Mati Muda

image

Pernah suatu hari aku dan seorang temanku mengobrol melalui aplikasi chatting tentang kematian. Obrolan tersebut berawal dariku yang mengirim gambar yang kalian bisa lihat sendiri di postingan ini (kalau sudah dimasukin ya, kalau belum harap menunggu hingga gambar dimasukkan). Ia pun pada intinya berkata bahwa ia berharap mati muda, meski aku sendiri tak begitu bertanya lebih jauh tentang alasan mengapa memilih mati muda. Pada saat itu aku membalas bahwa aku sendiri masih belum siap untuk mati muda. Mati segera adalah hal yang masih aku takuti saat aku menjawab chat tersebut (meskipun sampai tulisan ini dibuat juga aku masih ragu apakah aku sudah siap saat ini?).

Lalu dari hari tersebut terkadang aku merenung akan kematian, ditambah lagi teman satu kosan kadang mengajak ngobrol tentang agama, hidup, alam semesta, mati, dan hal-hal yang cukup berat bagiku. Kematian adalah pasti, kematian adalah takdir bagi yang bernyawa termasuk aku. Dan beberapa saat tadi aku secara tidak sengaja “memanggil” kembali ingatanku tentang kutipan yang cukup terkenal dalam Islam. Kutipan yang bijak akan hidup dan mati, seperti ini kutipan tersebut berbunyi, “Bekerjalah seakan-akan kau hidup selamanya dan beribadahlah sekan-akan kau akan mati besok”. Dalam kutipan tersebut tergambar jelas tentang keseimbangan dalam mengejar dunia dan akhirat, di mana kita harus berusaha untuk mendapatkan keduanya bukan hanya salah satu.

Dan bila kita ditanya, apakah sudah siap mati saat ini atau besok? bila jawaban dari kita (seperti aku juga) masih menjawab “belum” maka hal tersebut bisa menjadi tanda-tanda bahwa kita masih terlalu banyak kegiatan yang membuat kita terlupa untuk mempersiapkan bekal untuk kematian kita. Syarat dari kematian yang akan menjemput kita bukanlah tua bila kita masih muda, bukanlah sakit bila kita masih sehat, syarat dari kematian yang akan menjemput kita adalah kita masih hidup dan itu adalah waktu. Waktu yang masih kita miliki, entah apa yang kita bisa beri di dalam waktu itu. Mungkin saja, waktu yang kita miliki adalah saat yang memang bisa kita jadikan untuk mengumpulkan persiapan kita menuju kematian.

Ketakutan kita akan kematian adalah bukti bahwa kita memiliki ketakutan akan neraka dan amat sangat berharap serta mendamba surga. Bukankah begitu?

Aku menulis ini bukan untuk menggurui atau hal-hal lain, ini hanya pemikiranku yang ingin kusampaikan pada diriku sendiri serta semoga bisa menjadi bahan obrolan kita agar bisa saling mengingatkan. Semoga berkenan dan terima kasih sudah membaca, semoga bisa mengingatkan kita semua.

 

Depok, 19 Februari 2015

22.40 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s