Telpon

Dingin di pagi hari, hal itu membuat kedua mata ini terbuka dengan pelan. Tangan kananku segera meraba ke arah bawah kasur, mencari-cari hape yang sedari dini hari tadi aku letakkan di sana. Setelah berada di tangan kananku, aku langsung mengecek jam berapa saat ini dari layar hapeku. Setelah melihat angka-angka di layar hapeku, aku merasa sedikit kesal dengan diriku sendiri. Pukul lima pagi, dengan begini aku telah telat untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Aku sudah bangun di pukul tiga pagi tetapi itu hanya untuk mematikan alaram di hapeku. Setelah itu aku kembali tidur, berharap aku bangun di alaram selanjutnya di jam empat pagi. Namun, nyatanya aku malah terbangun satu jam setelahnya.

Aku membaca doa bangun tidur di dalam hatiku, masih dengan sedikit uring-uringan aku duduk bersila di atas kasur. Kemudian aku menuju tepi kasur dan berjalan menghidupkan lampu kamar. Beristighfar pelan, aku mencoba untuk tersenyum. Di dalam hatiku aku berucap ya udah ga apa, enggak disengaja kok. Enggak pa-pa, kali ini aja ya… aku keluar dari kamar kosku, menuju tempat wudhu di luar ruang tamu. Pukul lima pagi tetapi masih saja sunyi, belum ada yang bangun di pagi ini. mungkin karena hari ini adalah akhir pekan.

Selesai sholat subuhm aku sempatkan membaca beberapa ayat Al-Quran dari juz 29, tepatnya aku membaca surat Al Waqiah. Usai membaca Al-Quran kembali lagi mengutak-atik hapeku. Rentetan pesan yang masuk setelah paket data kembali diaktifkan membuat notifikasi di hapeku cukup ramai. Aku lempar kembali hapeku ke kasur dan memulai rutinitas memasak air panas untuk menikmati segelas teh panas di pagi ini.

Badanku masih terasa pegal-pegal, sepekan ini kerjaanku berubah dari yang biasanya membuat desain untuk publikasi menjadi kuli serba bisa. Mulai dari mempreteli rak-rak buku yang nempel di dinding, mengepak buku-buku, menggotong-gotong buku tersebut, hingga memasang kembali furniture tersebut. Pokoknya banyak deh. Hal itu terjadi karena kantor baru saja pindahan dan kita tidak menggunakan jasa pindahan tetapi menggunakan jasa para staf untuk membantu pindahan. Pokoknya hal itu bikin aku sehat tanpa perlu fitness.

Cukup bicara tentang pindahan dan segala hal yang berhubungan dengan hal tersebut. Baiknya kembali pada teh hangat yang sudah siap untuk aku nikmati pagi ini. Pagi ini teh yang aku buat adalah teh krisan, teh yang terbuat dari bunga krisan yang bila disedu akan berwarna kuning hingga oranye kemerah-merahan, tergantung dari jumlah bunga dan panas air yang dipakai. Teh herbal satu ini menjadi salah satu teh herbal favoritku sejak masa kuliah.

Aku kembali mengambil hape yang tergeletak di atas kasurku, akhir pekan kali ini mungkin akan tidak jauh dari kegiatan menghabiskan waktu menatap layar hape. Sungguh tidak produktif. Sudahlah, biarkan saja saat ini. Karena aku masih merasa lelah, pegal-pegal ini membuatku ingin berleha-leha.

Saat aku melihat tanggal yang tertera di layar hapeku, aku tersadar bahwa hari ini tanggal depalan Februari. Segera saja aku membuka aplikasi chat yang masih menyisakan beberapa pesan yang belum aku baca. Aku ketikkan sebuah nama di sana, dan langsung menuju jendela obrolanku dengannya.

Assalamualaykum

Apa kabar?

Itu yang aku ketikkan dalam jendela obrolan kami. Terlihat baru saja ia terakhir online. Namun, seperti yang sudah-sudah jawaban yang aku nanti akan datang beberapa menit setelahnya. Karena memang tidak ada hal yang menarik untuk aku ceritakan maka aku akan skip cerita kegiatanku hingga pukul tujuh pagi. Setelah melewati sembilanpuluh menit penantian jawaban yang aku nanti akhirnya muncul.

Waalaykumsalam, Alhamdulillah baik mas,

Itu jawabannya, tanpa banyak jeda aku kembali membalas chatnya

Boleh telpon?

Dan kita kembali skip kegiatan-kegiatan yang aku lakukan sembari menunggu jawabannya lagi. Di jam sembilan pagi, setelah aku mandi ia akhirnya membalas kembali chatku.

Kenapa mas?

Aku pun membalas Karena ada yang ingin diomongin

Iya mas, kenapa mas?

Maaf aku lagi diluar

Membaca jawaban darinya aku menduga aku tak akan bisa untuk menelponnya hari ini.

Owh…

Ya udah

Selamat jalan-jalan dulu (emot senyum)

Aku mengira ia tak akan membalas lagi chatku, ternyata perkiraanku salah. Ia kembali membalas chatku.

Ga papa wassap aja kalau mungkin penting,mas

Di dalam hatiku aku berkata, ‘memang penting tetapi enggak untuk aku tuliskan di dalam chat ini. Bahkan menelponmu untuk urusan ini pun masih kurang oke bagiku.’

Ga penting kok…

Kapan-kapan aja pas kamu juga lagi ga sibuk

Atau ga lagi di luar

Sehebat apa pun pembohong, ia tak pernah bisa membohongi dirinya sendiri. Seperti itulah aku saat ini, bisa berkata hal yang ingin aku beritahukan padanya tidak penting adalah hal yang berbanding terbalik dari kenyataan yang ingin beritahukan. Bagiku, hal ini cukup penting.

Oh yaa maaf ya,

Aku hanya membalas dengan emot senyum dan acungan jempol.

Aku menghela nafas panjang. Mungkin masih belum waktunya, mungkin apa yang ditakdirkan Allah masih belum saat ini. Aku hanya bisa berbaik sangka. Aku kembali mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat dhuha.

Hingga petang tiba, hal yang aku lakukan hanya berada di depan laptop untuk menonton film-film yang aku punya sembari ngemil. Waktu azan berkumandang segera menuju masjid di dekat kosan. Kisah ini sangatlah datar, tidak ada seru-serunya. Dan jam enam sore, temanku menelponku. Ia mengajak untuk makan malam bersama setelah sholat maghrib berjamaah di masjid dekat kosanku. Aku mengiyakan ajakannya, karena ga ada salahnya makan bersama dan juga seesekali aku mau traktir temen-temen yang sampai saat ini sih seringnya aku yang ditraktir.

Seperti yang sudah-sudah, makan malam di mie warung tenda yang berada di dekat perempatan jalan ini diikuti oleh aku, sejoli Nesta dan Windy, dan sejoli Alan dan Sifa. Di sana memang aku yang masih sendiri, sementara dua pasang yang bersamaku sudah mengikat janji suci, alah bilang saja nikah, ribet amat.

Aku tak menyangka, obrolan tentang gadis single selalu saja tidak ada habisnya untuk dibahas. Terlebih karena ingin untuk menghilangkan status jombloku. Harus berapa kali aku katakan bahwa aku sudah memiliki seseorang yang aku sukai? Anggap saja hal itu sebagai pemanis kegiatan, mencari kaplingan di surga dengan mendekatkan jodoh pada saudara sendiri.

Saat ini pukul sembilan lebih limabelas menit, aku sudah kembali di kamar kosku. Kembali menikmati apa yang ada di hadapanku sendiri. Kembali membaca-baca apa pun yang ada di layar hapeku, mulai dari lini masa di facebook, line, dan twitter. Tak sengaja aku berhenti di postingan yang dibagikan oleh dia yang chat denganku.

Datangi ia dengan menempuh jalan yang halal, ia yang shalihah tak akan rela bila didatangi melalui jalan kemaksiatan.

Aku hanya bisa tersenyum getir. Mungkin caraku salah, mungkin pula bukan ia yang Allah takdirkan untukku. Baiknya sekarang aku tidur dan berharap besok pagi aku bisa bangun dini hari pukul tiga.

Dan ia yang ulangtahun hari ini. Ah sudahlah, waktunya untuk mematikan lampu dan membaca doa tidur…

8 Februari 2017

Permadi Heru Prayogo

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s