2013-2016

Aku hanya ingin menceritakan tentang orang-orang yang pernah dan sedang menjadi “kapten” di dalam tugasku sebagai seorang pegawai. Aku mulai kerja di tahun 2013 dan masuk sebagai tim PK LPDP di bawah PLC yang saat itu. Itu adalah kerjaan pertamaku setelah lulus dari UI. Jauh dari jurusan yang aku tekuni selama 4 tahun kuliah? Yap tepat sekali jauh sekali… dan tugasku pun tidak menyentuh ranah ilmu perpustakaan saat itu. Oke, kita akan kembali ke topik utama tentang orang-orang yang menjadi kapten di dalam dunia pekerjaan yang aku alami.

download

Bang Adji

Ini adalah sosok pertama yang menjadi kapten, awal ketemu sih wajahnya serius banget. Sumpah, segan tak terkira waktu itu. Hingga pada suatu ketika di malam yang gelap, para peserta PK udah pada istirahat dan beberapa orang ngerjain tugas mereka. Muncullah keisengan dari Bang Adji, tiba-tiba ngoper makanan via dilepar ala pemain basket yang mengarah ke mulutku. Untuk lebih lengkapnya bisa simak percakapan di bawah ini.

“Bang Adji, bagi dong kacangnya,” ucapku yang melihat Bang Adji sedang asyik makan kacang.

“Mau Di? Nih,” balas Bang Adji sembari bergaya pemain basket akan melepar bola basket ke keranjang.

“Boleh-boleh,” aku tak mau kalah.

Dan akhirnya suap-suapan via lempar-lemparan pun terjadi.

NB: di sinilah speaker portabelku ilang. Tiba-tiba inget aja aku punya speaker portabel yang dapet gratisan itu…

Bang Fachri

Bang Fachri mendapat amanah untuk menjadi kapten di PLC menggantikan Bang Adji, karena sesungguhnya Bang Adji bukanlah kapten yang sesungguhnyadi PLC. Udah kenal Bang Fachri semenjak ikut PK dan bertugas sebagai tim (belom jadi kapten waktu itu) sehingga aku sendiri udah cukup kenal akan beliau. Bang Fachri ini dulunya kerja di DD (DOmpet Dhuafa).

Mas Kamil

Setelah PLC putus dengan LPDP, beberapa sosok di PLC ditarik oleh LPDP untuk gabung sebagai tim PK yang memang dibuat oleh LPDP. Dan PK pun diambil alih sepenuhnya oleh LPDP. Bermula dari ketemu Mas Kamil di Stasiun Gubeng (kalian yang ga tau di mana Stasiun Gubeng berada silakan di-geevv-in aja di geevv.com), Mas Kamil ngajak untuk gabung ladi di PK LPDP. Ajakan tidak datang 2x, ya aku iyain aja. Mulai berkembang tim PK pun makin gonta-ganti anggota timnya, mulai dari yang emang mau gabung sampe yang sebetulnya iseng aja gabung, atau melarikan diri dari tugas negara.

Kembali lagi pada Mas Kamil, beliau ini meski kadang nyebelin tapi banyak sisi baiknya. Contohnya, kadang gaji turun sebelum selesai kerja bahkan sebelum kerja dimulai. Sangat tidak mau mengambil hak yang bukan haknya. Bahkan beliau mencuci pakaian anaknya yang tidak termasuk dalam budget laudry untuk tim PK LPDP. Salut deh untuk Mas Kamil tentang hal ini.

Namun, di sisi seni. Mas Kamil ini bisa dinilai nyeleneh. Pas yang lain setuju warna A, Mas Kamil sendiri yang tidak setuju dan pengennya warna C. Pernah, sampe (anggap aja namanya) Tika mengadu pada istrinya Mas Kamil. “Mbak (kita samarkan namanya menjadi) Via, itu Mas Kamil kok aneh sih. Kan warna A bagus ya kenapa mintanya warna C?”. Mbak Via tersenyum dan menjelaskan bahwa Mas Kamil memang gitu orangnya, ia pun kadang bingung menanggapi rasa seni Mas Kamil. Aku sendiri hanya senyum-senyum aja mendengar obrolan itu.

Bang Tino

Menjadi kapten untuk PK LPDP khusus BPRI, Bang Tino adalah kakak angkatan di UI dan mantan calon ketua BEM UI. Saya milih beliau loh waktu itu, sayangnya gagal. Bang Tino ini bukan hanya sekadar kapten yang bisa memberi arahan tetapi juga memberi ruang bagi timnya untuk berkembang. Di saat awal-awal PK Bang Tino bertugas sebagai dewan penasihat di Tim PK.

Bu Maria (A.K.A Bu Nona)

Beliau sampai saat ini masih menjabat sebagai kepala perpustakaan SGU. Sampai saat ini pun Bu Maria masih menjadi kaptenku. Beliau bilang sendiri kalo kadang ia galak, tetapi bagiku sih enggak. Kena marah? Pernahlah, tetapi aku ngerasa hal itu benar dan itu bukan galak. Ini hanya memberi tahu. Jam terbangnya yang juga udah tinggi di bidang perpustakaan membuat perpustakaan yang lumayan ini lebih ringan (bagiku) untuk dijalani. Pembagian tugas yang pas, sistem saling back-up yang menyenangkan dan lain sebagainya. Tak segan beliau kadang menawarkan bantuan saat sedang kosong. Karena waktu itu tugasku pun mudah jadi aku enggak gitu bermasalah dan tidak mengambil bantuan tersebut. Beliau bertugas sebagai pengecek akhir dari tugas katalog yang aku kerjakan. Intinya sih nyaman aja kerja di sini. Karena ada yang ngerasa atasan yang ginilah atasan yang gitulah. Alhamdulillah sampai saat ini selalu oke-oke aja.

Dari jabaran di atas, aku akan membuat sebuah konklusi. Kapten-kapten yang pernah aku rasa sampai saat ini adalah kapten-kapten yang oke. Mereka tidak sempurna, mereka kadang buat salah, dan bisa juga nyebelin. Namun, jauh dari itu semua, aku nyaman-nyaman aja dikaptenin oleh mereka. Kadang sebel sama Mas Kamil pernah juga tapi sadar kalo Mas Kamil oke kok, kena marah Bu Nona, ya udahlah ya ambil hikmahnya aja. Ya gitu deh. Semoga kalian yang membaca tulisan ini pun mendapat kapten yang ketje. Sekian dari Permadi

Permadi Heru P

16 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s