Nuna Kecil Edisi Spesial

Sabtu, 21 Nopember. Sebuah hari yang pasti akan terus diingat oleh Adi. Ia masih terus memacu mobilnya ditemani adiknya yang duduk di sampingnya, Dinna. Tak ada suara dari Adi dan Dinna, hanya suara radio yang terdengar, serta suara mesin mobil yang terus melaju. Tujuan mereka adalah Gedung Merdeka yang berada di daerah pusat kota.
Sesampainya di Gedung Merdeka Adi dan Dinna langsung dapati keadaan yang begitu ramai. Pernikahan yang mereka hadiri kali ini adalah pernikahan yang biasa. Namun, menjadi pernikahan yang cukup spesial bagi Dinna. Ini adalah pernikahan pertama di mana ia adalah salah satu yang diundang di dalamnya. Begitu pula dengan Adi, pernikahan yang ia hadiri kali ini adalah pernikahan yang spesial.
“Ayo, Kak, kita masuk,” Dinna menarik tangan kakaknya.
“Eh, bentar dulu kenapa. Kakak masih belum pakai jas nih. Sabar, resepsinya juga baru dimulai. Makannya masih banyak kok,” ucap Adi agak kesal.
“Ih, Kakak gitu banget. Aku ke sini ga cari makanan enak ya, aku kan diundang, sama kayak kakak.”
“Iya, tapi ga usah seantusias itu ya,” Adi memakai jas yang ia bawa.
Ia menarik napas dalam-dalam sembari menutup matanya. Ia hembuskan napas perlahan sambil membuka matanya kembali. Ia kemudian tersenyum ke arah Dinna.
“Ayo Nuna, kita berangkat!” Adi menggandeng tangan Dinna.
Setelah membubuhkan nama di daftar tamu Adi dan Dinna masuk ke dalam ruang resepsi. Di pelaminan sudah ada mempelai pria dan wanita bersama kedua orangtua mereka yang menemani. Dinna menatap ke arah kakaknya.
“Kak, aku kok jadi sedih.”
“Eh, sedih kenapa sih. Ini tempat yang membahagiakan bagi banyak orang. Ehm, mungkin begitu,” Adi nyengir ke arah adiknya.
“Kakak, aku kali ini akan jadi pasangan yang baik deh. Demi kakakku yang tersayang,” ujar Dinna membalas degan senyumnya.
“Wah, alhamdulillah banget kalo gitu. Kan biasanya Nuna cuma bisa jadi adik yang nyebelin.”
“Ih, udah dibaik-baikin juga masih aja bikin kesel.”
“Kan itu tanda sayang.”
Adi dan Dinna sudah berada di dalam antrian untuk memberi selamat kepada pasangan pengantin. Sudah terlihat dari tempat mereka mengantri senyum dari pasangan pengantin yang sedang bersanding di pelaminan. Senyum-senyum bahagia. Dinna cukup mengenal senyum dari mempelai perempuan yang hari Minggu kemarin secara langsung mengantarkan undangan ke rumah.
Adi pun cukup mengenal senyum dari mempelai perempuan. Lebih dari Dinna, Adi mengenal senyum dari mempelai perempuan yang tak jauh berada dari tempatnya. Ya, karena mempelai perempuan itu adalah Adina Risti. Gadis yang beberapa hari yang lalu masih berada tepat di hatinya. Mungkin, sebelum Adi membaca undangan dari Adina. Dan setelahnya, ia hanyalah bayangan yang perlu untuk segera dihapus.
Tibalah saat menyalami mempelai laki-laki, Adi menjabat tangan mempelai laki-laki dengan erat. Adi tersenyum ke arahnya, mendoakan dengan pelan di hadapannya.
“Selamat ya, semoga langgeng,” lanjut Adi setelah selesai berdoa.
“Terima kasih,” balas mempelai laki-laki.
“Kau memilih seorang gadis yang sangat tepat. Jaga dia,” Adi tersenyum. Banyak hal yang sebetulnya ingin ia ucapkan pada mempelai laki-laki yang sekarang ada di hadapannya. Namun, tak mungkin untuk ungkapkan semua. Dan hanya kata-kata itu yang akhirnya Adi ucapkan.
Dinna melihat kakaknya, ia berkaca-kaca.
Adi bergeser ke arah mempelai wanita. Ia hanya mengucapkan dua kata. Semoga langgeng. Ya hanya dua kata itu saja. Karena ia sendiri tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Giliran Dinna yang menyalami Adina. Langsung saja, Dinna memeluk Adina sembari menangis. Adi hanya menatap hal tersebut terjadi. Adina membelai lembut punggung Dinna. Menenangkannya.
“Sesekali… nanti… tetep… main… ke… rumah… ya… Kak…,” Dinna berucap dengan suara terputus-putus.
“Inshaallah,” ucap Adina pelan masih terus menenangkan Dinna.
Hanya sebentar Adi dan Dinna berada di sana. Setelah beramah tamah dengan teman-teman lama yang sudah lama tak bertemu Adi akhirnya mengajak Dinna pulang. Adi melihat Dinna yang pucat membuatnya cukup khawatir. Meski banyak hal yang ingin ia obrolkan dengan dengan teman-temannya ia harus memastikan Dinna baik-baik saja.
Dan pulang adalah salah satu jalan terbaik.
Di perjalanan Dinna mulai menangis. Adi jadi salah tingkah, tanpa ada sebab apa pun adiknya menangis. Ia pinggirkan mobilnya dan mulai bertanya pada Dinna.
“Hei, Nuna. Ada apa? Kenapa nangis gitu? Kamu kenapa?”
“Aku sedih, Kak. Aku ga tau perasaan Kakak persisnya seperti apa tapi yang pasti Kakak pun  sedih. Kakak hebat, bisa tetep terlihat santai dan biasa aja tadi. Tapi aku yakin, Kakak pun sedih. Kakak kan suka sama Kak Adina dari SMA dan sekarang sudah enam tahun berlalu.”
“Kakak bodoh, kenapa Kakak enggak lamar Kak Adina? Kalo sekarang udah gini, ga ada lagi harapan. Sia-sia kan? Aku kesal sama Kakak tapi aku juga ga bisa kesal karena Kakak pasti lebih sedih dari aku. Aku sedih harus tau kakakku harus patah hati. Aku ga tau harus gimana.”
Adi hanya tersenyum. Dinna benar, semua perasaannya sekarang sudah sia-sia. Namun, setidaknya perasaan itu pernah menjadi bagian yang indah di hidupnya. Ia mungkin terlambat  tiga bulan atau bahkan lebih dari itu, mungkin satu tahun terlambatnya. Karena sesungguhnya, di bulan Januari besok ia ingin untuk melamar Adina. Sayangnya itu semua hanyalah sebuah rencana yang sudah tak akan pernah terjadi.
“Maafkan Kakak ya, gara-gara berempati sama kakak, Dinna jadi sedih gini. Gimana kalo kita main ke game center? Ya anggap aja sebagai penghilang galau. Hehehe…,” Adi mengacak-acak rambut Dinna.
Dinna menghapus air matanya, “Oke!”
Adi kembali menjalankan mobilnya dan memutar balik untuk menuju ke game center.
Mulai dari main lempar bola basket, mukulin tikus tanah yang keluar dari lubang, hingga main dance yang mengharuskan menginjak-injak lantai yang bikin keringetan. Terlebih lagi, baju yang Adi dan Dinna pakai adalah pakaian formal sehingga tak heran banyak mata menatap mereka. Main di game center tetapi dengan pakaian formal.
Setelah asyik main, mereka makan di dekat tempat game center dan mengakhiri jalan-jalan mereka dengan menikmati sore hari di alun-alun kota. Langit biru dengan awan-awan putih yang menggantung di langit, udara segar, angin yang berhembus pelan, serta keceriaan orang-orang yang ada di sekitar membuat perasaan menjadi nyaman.
“Terima kasih, Kak,” ucap Dinna saat menerima sebotol minuman isotonik.
Adi duduk di samping adiknya, menikmati air mancur yang kadang menyemprotkan airnya dengan kuat terkadang dengan lemah membuat sebuah gerak yang berirama. Perasaannya saat ini sangat tenang. Bisa menikmati keadaan saat ini adalah hal yang sangat perlu ia syukuri terlepas dari apa pun yang sedang terjadi padanya dan hatinya. Namun, setidaknya perasaannya sedikit terlupakan sesaat dan mungkin akan hilang nantinya. Ya, semoga.

Malam hari yang tenang, Adi baru saja selesai menonton tv di ruang keluarga. Ia langsung menuju kamarnya setelah membuat teh hangat yang akan menemaninya membuat laporan untuk kerjaan yang belum ia rampungkan di Jumat kemarin.
Adi hidupkan lampu kamarnya dan segera menuju ke meja kerjanya. Ia dapati sebuah cokelat tergeletak di atas laptop kerjanya. Ada sebuah pesan yang ditulis di kertas kecil di bawah cokelat tersebut.
Semangat ya Kak?!
Kakakku emang keren!!!
Adi tersenyum membaca kata-kata tersebut. Itu pesan dari adiknya yang terkadang menyebalkan. Namun, kali ini ia sangat berterima kasih atas kehadiran adiknya dalam hidupnya. Karena ada kebahagiaan lain yang masih ada di sekitarnya. Dan itu adalah adiknya.
Selesai…

22 Nopember 2015
19.52 WIB
Permadi Heru P

Alhamdulillah, cerpennya selesai. Sampai jumpa di cerpen berikutnya. Terima kasih sudah mau membaca cerpen ini. Cerpen Nuna akan balik lagi mengisahkan Nuna dan kehidupannya. Ditunggu ya, meski aku juga ga tau akan muncul kapan. Dan juga akan balik ke kisah Nuna di SMA Adi di kampus. Sampai jumpa…

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s