Kita Kan Bertemu Lagi*

Meski aku tak selamanya fokus saat di dalam kelas, kali ini aku benar-benar tak fokus dalam mendengarkan dosen saat menjelaskan. Tak hanya kelas siang ini, sedari pagi semua perhatianku sudah diambil alih oleh sosoknya. Hanya karena ketidaksengajaan berpapasan dengannya, aku merasa hari ini telah terenggut oleh sosoknya.

Pagi hari pukul tujuh, aku baru saja selesai lari pagi mengitari kampus. Gerbang Kutek (kukusan teknik) sudah ramai oleh warga kukusan dan para mahasiswa. Tak jauh dari gerbang, di pertigaan pertama aku berbelok ke kanan. Keadaan di bagian ini masih sepi, hanya satu motor yang melewati jalan ini dan dua mahasiswa dengan baju rapi. Aku lewati sebuah tempat makan yang cukup populer di kutek, Warung Makan POCI. Hanya beberapa langkah dari depan POCI aku berpapasan dengan seorang mahasiswi. Sesaat biasa saja tetapi secara naluriah aku mengerling ke arahnya.

Jantungku seketika itu pula berdetak lebih kencang dari biasanya. Degupan jantung yang setipe aku pernah rasakan saat aku grogi. Namun, kali ini tak hanya itu, tubuhku pun tiba-tiba merasa tak kuat untuk menopang diriku sendiri. Seakan-akan semua tulangku dilolosi dan bisa-bisa aku tejatuh begitu saja di sana saat itu. Kucoba untuk tetap menopang diriku.

Putih, rambut bergelombang sebahu, tatapan mata yang lembut, serta pipi yang tembam. Itu adalah penilaian pertamaku tentang dirinya. Setelah aku berada di belakangnya, aku berbalik menatap ke arahnya. Ia memakai jaket berwarna hitam dengan sebuah tudung dan celana jeans hitam. Aku perkirakan tinggi tubuhnya sekitar 167 cm, kira-kira setinggi mataku. Ini adalah pertemuan pertamanku dengannya.

“Hoi, ngalamun aja…,” Fian mengagetiku yang sedang duduk termenung di pojok kelas.

“Ah, gangguin aja lu,” ucapku kesal.

“Ye, sensi banget kayak cewek lagi dapet,” balas Fian.

“Heh, ga usah bawa-bawa cewek lagi dapet ya?” Anggi yang baru saja beranjak dari tempat duduknya langsung melempar kertas ke arah Fian.

“Noh, buktinya,” ucap Fian sembari mengelak dari kertas lemparan Anggi.

Aku kembali mengacuhkan Fian dan mulai tuk membayangkan dirinya kembali. Aku kembali merangkai ingatanku tentang sosoknya, menyusun ciri-ciri yang aku ingat tentang dirinya.

Fian langsung saja mengambil kursi di depanku dan membalikannya ke arahku. Ia duduk dan segera bertanya layaknya polisi sedang mengintrogasi seorang pelaku kejahatan. Namun, saat itu aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan melangkah pergi dari dalam kelas.

Hari Senin telah berlalu, Selasa pun sudah dilewati, dan hari ini adalah hari Rabu yang harus aku lalui. Hingga saat ini aku masih belum bertemu kembali dengan sosoknya, aku sungguh berharap aku bisa bertemu lagi dengan dirinya. Aku coba untuk berangkat pagi di hari Selasa kemarin, begitu pula di hari Rabu ini. Sayangnya aku tak temui dirinya. Sungguh penasaran sekali aku padanya dan berharap bisa tuk berkenalan dengannya.

Sampai saat ini, pikiran masih saja menduga-duga tentang di mana ia tinggal. Mungkinkah ia kos di daerah Kutek? Jika iya, di manakah tempat kosnya berada? Di dekat POCI atau di jauh dari POCI? Atau mungkin kos putri dekat kosanku? Ataukah ia hanya dari tempat temannya? Ia biasa pulang pergi dan tak sengaja saja pagi-pagi ke kosan temannya karena temannya sakit dan sekadar menjenguk temannya tersebut? Otakku memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Ya, hanya untuk membuat kemungkinan yang bisa aku lakukan demi sebuah pertemuan dengannya kembali.

Teman-temanku melihat aku menjadi sedikit aneh. Aku yang periang berubah mejadi lebih kalem. Aku akhir-akhir ini memang menjadi lebih tenang. Pikiranku saat ini hanya terpaku pada dirinya saja. Menghabiskan waktu dalam lamunan, dalam pikiran yang sedang berusaha keras membuat berbagai kemungkinan yang bisa aku lakukan untuk bertemu dengannya.

Jika diibaratkan, pikiranku saat ini tak jauh beda dengan kegiatan seorang pelatih basket yang sedang memberi intruksi pada pemainnya untuk memenangkan permain dengan strategi yang ia buat. Namun bedanya, jika si pelatih biasanya memberi intruksi untuk formasi bertahan dan menyerang otakku ini sedang memberi penjelasan rinci akan bagaimana diriku mengagumi sosoknya. Tentu saja, kemudian membuat strategi tuk bertemu dengannya. Pikiran ini semakin membuatku bodoh.

Kamis, Jumat, dua hari itu telah berlalu. Ini sabtu malam, aku tak berminat untuk mengatakan bahwa ini malam minggu. Pagi tadi aku mencoba menghilangkan pikiran tentang dirinya dengan berlari pagi. Meski tak berhasil sepenuhnya, pikiranku bisa sejenak berhenti memikirkannya. Aku mulai tuk tak berharap bertemu. Harapan tentang pertemuan kedua kalinya yang sudah ada di dalam otakku dari hari Senin di pekan ini mulai terkikis, meski otakku menyisakan sedikit tentang dirinya. Menuju sabtu malam, di sore tadi aku telah katakan pada diriku tuk menyerah saja. Pikiranku pun mengiyakan tuk menyerah tentang dirinya, tentang bertemu lagi dengannya.

Dan sabtu malam ini, setelah semua niatanku tak lagi ada di dalam pikiranku. Aku kembali berpapasan dengannya saat aku pulang dari makan malam di sebuah warteg. Kali ini pun sama, ia masih dengan jaket bertudungnya. Bedanya kali ini tudung jaket tersebut ia gunakan untuk menghindari tetesan rintik gerimis malam ini. Tatapan matanya masih sama, pipi putih chubby yang ia miliki pun masih sama. Ya, ini adalah dia.

Perasaan yang sama juga aku rasakan. Detak jantung dan tulang yang serasa dilolosi, sama seperti pagi itu. Kali ini penampilanku berbeda jauh dari Senin kemarin yang penuh keringat dan bau. Aku dengan jaket abu-abu, kaos merah, dan celana panjang jeans. Aku cukup layak untuk mencoba berkenalan dengannya.

Sayang seribu sayang. Aku tak mampu tuk berkata satu patah kata pun. Di malam sepi nan gerimis itu aku hanya bisa menatap sosoknya dari belakang kembali. Aku tak mampu berkenalan dengannya. Aku menghela nafas panjang sesampainya di kosan. Menyesali kepengecutanku yang tak mampu membuat diriku berkenalan dengannya. Hanya gelap, rintik hujan gerimis, serta udara dingin menjadi saksi bisu kami.

Pikirku, jika ada pertemuan kedua bisa saja pertemua ketiga terjadi padaku. Maka dari itu, aku mulai kembali membangun harapan tuk bertemu lagi dengannya. Dalam hati aku pun berkata, “Kita kan bertemu lagi”.

22.15 WIB

31 Maret 2015

Permadi Heru P

 

Alhamdulillah cerpen ini akhirnya selesai juga. Cerpen ini adalah cerpen yang tak sengaja aku buat karena aku memiliki judul yang bagus (tentunya bagiku sendiri, hehehe). Dan jika kalian sadari ada tanda bintang di dalam judul tersebut. Tanda bintang tersebut memiliki arti tersendiri. Karena judul tersebut bukanlah judul untuk cerpen ini tetapi ada satu cerpen lagi yang memang akan memiliki judul yang sama. Namun memiliki cerita yang berbeda, hanya judulnya saja yang sama. Karena bingung gimana nantinya akan membedakannya maka aku tambah bintang aja untuk cerpen ini. Begitu dah.

Cerpen ini hanya fiksi. Untuk cerpen-cerpen lain pun hanya fiksi. Aku jelaskan di sini agar nantinya tak ada yang salah sangka lagi. Hehehe… oh ya, sebelum kalian mengakhiri membaca cerita ini. Selamat menikmati sedikit lanjutan cerpen di atas. Hanya sedikit lanjutan, bukan sekuel dari cerita di atas (kalo bahasa kerennya extended).

 

Sedikit lanjutan cerita…

Dua minggu telah berlalu tetapi tak sekali pun aku bertemu dengannya. Aku tahu dia kos di dekat warung makan POCI tetapi tak mungkin pula bila aku ke sana atau menunggunya di depan pintu gerbang. Aku terus memupuk harapan tuk bertemu kembali dengannya di pertemuan yang ketiga. Sungguh aku berharap. Nyatanya tak ada yang terjadi.

“Bro, lu ngapa? Ga semangat bener?!” ucap Babe padaku di sebuah sore. Babe adalah panggilan akrab anak-anak pada bapak yang berjualan di warung makan POCI.

“Ga ada, Be,” balasku.

“Ga makan? Mumpung sepi noh,” tanya Babe sambil menjawil tangan kananku.

“Entaran dah, Be. Es jeruk dulu dah. Oke?” aku tersenyum lalu terlintas dalam benakku tuk tanya pada Babe tentang cewek chubby tersebut.

“Ndre…, es jeruk satu!” ucap Babe dengan lantang memberi tahu Andre yang biasa membuat minuman di warung makan POCI.

“Be, tahu ga cewek putih, berpipi tembem, dengan rambut sebahu?” tanyaku sambil meletakkan kepalaku ke meja makan.

Terdengar langkah kaki memasuki POCI. Langkah tersebut terdengar menuju tempat memesan makanan.

Aku bisa mengetahui bahwa yang baru saja masuk itu adalah seorang perempuan dari pertanyaan ibu penjual pada sosok yang mendatangi tempat memesan makanan.

“Makan, Neng?”

“Bro, tu yang lu cari!” ucap Babe sembari menyenggol tanganku yang terkulai lemah di meja.

Mendengar kata-kata Babe aku jantungku berdesir. Aku bangkit dari keadaanku yang seperti orang tak berdaya.

Aku menatap ke arahnya. Iya, benar. Itu dia.

  1. 39 WIB
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s