Dika dan Tika

Tika, sosok gadis berumur sembilan belas tahun ini terlihat sedang menikmati istirahat di kursi empuk di pojok ruangan. Kepala tergeletak di atas meja, tangan kiri menggantung di udara, serta tangan kanan yang masih saja sibuk dengan layar sentuh ponsel pintar miliknya. Dengan keadaan seperti itu, matanya masih saja ikut nimbrung mengamati apa yang tangan kanannya perbuat pada ponselnya.

“Sebotol air mineral datang,” Dika meletakkan sebotol air mineral berukuran 500 mililiter di atas meja di mana Tika meletakkan kepalanya di sana.

“Terima kasih,” Tika bangun dari keadaannya dan tersenyum pada Dika.

“Sama-sama, apa kabar, Tik?”

“Baik. Tumben muncul di sini,” Tika melirik ke arah Dika duduk.

“Hehehe, kan hari ini kita siaran bareng. Kok gitu banget sih tanyanya.”

“Kayak gitu gimana? Kau aja ga pernah ngasih kabar. Ilang gitu aja, aku kirim pesan eh ga dibales,” ucap Tika dengan nada kesal.

“Hehehe, maaf deh. Kali ini keluarga lagi jadi perhatian utama. Terutama karena Disa sakit, aku harus jenguk dan rawat dia juga. Ya meski yang sebetulnya ngerawat sih mama.”

“Oh ya, ngomong-ngomong apa yang harus aku bales kalo kamu juga cuma kirim stiker?” lanjut Dika.

“Apa gitu kek? Apa kabar? Atau bales stiker, kau juga biasanya jawab pertanyaanku cuma pake emot. Emang apa yang bisa dikatakan sama emot? Ga ada tahu.”

“Eh, jangan disalahartikan ya? Satu emot itu bisa menjelaskan sereibu kata yang mungkin tak bisa diucapkan loh?” Dika yang sangat suka memberi balasan emot memberi kuliah singkat akan emot pada Tika.

“Setahuku ya, yang anak komunikasi kan aku. Terus di kuliah ga ada pembahasan emot sebagai bentuk komunikasi. Ada juga tulisan hiroglip dari mesir yang berbentuk gambar,” Tika menatap rekan siarannya dengan tatapan sinis.

“Hehehe, maaf deh. Ntar aku bales. Toh, sekarang kita ketemu. Oh ya meski kita ga ketemu, meski kita ga saling tukar kabar, saling kirim pesan, kita kan tetep temen,” Dika nyengir kuda.

“Teori demi teori akan muncul di sini,” Tika geleng-geleng kepala.

“Ya udah, yuk siap-siap. Bentar lagi kita siaran,” Tika memberi kode pada Dika untuk beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju ruang siaran.

Mereka, Dika dan Tika akan kembali siaran lagi. Siaran radio di gelombang 123 FM. Radio Rame-rame FM.

Dika mengikuti Tika yang masuk ke dalam ruang siaran. Di dalam hatinya ia berkata pada dirinya sendiri.

“Meski jauh, meski terkadang tak ada kabar, meski begitu banyak perbedaan. Sebuah pertemanan itu ya seperti itu. Layak untuk dipertahankan.”

Selesai

Permadi Heru P

29 April 2015

22.45 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s