Di Balik Senyuman

Siang itu, udara tidak terlalu panas untuk ukuran kota yang terkenal panas tersebut. Awan-awan putih seakan berbaik hati menaungi kota sedari pagi. Begitu pula dengan keadaan sosok gadis yang sedang duduk di taman sendirian. Awan kelabu menaungi perasaan hatinya, seakan awan tersebut sudah bersiap untuk meneteskan hujan yang sendu di dalam hati gadis tersebut.
“Apel?” sebuah tangan terjulur di depan wajah gadis tersebut. Ia sedikit kaget atas keberadaan tangan tersebut yang secara tiba-tiba muncul dengan membawa sebutir buah apel merah.
“Kak Dimas,” ucapnya seraya menatap ke arah laki-laki yang berdiri di sampingnya.
“Kok sendiri aja?” Dimas tersenyum.
“Hehehe, iya. Hanya lagi termenung aja, pusing sama tugas kuliah dan persiapan UAS minggu depan yang penuh dengan keganjilan,” jawab gadis tersebut. Gadis tersebut tersenyum, sebuah senyum palsu.
“Semoga tugas bisa diselesaikan dengan baik, terutama tugas yang berkaitan dengan perasaan hatimu, ya kan, Uti?” Dimas menyerahkan apel yang sedari tadi ia bawa. Tersenyum.
“Hah?” Uti tak mengerti apa yang dimaksud dari perkataan kakak angkatannya atau mungkin pura-pura tak mengerti.
Dimas tersenyum kembali.
“Cobalah kau tersenyum, sebuah senyum sederhana dan tentunya senyum yang ikhlas,” pinta Dimas pada Uti.
Uti pun tersenyum, senyuman yang manis. Bila saja senyum itu dilihat oleh laki-laki lain bisa saja laki-laki tersebut akan jatuh cinta pada Uti karena senyum manis tersebut. Seketika itu pula, Dimas menunjuk satu sudut bibir Uti yang sedang tersenyum.
“Ada yang salah dengan senyumku, kak? Atau jangan-jangan kakak naksir lagi sama senyumanku?” goda Uti.
“Hehehe, bisa jadi. Namun, untuk kali ini tidak. Di sana, di sudut senyumanmu. Aku menangkap kesedihan bergelayut, kesedihan yang berasal dari perasaan hatimu.”
Uti membatu, jantungnya seakan berhenti berdetak meski hanya sesaat. Telak. Begitulah perasaannya saat Dimas membaca apa yang sebenarnya ia rasa. Ia perempuan yang sulit untuk dibaca perasaannya, ia bisa secara rapi menyimpan apa yang ia rasa, menutup apa yang memang tak seorang pun perlu tahu tentang perasaannya. Namun, tidak untuk kali ini.
“Selesaikan tugas-tugas kuliahmu, sabtu besok kuakan ajak kau ke tempat di mana kau bisa tersenyum tulus. Dengan sebuah syarat tentunya, Uti tak boleh pikirkan apa pun selain yang ada di sana, oke?”
“Tapi kan, Senin UAS, Kak.”
“Tenang, percaya deh sama kakak angkatanmu ini. Ini adalah hal yang kau butuhkan untuk menghadapi UAS hari Senin dan selanjutnya,” Dimas mengacungkan ibu jari. Ia begitu percaya akan apa yang ia katakan. Memang begitulah dirinya, selalu percaya diri untuk membuat orang yakin padanya.

Unik. Begitu pikir Uti pada bagaimana cara Dimas membuatnya tersenyum tulus. Ia, anak bungsu dari dua bersaudara yang begitu jarang untuk berdekatan dengan anak-anak kecil kini harus mengurus lima belas balita yang berada di dalam sebuah ruang kelas. Kali ini, Uti sedang berada di ruang kelas TK untuk membantu mengasuh anak-anak TK tersebut.
“Bu guru Fira, sekarang kita akan melakukan apa?” tanya Uti pada Fira, seorang suka relawan yang setiap Sabtu mengajar di TK tersebut.
“Kita akan bernyanyi bersama,” jawab Fira yang langsung disambut kegembiraan anak-anak.
Dimas duduk di belakang barisan terakhir anak-anak TK yang duduk lesehan di karpet. Ia bertugas menertibkan anak-anak yang usil. Terkadang, ia tersenyum saat mendapati Uti sedang mencuri pandang ke arahnya. “Hei, ini menyenangkan kan?” begitu isi senyuman yang ia lemparkan.
Namun ternyata, hari itu belum berakhir. Setelah usai bermain bersama anak-anak TK, Dimas mengajak Uti ke tempat yang selama ini belum pernah pula ia datangi. Sebuah panti jompo. Di sana Uti kembali merasakan apa yang selama ini tak pernah ia bayangkan akan terjadi pada dirinya. Ia dengan sabar dan penuh kasih sayang membantu nenek-nenek dan kakek-kakek mengerjakan pekerjaan mereka.
Seakan ia menjadi ibu yang sedang menyuapi anaknya saat ia dimintai tolong oleh pengurus panti jompo untuk membantu menyuapi seorang nenek yang ingin makan. Ia pun menikmati sore yang indah bersama seorang kakek di kebun belakang panti jompo tersebut untuk berkebun. Memetik beberapa buah strobery yang ditanam di pot-pot kecil.
Tentu saja, Dimas pun membantu kegiatan tersebut. Bahkan Dimas sempat membacakan cerita pada seorang nenek yang cukup akrab dengan Dimas.

Uti dan Dimas mengakhiri hari Sabtu mereka dengan jalan-jalan di pusat pertokoan di kota mereka. Menikmati malam minggu seakan mereka muda-mudi yang sedang berpacaran. Senyum di bibir Uti tak jua memudar, senyum itu masih saja mengiringi perjalan mereka menikmati malam tersebut.
“Wah, hari yang begitu menyenangkan ya, Kak?” Uti tersenyum ceria.
“Benar kan, kau akan menikmatinya,” Dimas pun membalas senyum Uti dengan senyum miliknya.
“Rasanya seneng bisa main sama anak-anak kecil, terus bisa berkebun di tempat yang tak biasa bagiku.”
“Terima kasih, Kak,” lanjut Uti setelah beberapa saat memberi jeda pada ucapannya.
“Iya, sama-sama.”
Mereka melanjutkan jalan-jalan mereka menuju sebuah tempat makan khas anak muda. Setelah itu, mereka pun pulang. Dimas mengantar Uti pulang malam itu dengan motor matiknya.
Sejenak, Uti telah lupakan segala kesedihan yang ia rasa. Di hari Sabtu tersebut ia menyadari bahwa ada yang lebih penting dari sekadar terus memikirkan perasaannya. Menyibukkan diri dengan kegiatan positif adalah jalan keluarnya.

UAS selesai. Liburan menanti, Uti yang dibawa oleh Dimas ke TK dan panti jompo di hari sabtu waktu itu merasa ketagihan untuk ikut kegiatan yang senada dan seirama dengan hal tersebut. Dimas pun mengajak Uti untuk main-main kembali ke tempat-tempat yang serupa, terkadang mereka pun kembali ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Seakan-akan liburan semesteran kali ini dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan unik, ajaib, dan penuh kebahagiaan bagi Uti meski pun tidak setiap hari pula mereka pergi.
Kali ini, giliran Dimas mengajak Uti ke sebuah panti asuhan di daerah tersebut. Mereka berangkat pukul delapan pagi dari rumah Uti, hari ini cukup spesial karena mereka berangkat lebih pagi dari biasanya. Setibanya di sana, Dimas langsung disambut oleh anak-anak kecil yang girang melihat kedatangannya. Ia langsung dikerubungi oleh anak-anak kecil, seakan ia adalah gula yang diserbu oleh kawanan semut.
“Biasa, kalo artis ya seperti ini,” ucap Dimas pada Uti yang melihat ekspresi Uti begitu kaget dengan apa yang ia lihat.
Uti hanya membalas senyum. Namun, senyuman tersebut seakan berkata, “Dasar, si kakak ini.”
Selanjutnya, Dimas dan Uti pun bertemu dengan pengurus panti asuhan. Mereka mengobrol sebentar yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan menata meja dan kursi di ruang serba guna. Siang ini panti asuhan mengadakan kegiatan berbagi bersama beberapa donatur panti yang hadir untuk ikut memeriahkan kegiatan.
Kegiatan tersebut diadakan sebagai bentuk syukuran dari seorang donatur yang usahanya berhasil. Acara tersebut lebih didominasi oleh kegiatan anak-anak, mulai dari bernyanyi bersama, bermain peran, hingga mendengarkan dongeng dari Dimas. Kegiatan berakhir di sore hari, setelah kegiatan usai Dimas dan Uti tidak langsung pulang melainkan ikut membantu membersihkan dan merapikan kembali ruang serba guna.
Selesai beres-beres ruangan, Dimas kembali bermain-main bersama anak-anak. Sementara itu, Uti melihat hal tersebut di kursi taman. Seorang ibu-ibu mendatangi Uti yang sedang duduk sendiri. Ibu Ida nama beliau.
“Dia selalu ceria ya?” ucap Ibu Ida mengawali pembicaraan.
“Ah, iya, Bu. Kak Dimas memang selalu tersenyum. Ia selalu terlihat ceria. Seakan-akan ia selalu bahagia, meski saya sendiri yakin kadang ia pun merasakan kesedihan,” balas Uti masih menatap Dimas yang sedang kejar-kejaran dengan anak-anak.
“Sudah kenal berapa lama sama Dimas?”
“Ehm…, kira-kira enam bulan, Bu.”
“Owh…, masih baru juga ya. Dimas dari kecil sering sekali loh main ke sini. Dari SD ia sering ke sini, main bersama anak-anak. Namun, sekarang teman-teman yang satu pantaran dengannya sudah pada pergi dari sini. Malah dia sekarang menjadi kakak asuh di sini.”
“Dari masa SD? Jadi Ibu kenal Kak Dimas dari kecil dong?” tanya Uti, kali ini ia pindahkan tatapannya ke arah Ibu Ida.
“Iya, kenal sekali dengan Dimas. Mungkin Uti belum tahu banyak hal tentang Dimas, ia terlihat anak yang ceria. Namun, di satu sisi ada kesedihan di balik senyumnya,” Uti langsung menoleh ke arah Ibu Ida. Ia tahu, Bu Ida ingin menceritakan suatu hal yang amat penting tentang Dimas padanya.
“Apakah Uti tahu, Dimas kehilangan orangtuanya saat ia SD. Ia hidup sendiri di rumah, hanya pembantu rumah tangga yang sedari dulu menemaninya. Ia kehilangan kedua orangtuanya karena kecelakaan pesawat. Tiga bulan semenjak kehilangan orangtuanya ia menjadi anak yang pendiam dan pemurung. Hingga akhirnya ia tak sengaja pergi ke panti ini. Ia temukan anak-anak yang seusia dengannya yang memiliki kehidupan yang hampir serupa dengannya. Ia lambat laun berubah menjadi anak yang ceria. Tak tampak kesedihan tersirat di wajahnya.”
Uti yang mendengar hal tersebut seakan tak percaya bahwa sosok kakak angkatannya yang begitu terlihat ceria menyimpan kenangan yang begitu menyedihkan.
“Hingga kini, Ibu tak pernah melihat Dimas bersedih. Namun, di balik senyumnya. Ibu bisa merasakan kesendirian yang masih belum bisa terobati. Ibu harap Uti bisa untuk membantu Dimas untuk  mengobatinya,” Bu Ida tersenyum menatap Uti.
Uti bingung akan arti senyum Bu Ida.
“Ehm…,” Uti tak bisa berkata apa-apa.
“Tolong jagain Dimas, ya Uti. Dimas itu seperti anak ibu sendiri, mungkin suatu hari nanti akan ada waktu di mana Uti bisa membantu Dimas dalam menghadapi masalahnya,” tangan Ibu Ida menggenggam tangan Uti. Ibu Ida menatap Uti penuh harap.
“Iya, Bu. Semoga Uti bisa membantu,” Uti tersenyum canggung.

“Kak Dimas, terima kasih sudah ngajak Uti ke panti hari ini,” Uti tersenyum senang.
“Iya, sama-sama. Aku juga ucapkan terima kasih sudah mau bantu-bantu di panti. Aku senang, akhirnya kau tersenyum ceria. Hehehe…,” balas Dimas.
“Ya udah, aku balik dulu ya. Biar bisa segera istirahat di rumah,” lanjut Dimas.
Dimas segera menyalakan motornya kembali.
“Kak Dimas,” panggil Uti tiba-tiba.
“Ya?”
Sesaat kemudian tak ada kata yang terucap dari mulut Uti. Sepi seketika, hal tersebut berlangsung tak begitu lama.
“Ehm…,” ucap Uti ragu.
“Jika nanti Kak Dimas sedih, tolong beri tahu aku. Aku juga ingin buat Kak Dimas ternyum ceria lagi,” Uti tersenyum.
“Oke, dengan senang hati!” balas Dimas.
“Sampai jumpa,” Dimas pun pergi.
Uti masih terdiam di depan pagar rumahnya. Di dalam hatinya masih ada perasaan yang belum tersampaikan. “Kak Dimas, semoga Uti bisa membantu kakak untuk menghilangkan rasa kesepian kakak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s