Mengingat Kembali (Bagian 1)

Mulanya, aku sekadar tertarik untuk bercerita (atau disebut juga mendongeng). Hal itu diawali saat latihan teater untuk pementasan PK (Petang Kreatif) di FIB UI. Seorang kakak angkatan menyatakan bahwa ia suka mendongeng (sebut saja namanya Aiyo), bila ada yang tertarik maka dengan senang hati untuk mengajak dongeng bersama. Lantas berminatlah aku untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Menjadi fotografer adalah kegiatan pertamaku di komunitas belalang kupu-kupu, sebuah komunitas dongeng di jurusan ilmu perpustakaan. Di sana aku melihat secara langsung bagaimana kakak-kakak angkatanku mendongeng ke anak-anak kecil. Ga banyak hal-hal yang dibutuhkan, cuma butuh kepedean dan sebuah cerita aja.

Kemudian, aku pun sempat untuk melihat Kak Aiyo di acara Kick Andy. Di sana aku melihat Kak Aiyo mendongeng dengan sebuah boneka tangan berbentuk kelinci. Ceritanya singkat, hanya dua atau tiga menit saja. Namun, begitu melekat diingatanku. Dan setelah itu, aku mulai mencari patner dongeng. Patner pertamaku adalah seekor beruang yang berbentuk boneka tangan. Ia aku beri nama Bibo. Hingga saat ini aku masih belum mengetahui alasan mengapa aku memberi nama boneka tersebut Bibo.

Itu terjadi di bulan Pebruari. Mulai dari sanalah aku suka membawa boneka tangan di dalam tas ranselku (tanpa diketahui oleh teman-temanku). Dan pada suatu ketika, aku iseng menanyakan pada temanku, apakah mau mendengarkan cerita (dongeng)? Tanggapan positif aku terima, aku pun mengeluarkan Bibo kemudian aku mulai bercerita. Jujur, aku lupa, siapa orang pertama yang mendengarkan aku cerita dengan Bibo. Namun, hal yang tak pernah aku lupa, aku pernah mendongeng saat duduk di dalam bis kuning (dengan Bibo di sana) dan beberapa penumpang lain memperhatikanku (mungkin pula mendengarkan ceritaku). Hal itu tidak hanya sekali aku lakukan, mungkin dua atau tiga kali aku pernah lakukan hal tersebut di bis kuning.

Selain di bis kuning, aku kadang pula berbagi cerita di ruang BEM FIB. Kadnag iseng tanya, mau denger dongeng ga? atau juga malah diminta dongeng, Kak cerita dong sesekali di sini. Dongeng-dongeng yang aku ceritakan pun beragam, mulai dari cerita untuk anak-anak kecil hingga cerita tentang kebijaksanaan untuk orang dewasa.

Seiring waktu, aku mulai terbiasa mendongeng dan mulai dikenal sebagai anak yang suka mendongeng. Hal itu membuat beberapa orang bertanya tentang eksistensi belalang kupu-kupu padaku. Apakah belalang kupu-kupu menerima anggota dari jurusan lain? Itu pertanyaan yang kadang muncul dan ditanyakan padaku. Awalnya aku kira, belalang kupu-kupu boleh berasal dari jurusan lain. Ternyata belalang kupu-kupu hanya untuk mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan. Seperti halnya Sasina yang hanya untuk anak sastra Indonesia.

Mulailah dari situ aku memiliki ide untuk membuat komunitas dongeng se-FIB (yang harapannya bisa jadi se-UI). Buat undangan kegiatan di FB, ramai perbincangan di undangan tersebut. Namun, saat hari H kumpul-kumpul tiada orang yang datang. Hal itu di luar ekspektasi. Ya udah deh, mau gimana lagi. Hingga akhirnya salah satu temanku muncul (meski ia tak muncul dalam obrolan di undangan tersebut). Namanya Viktor, ia yang sering sekali mendengar aku dongeng di bis kuning (terkadang ia juga yang menyuruhku mendongeng di sana). Di sanalah awal mula KODAI terbentuk. Meski belum memiliki nama, sebuah komunitas dongeng terbentuk (dengan jumlah anggota dua orang yang mana juga menjadi pendirinya).

Tak sampai situ saja, setelah selesai untuk foto-foto ga jelas aku dan Viktor pergi ke kosan teman Viktor. Inget-inget lupa, aku diberi tahu bahwa temannya yang pernah ia kenalkan bisa juga mendongeng. Namanya adalah Ardha, ya anggap saja aku sudah mulai ingat kembali. Masuk ke kosan cewek untuk pertama kali. Grogi juga meski hanya di terasnya. Setelah obrolan yang cukup lama, akhirnya tercetuslah nama KODAI sebagai nama komunitas ini. Nama tersebut dibuat oleh Viktor, aku sendiri membuat nama yang enggak jelas gitu waktu itu.

Tetapi tidak hanya sampai di situ. Komunitas dongeng dibuktikan dengan mendongeng dong, maka di sana pula aku, Viktor, dan Ardha secara bergantian mendongeng. Yang aku ingat, aku mendongeng berjudul Burung Gagak Pelangi. Hingga saat ini, aku tak pernah lagi menceritakan cerita itu, tenang aja bila ada yang berminat untuk mendengarkannya ada kok di youtube (bukan iklan, cuma ngasih tahu aja kok). Obrolan, dongeng, dan kembali mengobrol lagi.

Nah, itulah awal mula KODAI. Sebetulnya masih banyak cerita yang ingin aku ceritakan tetapi cukup sampai di sini dulu bagian 1-nya agar enggak pada bosen juga. Terima kasih sudah membaca tulisan ini.

 

Permadi Heru P

3 Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s