Jati Diri Bangsa Indonesia Yang Mulai Pudar

Sopan santun adalah salah satu bentuk dari jati diri bangsa Indonesia yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang ramah dan berkarakter bersahabat. Namun, kini kita bisa lihat bahwa semakin luntur jati diri tersebut dalam kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Sebagai bangsa timur, layaknya negara Jepang dan Cina sopan santun sangat tercermin dari tingkah laku dalam keseharian. Sayangnya, alasan gempuran budaya barat dan zaman globalisasi ini membuat hal tersebut semakin terkikis dari keadaan di lapangan tentang sebuah arti sopan santun.

 

Selain itu, keramahan pun sudah jarang akan kita temui di kota besar. Terutama di Jakarta. Lebih mirisnya saat ini, sopan santun dan keramahan itu hilang di tangan kalangan yang memiliki tingkat intelektual tinggi. Contoh sederhana adalah tentang apa yang terjadi di kostanku sendiri.

Sopan santun akan tercermin dari bagaimana kita bertamu pada tempat yang bukanlah rumah kita. sebut saja rumah kita sendiri, bukankah dari kecil kita dibiasakan untuk mengucapkan salam? Lalu bagaiaman dengan bertandang ke tempat orang lain? Apakah layak jika kita menjadi selonong boy atau selonong girl? Terlebih lagi kalau kita bertamu ke daerah lawan jenis kita. Seperti cowok yang main ke kost cewek atau sebaliknya.

Yah itu adalah hal yang harusnya terjadi. Namun, nyatanya tak lagi seperti itu. Kadang kita terlalu tidak peduli dengan sekitar kita, main bareng sama temen satu kostan aja susah, jangankan main bareng ga tahu itu bisa saling kenal aja udah bagus. Jujur sih, aku sendiri juga kadang susah untuk mengawali perkenalan dengan orang lain bahkan hingga saat ini aku tak begitu kenal dengan satu penghuni lama kostan tetapi setidaknya saling sapa dengan senyuman. Kalau untuk anak baru. Ehm…, ada tiga yang ga begitu aku kenal dan di antara tiga tersebut ada satu yang aku tak kenal bahkan namanya (tapi tadi udah tahu sih akhirnya namanya).

Oke, kembali pada ketidakpedulian tadi. Sayangnya, ketidakpedulian tersebutlah yang kian lama kita kian pupuk hingga akhirnya satu dengan lain pun tak saling mengenal. Lalu apakah kita akan terus seperti ini? Semua kembali pada kita masing-masing. Mau mulai peduli dan mulai berbuat atau tetap melakukan ketidakpedulian kita.

11 Maret 2015

20.40 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s