We don’t talk anymore


Bagaimana bila kita gambarkan suasana saat ini adalah hujan deras dengan petir yang meraung-raung dan angin yang begitu bersemangat menggoyangkan pohon-pohon agar berayun dengan riang, mungkin lebih tepatnya berayun dengan arogan. Tak ada lampu yang menyala di kamar, tidak ada alat elektronik yang menyala tanpa bantuan baterai. Hujan telah memerangkap kehidupan menjadi dunia tanpa aliran listrik. Dan di kamar yang aku ceritakan tersebut, ada aku yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar. Tiada yang aku lakukan, hanya indera pendengaranku saja yang begitu fokus mendengar kata demi kata lagu yang didendangkan oleh Charlie Puth bersama Selena Gomez.

Lagu tersebut sudah merebut peringkat pertama di jajaran lagu yang sering aku putar di ponsel pintarku. Terus berulang-ulang aku putar, pagi-siang-sore-dan-malam. Tak ada lagu lain yang aku dengar selain lagu itu kali ini. Bila ada lagu lain yang aku dengar, pasti itu bukan dari daftar putar lagu yang ada di dalam laptop dan ponsel pintarku. Dan tentunya, aku tak peduli akan lagu-lagu tersebut. Hanya sekali lewat saja aku dengar dan berlalu begitu saja. Ibarat kata masuk terlinga kanan keluar telinga kiri.

Kali ini, saatnya kita keluar dari rekayasa keadaan yang aku buat. Aku tersadar setelah seseorang menepuk bahuku, ternyata itu Dani teman sekantorku. Semua lamunanku hilang begitu saja, pandanganku berganti pada layar komputerku yang sudah mati karena telah sedari tadi tidak digunakan.

“Ngalamunin siapa sih?” tanya Dani.

“Enggak ada,” jawabku salah tingkah.

“Enggak ada? Ehm… mungkin itu nama yang oke untuk menyebut dia yang tidak mau kau ungkap sosoknya,” pandangan penuh curiga dari Dani mengintimidasiku.

“Sudahlah, waktunya kita istirahat. Yuk makan!” aku menatap ke arah jam tanganku.

Sembari menunggu lift yang merangkak naik ke lantai tujuhbelas, tidak ada salahnya kita kembali pada keadaan kamar yang gelap di mana aku sedang menatap ke langit-langit. Lagu We don’t talk anymore masih terdengar sebagai satu-satunya suara yang berasal dari dalam kamarku. Di detik berikutnya, hujan reda seketika, langit biru mengganti awan-awan kelabu, pohon-pohon tak lagi meliuk-liuk dengan ganas. Keadaan cuaca yang tak jauh beda dengan yang kadang terjadi di dunia nyata.

Kuhembuskan napas dengan keras berharap segala kenangan tentangnya hilang bersama hembusan napas. Nyatanya, hal itu tidak terjadi. Bahkan di alam lamunanku saat ini pun tidak. Aku bangun dari keadaanku yang berbaring, berjalan menuju jendela yang berada di sisi utara kamar. Burung-burung muncul entah dari mana asalnya, mematuk-matuk aspal yang kurasa mereka sekadar kurang kerjaan.

“Ting…,” suara dari lift yang terbuka.

“Kita mau makan di mana siang ini?” tanyaku yang sudah kembali ke alam nyata.

“Gampang deh, turun aja dulu. Yang pasti sih bisa bikin perut kenyang.”

Kehidupan nyata yang terkadang membuat kita ingin melarikan diri darinya. Hal itulah yang membuatku menciptakan duniaku sendiri. Sayangnya, di dunia itu pun aku tak bisa sesuka hati melakukan apa yang aku suka di sana. Seakan aku hanyalah tamu di dunia yang dengan senang hati menampungku untuk melarikan diri dari dunia nyata.

Mengobrol saat menunggu makanan yang kita pesan datang? Hal itu adalah hal yang sangat lumrah terjadi. Namun, tidak untukku kali ini. Aku lebih menyukai untuk pergi ke duniaku sendiri, di mana aku bisa melakukan lebih banyak hal dibanding hanya mengobrol. Di dunia nyata, hal yang sedang aku lakukan saat ini disebut melamun. Meski sesungguhnya yang aku lakukan adalah mengasingkan diri di dunia paralel.

Lampu kamar telah menyala, TV dan perabotan lain pun telah berfungsi seperti yang seharusnya. Namun, suara masih hanya terdengar dari ponsel pintarku. Memutar lagu yang menggambarkan keadaan diriku dan dirinya. Dia yang entah di mana saat ini.

“Mau sampai kapan dengerin lagu itu terus?” tanya Vira.

Aku tersenyum kepadanya. Bukan, itu bukan Vira yang sesungguhnya. Itu hanya bayangan akan sosoknya. Aku sadar penuh hal tersebut.

Bayangan sosok Vira berjalan mendekatiku, tatapannya tepat tertuju pada mataku. Hanya tersisa dua meter jarak antara kita.

“Berhentilah mengenang masa lalu, aku dan kamu memang sudah tidak bersama lagi. Hiduplah dengan kenyataan yang ada saat ini,” setelah mengucapkan kata-kata itu bayangan sosok Vira menghilang di antara udara kamarku. Tak ada yang tersisa. Hanya ada aku.

“Duk..!!” suara kepalaku yang membentur kaca resto.

“Sampai kapan kamu melamun terus? Makanannya udah dateng tuh,” Dani menarikku dari dunia paralelku dengan paksa.

“Maaf, terima kasih udah ngingetin,” aku tersenyum kepadanya.

Tak ada obrolan saat makan, kami berdua menikmatinya dalam diam. Berbeda dengan biasanya, di mana Dani akan mengawali pembicaraan dan membahas hal-hal seru yang kekinian tetapi saat ini sepertinya ia tidak ingin mengajakku dalam obrolannya. Tak banyak waktu yang kuhabiskan untuk menikmati makan siangku, meski makanan yang aku santap siang ini cukup enak. Semua seakan hambar di tengah rasa menjengkelkan yang sedang berkecamuk ini.

Selesai makan, kami langsung kembali menuju kantor. Di saat perjalanan pulang aku seakan melihat sosok Vira di tempat yang tidak jauh dari tempatku berada. Aku ingin langsung menuju ke arah ia berada tetapi langkahku tak sedikit pun menuju ke arah sosok itu. Hingga di sebuah perempatan jalan raya, aku menatap lekat-lekat sosok perempuan yang sedang tersenyum ke arah perempuan lain yang ada di sampingnya.

“Itu Vira!” Vira berada tak jauh dariku berada saat ini. Aku percaya hal itu sepenuhnya. Tanpa banyak buang waktu aku langsung berlari ke arahnya. Aku tak melihat lagi lampu rambu lalu lintas yang sedang menyala saat ini. Mobil tipe SUV yang berada di samping kananku tak bisa menghentikan mobilnya secara mendadak.

“Brak…!!!” badanku membentur mobil SUV tersebut dengan kencang. Hal yang aku sadari setelah itu, aku sudah tergeletak di atas aspal dengan darah yang mengalir di beberapa tempat. Mataku masih terbuka lebar. Sosoknya masih berada di sana. Tersenyum ke arah teman perempuannya. Kini aku baru sadar, mataku telah menipuku. Itu semua hanya bayangan sosoknya yang aku panggil melalui kenangan-kenangan akan dirinya yang ada di dalam pikiranku.

Aku tersenyum. Di dalam hatiku, aku telah mengumpat-umpat. Sial, aku tertipu oleh halusinasi

 

Selesai

 

Permadi Heru Prayogo

8 Desember 2016 – 15.10 WIB

 

Catatan penulis (seperti biasanya):

Yeay, jadi lagi satu cerpen. Cerpen ini terinspirasi dari lagu yang kalian sendiri tau kan judulnya. Di LINE aku iseng buat sebuat postingan iseng yang mana itu hanya fiktif belaka. Itu yang mengawali aku menulis cerpen ini. Saat itu aku berpikir, gimana kalo sekalian dibuat jadi cerpen enggak cuma postingan LINE gini doang?

Dan akhirnya aku nulis cerpen ini deh.

Awalnya tokoh ceweknya mau dikasih nama Hanni Prastika agar bisa nyambung sama cerpen sebelumnya. Namun, kayak kurang pas gitu pas masuk adegan di mana bayangan si cewek ada di kamarnya.

Oke, akhirnya penulis mau bilang terima kasih lagi pada kalian yang udah baca cerpen ini. Udah lama ya ga nulis cerpen lagi. Akhirnya nulis lagi untuk yang kedua kali… Terima kasih sudah membaca… ditunggu cerpen selanjutnya ya.

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s