Istirahat di Rumah Sakit

Begini ya rasanya istirahat di rumah sakit, itulah hal yang sedang ada di pikiran Dimas. Ia sedang rawat inap di rumah sakit akibat kecelakaan yang terjadi padanya saat ia pulang mendongeng di SD IT. Hanya sedikit orang yang tahu tentang hal ini, Dimas memang merasahasiakan kecelakaannya. Ia tak ingin untuk membuat orang-orang yang mengenalnya khawatir akan keadaannya.

Saat Ibunda Dimas melihat keadaan Dimas yang sedang terbaring di kamar pasien Ibunda Dimas langsung menangis dan sedikit marah-marah atas kecerobohan Dimas. Dimas tak habis pikir, ia masih sempat dimarahi saat seperti itu. Namun, ia tahu bahwa Ibundanya sangat sayang padanya dan sedih melihat keadaan anaknya seperti itu.

Semua jadwal kegiatan dongengnya batal. Eri, sosok yang menjadi asisten Dimas untuk kegiatan mendongengnya di Magelang menjadi sedikit sibuk untuk meminta maaf kepada mereka yang sudah berniat mengundang Dimas untuk kegiatan mendongengnya. Erilah teman yang pertama kali menjenguk Dimas di rumah sakit, karena hanya dia yang saat itu tahu akan keadaan Dimas.

Sementara itu, teman-teman lain yang tahu akan keadaan Dimas hanya Adi, dan beberapa temannya yang memiliki janji dengannya untuk kegiatan mendongengnya. Tidak ada teman-teman kampus Dimas yang ia beri tahu tentang hal yang terjadi padanya saat ini.

“Gimana keadaanmu, Kak?” tanya Eri saat ia berkunjung ke rumah sakit.

“Ya seperti inilah, sedikit lecet dengan tangan kiri retak. Hehehe,” seperti biasa Dimas menjawab dengan senyum cerianya.

“Tahu ga Kak, aku kebingungan saat Kakak tiba-tiba tidak datang di hari Minggu kemarin dan baru memberi tahu setelah aku telpon. Aku hampir saja mendogeng di depan anak-anak TK karena Kakak tidak datang,” wajah Eri terlihat kesal, terutama setelah melihat senyum bahagia yang Dimas berikan.

“Itu yang sebetulnya aku tunggu, ngapain cuma jadi asistenku. Bantuin fotoin kegiatanku dan bantu cariin sekolah yang mau untukku melakukan kegiatan mendongeng,” balas Dimas.

“Huffft…, kalo aja enggak lagi sakit aku lempar juga nih pake buah apel. Aku kan udah bilang dari awal bantu Kakak. Aku di sini untuk nemenin dan lihat dongeng enggak untuk mendongeng,” Eri semakin kesal dengan ucapan Dimas.

“Iya-iya, maaf deh. Sebagai bentuk permintaan maafku, kupasin satu buah apel dong untukku,” Dimas masih saja bisa memerintah dengan santai.

“Minta maaf kok ngerepotin, oke deh karena aku baik hati dan kamu juga lagi sakit, Kak. Aku kupasin satu buah apel tanpa berbayar.”

Dimas tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Eri.”

Di kesempatan lain, teman-teman Dimas yang sedang KKN menyempatkan diri untuk menjenguknya. Merekalah yang dijanjikan Dimas untuk ia bantu mengisi kegiatan anak-anak di proyek KKN yang mereka lakukan. Namun, karena kecelakaan tersebut Dimas tak bisa tepati janjinya dan hanya bisa membantu memberikan buku-buku yang ia dapat dari sponsor kegiatan mendogengnya, Komisi Pemberantasan Korupsi. Sepuluh buku saku tentang melawan korupsi dan beberapa buku dongengdari KPK.

Assalamualaykum, hei Adina. Apakah kau berkenan menjengukku di rumah sakit?n_n

Dimas mengetikkan sebuah pesan singkat di telpon genggamnya. Namun, setelah beberapa saat membaca kata-kata yang ia tulis di layar telpon genggamnya alih-alih ia segera menghapus pesan tersebut.

“Dia enggak usah tahu, ga penting juga. Ngapain sih ngarep,” Dimas meletakkan kembali telpon genggamnya di meja dekat tempatnya berbaring.

Ia kemudian mengambil boneka tangan beruang berpita merah yang tergeletak di meja yang sama. Menyarungkan boneka tangan beruang bernama Bibo tersebut di tangan kanannya dan mulai untuk bicara dengan boneka tersebut seperti biasa.

“Bibo, kali ini kita terpaksa liburan dari kegiatan mendongeng. Mungkin bukan liburan tetapi saatnya mengakhiri kegiatan kita…,” ucap Dimas dengan senyum lemah.

“Hah? Bubaran mendongeng? Didi, Bibo sedih…, ayo Didi setelah Didi sehat kita kembali mendogeng lagi. Bibo suka mendongeng, Bibo suka saat Didi mendongeng bersama Bibo, Momo, Lana, serta yang lain,” balas Bibo yang sesungguhnya adalah suara Dimas yang berubah menjadi cempreng.

“Huffft…, Didi ga janji Bibo. Sekarang sudah banyak anak-anak UI dan yang lain yang berminat dan mulai mendongeng. Dengan begitu Didi tak mendongeng pun sudah ada banyak yang mendongeng. Masih ada Yodha, Ardhita, Amira, dan teman-teman lain.”

“Ya udah, terserah Didi aja deh. Bibo kesel, udah-udah Bibo mau tidur lagi,” Bibo si boneka beruang akhirnya kembali ke tempatnya di atas meja.

“Maaf ya Bibo…,” Dimas menatap boneka beruangnya dengan senyum kesedihan.

Terdengar sebuah dering pesan masuk di telpon genggam Dimas. Dimas segera mengambil telpon genggamnya dan membaca pesan yang masuk tersebut. Pesan tersebut berasal dari Anggrita, teman satu jurusan Dimas.

Hei, lagi apa nih? Gimana dongengmu?

Tanpa banyak berpikir Dimas segera membalas pesan tersebut.

Alhamdulillah, lagi istirahat di rumah sakit. Hehehe…

Oh ya, terima kasih untuk dongeng-dongengnya yang telah kamu buatin untukku. Aku senang sekali. Namun, sepertinya aku akan mengakhiri dongengku.

Dimas segera mengirim pesan tersebut.

Tak lama kemudian, balasan dari Anggrita pun muncul.

Hah? Istirahat di rumah sakit? Emang kenapa? Sakit apa?

Lho kok gitu? Enggak kayak Dimas yang aku kenal, Dimas yang aku kenal sejak semester 1 itu orang yang ceria dan pantang menyerah. Mengapa sekarang malah enggak mendogeng lagi?

Selesai membaca pesan tersebut Dimas kembali membalas pesan tersebut.

Hehehe, iya nih habis kecelakaan. Masuk rumah sakit deh, Alhamdulillah baik-baik aja kok. Cuma tangan kiriku aja yang retak.

Sekarang aku baru tahu rasanya pakai gips itu gimana. Hohoho…, enggak enak.

Ruang tempat Dimas dirawat sungguh sepi. Tak ada seorang pun di sini kecuali Dimas. Dimas menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku yang dibawa oleh Ibundanya. Kali ini, ia sedang menikmati karya seorang anak perempuan berumur 11 tahun bernama Salma Salsabila. Sebuah novel berjudul Super Duper Adventure.

“Dunia dongeng ya? Seperti yang pernah aku buat,” Dimas tersenyum seraya terus membaca novel tersebut.

Pintu kamar terbuka, terlihat sesosok laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kamar Dimas.

“Hei pawing dongeng, apa kabar?” ucap sosok laki-laki yang baru saja masuk ke ruang Dimas dirawat.

“Salam kek, ini malah hai hei hai hei aja.”

“Tuh kan, Kak langsung dimarahi yang punya ruangan,” ucap seorang perempuan yang bersama sosok laki-laki tersebut.

“Iya deh, maaf.”

“Apa kabar, Nuna? Kakakmu satu itu baik-baik aja kan?” tanya Dimas pada tamunya.

“Hei, orangnya ada di sini. Kau tanya langsung saja padaku tentang keadaanku. Aku baik-baik aja. Enggak kayak kamu yang lagi di rawat di rumah sakit,” ucap Adi yang langsung menjabat tangan Dimas.

“Tuh, udah dijawab kan sama Kakakku yang tercinta,” balas Dinna yang kerap dipanggil Nuna oleh Adi dan kemudian Dimas pun ikut-ikutan memanggilnya Nuna.

Dimas menatap bungkusan yang dibawa oleh Dinna, tanpa ragu ia pun berkata, “Wah apa itu? Untukku kan? Apa oleh-oleh untukku yang sedang terbaring di rumah sakit ini?”

“Izzz, siapa juga yang untuk kakak. Bukan, Kak. Ini bukan untuk Kakak, ini untuk sepupu kecilku,” balas Nuna.

“Yah..,” Dimas terlihat kecewa.

“Hehehe…, enggak kok. Ini memang untuk Kakak, kita kemarin beli ini. Khusus didatangkan dari Jogja hanya untuk Kakak pendongeng yang lagi terbaring di rumah sakit dengan tangan kiri yang retak, hohoho…,” ledek Nuna.

“Sini-sini, aku lihat,” Dimas terlihat begitu kekanak-kanakan mendapatkan hadiah dari Adi dan Dinna.

“Kayak orang lagi ulang tahun aja ya, dikasih hadiah,” Adi geleng-geleng kepala.

“Gimana ceritanya, Kak. Kok bisa jadi kayak gini?” tanya Nuna.

“Wah kalo aku certain, udah ga jadi cerpen lagi. Ntar bisa-bisa jadi novel dengan delapan seri. Namun, intinya adalah karena aku kurang hati-hati, hehehe,” jawab Dimas ngaco.

“Ya udah, pokoknya seneng deh, Kakak enggak lebih parah dari ini.”

Nuna menyerahkan bungkusan yang ia bawa, Dimas langsung membuka bungkusan tersebut. Mengambil sebuah buku yang ada di dalamnya. Matanya berbinar-binar, sebuah buku dongeng yang cukup bagus dan ia tahu bahwa itu bukanlah buku yang murah.

“Ah…, buku dongeng…,” Dimas terlihat begitu senang.

“Iya, kemarin Nuna yang cari. Khusus untuk Kakak pendongeng,” Nuna tersenyum senang.

“Eh, ada lagi,” Dimas menatap ke dalam bungkusan tersebut.

“Waw, Den Liner…,” Dimas mengeluarkan sebuah kereta mainan. Kereta mainan yang bernama Den Liner. Itu adalah salah satu mainan yang berkaitan dengna hal yang Dimas sukai yaitu Kamen rider (mungkin kita lebih mengenal kamen rider dengan sosok satria baja hitam).

“Ah, ada juga action figure Kamen Rider Den-O Climax Form,” Dimas kembali mengeluarkan sebuah mainan berbentuk orang berkostum.

“Terima kasih, Nuna,” Dimas begitu senang dengan benda-benda yang ia dapat.

“Itu bukan dariku, Kak. Itu dari Kak Adi.”

“Owh, makasih ya…,” Dimas berkata dengan nada datar.

“Iya, sama-sama,” balas Adi dengan nada datar.

“Kapan bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Adi.

“Minggu depan, masih harus ini-itu segala. Ah pokoknya membuatku bête di sini,” jawab Dimas.

“Kakak, aku haus. Aku cari minum dulu ya?” Nuna langsung saja pergi meninggalkan Adi dan Dimas.

“Jangan hilang ya? Susah aku nemu adik kayak kamu lagi,” ledek Adi pada adiknya sendiri.

“Emangnya aku anak ayam, ilang karena tersesat,” dengus Nuna kesal.

Dimas asyik membuka-buka halaman demi halaman buku dongeng yang baru saja ia terima. Adi melihat Bibo yang tergeletak di meja dekatnya duduk, ia mengambilnya tanpa harus bergerak dari tempat duduknya.

“Wah, si Bibo sampai ada di sini. Nemenin Didi ya?” tanya Adi pada boneka tangan berbentuk beruang berpita merah tersebut.

“Iya, dia nemenin aku. Karena itulah tugas terakhirnya. Setelah ini, aku udah enggak mendongeng lagi.”

“Hah? Enggak mendogeng lagi? Kenapa? Bukankah kau sangat suka dongeng? Kau begitu semangat untuk membuat kegiatan mendongeng di Magelang. Membuat komunitas Magelang Bercerita, kenapa malah berhenti mendongeng?” tanya Adi tak mengerti.

“Tugasku sudah berakhir, sudah banyak orang yang suka mendongeng sekarang. Aku sudah tak perlu mendongeng lagi, keberadaan Magelang Bercerita pun sebuah kesalahan. Aku ingin membuat komunitas yang keren tetapi itu adalah hal yang salah, karena seharusnya itu adalah KODAI. Komunitasku di UI. Aku hanya ingin untuk tidak bergantung pada seseorang, itu hal yang salah kan,” Dimas tersenyum.

“Setiap orang pernah membuat kesalahan tetapi hanya orang yang berjiwa kesatria yang mau mengakui dan memperbaikinya,” Adi menatap Dimas degan pandangan tajam.

“Iya, aku tahu itu. Itu lirik lagu Sherina. Aku sudah membulatkan tekad untuk mundur dari dunia bercerita, dunia mendongeng. Biarkan teman-temanku yang hebat yang akan terus mendongeng untuk anak-anak Indonesia.”

“Seperti yang aku duga, kau adalah tipe cowok yang mudah menyerah. Ingatlah saat awal kau bercerita, saat kita pertama kali bertemu, saat itu aku sungguh dibuat olehmu kagum. Pada sosok seorang Dimas yang bercerita pada anak-anak kecil, ia yang tersenyum, bersemangat, menggebu-gebu dalam bercerita. Kini yang aku lihat adalah sebuah lilin yang telah redup sinarnya.”

“Dimas, kau ingat tentang cerita Kisah Sang Penandai? Di bagian akhir Kapten Ramirez berkata begini ‘pohon pisang tidak akan pernah mati walau ditebas ribuan kali. Ia kan terus tumbuh, merekahkan daun-daun baru. Karena itulah janji pohon pisang. Ia tak akan mati sebelum berbuah. Kau juga seharusnya begitu, kau tak akan berhenti hingga dongengmu berakhir indah. Kau telah berjalan jauh, meski masih jauh pula jalan yang harus kau tempuh untuk selesaikan dongengmu. Namun, ingatlah pisang adalah salah satu dari jenis rumput, bukan pohon,” lanjut Adi panjang lebar.

“Ia bangsa rumput?” tanya Dimas.

“Iya, dia bangsa rumput layaknya dirimu, Rumput Liar,” Adi tersenyum.

“Aku tunggu kepulanganmu di kancah dongeng,” lanjutnya kembali.

Nuna sudah kembali dari pencarian minuman yang sesungguhnya ia sempat untuk salah ambil jalan dan sedikit tersesat. Anak itu memang cukup merepotkan dirinya sendiri…

Dimas membuka akun twitternya, ia sudah lama tak membuka akun jejaring sosialnya. Di bagian mention ia mendapat mendapat beberapa twit untuknya.

@anggiie_p: cepetan sembuh, liburan masih panjang masa mau liburan di rumah sakit @bibo_dan_didi

@kakaksemangat: @bibo_dan_didi, jangan kelamaan di rumah sakit. Bersemangatlah^o^d

@EkaOren: cepetan sembuh, banyak yang minta didongengin tuh kak @bibo_dan_didi

@nuna_kecil: baca doa sebelum tidur kak @bibo_dan_didi, baca buku dongengnya juga biar Bibo seneng. Hehe, cepet sembuh ya?

Dimas lalu membuka profil akun @kakaksemangat, akun tersebut adalah akun milik Adi. Di sana ada beberapa twit yang cukup ia sukai dengan senang hati Dimas me-retwit apa yang diujarkan akun @kakaksemangat. Serta ada satu twit yang begitu menohok dirinya. @kakaksemangat: sembuhkanlah lukamu, kau bisa bangkit setelah itu. Hargailah dirimu layaknya orang lain menghargai keberadaanmu #nomention #rumahsakit

Dimas tersenyum, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Menyerah?

Selesai!!!

09.10 WIB pada tanggal 3 Agustus 2012

Ye, akhirnya cerpen ketiga dari estafet cerpenku berhasil aku selesaikan. Mulai dari Nuna kecil, terus sore hari, sekarang rumah sakit. Asyik deh… semoga semangat ini selalu ada untuk terus membuat cerpen-cerpen baru. Hohohoho…

Bila ada kesamaan tokoh ataupun akun twitter mohon maaf, karena memang ada unsur ketersengajaan. Hehehe…

Advertisements

2 comments on “Istirahat di Rumah Sakit

  1. nuna says:

    eh ada Nuna 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s