Sebuah Ucapan Selamat

Dengan senyum simpul Dias menjabat erat tangan cowok yang ada di hadapannya. Ia mengerling ke arah gadis yang ada di samping cowok tersebut. Ia tatap mata cowok yang ada di dapannya.
“Selamat ya! Pilihan yang tepat. Aku katakan kau mendapat satu dari yang terbaik. Semoga langgeng dengan Mutia,” ucap Dias dengan wajah berseri-seri.
“Iya, terima kasih. Mohon doanya ya?” balas cowok tersebut.
Dias pun bergeser ke arah Mutia. Mutia dan Dias hanya beradu pandang sembari saling tersenyum.
“Ingat selalu kata-kataku ini. Selalu kenalkan aku sebagai Kak Dias pada anakmu kelak. Bukan Oom Dias. Oke?”
“Mau sampe kapan ngerasa muda, Mas?”
Dias hanya membalas dengan ekspresi uniknya. Menggembungkan pipi dan kemudian mencemberutkan bibirnya

Sepenuhnya, kerelaan ada di dalam hati Dias. Mutia yang dari SMA ia sukai sudah berlabuh pada pria yang bukan dirinya. Ia memang sudah berjanji, kalau Mutia menikah akan datang.
Dan benar, meski Dias sedang berada di Batam dan Mutia menikah di Jogja. Ia sempatkan untuk terbang ke Jogja di hari yang sama pula ia balik ke Batam.
Karena ia ingin katakan pada cowok yang akhirnya bisa mendapatkan hatinya Mutia untuk mengucapkan selamat padanya.

KRL, 17.40 Wib
8 Oktober 2015
Menuju tanah abang

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s