Untuk Seorang Ayah

Ini adalah sebuah lanjutan dari kisah “Mr. Kasan”, kisah yang tersadar untuk tertulis di sini. Di sebuah lembar dunia maya. Tentang seorang ayah, tentang seorang anak laki-laki. Sebuah hubungan.

Anak laki-laki kini sudah semakin beranjak dewasa, ia sadar, empat sampai enam tahun lagi ia akan benar-benar berpisah dengan keluarganya. Membangun keluarganya sendiri, ia kembali melihat rekam jejak kehidupannya. Ada sesuatu yang hilang, ada sosok yang tak terkenali oelh dirinya. Ya, sosok ayah.

Ia tak ingat, kapan ia terakhir bercakap-cakap dengan ayahnya. Ia tak ingat, kapan pula ia melakukan kegiatan bersama ayahnya atau mungkin ia tak pernah melakukan hal tersebut bersama sosok ayah tersebut. Ia renungi, sejauh ia menjalani hidupnya anak laki-laki tersebut lebih mengenal sosok-sosok ayah milik teman-teman di sekitarnya. Ia hanya bisa tersenyum.

Ya, anak laki-laki dari seorang pelaut memanglah jarang untuk bertemu dengan ayah yang lebih banyak berada di lautan bebas. Berada di jarak yang jauh tanpa sekalipun bertanya kabar sang anak laki-laki tersebut. Pernah sekali saat sang anak laki-laki tersebut sakit saat masa kuliah. Sang ayah memarahinya karena tidak berobat. Ia tersenyum, ia bahagia. Bersyukur kepada Allah SWT, bahwa sang ayah memedulikannya.

Anak laki-laki tersebut tak bisa lagi memungkiri bahwa ia iri, iri pada teman-teman di sekitarnya. Saat ia tahu ayah teman-temannya begitu dengan dengan anaknya (yang tak lain adalah teman dari sang anak laki-laki tersebut). Lucu, tetapi sungguh romantis, mengirim surat yang kosong pada seorang anaknya. Anak laki-laki tersebut sungguh iri. Pernahkah ayahnya memulai untuk mengirimnya pesan singkat melalui telpon genggam yang dimiliki oleh ayahnya tersebut? Hal yang terjadi, karena ayah adalah pelaut yang terkadang berada di negara yang berbeda, ayah anak laki-laki tersebut mengganti nomor dan tak memberi kabar.

Ya, anak laki-laki tersebut sadar, cukup mengerti. Ayah sibuk, tidak ada waktu hanya untuk telpon kepada anak laki-lakinya. Tidak penting.

Pertemuan dengan tuan Kasan, saat yang sama ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah Ayah juga berpikir seperti tuan Kasan? Apa yang akan Ayah katakana tentang kegiatan mendongengku? Ehm…, apakah Ayah tahu akan mendongeng? Ah entahlah, aku dengarkan dulu perkataan tuan Kasan yang ada di samping kiriku.”

Dulu, pernah saat anak laki-laki tersebut masih kecil. Ia ingin sekali seperti ayahnya, menjadi pelaut. Mungkin karena keluarga dari anak laki-laki tersebut kebanyakan adalah seorang pelaut. Namun, semakin dewasa ia tahu, ia tak akan sudi menjadi pelaut, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, dan meninggalkan apa pun yang sesungguhnya sangat berarti bagi kehidupannya.

Hal yang teringat dari sang ayah hanyalah pertengkaran-pertengkaran tak penting. Hanya itu yang teringat jelas di dalam otak sang anak laki-laki. Tentang masa depan, tentang keinginan hidup. Tahu, benar anak laki-laki tersebut tahu bahwa sang ayah ingin untuk anaknya hidup sukses. Namun, sang ayah apakah tahu hal tersebut bisa membuat anak laki-lakinya bahagia atau tidak. Karena yang akan menjalani hidup adalah anak laki-laki tersebut. Bukan sang ayah. Tak ada dukungan, hanya ketidakterimaan yang didapat anak laki-laki tersebut. Tak tahu lagi, apakah itu kenangan yang perlu untuk dikenang atau hanya sebagai luka pengingat bahwa ia punya seorang ayah.

Meski jauh memikirkan tentang kekesalan tersebut, satu hal yang anak laki-laki belum pernah tuk membukanya untuk disadari oleh sang ayah. Bahwa anak laki-laki tersebut, sayang pada ayahnya. Ia pun ingin membuktikan bahwa ia bisa untuk membuat ayahnya bangga…

Sebuah catatan dari seorang anak laki-laki

Untuk Sang Ayah Tercinta

20.04 WIB

28 Mei 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s