Kupanggil Engkau, Cinta

Cinta, bukanlah nama aslinya dan aku pastikan hingga cerita ini berakhir kalian tak akan tahu siapa nama sesungguhnya darinya. Namun, cukuplah kalian tahu bahwa di sini ada aku yang benar-benar jatuh cinta padanya. Ini tahun keempat dari saat aku menyadari bahwa aku menyukainya. Bukti yang cukup bukan?
Tak jauh dariku berada, ia berdiri di sana. Mengecek segala persiapan untuk stand-stand fakultas yang akan meramaikan acara bedah kampus. Dia terlihat anggun dengan jilbab berwarna merah jambu yang berpadu dengan baju lengan panjang yang senada dengan jilbabnya dan rok panjangnya berwarna hitam. Saat ia mengobrol dengan orang lain, ia tak pernah lupa untuk menambahkan sebuah senyuman ramah, hal itu pernah lupa. Apa mungkin itu SOP yang secara tak sadar telah ada di dalam dirinya? Karena hal itu sama persih dengan saat pertama kali aku bertemu dengannya enam tahun lalu.

Saat itu ia masih kelas sembilan SMP dan aku baru menjadi anak kelas sepuluh SMA. Ia ikut dalam try-out untuk persiapan ujian nasional di SMAku. Di saat itu aku menjadi panitianya. Ia menegurku saat ada temannya yang tidak enak badan dan bertanya tentang ruang kesehatan di SMA. Di saat itu aku pertama kali bicara dan menatap senyumnya. Kemudian berlanjut saat ia masuk ke SMAku, di waktu itulah aku pertama kali kenalan dengan Cinta.
“Hei, Kak. Masih inget aku?” sapanya saat di depan mading di dekat lab komputer. Aku masih sangat mengingatnya, waktu itu hari Kamis di jam istirahat siang setelah aku salat Dzuhur di masjid sekolah.
“Ehm…,” aku mencoba mengingat dia.
“Waktu try-out bulan Maret kemarin kita ketemu, waktu itu aku tanya tentang ruang kesehatan karena temanku ada yang sakit.”
“Owh…, iya aku ingat. Tapi aku enggak tau nih namamu siapa,” ucapku dengan senyum. Ia pun tersenyum.
“Namaku Cinta,” Cinta memperkenalkan namanya. Ya, itu bukan nama sesungguhnya. Kan aku sudah bilang, hingga akhir cerita ini kalian tak akan tahu siapa namanya yang sesungguhnya.
“Namaku Cheza, senang berkenalan denganmu, Cinta,” hanya itu. Obrolan kedua kami sekadar saling memperkenalkan nama dan kami pun berpisah. Suara bel tanda pelajaran ketujuh dimulai membuat kami hanya sempat saling mengenal nama satu sama lain.

Selanjutnya, kami menjadi sering bertemu karena kami satu organisasi dan satu ekskul. Kami pun jadi lebih sering mengobrol dan bercerita satu sama lain. Mulai dari obrolan santai tentang buku yang baru saja dibaca atau film yang baru ditonton hingga obrolan serius seperti pendidikan karakter yang tak tercipta dari pelajaran PKn atau tingkat kerusakan yang diakibatkan rokok dibanding keuntungan yang diberikan kepada negara. Hal-hal yang seperti itulah yang membuatku jadi makin sering mengobrol dengan Cinta. Ia cerdas, tak hanya cerdas ia pintar. Bagaimana tidak, di saat semester satu ia menjadi juara umum untuk kelas sepuluh dan di semester dua menjadi juara dua di angkatannya.
Hingga di kelas duabelas, aku mendapat kelas tambahan dari guru fisika dan matematika. Untuk pelajaran fisika aku masuk dalam kelas tambahan yang diberikan oleh guruku karena nilaiku yang cukup buruk, hanya bisa lolos dari ujian nasional. Di mana batas kelulusan adalah lima aku mendapat nilai lima koma lima dan kisaran nilai segitu di uji coba-uji coba yang dilakukan di sekolah. Sementara untuk matematika, aku meminta seorang guru yang juga ayah dari temanku untuk mengajariku secara privat karena nilaiku yang tak kalah jeleknya. Alhamdulillah sekali bapaknya tidak memungut bayaran untuk kelas tambahannya padaku. Hehehe…
Sementara Cinta, ia menjadi salah satu bagian dari tim olimpiade biologi sehingga ia sering untuk pulang sore ditambah ia menjadi pengurus ekskul. Di sore hari kadang aku sering bertemu dengannya dan ia tak pernah lupa menanyakan kemajuan tentang dua pelajaran ajaib itu. Setelah itu kadang kami mengobrol sebentar di kantin sekolah sembari bantu-bantu ibu kantin ngabisin gorengan yang masih tersisa yang lebih seringnya dikasih gratis.
Dan mungkin di saat inilah aku mulai tersadar bahwa aku tak lagi memandangnya sebatas adik angkatan di SMA. Perasaan lebih padanya telah terlahir di dalam hatiku. Perasaan suka padanya. Sekadar suka, belumlah cinta. Namun, siapa yang tak bisa menebak sungai akan bermuara ke mana. Semua juga tahu, sungai akan bermuara pada laut dan perasaan suka ini pun telah tertebak akan bermuara pada cinta.
Di bulan-bulan selanjutnya, aku tak lagi memangginya di dalam hatiku dengan namanya melainkan dengan nama Cinta.
Karena perasaan suka yang bisa bertahan lama itulah yang dikatakan cinta.
Di hari perpisahan sekolah, aku mendapat bunga darinya. Itu sangat spesial bagiku, meskipun enggak cuma aku yang diberinya bunga. Di sekolahku memang ada tradisi perpisahan di mana nantinya setiap siswa yang lulus akan diberi satu bunga oleh panitia perpisahan, sehingga sebetulnya akunya aja yang terlalu berlebihan senangnya saat mendapat bunga dari Cinta saat ia menjadi panitia perpisahan.
“Selamat untuk kelulusannya, Kak. Wah udah dapet kampus lagi, sekarang tinggal tunggu waktu masuk ke kampus aja ya, Kak?” ucap Cinta saat memberikan bunga padaku. Tak lupa, sebuah senyum tersaji dari lengkungan parabola bibirnya.
“Iya, terima kasih. Cinta juga, selamat berjuang di kelas duabelas dan aku tunggu di kampus. Semoga aja kita satu kampus lagi. Masih berminat jadi psikolog kan?”
“Iya, sekarang giliranku untuk berjuang di tahun terakhir SMA. Masih kok, semakin pengen malah.”

Aku sudah bisa menebak kalau dia bisa masuk ke kampus yang sama denganku. Dengan nilai sebagus itu Cinta mendapat tawaran untuk masuk ke kampus tanpa ujian. Hanya dengan nilai rapornya (kalau di zaman itu namanya PMDK).
“Kita satu sekolah lagi,” aku menyerahkan selembaran padanya yang berisi tentang info kegiatan OSPEK kampus.
“Iya, kakak senior. Aku akan segera kena OSPEK nih,” ia mencandaiku dengan senyum dan tatapan matanya.

Di ulangtahunnya yang ke sembilanbelas aku menghadiahinya sebuah boneka tangan berbentuk kelinci yang ia beri namanya Luci. Luci singkatan dari kelinci lucu tetapi dibalik. Aku tak sengaja membaca artikel tentang mendongeng adalah salah satu pendekatan yang baik dalam pendidikan yang ditinjau dari psikologi. Akhirnya aku mencari-cari toko yang menjual boneka tangan, ternyata cukup memalukan juga seorang cowok masuk ke dalam toko boneka di mana penjaga dan pengunjungnya adalah perempuan. Aku menjadi bahan tontonan mereka, serta tak hanya satu toko boneka yang aku masuki karena tak mudah mencari boneka tangan.

“Ngalamun aja, Kak?” ucap Cinta menyadarkanku.
“Eh, iya. Ini stand jurusanku masih belom didekor. Anaknya pada ngilang semua, tinggal kita bertiga nih,” ucapku dengan cepat.
“Yang semangat, Kak. Biar ntar adek-adek SMA yang cantik dan manis pada main ke stand anak-anak elektro,” goda Cinta.
Ia manis. Dan bertambah manis saat tersenyum.
‘Ga penting mau manis atau cantik yang akan datang ke stand ini. Karena mereka masih akan tetap tak bisa menandingi dirimu di sini,’ aku hanya tersenyum. Hanya hati ini yang berbisik di dalam diri.
“Oh ya, Cinta. Mau makan malem bareng ga? Aku dapet kartu diskon nih di warung mie yang waktu itu kita ketemu. Katanya kan kau suka banget sama mie di situ. Mie sehat.”
“Wah, boleh banget tuh. Sama siapa aja?”
“Terserah, rame-rame kan asyik.”
“Yaudah, nanti aku ajak Lintang. Kak Cheza ngajak siapa lagi?”
“Belom ada sih,” aku nyengir.
Cinta kembali mengecek persiapan stand-stand lain untuk kegiatan bedah kampus. Aku menatapnya dengan senyum senang. Saat berbalik, teman-temanku memandangku dengan pandangan menyebalkan.
“Jadi ntar malem dinner sama adek unyu-unyu sang pujaan hati nih,” celetuk Rian.
Aku hanya tersenyum.
“Parah, kita ga diajak-ajak ya makan diskonan. Ah inilah temen, kalo udah soal cinta ditinggal deh,” Fian ikut menambahi.
“Yaelah, kan juga cuma kali ini. Udahlah, ga usah iri.”
“Ya semoga aja kalo beneran sama dia, kita dapet berkahnya juga.”
“Aamiin…,” aku mengamini ucapan Fian.

“Ye, makan mie ijo lagi,” ucap Cinta saat hidangan tiba.
“Kok, Kak Cheza sendirian? Temannya mana?” tanya Cinta.
“Kan pada persiapan untuk besok.”
“Oh, Kak Cheza ga ikutan ngurus malam ini?”
“Kan tadi udah, gantianlah. Besok juga aku jaga stand. Ginilah kalo dapet jatah ngurus untuk jurusan,” jawabku.
Kami makan malam bertiga, Cinta mengajak Lintang, teman sejak SMA yang juga satu jurusan di psikologi. Ia sedari tadi memang sibuk sendiri dengan ponsel pintarnya. Biasalah, sudah menjadi pemandangan yang wajar saat ini kalau melihat orang asyik sendiri dengan gawainya.
“Yuk kita makan,” ucap Lintang akhirnya. Ia masukkan gawainya dan mulai mengambil sumpit bambu yang sudah disediakan.
Acara makan malam berjalan lancar, seru, dan banyak obrolan ringan. Aku tak tahu, apakah Cinta menyadari perasaanku padanya atau tidak. Aku cukup tidak peduli akan hal tersebut saat ini. Aku masih ingin terus berteman dengannya. Aku tak mau untuk memasukkan urusan cinta dalam hubungan kami secara gamblang. Biarlah aku simpan sendiri.
Bukan saat ini, waktu untuk ungkapkan padanya. Toh, hingga saat ini kami tak pernah sedikit pun membahas atau mengobrol yang berkaitan tentang cinta. Aku tak tahu, apakah ia pernah ditembak atau suka sama seseorang. Begitu pula denganku, aku tak pernah ceritakan perasaanku padanya. Aku tak pernah ceritakan sudah berapa kali aku ditembak teman cewekku.
“Terima kasih untuk traktirannya, Kak Cheza,” ucap Lintang sambil menangkupkan tangannya di depan bibirnya. Ia tersenyum usil.
“Lha? Jadi ini aku yang bayar nih?”
“Iyalah, ngajak sih,” balas Lintang.
“Eh, Lintang jahat banget,” Cinta geleng-geleng kepala. “Kita bayar sendiri-sendiri tapi kalo mau dibayarin sih ga apa, Kak.”
“Ah kau juga nih,” aku tersenyum lemah.
“Iya deh, aku yang bayar,” lanjutku.
Makan malam selesai, kami pun berpisah di depan warung mie tersebut.

Teman-temanku pada semangat untuk menarik anak-anak SMA untuk datang ke stand kami. Sayangnya mereka lebih berminat untuk menawari adik-adik SMA yang cantik dan manis ketimbang cowok-cowoknya. Mereka berdalih kalau cowok mah udah wajar main ke stand elektro, kalau cewek kan jarang-jarang jadi harus lebih digalakkan. Dari satu angkatan yang jumlahnya seratus lima hanya limabelas cewek di jurusanku. Dan dari sepuluh anak yang ikut bedah kampus, hanya tiga cewek yang ada di stand.
Karena sudah menjadi keputusan bersama, mau tak mau aku ikut dalam ide tersebut. Aku mendekati lima pengunjung perempuan yang sedang berjalan mengitari area bedah kampus. Aku menanyakan apakah mereka anak IPA. Karena belum ada anak IPS yang masuk ke teknik di kampusku. Beda dengan anak IPA yang kadang beralih ke IPS. Contohnya ya Cinta, anak IPA yang masuk jurusan IPS.
Aku menjelaskan tentang jurusanku pada mereka karena mereka memang dari IPA. Menjelaskan sedikit dan meminta mereka untuk datang ke stand untuk tahu lebih lanjut. Dari lima cewek SMA di depanku ini dua berjilbab dan tiga tidak berjilbab tetapi kesemuanya itu cantik dan manis. Teman-temanku pasti senang bila mendapat tamu seperti mereka.
Dan saat aku begitu antusias menjelaskan beberapa hal tentang jurusan elektro, aku melihat Cinta sedang tersenyum ke arahku. Aku salah tingkah, membuatku buyar dalam menjelaskan pada mereka.
“Wah, Kakak ini. Bisa-bisanya ga konsen sih jelasin aja. Emang siapa sih yang buat kakak ga konsen gini?” ucap salah satu cewek berkacamata yang tak berjilbab.
“Mungkin Vira, dia kan paling manis. Berjilbab lagi, ya ga, Kak? Karena tadi habis menyisir pandangan ke arah kiri, Kakak jadi salah tingkah gini,” cewek berbehel menimpali ucapan temannya.
“Ngeliatin aja, Lu, Rin,” celetuk cewek berjilbab yang ada di tengah.
“Iyalah, kan kakaknya juga cakep. Pas tadi juga Vira lagi senyum saat dijelasin kakaknya. Kan bikin cowok salah tingkah.”
‘Heh, kalian ini masih bocah. Masih juga SMA. Oke, emang adek berjilbab paling kiri yang pipinya cubi ini manis tapi bukan karena dia juga kali,’ aku hanya tersenyum. Mencoba untuk tidak salah tingkah.
“Kita ke stand elektro aja yuk? Biar nanti dijelaskan sama teman-teman kakak,” akhirnya aku buka mulut.

Depok, 15 September 2015
16.39 WIB

Alhamdulillah cerpennya selesai juga. Untuk disclaimer: cerpen ini adalah cerita fiksi. Adanya kesamaan kejadian ya udalah ya ga apa. Namanya juga fiksi, ga usah bawa-bawa perasaan ntar malah ngerasa sendiri.
Cerpen ini sebetulnya selesai lebih cepat dari yang tertera di atas tapi karena mau dilanjutin tapi ga punya ide lagi ya udah akhirnya diputuskan untuk diselesaikan aja.
Alhamdulillah udah punya beberapa ide cerpen lain. Semoga segera dilanjut deh. Maunya ga berkaitan dengan cinta eh tapi yang muncul malah tentang cinta lagi sih. Ya liat aja nanti. Oke, selamat sore semua.

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s