Sebuah Cerita Pendek

Aku berharap saat kau menatap langit malam ini

Saat kau menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit sana

Perasaan ini dapat tersampaikan sekali lagi

Bersama dengan sebuah senyuman yang selalu mengembang

Tanganmu mulai menuliskan huruf demi huruf

Melalui titik-titik bintang yang kau sambung

Dan aku ingin bisa menikmati hal tersebut sekali lagi

Bersamamu

Ini adalah malam ketiga setelah pertengkaran kita. Aku tak tahu bagaimana untuk mengucapkan maaf, aku tak tahu bagaimana untuk membuatmu kembali tersenyum. Hanya sebuah sesal yang tersimpan dalam hatiku, aku tak ingin kau bersedih. Namun, nyatanya akulah yang membuatmu bersedih, hingga aku sadari aku tak pernah pulas menikmati tidur dalam malam-malamku.

Aku ingin kembali mengembalikan senyumanmu yang telah lama tak kujumpa. Meski baru saja kita saling mengenal tetapi aku senang bahwa kita bisa saling mengenal. Bersamamu, menikmati hari-hari yang sulit menjadi hal yang menyenangkan karena selalu saja ada sebuah senyuman yang membuatku tak pernah merasa hari ini adalah hari yang buruk.

Hari ini hujan, apakah kau membawa payung? Aku sering untuk memarahimu karena lebih suka untuk hujan-hujanan. Kau pernah berkata “Menikmati hujan dengan hujan-hujanan adalah hal yang menyenangkan,”. Namun, bagiku tidak. Tidak pula untuk kali ini. Setelah aku menyerahkan payungku kepada seorang teman perempuan dan aku melangkah di bawah deraian hujan. Kembali mengingatmu.

Aku mendengar sebuah langkah yang bergegas dari belakang badanku. Dan tiba-tiba sebuah payung menghalangi butiran-butiran air hujan yang berhamburan jatuh dari langit. Aku menatap ke arah kanan, seorang perempuan tersenyum menatapku.

“Enggak biasanya kau seperti ini, hujan-hujanan. Adakah sesuatu yang membuatmu hujan-hujanan? Tak mungkin hanya karena kau meminjamkan payungmu pada Vira,” ucap perempuan tersebut. Ia Disa, temanku yang sudah lama aku kenal. Namun, aku tak begitu dekat dengannya.

Aku hanya tersenyum, sebuah senyum simpul yang lemah.

“Yuk makan, aku tahu kau pasti belum makan siang ini.”

Disa langsung menggenggam pergelangan tangan kananku. Aku terpaksa mengikuti paksaannya untuk makan. Ia benar, aku belum makan sedari pagi, aku pun sudah lapar. Namun, aku tak punya nafsu untuk makan hari ini, jadi aku tidak makan.

“Hei, bocah apakah kau sudah makan siang ini? Kau jarang makan kan? Kau makan tak pernah teratur dan selalu membuatku kesal. Namun, selalu membuatku senang saat kau mau untuk aku paksa untuk makan dan kau selalu menghabiskan makananmu.”

Meski langkahku bersama Disa kali ini, perasaanku masih terus mencoba untuk mencari di mana kau berada.

Ungu, ungu, dan ungu. Aku mengumpulkan banyak sekali benda-benda berwarna ungu. Warna kesayanganmu. Hampir semua benda-benda bulanan yang kubeli berwarna ungu, mulai dari sikat gigi, sabun mandi, bahkan hingga tempat minum. Ya, hanya untuk membuatku selalu mengingatmu. Aku kembali mengamati benda yang selalu menggantung di kamarku, sebuah gantungan kunci berbentuk bintang. Kau sangat suka bintang, terakhir sebuah kenangan tentang bintang yang kita buat adalah planetarium.

Kau begitu suka dengan planetarium. Sementara aku, aku lebih suka kebun binatang. Kau masih ingat saat aku menyuruhmu memberi makan pada jerapah? Kau takut seperti anak kecil, bahkan anak kecil yang ada di dekatmu tak takut untuk memberi makan. Hal itu membuatku tersenyum, mengingatnya selalu membuatku tersenyum.

Apakah kau masih menyimpan boneka beruang dengan baju berwarna abu-abu yang aku beri saat kita ke kebun binatang?

Malam ini, aku kembali melihat bintang-bintang yang berhamburan di langit. Udara malam ini dingin, apakah kau melihat bintang malam ini? Bintang-bintang yang selalu ingin kau petik untuk menemani tidurmu?

“Bintang, temani tidurku malam ini. Berkunjunglah di mimpiku, sampai pagi membangunkan aku untuk kembali beraktivitas. Aku ingin berkenalan denganmu, bintang siapakah namamu yang sebenarnya?” begitu ucapmu seperti anak kecil.

Kau selalu senang dengan film Petualangan Sherina, terutama saat di Bosha. Saat Sherina dan Sadam ngumpet dari kejaran penculik. Saat Sherina bernyanyi tentang bintang-bintang di langit. Kau mengajakku untuk pergi ke Bosha. Ya itu adalah janji yang belum sempat aku tepati hingga kini.

“Hei bintang, temani tidurnya malam ini. Datanglah ke mimpinya, hingga pagi tiba.”

Selesai…

9.59 WIB

11 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s