Bagian 1

Apa susahnya untuk letakkan hapemu dan menatap orang yang kau ajak jalan, orang yang mengajakmu jalan. Teman di dunia maya sama pentingnya dengan yang di dunia nyata. Baiklah, aku pun menyadari hal tersebut. Namun, aku sudah mulai mual dengan yang kau lakukan. Dan mungkin kali ini memang saatnya untuk menyelesaikan semuanya.

Aku tuliskan isi hatiku di lembar putih di layar monitorku. Lembar untuk mem-posting sesuatu di blogku. Sedikit karena memang hanya itu yang aku ingin aku katakan. Aku langsung memilih untuk mempublikasikan postingan tersebut. Aku hembuskan nafas panjangku. Mematikan laptopku dan segera beranjak ke kasur untuk tidur malam ini.

Seperti sebelumnya, ia lebih sibuk untuk mengawali ritualnya. Memoto makanan yang ada di depannya, lalu mengunggahnya di jejaring sosial yang ia miliki. Mulai dari FB, twitter, path, dan instagram. Karena yang saat ini sedang hits adalah path dan instagram bisa saja ia hanya menampilkannya hanya di dua jejaring sosial tersebut.

Berdoa sebelum makan? Ehm…, aku tak yakin dia melakukan hal tersebut. Semoga saja ia tak lupa untuk lakukan itu. Sesi makan-makan dimulai. Namun, hal itu tak bertahan lama. Obrolan di dunia maya via ponsel pintarnya mulai terjadi. Aku hanya diam dan terus menikmati red velvet yang aku pesan. Selesai satu kue, aku lanjutkan untuk menikmati black forest, tak lupa aku sesekali menyeruput chappucinoku.

Ia masih asyik dengan teman-temannya. Kuenya masih tersisa, lebih tepatnya ia baru memakan sedikit. Saat ia meletakkan benda portabel yang hampir bisa melakukan segala hal yang berkaitan dengan hajat manusia masa kini, aku mulai untuk membuka obrolan ringan. Mulai dari film yang baru ada di bioskop hingga buku lawas yang ingin aku punya. Namun, itu tak bertahan lama. Ia mulai kembali teralihkan oleh suara dari hapenya. Aku kembali membosan. Tak lama kemudian, aku terkantuk.

Aku pejamkan mataku dengan tangan kiri menopang kepalaku. Setelah beberapa saat tertidur aku kembali terbangun karena kepalaku terjatuh dari tangan kiriku. Aku menatap ke arahnya. Ia masih sibuk dengan hapenya.

Kuambil ballpoint yang berada di dalam tasku. Menuliskan beberapa kata di sbuah tissu. Aku mengambil tasku. Ia masih tak bergeming. Matanya masih sibuk menatap layar ponselnya saat aku berdiri. Aku berjalan pergi. Tak ada kata tanya atau suara berasal darinya.

Aku menuju ke kasir untuk membayar makanan dan minuman yang kami beli.

“Kembaliannya untuk mbak aja. Terima kasih,” ucapku dengan senyum yang lesu.

Aku melihatnya mengetuk-ngetuk kaca dari tempatnya duduk. Ia masih tak beranjak. Ia mengucapkan suatu hal tetapi tak terdengar. Aku sudah berada di luar tempat kami berkencan. Aku berpaling dan segera menuju ke tempat motorku parkir. Aku tinggalkan ia di dalam toko yang juga tempat makan tersebut.

Saat aku memalingkan diriku darinya, di dalam sana ia merasa kesal. Ia segera mengambil selempang kecilnya dan pergi meninggalkan tempat duduknya. Kue yang ia pesan? Tak terjamah lagi. Masih tersisa, bukan lebih tepatnya ia hanya sekadar mencicipi kue tersebut dan segera mengunggahnya.

“Mbak, pesanan yang di meja itu sudah dibayar?” tanyanya pada kasir.

Kasir pun menjawab bahwa pesanan tersebut sudah dibayar. Ia segera pergi dari tempat tersebut.

Tulisan yang ada di tissu yang aku buat tak dilihatnya. Masih tergeletak menghadap tempat ia duduk.

Sepertinya kau lebih asyik dengan hapemu. Bagaimana bila kau berpacaran dengan hapemu?

Kita putus.

Pertengkaran kami sudah berlalu beberapa jam yang lalu. Kami akhirnya secara resmi putus. Tak lama dari status jomblo lagi ajakan untuk ngumpul bareng teman-teman yang lain pun muncul. Awalnya aku ingin untuk ikut kumpul tetapi aku sangsi. Yang sudah-sudah, teman-teman yang lain juga asyik dengan hape mereka masing-masing.

Lalu di mana aku sekarang? Aku sekarang berada di dekat air mancur yang ada di pusat kota. Apa yang aku lakukan saat ini? Tak ada. Aku hanya menatap air mancur. Lalu pikiranku pun mulai bekerja secara liar.

Aku putuskan menuju toko hewan. Aku ingin punya seekor kucing untuk peliharaan. Aku merasa kucing adalah sosok yang layak untuk menjadi patnerku saat ini. Ia tak mungkin sibuk bermain hape sendiri, kucing itu menyebalkan karena kadang mereka cuek tetapi terkadang juga ia begitu manja hingga ingin sekali untuk dibelai-belai.

Bersambung

29.05.2015

20.28 WIB

Permadi Heru P

Advertisements

One comment on “Bagian 1

  1. […] Ini ada bagian dua dari cerita yang aku tulis. Jika kalian ingin membaca cerpen bagian pertama silakan ke link ini => https://permadiheru.wordpress.com/2015/05/29/bagian-1/ […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s