya kita memang tidak memilikinya.