Masih 26 September 2015

Terkadang kita berpikir bahwa kita bisa begitu lihai menyebunyikan sesuatu. Begitu lihai dalam berbohong. Namun, nyatanya sepandai-pandainya kita menyembunyikan sesuatu atau berbohong tentang sesuatu. Kita tak bisa menyembunyikannya di hadapan perasaan kita sendiri. Begitu pula dengan kebohongan yang kita buat, tak bisa kita membohongi diri sendiri.Masih pada sosok Evan. Kini ia sedang duduk termenung di tempat makan di sebuah pusat perbelanjaan. Hanya terus-menerus menghela napas panjang. Segelas minuman yang ia pesan masih belum ia sentuh.

“Hei, Evan. Kok sendirian aja?” tanya Muti yang tiba-tiba muncul di samping Evan.

“EH, iya. Ga apa-apa. Cuma mau beli komik tadi tapi komiknya enggak ada,” jawab Evan.

Tadi ia sudah menghindari tuk bertegur sapa dengan Muti. Kini, malah Muti yang menghampirinya. Tentu saja, Muti menghampiri Evan dengan masih menggandeng tangan seorang cowok.

“Kita gabung ya? Habis nonton nih, tumben-tumbennya ada film dalam negeri yang bagus, jadi aku dan Dana nonton deh,” ucap Muti yang langsung duduk di kursi yang menghadap ke arah Evan.

“Ya, silakan. Mau makan sekarang?” Evan mencoba melengkungkan bibirnya agar tercipta sebuah senyum tipis. Alih-alih senyum canggung yang muncul.

“Emang, lagi mau cari komik apaan?” tanya Dana yang kemudian duduk di samping Muti.

“Komik dalam negeri gitu, ada beberapa sih yang lagi aku cari.”

“Evan, udah lama banget ya kita ga ketemuan, kayaknya udah ada kali ya dua bulan. Ga kangen nih sama aku?” tanya Muti.

“Idih, kangen dari mana. Yang ada aku malah enggak repot-repot untuk nemenin kamu wisata kuliner terus,” Evan mengambil minuman yang sedari tadi ia anggurin.

“Ah, kau jahat banget sih. Kita kan udah jadi cs-an kok gitu banget,” Muti menggembungkan pipinya yang menandakan ia sedang kesal.

“Udah, sana kalian cari makan dulu. Aku tungguin di sini,” Evan tersenyum sembari menyeruput minumannya.

Muti dan Dana bangkit dari tempat duduk mereka. Meski Evan tak menyukainya tetapi ia tak bisa untuk mengatakannya, saat tangan Muti dan Dana kembali bergandengan tangan.

Setelah memesan makanan, mereka pun kembali dan mengobrol lagi. Makanan datang, mereka makan sembari meneruskan obrolan mereka. Obrolan yang cukup lama. Setelah puas dengan obrolan yang ada mereka pun berpisah. Dana dan Muti meneruskan kencan mereka, Evan awalnya diajak untuk ikut main bersama tetapi ia menolak dengan alasan bahwa ia harus pulang. Sesungguhnya Evan tak ingin pula untuk pulang.

Ia masih saja belum bisa berdamai dan berterus terang pada dirinya sendiri. Pada perasaan rindunya serta jujur bahwa ia suka pada Muti.

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s