Berbincang Dengan Bulan

Bulan terlihat begitu bulat di langit malam ini, ia sempurna di kala purnama. Obrolanku dengannya pun dimulai di pukul sembilan malam ini. Ini mungkin hal yang terlihat aneh bagi kalian tetapi cukuplah kalian nikmati saja apa yang aku obrolkan dengan Chandra. Aku tarik napas dalam-dalam dan megnhembuskannya perlahan, tersenyum, tanganku kuarahkan ke bulan seakan ingin meraihnya.

“Kau terlalu jauh untuk aku raih, terlalu kekanak-kanakan aku mencoba meraihmu dari sini. Tak mungkin kan itu terjadi,” ucapku mengawali obrolan kami.

Kalian pasti tahu, obrolan ini pastinya bukanlah obrolan yang sesungguhnya. Aku hanya bermonolog ke arah bulan. Seakan ia mendengarkan segala ceritaku. Namun, yakinlah bahwa bulan mendegar segala cerita kita bila kita mengajaknya berbicara.

“Sudah sebulan lamanya semenjak kita berbincang ya, Purnama. Beberapa waktu yang lalu, aku berbincang dengan si Lengkung Indah, Bulan Sabit. Kini, giliranmu yang mendengar ceritaku.”

“Jadi, apa kabarmu? Terlihat malam ini kau hanya sendirian melangit. Atau akunya saja yang tak bisa melihat bintang-bintang yang sebenarnya sedang menemanimu malam ini?”

“Hei, Bulan. Selain kamu, kali ini aku sedang merindukan seorang gadis yang beberapa waktu lalu tak sengaja menumpahkan minumannya ke buku catatanku.”

“Hahaha, bodoh banget ya? Kok bisa-bisanya merindukan orang asing yang namanya aja aku ga tahu, aku hanya bisa mengingat wajahnya yang imut-imut. Pipinya yang tembem dan ekspresi bersalahnya yang begitu menggemaskan.”

“Sumpah, ini konyol.”

“Selain tentang gadis yang buat aku berharap untuk mendapatkan pertemuan kedua dengannya. Ada banyak hal lain yang ingin aku ceritakan padamu. Mungkin, aku akan awali dari tugas-tugas kuliahku dulu ya, banyak tugas yang akhirnya mendapat nilai pas-pasan. Cuma dapet B, B, dan B+, ya gimana ya? Pada minta kumpulin di pekan yang sama. Seakan dosen-dosen pada sepakat untuk buat aku dan kawan-kawanku menemanimu menikmati malam. Meski cuma sekali aku bercakap-cakap denganmu di kala kau melengkung.”

“Di waktu yang sama, adikku yang aku sayangi masih aja galau karena cowok yang dia suka malah suka sama cewek lain. Anak SMA emang cinta banget deh urusannya. Aku suruh belajar yang rajin, eh malah kebanyakan ngurusin ekstakulikuler. Semoga nilainya enggak jeblok-jeblok amat tu anak. Semoga masih masuk sepuluh besar terbaik seangkatannya lah.”

“Apa lagi ya yang ingin aku beri tahukan padamu?” kucoba untuk mengingat-ingat hal-hal yang sepertinya bagus untuk aku ceritakan pada Sang Rembulan.

Lama aku terdiam. Hanya terkadang tersenyum, masih karena sosok gadis itu.

“Apakah kamu juga menatap bulan malam ini?” tanyaku tak pada siapa pun.

8 September 2016

Permadi Heru P

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s