Ajang Uji Hati

Tulisan di hari ke duabelas, tentang kegiatanku di hari Sabtu kemarin. Namun, selum masuk ke tulisan inti. Mau cerita yang ga penting dulu, ini tentang tulisan-tulisanku. Sungguh menyedihkan melihat tulisan-tulisanku yang akhirnya isinya seperti cerita pribadi ala-ala blog pribadi gitu. Pengennya buat berbagai bentuk tulisan tetapi karena jarang-jarang baca jadi malah nulis yang gini-gini mulu. Ga berkembang nih tulisannya. Ya udahlah, untuk sementara ga apa, semoga nanti ada waktu untuk memperbaiki tulisan ini. Oke-oke segera kita mulai tulisan kali ini.

Seperti biasanya, aku masuk kerja di hari Sabtu karena memang sedang bertugas untuk mengawal kegiatan yang bisa saja terjadi di perpustakaan. Entah kenapa aku sendiri merasa kata-kata yang baru saja aku ketik itu unik, eh ngapain dibahas juga ya? Oke kita kembali ke pokok bahasan lagi. Aku akan kembali ulangi…

Hari Sabtu kemarin aku bertugas untuk masuk karena memang menjadi giliranku, seperti pekan yang lalu, aku naik grabhitch untuk menuju tempat kerjaku yang sekarang lebih jauh dari tahun lalu. Dua hal yang membuatku memakai layanan grabhitch dari pekan lalu. Pertama, karena ada yang mau ambil pesananku, kedua karena harganya lebih murah dibanding grab bike (50% dari harga grab bike) dan Alhamdulillahnya lagi aku dapet diskon jadi cuma bayar 3000 untuk sekali jalan.

Berangkat kerja dengan orang yang sama, namanya Mas Yudi, perawakannya tinggi dan agak kurus, seperti diriku. Mas Yudi ini kerja di Jakarta, aku ga gitu banyak tanya sih soal kehidupannya tetapi soal berkendara Mas Yudi ini cukup baik. Sopan berlalu lintas dan enak aja gitu diboceng sama Mas Yudi. Aku sudah 2x ikut Mas Yudi, karena sepertinya Mas Yudi memang lagi enggak sibuk-sibuk amat di hari Sabtu pagi.

Bila sebelumnya aku pulang nebeng cowok, Sabtu kemarin yang ambil pesananku cewek. E buset, beneran deh bikin dag dig dug, mulai dari tau yang ambil cewek aku jadi pikir-pikir lagi. Baiknya ambil atau tolak ya? Belum genap jam 2 siang, mbaknya telpon aku. Ga ngerti lagi deh, ini udah dijemput. Ya udah deh, aku pulang sebelum jam 2 siang, kurang dikit sih, kisaran 10-5 menit. Ketemu sama si Mbaknya ini depan prominence, ngobrol bentar untuk menentukan siapa yang di depan. Akhirnya aku yang di depan.

Jujur, dag dig dug ouy… udah lama ga ngendarain motor, udah gitu harus mbocengin cewek lagi, parahnya jalan di bundaran Living World tuh rame bukan main. Ngeri-ngeri sedep lah… Banyak-banyak baca zikir dan istighfar di perjalanan. Kita ga banyak ngobrol di perjalanan, aku grogi, karena jarang-jarang ngendarain motor plus harus bawa mbaknya dengan selamat (akunya juga harus selamat sih). Mana jalan kan rame tuh, aku cuma berani di lajur kiri terus. Kecepatan kisaran 40-50-60 km perjam aja mentok dan itu jarang banget aku pake. Intinya sih perjalanan aman, meski sedikit bermasalah di bundaran Living World. Ya pengalaman banget deh kemarin Sabtu itu.

Setelah sampai kamar, tangan kanan langsung diistirahatkan karena tegang banget. Hadeh…, gitu deh ceritanya. Seru ga? Seru… Mau nambah lagi enggak? Kayaknya enggak. Besok lagi mungkin akan yang sama jenis kelaminnya aja. Biar lebih aman, dan juga biar menjaga hati. Ntar baper lagi kalo cewek. Hahaha…

Udah, gitu aja ya tulisan #nulisrandom2017 di hari ke duabelas ini. Semoga menginspirasi (menginspirasi dari mananya…) terima kasih sudah membaca sampai akhir… TAMAT (berasa cerpen)

Permadi Heru P

18 Ramadhan 1438 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s