Iseng

“Setiap dari kita memiliki dua pasang sayap yang siap menerbangkan kita menuju cita-cita kita. Lalu, apa hakku untuk mencengkram erat sayapmu agar kau tetap di sini. Bersamaku sementara ada hal yang ingin kau raih dengan kepakan sayapmu itu,” aku tersenyum menatap wajahnya yang sayu. Air mata menggantung di pelupuk matanya.

“Jika kita memang ditakdirkan untuk saling melengkapi, kita pasti akan bersama. Namun, bukan saat ini. Saat ini biarlah kita jalani hidup kita, menggapai mimpi-mimpi kita, dan di saatnya nanti kita akan dipertemukan kembali. Tak perlu juga kau menungguku, siapa tahu di sana ada sosok yang sesungguhnya telah menantimu dan mungkin saja bukan aku,” angin berhembus pelan, beberapa dedaunan kering terjatuh dari tangkai akibatnya. Dan langit tampak cerah, biru berteman gumpalan-gumpalan putih awan.

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s