Cinta Sampai Surga (Bagian 4: Memetik Buah Langit)

Di langit, semua urusan di Bumi ini bisa dengan mudah dijawab olehNya di langit. Lalu, sampai kapan kita terus-menerus mencari jawabannya di Bumi? Terkadang kita telah lupa bahwa jauh sebelum kita tercipta, jawaban akan apa yang kita tanyakan saat ini telah dijawab olehNya di langit.

Dan mungkin, saat ini adalah saat yang tepat untuk mengambilnya. Layaknya memetik apel di pohonnya karena kita ingin menikmati rasa manis buah tersebut. Kita pun perlu memetik jawaban atas pertanyaan kita, dengan memetiknya di langit.

Jam di meja Alfa sudah menunjukkan pukul tiga. Tiga dini hari. Ia masih saja belum bisa untuk menutup matanya, termenung menatap layar komputer yang telah dimatikannya sedari tadi. Obrolan dengan Bunda yang singkat tetapi masih saja belum ia temukan titik temu di dalam hatinya. Membuat Alfa terjaga hingga saat ini.

“Huaaah…,” Alfa mulai merasa kantuk. Inilah keajaiban di pukul tiga pagi, secara tiba-tiba badan akan merasa kantuk.

“Harusnya aku tadi tidur jam sepuluh dan bangun jam tiga dini hari seperti ini, tapi kalo kayak gini, aku bisa-bisa tidur lagi habis sholat subuh, eh kalo aku tidur lagi setelah sholat subuh, berangkat kerja jam berapa tuh?” ucap Alfa pada dirinya sendiri.

Ia akhirnya memutuskan untuk mengambil air wudhu dan memnunaikan sholat tahajud. Setidaknya dua rakaat dan satu rakaat dholat witir. Selain udara dingin dini hari hari, air wudhu yang membasuh wajah, tangan, dan kaki tak kalah dinginnya. Ia segera menunaikan sholat tahajud.

 

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s