Liburan Panjang

Libur panjang tiba, hari-hari bebas yang telah lama ditunggu-tunggu oleh para siswa sudah datang. Begitu banyak rencana yang sudah disiapkan untuk mengisi libur panjang kenaikan kelas. Dan ini adalah kisah tiga anak SMA menjalani masa liburan kenaikan kelas.

Sang fajar menyingsing dari arah timur, melangit dengan perlahan tetapi pasti. Ia menuju barat di kala senja. Pagi yang indah untuk mengawali hari-hari libur panjang yang penuh kebahagiaan. Namun, tidak untuk kali ini bagi Firnan. Perasaannya telah layu, menjadi layu semenjak kemarin malam.

“Huuuuffffttt….,” Firnan menghela nafas dalam.

Matanya menatap langit biru dengan sendu, awan-awan putih tak terlhat pagi ini. Sepi, seakan menggoda Firnan yang kali ini pun merasa sepi. Mungkin, bukan perasaan sepi yang ia rasa melainkan perasaan tak termiliki. Ia berharap hari ini hujan. Hujan datang agar hari ini menjadi hari yang sempurna untuk ia nikmati dengan berada di dalam kamarnya tanpa banyak aktivitas.

Namun, sepertinya itu tak terjadi untuk hari ini. Langit begitu sempurna cerah, tak ada gumpalan awan bahkan sekecil kepalan tangan pun tak terlihat di langit. Lalu, bagaimana akan terjadi hujan? Mungkin saja, ya mungkin saja nanti terjadi. Nanti yang tak pula pasti.

Benar, akhirnya hujan turun. Hujan lebat turun di hari ke tujuh setelah Firnan meminta agar hujan datang segera. Permintaannyakah atau ini memang kehendak Sang Kuasa untuk memberi kebahagiaan pada rerumputan yang menguning, pada tanah yang kering, pada makhluk-makhluk di atas bumi yang telah lelah menanti segarnya air dari langit setelah terik matahari menemani di hari-hari di musim panas ini.

Liburan terus berjalan, ia menjalaninya setengah hati. Bermain bersama teman-temannya, pergi ke rumah saudara bersama keluarga, serta menyempatkan diri untuk mengurung diri di kamar. Ia berkata pada keluarganya bahwa liburan adalah masa hibernasi untuknya. Menjalani liburan panjang tanpa tawa yang sesungguhnya, mungkin itu tema liburan Firnan kali ini.

Setiap orang pernah bersedih, setiap orang pernah merasa sakit hati. Namun, hanya mereka yang berhati kecil yang berkata pada diri, pada dunia, dan pada Sang Kuasa bahwa hidup ini tak adil pada dirinya. Firnan menyadarinya, ia selama beberapa hari ini selalu mengeluh akan hal tersebut. Hanya karena hal kecil yang terjadi padanya. Namun, mungkin bagi mereka yang sedang merasakannya itu adalah hal besar yang begitu menyakitkan, apa lagi bila hal tersebut adalah hal yang pertama kali terjadi padanya.

Akhirnya, Firnan mencoba untuk kembali menjadi dirinya yang dulu. Tersenyum menyambut hari-hari libur yang masih tersisa. Sisa liburan masih panjang. Ia harus menikmatinya dengan kebahagiaan. Bersama teman, bersama keluarga, meski tak bersama cinta.

Dan di sebuah hari yang cerah. Firnan bertemu dengannya…

Merasa bersalah akan keputusan terbaik adalah hal yang mungkin saja terjadi. Hal tersebut bisa saja terjadi karena keputusan terbaik yang kita rasa menjadi alasan kesedihan seseorang. Ini adalah hari pertama libur panjang kenaikan kelas dan inilah kisah liburan Aida.  Aida masih saja bermain dengan sereal yang menjadi menu sarapannya. Ibunda Aida bingung melihat putrinya terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ibunda Aida membelai putrinya pelan. Aida menatap sang ibunda, ibunda Aida hanya tersenyum.

“Terima kasih Bunda,” Aida tersenyum ke arah bunda.

Aida segera menghabiskan serealnya. Ia bergegas pergi ke tempat di mana ia dan teman-temannya berjanji untuk berkumpul, bermain bersama. Bunda menatap Aida dengan sebuah senyum senang.

Pintu rumah terbuka lebar, cerah hari karena sinar matahari seakan menyambut petualangan Aida hari ini. Aida mengeluarkan motor matiknya, ia membentangkan kedua tangannya ke atas. Ia tersenyum.

“Keputusanku ini adalah yang terbaik!” Aida meyakinkan dirinya. Setelah berdoa, ia segera melaju bersama motor matiknya.

Meski ini adalah liburan panjang kenaikan kelas, Aida masih saja sibuk dengan kegiatan di sekolah. Ia yang menjabat sebagai ketua klub jurnalistik masih harus sibuk dengan mencari berita untuk majalah sekolahnya di awal masuk sekolah nanti. Rapat dengan teman-teman satu organisasi pun tak terelakkan harus ia lakukan. Inilah liburan panjangnya. Sibuk dengan dunia jurnalistik yang ia geluti.

Namun, ada pula hari-hari di mana Aida bisa menikmatinya dengan bersantai di rumah bersama ibundanya dan adik perempuannya. Kadang pula ia berkesempatan berjalan-jalan bersama keluarga untuk menikmati hari libur dengan keluarga. Inilah liburan.

Dan di sebuah kesempatan, pertemuan tak terelakkan. Canggung, sedikit bingung, dan linglung. Ingin tersenyum, menyapa, hingga akhirnya malah salah tingkah. Aida merasa terkepung. Pertemuan

Liburan baru saja dimulai, Hendra begitu bersemangat menyambut hari-hari yang suci. Suci dari tugas, suci dari PR, dan suci dari belajar untuk menghadapi ulangan dadakan dan ulangan perbaikan. Inilah hidup, begitu pikirnya saat liburan dimulai.

“Hari ini, ada hal menarik apa ya yang akan terjadi? Hehehehe,” Hendra tersenyum usil. Ia masih saja mengingat apa yang terjadi semalam. Kebahagiaan untuknya, kesedihann bagi mereka yang menjalaninya.

Namun, tak ada hal-hal menarik yang terjadi di dalam liburan Hendra kali ini. Semua seakan sama saja, menikmati liburan bersama keluarga, teman, dan menikmatinya seorang diri dengan bermain game. Tak ada hal menarik layaknya malam sebelum liburan dimulai.

“Ah…, sepertinya liburan kali ini ga seru, ga asyik nih…,” ucapnya pada dirinya sendiri sembari berjalan menyeberangi jalan yang sepi.

Hendra tersenyum, ia kembali teringat kejadian malam itu. Entah mengapa, ia begitu bahagia. Seakan ia bisa melihat sebuah drama remaja secara nyata di depan matanya. Saat seorang cowok menyatakan perasaannya pada seorang cewek. Namun, saat si cowok menanyakan kelanjutan hubungan antara ia dan cewek tersebut, cowok tersebut hanya bisa tersenyum getir mengetahui bahwa ia hanya bisa menjadi teman dan tak bisa lebih.

“Yah, hal itu pasti menyedihkan. Bagaimana lagi ya, perasaan yang tak tersambut. Aku tahu, karena aku pernah merasakannya. Namun, hidup ini terus berlanjut. Sedih sih iya tapi ga sampe harus bunuh diri kan? Hehehe…,” ucap Hendra pada dirinya sendiri.

“Gimana ya kalo mereka ketemu, ehm…, pasti canggung tuh. Mau banget bisa ketemu kejadian itu. Hahahaha…, dasar aneh aku ini,” lanjut Hendra yang masih terus melangkah menyusuri jalanan di kota.

Ia melangkah menuju taman kota. Taman kota sepi, mungkin karena hari masih pagi. Namun, ternyata ada hal menarik di sana.

Di sana. Di taman kota, ia melihat seorang cowok dan seorang cewek yang terlihat begitu canggung, berdiri, dan saling diam. Hendra tersenyum tak percaya. Apa yang ia harap, terjadi.

“Wah-wah-wah, ga nyangka bisa lihat drama remaja secara langsung untuk kedua kalinya…,” Hendra terkikik-kikik.

Selesai!!!!!^^d

22.13 WIB

8 Juli 2013!!!^^d

Permadi Heru Prayogo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s