Menikah Denganku

Prawita Niken Wedhana atau yang sering dipanggil Ita. Seorang gadis berkulit putih, berpipi tembam, berambut panjang bergelombang, dan pemilik senyum yang manis tersebut kini sedang terdiam, membisu seribu bahasa. Ia mematung. Pikirannya kacau, seakan-akan semua perbendaharaan kata yang ia miliki hilang kemudian muncul secara acak membanjiri pikirannya, terlebih lagi semua kenangan-kenangan yang miliki menyergapnya, saling tumpuk memenuhi otaknya. Pernyataan itu terlalu mendadak untuk ia dengar, karena tak pernah ia berpikir pernyataan itu akan muncul saat itu.

Di hadapnnya, di kursi yang berhadapan dengan tempat ia duduk menanti dengan tenang seorang pemuda yang umurnya hanya terpaut satu tahun dengannya. Tatapan pemuda tersebut langsung menujunya, sebuah keseriusan terpancar dari tatapan tersebut. Ita masih tetap terdiam, keraguan, kebingungan, dan kerterkejutan terpampang di mimik wajahnya.

“Jadi bagaimana?” tanya Tio pada Ita.

“E…,” Ita masih tak bisa berkata-kata.

“Aku serius mengajakmu menikah, aku tak punya pikiran untuk berpacaran denganmu, toh kita sudah kenal sejak masa kuliah, pub bila kamu masih butuh waktu untuk mengenalku, kita punya waktu di sisa umur kita untuk saling mengenal, bahkan lebih dari itu, kita bisa saling memiliki untuk terus memperbaiki diri,” Tio berkata tanpa ada keraguan di setiap katanya.

“Ka-kak… ya-kin… dengan…, keputusan kakak?” tanya Ita terputus-putus. Ia masih belum pulih sepenuhnya dari keterkejutannya.

“Aku yakin, dari awal kita bertemu, dari awal aku menatap senyummu. Aku yakin sepenuhnya bahwa aku ingin bersamamu, ingin menjalani sisa hidupku denganmu. Bahkan setelah kamu tolak aku di tiga tahun yang lalu, aku masih tetap menatap foto profilmu di LINE dan begitu senangnya aku hari ini bisa bertemu denganmu di sini, aku pun sudah memutuskan bila memang kita bisa bertemu dan berjalan dengan baik seperti saat ini, maka aku akan melamarmu,” wajah Ita memerah, wajahnya yang putih menjadi merah seperti kepiting rebus. Lupakan blush on, ia tak perlu gunakan make up itu karena rona merah yang muncul karena rasa malu itu lebih alami dan begitu menggemaskan.

Ita kembali memutar ingatannya tentang kejadian beberapa menit yang lalu.

“Ita, hubungan kita setelah ini akan seperti apa?” tanya Tio padanya.

“Maksud dari kakak?” Ita berbalik tanya.

“Menurutku, bila Ita mau aku ajak jalan seperti saat ini, berarti Ita tidak hanya berpikir kita sekadar teman atau hubungan kakak angkatan dan adik angkatan kan?”

“Ehm…, iya sih…, kalo kakak sendiri berpikir yang sama?”

“Jelaslah, iya. Aku ga berpikir Ita sebagai adik angkatan. Kamu lupa tentang tiga tahun yang lalu?”

“Eh? Apa ya?”

“Lupakan saja soal itu, jadi bagaimana dengan saat ini? Kita akan lebih dari teman setelah ini?” tanya Tio.

“Kalau kakak, maunya kita pacaran?”

“Siapa bilang kita akan pacaran? Kita sudah cukup dewasa,” Ita terlihat bingung mendengar pernyataan Tio.

“Menikahlah denganku,” lanjut Tio.

“Ita?” Tio membuyarkan pikiran Ita pada kenangan yang baru saja tersimpan di dalam otaknya.

“Aku kira, kita akan memulai menjalani hubungan kita dengan berpacaran, tetapi kakak tiba-tiba mengajakku menikah. Aku bingung, kakak yakin? Kakak sudah siap? Kakak enggak bercanda kan?” Ita pikir diajak menikah secara mendadak hanya ada di dalam drama korea dan komik ala webtoon. Namun, nyatanya hal itu terjadi padanya saat itu.

“Aku Inshallah sudah yakin, untuk kesiapan aku merasa sampai kapan pun tak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menanti sebuah kesiapan seratus persen, kenyataannya lebih pada berani mengambil tanggungjawab atau tidak, dan aku siap untuk bertanggungjawab. Dan tentunya, bagiku mengajak menikah bukanlah sebuah hal yang main-main.”

“Jadi, jawabanmu?” tanya Tio yang kembali menanyakan sebuah jawaban sederhana antara iya dan tidak tersebut pada Ita. Meski jawaban tersebut hanya iya atau tidak, jawaban tersebut sangat mempengaruhi hubungan mereka setelah ini.

“I…iya, aku mau, Kak,” jawab Ita.

Tak ada yang tahu senang apa perasaan Tio saat itu. Ia hanya tersenyum simpul, tak ada ekspresi yang berlebihan. Namun, jika menilik ke dalam hatinya. Ia begitu senang mendengar jawaban dari Ita. Rasanya ia ingin berteriak-teriak saking senangnya. Namun, ia tahu ia tak mungkin melakukan hal tersebut karena di sana adalah ruang publik, lebih tepatnya sebuah kafe.

“Wah…, selamat ya, Mbak…,” seorang pramusaji perempuan yang sedang membersihkan meja di dekat meja Ita dan Tio tak sengaja ikut mendengar obrolan Ita dan Tio tersebut. Ia segera mengucapkan ucapan selamat sembari menggenggam tangan kiri Ita dengan kedua tangannya.

Tak diduga seorang gadis lain yang berkerudung mendekati meja Ita dan Tio, ia pun memberi selamat. Tak lama kemudian yang lain pun ikut mendekati meja mereka. Tepukan tangan mulai membahana.

“Keren, Bro. Semoga dilancarkan saat ketemu calon mertua ya?” seorang pria yang cukup berumur menepuk pundak Tio.

Tak disangka obrolan mereka menjadi momen yang spesial bagi kafe tersebut. Tio dan Ita merasa begitu malu dengan yang terjadi saat itu. Mereka memutuskan segera pergi dari kafe tersebut, mereka pun berpamitan dengan orang-orang yang mengerubungi. Saat ingin membayar tagihan, mereka mendapat kejutan kembali dari si pemilik kafe.

“Untuk kalian yang semoga segera menuju jenjang pernikahan, saya gratiskan dari biaya. Saya tunggu undangannya,” ucap si pemilik kafe.

“Terima kasih,” balas Tio.

Tio dan Ita pun segera pergi meninggalkan kafe.

Selesai

15 Maret 2017

Permadi Heru P

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s