Catatan Malam Evan

Evan mulai memetik senar gitarnya. Menyanyikan lagu-lagu yang ia karang secara acak. Lagu-lagu yang menceritakan perasaannya saat ini. Ia duduk sendiri di balkon lantai dua, menatap ke sekitarnya. Akibat mendapat giliran pemadaman bergilir daerah sekitar rumahnya terlihat gelap. Hanya terlihat cahaya dari lampu-lampu senter dan api lilin kejauhan.


Langit malam ini indah, meski tak ada bintang yang terlihat kali ini bulan sempurna dengan purnamanya. Sekawanan awan hanya berani menemani purnama, mereka diam di sekitar purnama. Tak ada yang berani memutupi sang ratu malam kali ini.
Evan menghentikan petikan gitarnya. Ia memandang kosong ke arah langit, tertuju pada purnama.
“Apakah kau malam ini juga menatap bulan yang sama?” Evan bertanya pada bayangan yang ada dibenaknya.
“Rasanya malam ini aku akan kembali memanggil kenangan-kenangan tentangmu. Hanya karena pertemuan kita tadi,” Evan tersenyum. “Bodohnya aku, terlalu mudah terbawa pada perasaan ini.”
Bayangan itu begitu nyata di mata Evan. Sosok Muti yang berdiri di sampingnya, ia kemudian duduk di samping Evan. Tersenyum ke arahnya. Bayangan yang dipanggil melalui kenangan-kenangan tentang sosok Muti.

Aku adalah sosok pembohong. Sayangnya, aku bukan ahli di dalam membohongi diri sendiri. Aku tak pernah bisa menutupi perasaanku. Dan terlebih lagi, aku masih tak bisa berdamai dengan hati yang belum selesai menyesali setiap kebohonganku pada dunia. Tidak, tidak perlu pada dunia. Cukuplah kebohonganku pada Muti. Berpura-pura hanya sebatas teman di mana hati ini merasakan lebih.
Jangankan jujur pada Muti tentang perasaanku. Jujur bahwa aku rindu padanya pun aku tak berani. Yang ada hanya bisa melihat status online di aplikasi chat. Tak berani aku menyapanya. Terutama saat ini setelah ia sudah bersama yang lain. Aku tak mau mengganggunya.
Setidaknya, rinduku sudah sedikit larut karena pertemuan tadi. Awalnya aku tak mau menyapanya, aku tak mau mengganggunya. Akhirnya malah dia yang menyapaku saat di food court.
Semoga ada kesempatan lain bertemu dan mengobrol dengannya. Tanpa harus ada monyetnya.

26 September 2015
22.08 WIB
Permadi Heru P

Ini cerita ketiga di hari ini. Dan jika kalian bertanya, kenapa tentang Evan dan Muti terus. Aku juga ga tau. Sedari tadi yang kepikiran cerita tentang mereka terus.
Kisah Evan dan Muti masih berlanjut loh. Gimana lanjutannya, ya liat aja nanti. Siapa tau aku lanjutin.

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s