12 Juli 2015

“Maaf, Kak. Aku ga bisa. Terima kasih untuk kejujurannya,” ucap Sita dengan suara lirih.

“Ehm…, enggak apa-apa kok. Setidaknya kita tep bisa jadi temen kan?” tanya Iyan.

“Tentu, kalau itu pasti,” Sita tersenyum.

“Heh, ngapain ngalamun di perpus!” tegur Latika pada Iyan.

“Gangguin orang aja ni anak. Perpus kan emang tempat paling menyenangkan untuk melamun,” balas Iyan.

“Apa lagi setelah ditolak adik angkatan. Pasti asyik ya, hehehe…,” ledek Latika.

“Iya deh iya, seneng banget ya ngeledek temen yang baru aja ditolak.”

“Ish…, ngambek kan? Gimana mau punya pacar kalo gitu aja ngambek.”

“Latika, aku tahu sih kalo kamu sekarang mulai jadi primadona sekolah ini. Tapi ya jangan kelawatan gini dong sama temenmu sendiri,” sindir Iyan dengan pandangan sinisnya.

“Heh, sejak kapan aku jadi primadona di sekolah ini? Ada-ada aja kamu.”

“Asal kau tau aja ya, Latika. Ga cuma anak-anak satu angkatan kita, kakak angkatan dan bahkan adek angkatan pun sekarang mulai bicarain kamu. Kamu tuh termasuk cewek yang pacar-able banget bagi cowok-cowok di sekolah ini. Ada yang bilang kalo kamu cantik lah, ada yang bilang manis lah, ada yang bilang kayak bidadari turun dari langit lah, dan sampe ada yang ngebet minta foto dan nomor hapemu dariku. Sekarang kurang populer dari mana?” Iyan menjelaskan dengan penuh semangat dan sedikit kekesalan di sana.

Latika merona merah, ia memang tak biasa untuk mendapat pujian. Kulit sawo matangnya tetap tak bisa menutupi rona merah di wajahnya. Mungkin, ini pun salah satu daya tarik dari Latika, selain sikap ramah, senyum manis, dan wajahnya yang memang enak dipandang semenjak lahir.

“Udah ah, masuk ke kelas yuk. Bel bentar lagi bunyi,” Latika berdiri dan menarik tangan Iyan agar segera beranjak dari tempatnya dan segera pergi dari perpustakaan.

Di dekat pintu keluar mereka berdua berpapasan dengan tiga anak kelas sepuluh. Mereka terlihat begitu fokus menatap ke arah Latika yang wajahnya masih merona merah. Iyan sempat melempar pandangan tak suka pada mereka. Iyan tahu, mereka pasti sedang menikmati keindahan wajah Latika.

“Itu, anak kelas sepuluh pada keganjenan banget,” ucap Iyan dengan nada kesal.

“Emang mereka kenapa?” Latika tak mengerti.

“Kau ini, ga pernah sadar apa ya? Mereka tuh tadi ngeliatin kamu tau ga? Mereka pada senyum-senyum lagi. Bikin kesal.”

“Udah-udah, ga usah marah-marah. Ntar cepet tua,” Latika tersenyum menatap Iyan.

“Oh ya, Latika.”

“Ada apa?” tanya Latika yang kemudian menghentikan langkahnya.

“Boleh untuk lepaskan genggamanmu dari pergelanganku?” Iyan menunjuk pergelangan tangan kirinya yang sedari tadi di genggam oleh Latika.

“Ah, iya. Maaf,” Latika kembali merona merah.

Mereka kembali berjalan dan berpisah setelah berada di depan kelas Latika. Latika masuk ke kelasnya dan Iyan melanjutkan menuju ke arah kelasnya. Suara bel tanda istirahat pertama berakhir berbunyi. Iyan hiraukan suara bel tersebut. Ia letakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri. Ia rasakan degupan jantungnya yang berdetak dengan beat yang yang cepat. Ia kembali mengingat saat tangan Latika menggenggam pergelangan tangan kirinya.

Iyan hanya bisa membalas dengan senyuman yang terlihat ragu saat ia berpapasan dengan Sita. Ia masih canggung. Tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua terlihat sepi, hanya mereka berdua yang ada di sana. Anak-anak lain sudah bubar keluar kelas sedari tadi, kebanyakan dari mereka sudah berada di lantai satu untuk nongkrong seentar di sekolah sebelum pulang atau menikmati jajanan di kantin sekolah. Iyan baru saja mau pulang ke rumah setelah sedari tadi menikmati langit dari dalam kelasnya dan Sita yang menuju ke lantai dua untuk mengikuti ekstra kurikuler jurnalistik.

“Kak Iyan, boleh ngobrol sebentar?” tanya Sita.

“Boleh aja. Mau di mana?”

“Di sini aja, yuk sambil duduk di situ,” Sita menunjuk ke salah satu anak tangga.

Iyan pun duduk di samping Sita di anak tangga.

“Mau bicara apa?” tanya Iyan.

“Ehm…, gini. Kak Iyan mau sampai kapan enggak jujur dengan perasaan kakak sendiri?”

“Hah, maksudnya?”

“Aku tahu, Kak Iyan itu sebetulnya suka sama Kak Latika.”

“Eh…,” Iyan serasa mati kutu mendengarkan kata-kata itu. Ia tak bisa untuk berucap.

“Kak Iyan juga sebetulnya menyadarinya kan?”

“Ayo jujur!” lanjut Sita.

“Bagaimana kau tahu?”

“Keliatan banget kali, Kak dari cara Kak Iyan menatap Kak Latika.”

“Oh, begitukah? Sepertinya enggak deh,” kilah Iyan.

“Oke deh kalo emang enggak begitu keliatan tapi Kak Iyan emang suka kan sama Kak Latika?” tanya Sita dengan tatapan mengintrogasi.

“Iya…,” ucap Iyan lirih sembari membuang muka dari tatapan Sita.

“Dan aku menjadi pelarian Kak Iyan. Setengah hati Kak Iyan deketin aku hanya untuk menutupi perasaan Kak Iyan sesungguhnya.”

“Jahat banget kak itu,” mendengar kata-kata dari Sita, Iyan merasa sangat bersalah.

Sebulan Iyan dekati Sita dan kemudian ia menembaknya. Ia lakukan itu memang bertujuan untuk menutupi perasaannya. Berharap pelariannya bisa menjadi dinding agar perasaannya tak terungkap dan pula semoga dengan begitu ia bisa benar-benar menyukai Sita serta menghilangkan perasaannya pada Latika.

“Aku sudah menjadi korban keberapa?” tanya Sita.

“Itu…, aku ga bermaksud begitu kok?”

“Aku sudah menjadi korban keberapa?” Sita mengulangi pertanyaannya.

Tak ada jawaban dari Iyan, ia hanya memberi kode dengan tangannya.

“Lalu dua yang lainnya gimana, Kak? Dan kapan?”

“Kau benar-benar ingin tahu tentang hal itu? Itu kan rahasia pribadiku?!”

“Tapi kan aku yang tersakiti!” balas Sita.

“Aku yang kau tolak,” Iyan tak mau kalah.

Sita menatap Iyan dengan tatapan kesal.

“Iya deh, aku ceritain,” Iyan menghela nafas.

“Secara singkat, yang petama saat awal kelas sepuluh. Lalu yang kedua saat akhir kelas sepuluh. Jika ditanya bagaimana keduanya. Jawabnya ya berakhir sepertimu, aku ditolak. Yang pertama karena aku nembak cewek paling pinter di angkatanku dan yang kedua karena ia masih belum mau untuk berpacaran.”

Sita tersenyum mendengar cerita Iyan.

“Untunglah tak ada yang menerimamu, Kak.”

“Iya,” Iyan ikut tersenyum.

“Memangnya kenapa Kak Iyan tidak nyatakan aja perasaan Kakak ke Kak Latika?” Sita penasaran.

“Aku dan Latika sudah berteman semenjak SD, aku takut kalau aku dan dia jadi jauh karena perasaanku. Aku suka sama dia juga sudah lama tapi itu mulai menggangguku semenjak masuk SMA. Aku ingin menghindari perasaanku dan seperti yang kau ketahui. Aku mencari seseorang menjadi pelarianku. Sakit hati dan kesedihan yang semu karena bukan untuk ia perasaanku yang sesungguhnya.”

“Sepertinya sekarang udah saatnya kakak harus jujur pada Kak Latika.”

“Hah? Maksudnya?”

“Ya ungkapinlah perasaan kakak ke Kak Latika. Bukan malah deketin cewek lain untuk cari pelarian. Itu nyakitin loh, Kak.”

“Tapi aku ga berani,” ucap Iyan dengan senyum lebar.

Sita menatap geram ke arah Iyan.

“Kalo gitu, aku yang akan ngomong ke Kak Latika.”

“Eh, jangan dong.”

“Ya kalo gitu katakan sendiri dong. Kakak ini udah berani deketin aku, PDKT, terus nembak aku. Masa Kakak ga berani ngungkapin perasaan kakak ke Kak Latika?” Sita berkata dengan nada marah-marah.

“Gini-gini aku termasuk cewek yang ga kalah manis loh dibanding Kak Latika,” lanjut Sita.

“Hehehe, iya. Terima kasih untuk wejangannya. Kayaknya aku emang harus jujur sama Latika.”

Iyan pun berpamitan dan segera menuju parkiran. Ia tadi sudah janjian untuk pulang bareng bersama Latika. Dan mungkin ini adalah waktunya. Iyan sempatkan kembali menaiki anak tangga, Iyan melihat Sita berdiri di anak tangga tempat mereka duduk.

“Sampai terlupa, semoga kau pun segera temukan seseorang yang memang menjadi pangeran hatimu,” Sita hanya mengerlingkan matanya dan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya.

Di bawah pohon yang cukup rindang, Latika duduk menunggu kedatangan Iyan. Ia terlihat sibuk menikmati camilan yang ia beli dan terkadang menjawab sapaan anak-anak yang mengenalnya. Di sekitar tempat Latika menikmati camilannya, anak-anak basket sudah bersiap untuk latihan siang itu di gedung olahraga. Beberapa dari mereka bermain-main dengan bola basket dan akhirnya memantul ke arah Latika.

Iyan menangkap bola basket yang memantul ke arah Latika, ia memainkan bola tersebut. Memutarnya di atas jari telunjuknya kemudian melemparkannya ke arah anak basket.

“Hoi, Iyan. Ayo masuk tim basket!” teriak salah seorang teman Iyan yang pula anak basket.

“Terima kasih untuk tawarannya tapi aku tetap menolak tawaran tersebut,” balas Iyan dengan suara yang keras pula.

“Maaf ya udah nunggu dari tadi,” ucap Iyan pada Latika.

“Emang habis ngapain aja? Kok lama banget?”

“Ah, cuma setengah jam kok. Enggak lama itu.”

“Enak aja enggak lama, coba aja kau nunggu selama tiga puluh menit,” Latika tak terima dengan ucapan Iyan.

“Hehehe…, iya itu lama. Ya udah, yuk pulang,” Iyan langsung berjalan menuju parkiran.

“Latika, ada yang ingin aku omongin,” lanjut Iyan setelah Latika berjalan di sampingnya.

“Iya, omongin aja. Aku denger kok, mau curhat lagi kan?”

“Ya semacam itu lah,” balas Iyan.

“Jadi, apa yang mau kau sampaikan?” tanya Latika.

“Jadi, sebenernya aku suka sama kamu dari lama.”

Latika menghentikan langkahnya begitu pula dengan Iyan, ia menoleh ke arah Iyan tanpa ada kata yang terucap. Ia menatap seakan tak percaya akan apa yang ia dengar. Dan tanpa ia sadari, wajahnya mulai merona merah kembali.

“Iyan, jangan bercanda,” Latika menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap mata Iyan.

“Aku tak bercanda. Degupan jantungku pun sekarang sudah tak menentu, aku merasakannya. Dan benar kalau aku…,” Iyan tak lanjutkan kata-katanya. Ia menutup matanya dan mencoba tenangkan dirinya.

Iyan membuka matanya dan menghirup nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya dengan pelan.

“Jadi bagaiamana?” tanya Iyan akhirnya.

Dengan wajah yang masih merona merah, Latika beranikan dirinya menatap Iyan. Dengan pelan ia menjawab pertanyaan Iyan.

Selesai

Grabag, 12 Juli 2015

23.05 WIB

Permadi Heru P

 

Alhamdulillah setelah lama enggak buat cerpen, akhirnya sekarang buat lagi. Sebetulnya sih buat tapi enggak kelar. Ini adalah satu dari tiga cerpen dengan tema yang mirip-mirip. Ada dua lagi cerpen yang mau aku tulis tapi agak ga yakin sih karena mirip-mirip gitu kisahnya.

Awalnya nama Latika mau aku masukin ke cerita seriku tetapi akhirnya malah muncul di sini. Mungkin akan muncul lagi saat cerita tentang Latika di masa kuliah atau masa sekolah dasar. Iseng banget ya aku buat cerita sekuelnya Latika.

Aku sangat berharap aku bisa buat cerpen yang enggak cuma tentang cinta. Mungkin tentang keluarga, persahabatan, atau malah yang lain. Rasanya terlalu garing kalau aku menulis tentang cinta melulu.

Sampai jumpa di cerpen selanjutnya.

Advertisements

2 comments on “12 Juli 2015

  1. Alhdi says:

    keren banget nih cerpen… kayanya ada unsur pengalaman pibadi y meski cm beberapa persen… cool story

    • permadi says:

      Terima kasih. Jujur, ga tahu sih ada unsur pengalaman pribadi atau enggak. Aku nulis ini karena emang udah direncanain dari lama. Alhamdulillah kesampean juga sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s