Bagian 2

Ini ada bagian dua dari cerita yang aku tulis. Jika kalian ingin membaca cerpen bagian pertama silakan ke link ini => https://permadiheru.wordpress.com/2015/05/29/bagian-1/

Suara kucing-kucing yang mengeong penuhi ruangan toko, tak pernah aku sangka suaranya begitu berisik jika mereka berada di satu tempat yang sama dan dalam keadaan yang sama. Terpenjara di kandang. Aku menatap ke sekelilingku, banyak sekali tipe-tipe kucing yang berada di toko kucing ini. Saat aku melihat sosok kucing berbulu putih yang sedang tertidur pulas aku begitu tertarik terhadapnya.
“Mau beli kucing, Mas?” tanya seorang perempuan yang aku tebak adalah pemilik toko ini.
“Iya mbak, kucing putih yang sedang tidur di kandang itu jenis apa ya?” tanyaku yang tak begitu mengerti tentang kucing.
“Owh, itu jenisnya persia. Jenis yang banyak diminati oleh orang-orang Indonesia,” jawab perempuan itu.
“Jenis-jenis kucing yang dijual di sini apa aja ya?”
“Wah, kita ada lima jenis mas, pertama persia, lalu angora, himalaya, maincoon, dan munckin. Namun, untuk munckin kita udah habis, belom nambah lagi.”
“Wah banyak juga ya? Kalo kelebihan persia apa aja ya mbak?”
“Banyak mas, jenis persia ini dari bulunya yang tebal, lalu ia juga jenis kucing yang aktif.”
“Tapi kok dia tiduran gitu ya, Mbak? Enggak ada aktif-aktifnya sedikit pun?”
“Namanya juga lagi tidur, Mas. Kan kucing juga ngantuk.”
“Ya udah deh mbak, saya ambil yang itu.”
“Owh, baik, Mas. Mau dikasih nama siapa?”
“Dia cowok atau cewek, Mbak?”
“Dia cewek, Mas.”
“Pas, saya akan kasih nama Tiara!”

“Meong…”
“Hei Tiara, sekarang di sini adalah rumahmu, semoga kau nyaman dengan rumah barumu,” aku mengambilnya dari dalam kandangnya dan memeluknya.
Aku belai-belai kepalanya dan meletakkannya di kasurku. Aku mengambil hapeku dan memoto Tiara yang sedang duduk di atas kasur. Beberapa jepretan dan segera aku bersiap untuk mengunggahnya ke media sosialku.
Jika ada yang tanya siapa nama si manis ini, namanya Tiara. Tulisku di caption foto. Aku sudah besiap untuk mengunggahnya, hanya tinggal menekan upload maka foto Tiara akan muncul di beranda jejaring sosialku. Entah mengapa, aku urungkan niatku untuk mengunggah fotonya.
“Kau ga usah terkenal ya, Tiara.”
Kucingku tak perlu terkenal, tak perlu menjadi bahan populeritas ataupun menjadi artis. Ia tak perlu itu, ia butuh kasih sayang dan makanan. Tidak ada hasrat untuk jadi selebriti dunia maya. Tak perlu itu.
Kucing sebagai hewan cukuplah untuk mereka mendapatkan kebutuhan fisik seperti makanan, minuman, tempat tinggal, keamanan, dan kepemilikan layaknya cinta dari pemiliknya. Tak perlulah adanya penghargaan diri dan aktualisasi diri layaknya manusia.*
Tiara bangkit dari duduknya, ia melompat ke lantai. Ia kemudian melihat sekelilingnya. Kanan-kiri, berlanjut dengan berjalan dengan empat kakinya. Ia mulai untuk belajar mengenali lingkungan rumah barunya.

Aku hanya sibuk memakan kentang goreng yang tadi aku pesan. Aku sudah tak pedulikan lagi dengan kesibukan teman-temanku yang tadi mengajakku untuk kumpul. Apa yang aku sangsikan terjadi. Mereka asyik dengan gawai mereka masing-masing. Kuheran sendiri. Apa guna kumpul-kumpul ini jika mereka malah asyik sama gawai mereka masing-masing.
Hapeku berdering, tanda ada telpon masuk. Tertera di sana telpon berasal dari sepupuku Dinna.
“Tumben nelpon,” ucapku tanpa diawali salam.
“Tumben apaan? Lagi di mana? Mau main ke rumah nih. Mau ketemu sama Tiara, mau liat secantik apa sih aslinya,” ucap suara Dinna dari seberang.
“Hehehe. Iya deh. Bentar, ini juga segera pulang.”
Aku langsung mematikan hapeku. Tanpa salam penutup. Jika dengan sepupuku satu itu aku memang sering sesuka hati. Kakaknya juga seperti itu padanya.
“Temen-temen, aku pulang duluan ya? Ada saudara yang dateng ke rumah. Terima kasih loh untuk traktirannya,” ucapku yang langsung berdiri dan beranjak pergi.
“Eh, emang ada yang traktir? Bayar sendiri oy,” ucap salah satu temanku.
“Iya, aku nanti ganti. Tolong bayarin dulu deh kali ini.”

Aku memacu motorku dengan kecepatan 80 kiloeter perjam. Aku begitu bersemangat untuk segera sampai di rumah. Tak ada hal yang lebih menyenangkan dibanding bertemu Tiara saat ini. Meski ia kadang cuek, setidaknya ia tidak sibuk sendiri dengan gawai. Iyalah, dia seekor kucing.
Akhir-akhir ini aku merasa perkembangan teknologi malah membuat manusia tak memanusiakan manusia lain. Hubungan satu dengan yang lain lewat jejaring sosial lebih seru dibanding bertatap langsung. Lebih ramai di dunia maya dan di dunia nyata hanyalah mereka yang sibuk dengan gawai mereka masing-masing.
Semoga ini tidak terus berlanjut.

11 September 2015
15.15 WIB

Oke, bagian dua sudah selesai. Apakah ada bagian tiga? Ehm…, aku pikir tidak ada. Sudah seperti ini saja. Sampai jumpa bertemu di cerpen selanjutnya.
*diambil dari hirarki kebutuhan karya Maslow

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s