Cinta Sampai Surga (Bagian 2: Makan Siang)

Jika Allah sudah berkehendak, apa pun bisa saja terjadi. Apa pun. Gerimis di waktu subuh berlanjut hujan deras di pagi hari dan di siang hari, mentari bersinar begitu terang. Langit biru dengan awan-awan sirus, sebuah tanda hari yang begitu cerah. Namun, kita tak pernah tahu, sore nanti akan hujan atau tidak. Karena angin, awan, dan langit bisa saja berubah sekehendakNya.

“Bro, ayo makan!” ajak Destan.

“Bentar-bentar, aku save dulu kerjaanku ini. Sayang kalo tiba-tiba ilang,” balas Alfa.

“Yaelah, serajin-rajinnya lu nge-save tugas. Akan kalah juga kalo udah kena virus.”

“Jangan doain gitu dong.”

“Udah, cepetan kita makan. Udah laper nih,” Destan menarik kerah baju Alfa agar segera beranjak dari tempat duduknya.

Beberapa jam yang lalu mereka saling berkenalan. Namun, Destan sudah begitu akrab dengan Alfa. Alfa yang sudah menyimpan data kerjaanya langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Destan pergi.

“Kita mau ke mana nih?” tanya Alfa.

“Kita sholat dulu, habis itu kita akan makan siang bersama-sama. Yeay!!” jawab Destan dengan senang.

Alfa hanya tersenyum simpul.

Alfa mengikuti ke mana Destan pergi. Ia sendiri belum tahu di mana letak masjid atau mushola tempat biasa orang-orang kantor ini sholat.

“Kita makan di mana?” tanya Alfa.

“Karena ada kamu, kita akan makan nasi padang,” balas Pak Endrew.

“Iya, kita akan makan nasi padang! Udah tiga bulan semenjak kita makan nasi padang dan karena hari ini ada kamu. Kita akan kembali untuk menikmati masakan khas Sumatera satu ini,” Destan ikut ambil bicara.

Setibanya di rumah makan padang, Mika, Sheila, dan Danu sudah menunggu di meja yang di atasnya sudah terhidangkan masakan-masakan khas Padang yang siap disantap.

“Di tim kita, kita selalu mengajak anak baru di tim untuk menikmati nasi padang bersama di hari pertama ia kerja,” Pak Endrew memulai obrolan.

“Dan tentunya, karena ini adalah hari pertamamu kerja di dalam tim ini. Makan siang hari ini, saya yang akan mentraktir,” lanjut Pak Endrew.

“Inilah kebiasaan di tim ini, anak baru akan disambut dengan makan siang oleh Bapak kita tercinta. Pak Endrew, yeay!” Destan memang orang yang tak bisa untuk diam. Dia selalu membari komentar atau informasi tambahan pada hal-hal yang ia ketahui.

Obrolan berlanjut sembari menikmati makan siang. Alfa menyadari bahwa tim yang ia masuki kali ini adalah tim yang cukup menyenangkan. Selain anak-anaknya sepantaran dengannya, tim ini memiliki kebiasan-kebiasaan yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Seperti saat ini contohnya, mengadakan jamuan bagi anggota tim baru. Selain itu, sekali dalam sepekan akan selalu ada kegiatan makan bareng bersama. Intinya adalah agar terjalin keakraban di antara anggota tim.

Alfa tidak butuh banyak waktu untuk bisa akrab dengan anggota-anggota tim yang lain. Di kegiatan makan siang ini pun Alfa sudah merasa cukup dekat dengan empat anggota yang lain.

(bersambung)

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s