Cerpen Ini Masih Belum Berjudul

Sebut saja namanya Cakra. Salah seorang temanku. Punya cita-cita sebagai tukang jodohin orang dan membuka usaha biro jodoh “pasti pas” berasa pertamina aja. Usahanya cukup gigih untuk membuatku ga bertitel jomblo lagi. Mulai dari mengenalkan aku dengan Nanda, Eva, dan lain sebagainya.
Namun, hingga saat ini usahanya masih gagal. Karena aku masih juga jomblo. Ini bukan kutukan, hanya emang belom waktunya aja ketemu jodoh. Meski masih belum membuahkan hasil. Tu anak masih saja belum menyerah. Belum menyerah untuk mengenalkanku dengan dedek-dedek unyu.
Skip-skip-skip, lama tak ada kabar. Ia sendiri sibuk ngurus jualan baju dan urusan romantikannya yang interlokal atau yang sering disebut LDR. Dan ia pun kali ini muncul dengan sebuah nama yang sudah lama aku kenal.
Nama calon yang ia kenalkan kali ini adalah Sari, adik angkatan masa SMA. Oke, aku juga sudah cukup mengenalnya. Menurutnya, Sari adalah calon yang paling cocok dari kriteria yang aku berikan. Mau tak mau, hal itu memang benar adanya. Si dia emang “pas” di hati. Dan pastinya punya kelebihan tersendiri. Dia itu, galak.
Tanpa Assalamualaykum, Cakra langsung memulai mendekatkan aku dengan Sari. Tak banyak waktu, kami mulai dekat, dari berbalas kabar via line, berteman di path, hingga akhirnya…
Saling hilang satu sama lain. Ga usah ditanya, hubungan kami tak lebih sebatas teman dan hilang tanpa jejak begitu saja seperti tak pernah ada cerita. Misi Cakra, gagal kembali. Dan setelah semua itu, ternyata cerita belum berakhir. Cakra masih bergentayangan.
Ujug-ujug ia tanya, gimana hubunganku dengan Sari. Dan aku hanya bisa berkata bahwa kita udah tidak saling berkirim pesan. Setelah laporan berakhir dia pun memberi tahu bahwa ia baru saja chat dengan Sari. Oke, aku ga peduli. Tapi di pojok kiri atas pikiranku, ada sedikit rasa ingin tahu yang begitu mengganggu. Sudahlah, ga usah dibiasakan.
Berakhir, urusan ingin tahuku hilang ditelan hari. Dan kemudian kali ini. Ia muncul lagi dengan sebuah kiriman gambar via wasap dengan caption: biar seger sebelum berbuka, dapet dari path.
Tanpa melewati satu, dua, tiga, dan empat. Aku langsung dilema. Hapus atau enggak…
Waktu berbuka tinggal 8 menit lagi. Dan tetap saja, foto yang tadi ia kirim tetap saja tak bisa untuk menjadi pembatal puasaku nanti. Semanis apa pun itu, itu hanya foto bukan hidangan untuk membatalkan puasa. Ya, semoga kolak dan kurma bisa menandingi senyum manisnya…

Permadi Heru P
22 Juni 2016

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s