Pie Cinta Aidna (2015)

Hari Minggu, hari yang selalu menjadi waktu berkumpulnya semua anggota keluarga di ruang keluarga. Televisi sudah menyala, Dika sudah mandi, ia sudah wangi. Begitu pula dengan Disa, saudari kembarnya. Tak lama kemudian Brian ikut bergabung dengan adik kembarnya untuk menonton kartun yang dulu juga menjadi bagian dari masa kecilnya. Sementara di dapur, bunda sedang membuat kue kesukaan satu keluarga dibantu oleh Aidna, anak kedua dari empat bersaudara.

“Na, itu udah mateng. Coba diangkat dari teflon dan taruh di piring,” pinta bunda.

“Iya, Bunda!” balas Aidna sigap. Ia lalu melakukan apa yang dipinta oleh bunda.

Aidna mematikan api kompor gas, mengangkat teflon dan menuangkan kue yang ada di dalam teflon menuju piring keramik dengan bantuan sepatula. Aidna kemudian menambah margarin di atas kue tersebut. Selanjutnya ia memotong kue yang bentuknya seperti pizza tersebut menjadi delapan potongan layaknya pizza. Terakhir, ia tambahkan misis dan keju ceddar yang diparut di atasnya.

“Udah tinggal dimakan aja ya? Kalo gitu bunda sama ayah pergi ke pengajian dulu ya? Tolong titip jaga rumah, itu Dika dan Disa juga nanti siang disuruh tidur,” bunda memberi tahu apa saja yang harus dilakukan.

“Iya, Bunda. Itu gampanglah. Nanti Aidna suruh mereka tidur.”

Bunda segera ke depan rumah di mana ayah sudah menunggu. Dengan motor matiknya ayah dan bunda pergi ke pengajian.

Selesai semua persiapan, Aidna membawa kue tersebut ke ruang keluarga. Tiga saudaranya sudah menunggu kue tersebut muncul. Ini adalah kue yang memang menjadi makanan wajib di setiap minggu. Sarapan sesi pertama bagi Brian, karena ia tak merasa kenyang hanya memakan dua potong potongan kue yang bentuknya mirip pizza tersebut. Mungkin saat ia masih kecil, ia bisa kenyang hanya dengan makan kue tersebut. Karena satu lingkaran sebesar teflon tersebut hanya ia sendiri yang memakannya. Kemudian Aidna hadir, ia mulai membagi kuenya pada adik pertamanya, dan selanjutnya si kembar Dika dan Disa lahir. Brian pun membagi kue kesukaannya pada adik-adiknya lagi.

“Wah, udah jadi. Ayo makan,” ucap Dika yang langsung menyerbu kue tersebut.

“Sabar, ini juga belom ditaroh di meja,” Aidna memberi pengertian pada adiknya.

Sesi makan kue langsung dimulai, Dika menjadi yang pertama mengambil bagiannya. Disa tak mau kalah, ia lalu menyusul mengambil jatahnya. Aidna menjadi orang ketiga. Brian masih asyik membaca buku yang baru kemarin ia beli. Ia belum mengambil jatahnya. Beberapa menit kemudian, kue hanya tersisa dua potong yang menjadi bagian dari jatah Brian.

“Kak, enggak mau ya? Aku ambil ya?” ucap Dika sambil menyendok satu potong kue jatah Brian.

“Aku juga,” Disa ikut-kutan.

“Eh, itu kan jatah Kakak, ga boleh dong,” sayangnya Brian terlambat untuk memperingati si kembar. Mereka sudah mengambil jatah Brian dan duduk manis sambil menonton kartun.

“Cie, ga dapet jatah hari ini,” ucap Aidna yang sedang memberesi piring untuk segera ia cuci di dapur.

“Heh, Aidna buatin Kakak kuenya lagi,” perintah Brian pada adiknya.

“Eh, kok gitu? Enggak-enggak. Aidna ga bisa buatnya, Aidna masih bantu-bantu bunda aja.”

“Karena itu, kali ini kau bertugas buat sendiri. Kan udah biasa bantu bunda.”

“Ah, kakaklah. Udah dari dulu juga. Gini nih, cowok kok bisanya makan doang. Masak sendiri sana, Kak.”

“Sepertinya minggu kemarin ada yang janji akan nurutin kata kakaknya deh karena udah minta antar jemput saat kakaknya juga lagi sibuk kuliah,” sindir Brian pada Aidna.

“Eh, masa gitu sih?” Aidna sok lupa dengan ucapannya pekan lalu.

“Oh, jadi gitu ya?”

“Wah, Mbak mau buat kue. Aku juga mau dong, buat yang besar ya? Kayak tadi,” Dika ikut-kutan.

“Disa juga mau lagi!” Disa tak mau kalah.

“Tuh, sekarang kalo pun mau voting kau kalah, udah sana buat kuenya lagi.”

“Hus-hus, sana ke dapur terus buat,” lanjut Brian.

“Ih, ngeselin. Ya udah deh, aku coba.”

Aidna pun segera ke dapur, ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue yang memang sudah menjadi bagian dari keluarga bunda dari masa nenek masih muda dan membuatkannya untuk bunda dan saudara-saudaranya.

“Tepung terigu, telur, margarin…,” Aidna mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan.

“Jangan lupa, nanti adonannya ditambah sedikit garam. Inget sedikit aja, jangan malah jadi asin karena kebanyakan,” Brian sudah berada di dapur.

“EH, masa pake garam segala sih?” Aidna tak percaya dengan ucapan kakaknya.

“Ah, ni anak. Dikasih tahu masih aja ngeyel,” Brian duduk di kursi dan melanjutkan kegiatan membacanya.

“Dari pada kakak baca, mending sekalian bantuin sini.”

“Di sini, kakak tuh bertugas untuk mengawasi. Ibaratnya tuh jadi guru tata boga yang lagi ngajar kelas praktikum,” ucap Brian dengan senyum ngerjain.

Aidna mulai untuk membuat kue tersebut. Satu persatu tahapan ia mulai lakukan. Ia melakukan sama seperti yang bunda lakukan dalam membuat kue tersebut. Tigapuluh menit telah berlalu, kue siap untuk dihidangkan. Sarapan kue sesi dua untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarga Aidna.

Brian, Dika, dan Disa mulai mengambil bagian mereka. Mereka begitu antusias untuk menikmati kue buatan Aidna.

“Gimana rasanya? Ga beda kan sama buatan bunda?” tanya Aidna pada ketiga saudaranya.

“Beda,” ucap Brian.

“Iya, ada yang beda deh,” ucap Dika.

Disa hanya mengangguk.

“Ya, not bad-lah. Tep bisa dinikmati. Namanya juga baru nyoba,” Brian secara tersirat memberi dukungan pada adiknya yang baru saja membuat kue khas rumahnya.

“Iya, Mbak. Tep habis kok nanti,” ucap Dika sambil mengunyah kuenya.

Aidna yang penasaran akhirnya ikut mengambil kue bagiannya. Ia mencicipinya. Ia memang merasa ada yang kurang dari kue buatannya. Kayak ada yang kurang tapi ia merasa bahwa semua bahan dan langkah-lagkah pembuatannya sama seperti yang bunda lakukan.

Aidna masih memikirkan tetang kuenya yang terasa beda dibanding buatan bunda di dalam kamarnya. Ia menulis semua tahap-tahap pembuatan kue tersebut di buku catatannya. Ia mendengar suara motor yang masuk ke dalam pekarangan rumahnya, dari dalam kamarnya ia menebak bahwa bunda dan ayah baru saja sampai di rumah. Ia segera keluar dari kamarnya. Ia ingin menanyakan apa kekurangan dari bahan-bahan pembuatan kue yang ia baru saja tulis. Atau mungkin saja ada tahapan yang kurang ia tuliskan.

Ia menanyakan pada bunda tentang bahan dan tahap-tahap pembuatan kue. Melihat semua yang ditulis oleh Aidna tidak ada yang kurang dari resep tersebut. Namun, Aidna masih saja penasaran kenapa kuenya beda dari buatan bunda.

Di hari berikutnya, Aidna mencoba lagi membuat kue tersebut. Kali ni ini membuat hanya untuk dirinya. Ia jadikan kue tersebut sarapan paginya. Karena masih merasa belum puas, ia lakukan lagi di hari selasa. Namun, kali ini ia bawa kue tersebut sebagai bekal yang nanti akan dimakan di istirahat pertama.

“Hufft…,” Aidna menghela nafas dalam-dalam. Ia mulai membuka kotak bekalnya.

Di dalam kotak bekalnya, ada delapan potong kue buatannya yang ditumpuk dua-dua agar muat masuk ke dalam kotak bekalnya.

“Wah, Aidna bawa bekal ya? Mau dong nyoba. Itu apa isinya?” tanya Fira teman sekelas Aidna.

“Ah, ini kue buatanku. Mau coba?” Aidna mengulurkan kotak bekalnya ke arah Fira.

“Boleh, ambil satu ya?”

“Wah, bentuknya kayak potongan pizza ya?” lanjutnya.

Fira langsung menggigit kue tersebut.

“Gimana?” tanya Aidna.

“Enak kok,” jawab Fira.

Beberapa teman yang masih di kelas segera mendekat ke arah Aidna dan Fira. Ia penasaran dengan makanan yang baru saja dimakan Fira. Mereka satu persatu meminta kue tersebut juga. Setidaknya, Aidna tetap mendapat satu potong dari kue tersebut. Saat ia mencicipinya, ia tetap tidak temukan perasaan yang sama saat memakan kue buatan bunda. Meski enak, itu masih belum sempurna.

“Bunda, kenapa sih kue buatanku kok terasa beda dari buatan bunda?” tanya Aidna pada Bunda.

“Coba sekarang, apa yang kamu liat dari setiap lihat bunda buat kue?” tanya Bunda balik.

“Ehm.., apa ya? Kayaknya sama deh sama cara Aidna buat kuenya.”

“Masa?” tanya Bunda menggoda.

“Iya kok, aku tahap-tahapnya sama persih. Bahannya juga sama.”

“Kalau soal bahan dan cara buatnya mungkin sama. Tapi saat bunda liat Aidna buat kue, Aidna terlalu serius.”

“Lho? Memangnya salah ya, Bunda? Kalau enggak serius gimana?”

“Ekspresi pembuat tercermin di karyanya loh?!”

“Ekspresi?” Aidna tak mengerti dengan kata-kata bunda.

Aidna kembali mengingat-ingat bagaimana bunda membuat kue. ia kembali memanggil ingatan-ingatan saat ia membantu bunda membuat kue. Ia ingat tentang ekspresi bunda waktu itu. Ia pun mengingat ekspresi wajahnya. Ada senyuman di wajah bunda, begitu pula dengan wajahnya saat membantu bunda.

“Ah, aku ingat!” bunda hanya tersenyum melihat anak keduanya menemukan hal yang ia lupakan dalam membuat kue.

Sabtu sore, Aidna kembali membuat kue tersebut. Brian sudah pulang, Dika dan Disa sudah siap juga mencoba kue buatan Mbak Aidna untuk yang kedua kali.

Kue buatan Aidna kali ini mendapat respon positif. Brian, Dika, dan Disa menikmati kue tersebut. Sore tersebut menjadi awal baru untuk hari Minggu yang akan dilalui. Sekarang Aidna yang akan membuat kue tersebut.

Ahad pagi, pukul setengah depalan. Dika dan Disa sedang bermain di depan rumah dengan tetangga depan rumah.

“Mbak Olis, Mbak Aidna sekarang udah bisa buat kue seenak bunda. Mau nyobain juga ga? Sekalian aja Najwanya dibawa,” ucap Dika.

“Kue apaan?” tanya Olis.

“Pokoknya enak deh,” sambut Disa.

“Iya, Bu Dokter juga sekalian diajak.”

Karena undangan Dika dan Disa, Mbak Olis, Najwa yang masih bayi , dan Bu Dokter pun main ke rumah Aidna untuk mencoba kue buatan Aidna. Minggu ini Brian absen untuk ikut menikmati kue di Minggu pagi. Ia sudah pergi sedari tadi pagi untuk ikut main basket dengan teman-temannya.

Saat kue tersaji, Mbak Olis langsung berceletuk, “Oh, kue pie ya? Bentuknya kayak pizza ya?”

“Iyakah? Ini kayak pie gitu ya?” Dika penasaran.

“Iya anggap aja gitu,” Mbak Olis tersenyum.

Tanpa dikomando, Dika langsung mengambil sepotong kue yang sudah ditaburi keju dan misis. Kemudian yang lain pun mengambil satu potng kuenya.

“Wah, enak ya pienya,” ucap Bu Dokter.

“Iya, Bu Dokter. Buatan Mbak Aidna sekarang udah seenak Bunda,” ucap Disa.

“Memangnya resepnya gimana?” tanya Bu Dokter pada Aidna.

“Resepnya sih sederhana tapi yang pasti. Tambahkan cinta dalam pembuatannya,” ucap Aidna dengan senyum .

“Wah, jadi ini Pie cinta Aidna ya?” ucap Mbak Olis.

“Bisa jadi begitu,” Aidna senang dengan nama yang baru saja dibuat untuk kue buatannya. Pie Cinta Aidna.

Depok, 21 September 2015

12.38 WIB

Permadi Heru Prayogo

Alhamdulillah, cerita ini jadi juga. Ini cerita yang judulnya sama dengan cerpen yang dulu udah pernah aku buat. Pengen aja aku buat lagi dengan cerita yang sedikit berbeda. Ya iseng-iseng aja untuk dibuat lagi. Kalau ditanya, apakah akan ada lanjutannya? Mungkin ada, karena cerita pie cinta aidna itu dari dulu selalu punya sekuel. Meski dari dulu sampe sekarang belom juga muncul sekuelnya. Yang dulu aku buat pun ada sekuelnya. Ya tapi emang ga ditulis aja. Jadi cuma aku yang tahu sekuel dari cerita tersebut. Nah, untuk yang ini. Mungkin juga begitu. Karena konsep sekuel dari cerita ini mash belum greget. Nanti, kalau akhirnya ada ide yang bagus akan dibuat kok. Hehehe…

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s