24 September

“Hah? Kau hapus?” tanyanya padaku.

“Iya,” jawabku singkat.

Ia hanya geleng-geleng kepala mendengar jawabanku yang singkat tanpa banyak ekspresi.

“Kau sudah membuatnya dengan susah payah, dengan gampangnya kau ctrl delete sehari sebelum ulangtahunnya. Aku ga ngerti lagi,” ia garuk-garuk kepala, entah karena benar-benar gatal setelah lari di sore ini atau hanya sebuah gerakan yang menandakan bahwa ia tak mengeri lagi dengan cara pikirku.

Duapuluh empat September, hari ini. Tepat beberapa tahun lalu aku membuat sebuah cerita dongeng berjudul Air Terjun Pelangi. Namun, bukan itu yang menjadi masalah di sini. Hari ini adalah hari ulangtahun mantanku. Sebelumnya, aku sudah membuat sebuah video sederhana untuk aku berikan padanya di hari ini. Sayangnya, kemarin, sehari sebelum hari ini aku telah menghapus video yang telah menyita sedikit waktuku. Sedikit.

“Kenapa akhirnya kau hapus? Lalu hari ini kau sudah mengucapkan selamat ulangtahun padanya?”

“Sudah, melalui Line. Aku tak punya lagi nomornya semenjak hapeku rusak, aku tahu itulah. Meski sudah minta lagi via twitter tapi belum juga aku simpan. Eh di Line masih tersimpan nomornya. Hohoho, canggih juga ya Line,” aku membaringkan tubuhku di rerumputan yang sudah menguning. Musim kemarau telah menyulap rerumputan di sekitar kampus yang dulunya hijau menjadi kuning, tanah yang terlihat segar menjadi gersang, dan membuahkan hasil yang sempurna saat mencuci baju, kering karena teriknya matahari.

“Cuma itu aja?”

“Ya, awalnya aku mau mengajaknya makan malam tetapi ia sendiri sibuk dengan kerjaannya, mengajar. Dan pula, ia akan lebih bahagia untuk tidak bertemu denganku lagi. Aku tak sengaja membaca twitnya, dan benar aku adalah kesalahan terbesarnya. Semoga ia bisa memaafkan salahku. Itu saja sudah cukup bagiku.”

Mentari sore sudah bersiap untuk tenggelam di barat. Langit semakin gelap. Aku beranjak dari tempatku berbaring. Memberi tanda untuk temanku yang sedang duduk di sampingku untuk berdiri pula. Sore ini puas aku menikmati kegiatan lari sore dengan sepatu baruku.

Aku tersenyum sesaat, aku teringat. Seorang perempuan kadang terlihat seperti badut saat ia menambahkan make up di wajahnya. Dan itu mengacu pada sosoknya yang tadi tak sengaja aku temui saat aku pulang dari perpustakaan. Ia menggunakan baju putih, celana jeans, di tangan kanannya terdapat tas jinjing, dan buku yang cukup tebal. Ia lebih terlihat cantik saat tanpa make up.

Aku dan temanku pun melanjutkan perjalanan pulang dengan jalan santai menuju kost. Beristirahat dan bersiap untuk kuis yang harus aku temui besok.

Selamat ulangtahun untuknya.

 

Permadi Heru P

24 September 2014

20.52 WIB

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s