Menatap Langit, Menatap Awan

Saat itu, seorang lelaki muda sedang duduk di tepi jurang. ia tampak sendirian di sana tanpa berkawan siapa pun. Angin berhembus pelan, kedua tangannya menangga tubuhnya. Wajahnya ia arahkan ke atas, ke arah langit. Ia menatap beberapa gumpalan awan yang tenang melanyang di langit biru. Ia menghirup nafas dalam dan kemudian menghembuskannya melalui mulutnya seakan bersama hembusan itu perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya bisa ikut terbawa oleh hembusan itu.
“Sedang apa kau di sini?” tanya sebuah suara yang tak diketahui dari mana asalnya.
“Sedang menatap awan,” balas lelaki tersebut.
“Iya, sedang melihat awan. Maksudku ngapain kamu ngelakuin hal kayak gitu?” tanya suara itu lagi.
“Mencari kebahagiaan dengan cara yang sederhana,” senyum simpul tergores di wajah lelaki tersebut.
“Kau pasti bohong, kau lagi kesepian kan?”
“Hehehe, biasa aja. Kan aku memang sedang menyendiri di sini. Menatap pemandangan yang indah yang ada di hadapanku. Aku memang menyepi di sini tetapi tidak merasa kesepian.”
“Betulkah? Manusia memang bisa berbohong melalui lisannya, hehehehe…”
“Mengapa aku harus kesepian? Bukankah setiap orang pasti memiliki waktu sendiri? Bahkan setiap dari kita nantinya pun akan sendiri dan kesepian, sehingga tak ada alasan aku merasa kesepian
“Nampaknya, ada goresan sedih di dalam senyum simpulmu. Apakah aku benar?”
“Mungkin, hahaha… setiap orang memiliki titik sedihnya di setiap sudut matanya. Namun, tak semua orang bisa melihat titik tersebut,” lelaki tersebut kembali tersenyum. Kini, senyum itu semakin lebar.
“Apakah kau menikmati waktu yang kau sedang jalani saat ini?”
“Tentu, tentu aku menikmatinya. Aku sangat senang menatap awan, menatap langit, menikmati semilir angin yang berhembus, aku menikmati semua yang sedang terjadi padaku.”
“Apa alasanmu menikmatinya dengan kesendirianmu?”
“Karena aku harus tetap menikmati apa pun yang terjadi. Meski sendiri, meski tersisihkan, meski terbuang dari orang-orang lain. Hanya saja terkadang kita sering terpaku pada hilangnya orang lain tanpa menyadari kebahagiaan tanpa orang lain.”
“Jadi orang lain itu menyusahkan?”
“Tidak pula, hal yang kita jalanilah yang membuat semua itu tampak nyata…”
“Maksudnya?”
“Sebetulnya kita bisa menghendaki diri kita untuk berpikir semua itu indah, semua itu menyedihkan, semua itu menyebalkan, atau semua itu membahagiakan. Namun, karena kita terpaku pada apa yang ada di depan mata sehingga kita lupakan tentang apa yang bisa kita bentuk dari diri kita sendiri. dari perasaan kita sendiri… begitulah…”
“Kau mengerti kan?” lanjut lelaki tersebut.
“Baiklah aku mengerti..”
“Aku akan pergi sekarang, saatnya kita sudahi percakapan ini, sampai jumpa. sampai bertemu kembali…”
Lelaki tersebut pun meninggalkan tepi jurang tersebut dan pergi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s