Tatapan Mata Itu

Tatapan mata itu. Tak ada yang menyadari kecuali Alila. Wajah Alila terlihat begitu ketakutan. Ia mundur dari tempatnya berdiri, bersembunyi di balik badan Fina. Matanya berkaca-kaca. Ia kemudian menangis pelan. Semua teman-temannya menatapnya heran kepadanya. Ia sembunyikan tangisannya di pundak kanan Fina tetapi suara sesenggukannya tidak bisa ia sembunyikan dari yang lain. Badannya bergetar, ketakutan.

Alila pun diajak untuk duduk di sebuah kursi yang terbuat dari semen yang berada di tengah alun-alun. Alila terdiam, sampai saat ini masih terus tertunduk. Ia tak berani menatap mata teman-temannya. Fina memberikan sebotol air mineral padanya. Alila meminumnya dengan bantuan pipet. Tangannya masih saja bergetar, tremor. Seperti orang yang memiliki penyakit parkinson.

Hingga akhirnya hanya ia dan Fina yang masih berada di alun-alun kota. Fina mulai untuk mencari tahu apa yang terjadi pada sahabatnya ini.

“Alila, kenapa tadi tiba-tiba ketakutan begitu?” tanya Fina mengawali obrolan.

“Aku takut,” balas Alila.

“Iya, takut kenapa?” Fina kembali bertanya.

“Aku takut menatap matanya,” Alila kembali menjawab dengan jawaban yang masih belum dimengerti Fina.

“Memangnya takut sama matanya siapa?”

“Juna…,” jawab Alila pelan tetapi tetap bisa didengar jelas oleh Fina.

“Loh kenapa? Bukannya ia anak yang baik? Kenapa dengan matanya?”

“Fina tahu kan kalau aku bisa membaca perasaan seseorang dari menatap matanya.”

Fina hanya diam. Ia tak mengatakan sepatah kata pun.

“Aku merasa kesedihan yang ada di dalam dirinya.”

Alila berhenti sesaat.

“Bila hanya sekilas, mungkin aku tak merasakan perasaan dari sosok yang aku tatap matanya. Namun, meski hanya sekilas aku bisa merasakan pekatnya kesedihan yang ia rasa dari tatapan matanya.”

Alila menghela nafas panjang. Menenangkan perasaannya.

“Dan lagi, karena aku begitu penasaran mengapa aku bisa merasakan kesedihan dari matanya. Aku menatapnya dalam-dalam saat berkenalan. Aku merasakan kesedihan seperti sebuah rasa kesepian yang pekat. Gelap dan begitu menakutkan di sana,” lanjut Alila.

“Lalu?” tanya Fina.

“Aku tak tahu apa yang telah ia alami tetapi ia begitu menakutkan. Ia bisa sembunyikan perasaan sedih yang sangat gelap, kelam, dan membuat sesak seakan udara begitu tipis. Rasanya aku ingin sekali membantunya tetapi aku tak mungkin bisa. Karena meski aku tak yakin, di dalam dirinya ia sedang bertahan dan meminta pertolongan untuk mengeluarkannya dari keadaannya saat ini.”

“Seakan-akan aku bisa melihatnya sedang bersimpuh. Menangis. Seraya ia berkata pelan, ‘tolong…, aku di sini…,’,” Alila kembali berkaca-kaca.

Fina tersenyum, membelai pelan kepala Alila. Alila sandarkan kepalanya ke pundak Fina.

Juna menatap dengan penuh penasaran. Setelah ia ditarik oleh Fina hingga ke parkiran kampus yang sepi. Fina menatapnya tajam. Juna tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh temannya ini.

“Juna, katakan padaku. Apa yang sedang kau rasakan!” ucap Fina dengan tegas.

“Hah? Yang aku rasakan? Aku bingung. Tiba-tiba dibawa ke sini olehmu, itu adalah alasan aku merasa bingung,” jawab Juna.

“Bukan…, bukan itu. Ini tentang perasaan terdalam yang kau rasakan. Tentang kesedihan dan kesepianmu. Apa yang kau rasakan tentang hal tersebut?”

“Eh, kau ini kenapa sih?” Juna tersenyum. Namun di sudut hatinya ia merasa terusik. Sebuah kebenaran yang tak terungkap disentil oleh perkataan Fina.

“Ah, kau ini. Masih aja ya, begitu hebatnya menutupi perasaan…”

“Udah, tenang aja. Aku baik-baik aja kok. Aku bisa mengatasinya,” potong Juna. Ia kembali tersenyum.

Juna pergi meninggalkan Fina di parkiran sendirian tanpa lupa tuk ucapkan terima kasih saat meninggalkannya. Ucapan terima kasih telah peduli padanya.

Pertemuan kedua Alila dan Juna. Pertemuan yang memang disengaja oleh Alila. Ia mencari Juna karena ia masih merasakan perasaan yang begitu kuat, menyengat, membuatnya sesak.

Alila menatap Juna. Ia mulai berkaca-kaca. Ia kemudian sesenggukan. Ia masih menatap Juna. Menguatkan dirinya terus menatap mata itu. Mata yang menyembunyikan kepedihan, kesedihan, dan kesepian. Air mata mulai membanjiri kedua pipi Alila. Ia menangis terisak.

Juna salah tingkah. Banyak mata menatapnya dan Alila di koridor kampus. Ia serba salah atas tingkah Alila. Seakan-akan ia adalah tersangka pembuat Alila menangis. Layaknya muda-mudi yang bertengkar atau pun mengakhiri hubungan mereka. Hal yang membuat banyak wanita menangis di tempat.

“Hei, sudah jangan menangis.”

Alila masih terus menatap Juna. Ia merasa kesal yang dibarengi dengan rasa sedih tak terkira. Kesal akan kepura-puraan Juna yang begitu hebat. Juna begitu kuat menahan perasaan sedih dan kesepiannya. Sedih yang terkira karena ia merasakan perasaan Juna dengan menatap mata Juna.

Tanpa pikir panjang.

“Plaaak…!!!” sebuah tamparan bersarang di pipi kiri Juna. Semua orang yang ada di sekitar Juna dan Alila pun reflek menoleh ke arah Juna dan Alila.

Bekas tamparan begitu tampak, merah di pipi Juna.

Juna menggenggam tangan kiri Alila. Ia membawa Alila pergi ke sebuah tempat. Tempat yang sepi untuk meneruskan semua ini.

“Aku tak tahu alasanmu menamparku. Namun, aku minta maaf atas salahku. Aku pun tak tahu apa salahku,” Juna mengawali percakapan di belakang gedung administrasi kampus.

“Maaf…, aku yang salah. Aku ga bisa untuk meredakan perasaanku. Dari awal melihat matamu, aku begitu merasa sesak. Sedih dan kesepian. Aku merasakan itu saat menatap matamu.”

“Aku tak tahu, apa yang terjadi padamu tapi terima kasih atas perhatiannya. Aku tak mengapa.”

“Enggak. Kau enggak baik-baik aja. Kau tak bisa untuk melarikan diri atau pun bersembunyi. Kau tak akan pernah bisa untuk melakukan hal tersebut. Karena perasaanmu adalah hal yang sebenar-benarnya apa yang kau rasakan. Aku mohon, jujurlah,” air mata yang tadi sudah terhenti sejenak mulai kembali mengalir dari kedua bola mata Alila.

“Maaf, untuk saat ini aku masih tak bisa untuk jujur pada diriku sendiri. Maaf membuatmu merasakan hal yang tak menyenangkan ini,” Juna tertunduk. Perasaan bersalah menjalari tubuhnya.

“Aku mungkin tak bisa sembuhkan total tentang rasa sakit, sedih, kesepian, dan perasaan lainnya yang ada di dalam dirimu. Namun, aku ingin bisa menjadi tempatmu berbagi apa yang kau rasakan.”

“Kita mungkin baru kenal tetapi aku merasa kita bisa menjadi teman baik,” Alila dengan terpaksa melengkungkan bibirnya tuk membuat sebuah senyuman. Senyuman palsu yang masih berurai air mata.

Juna mendekatkan wajahnya ke arah Alila.

“Terima kasih,” ucap Juna pelan di dekat telinga kanan Alila.

Juna pergi. Meninggalkan Alila di belakang. Ia tersenyum tetapi Alila tak melihat senyumannya. Senyuman tulus yang mengantarkan butir-butir air mata berjatuhan dari mata Juna.

Juna bersandar di dinding. Wajahnya ia arahkan ke atas. Mencoba menghentikan air mata yang tak jua berhenti hingga kini. Ia menyeka air mata tersebut dengan punggung tangan kanannya.

“Terima kasih,” ucapnya kembali.

Juna menangis lebih banyak dari sebelumnya. Tanpa rengekan, hanya suara sesenggukan yang diakibatkan oleh ingus yang tiba-tiba muncul saat ia mulai menangis.

Selesai

23.12 WIB

2 Agustus 2015

Permadi Heru P

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s