Demam Tinggi

Ini semua mungkin sebuah kesalahan fatal. Benar-benar fatal. Pasti aku sedang berhalusinasi. Tak mungkin tidak. Ini tak mungkin.
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak percaya pada apa yang ia lihat. Di foto profil akun jejaring sosial adiknya, ia dapati sosok gadis yang sedang tersenyum manis. Ia tahu kalau itu adalah Dinna, si Nuna yang sudah tiga minggu ia tak temui.
Namun, ia tampak begitu berbeda. Ia terlihat lebih manis dari biasanya. Selama ini Adi tak pernah sekali pun menganggap Dinna adalah gadis yang manis, yang ada malah adik perempuan yang suka usil dan lumayan nyebelin. Serta sedikit ngangenin.
Adi tersenyum, di dalam hati ia mengucapkan sebuah pujian pada sosok adiknya.
“Asyik nih, senyum-senyum aja. Lagi liatin siapa sih?” tanya Mira yang tiba-tiba muncul di samping Adi.
“Ah, mau tau aja nih.”
“Eh, tentu dong. Kan kamu pacarku,” goda Mira pada Adi.
“Eh, itu cuma untuk satu hari. Dan kita udah sepakat!” Adi menegaskan tentang apa yang telah terjadi.
“Ih, kok gitu sih. Kau ini, nakal ya…, hehehe…”
Adi menghela napas. Itu memang salahnya. Dan Mira pun masih saja membuatnya jadi bahan candaan.
“Jadi, liatin foto siapa. Sini liat.”
Hape Adi langsung berpindah tangan. Mira tersenyum melihat sosok perempuan yang di dalam hape Adi tertulis si Nuna.
“Anak SMA? Doyannya sama daun muda ya, pantes aja ga ada adek angkatan yang dilirik.”
“Sini balikin,” Adi menengadahkan tangannya. Meminta hapenya balik.
“Dapet aja ya anak SMA yang manis,” Mira menyeringai.
“Itu adekku. Adek kandung!” Adi menekankan dua kata terakhir dari ucapannya.
“Ah, masa sih? Ga yakin nih…,” goda Mira.
“Yaelah, ga percaya lagi. Udah sini balikin.”
“Ya udah, nih,” Mira menyerahkan hape Adi. “Eits…, tunggu dulu. Kapan-kapan kenalin ya sama adekmu itu. Mau tau, seadek apa Nuna-nya Adi.”
“Iya,” ucap Adi lemah.
Mira memang menjadi cewek paling jail bagi Adi. Terutama semenjak kejadian bulan lalu.

“Hoi, Nuna. Di kamar ga?” Adi berucap keras dari lantai satu.
Pintu kamar terbuka. Suara cempreng menyusul setelahnya.
“Eh, pulang juga akhirnya, Kak? Masih inget rumah ya?” Dinna keluar dari kamarnya.
“Iya nih, kok bisa ya inget rumah. Kalo inget bunda sih iya. Kalo kamu…, ehm… kok malah ngerasa kayak inget-inget mimpi buruk,” balas Adi.
Dinna berlari menuruni tangga. Ia mencari asal suara, saat ia melihat wajah kakaknya di dapur sedang tersenyum ke arahnya, ia mendekat ke arah kakaknya.
“Ini kok nyebelin banget sih kata-katanya,” Dinna menjepit hidung kakaknya dengan kesal.
“Aduh…, ampun deh…,” ucap Adi sambil melepaskan jepitan tangan Dinna.
“Kakak jahat sih.”
“Iya, maaf. Kakak sayang kok sama Nuna,” seperti biasa Adi mengacak-acak rambut Dinna.
“Eh, Nuna.”
“Ya?” balas Dinna.
“Kau kok sekarang jadi manis gini sih? Tiga minggu ga ketemu, kau tampak gemukan, ga tirus lagi, dan lebih cerah gitu. Potongan rambut ganti lagi.”
Dinna memerah. Ia hanya dipuji sama kakaknya tetapi ia begitu senang.
“Ah, Kakak ni. Aku kan emang manis, Kakak aja yang ga pernah sadar punya adek perempuan semanis aku.”
Adi tersenyum mendengar jawaban adiknya. Tak ubah dari hari-hari sebelumnya. Masih saja penuh percaya diri.
“Nuna.”
“Ya?”
“Kayaknya, Kakak demam tinggi deh?”
“Eh, masa sih, Kak?!” Dinna langsung menaruh tangan di kening kakaknya.
“Ah, enggak panas kok.”
“Pasti demam. Karena kalo ga demam ga mungkin Kakak muji kamu. Ini pasti ilusi dari demam, bisa liat kamu jadi manis gini.”
“Ih, Kakak ini nyebelin. Masa muji adek sendiri susah banget ngakuinnya,” Dinna dibuat kesal lagi oleh ucapan Adi.

Seperti biasanya, sore hari menjadi waktu obrolan santai Adi dan Dinna di lantai dua. Tak lupa pula dua mug berisi teh dan gorengan buatan bunda. Obrolan mereka begitu beragam, hingga akhirnya Adi bertanya tentang dampak perubahan model rambut dan pipi adiknya yang tak tirus lagi.
“Jadi, semenjak kau makin manis. Udah ada berapa cowok yang naksir?”
“Ehm… berapa ya? Wah, banyak deh. Mau tirus atau enggak aku kan emang selalu memikat,” jawab Dinna.
“Beneran nih.”
“Iya, beneran Kak.”
“Adik angkatan yang kasih surat cinta apa kabar?”
“Ah, dia. Meski udah aku tolak, ia tep nyatain kalo masih terus berjuang loh. Jadi ga enak nih, hehehe…”
“Yaelah, sama brondong lagi ni anak. Adek angkatanmu juga harusnya sadar diri. Kalo dia udah salah jatuh cinta.”
“Ah, Kakak ini…”
Adi tersenyum. Ia mengambil pisang goreng dan menjejalkannya ke mulut Dinna.

Depok, 11 September 2015
08.20 WIB

Dinanti ya kelanjutan kisah Adi dan Nuna. Masih ada beberapa episode yang harusnya muncul sebelum ini. Sampai jumpa lagi…^^d

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s