Putri Ulfa dan Tiga Kesatria

“Hai, semuanya. Perkenalkan, aku Bibo. Wah pasti sudah pada kenal semua kan siapa aku? Ya, aku Beruang lucu nan imut, suka menolong siapa saja, ceria, dan pemberani, hehehe..,” Bibo, beruang berpita merah yang satu ini terkadang narsis dan sering heboh sendiri. Seperti yang baru saja ia lakukan.

Kali ini, Bibo mengenakan baju zirah layaknya prajurit atau tentara di zaman kerajaan. Sebenarnya sedang ada apa sih?

“Bibo-Bibo, kenapa kau malah memperkenalkan diri? Kita sekarang sedang dalam masa pelarian. Ayo cepetan, nanti kita terkejar oleh musuh-musuh kita. Kita harus selamatkan Sang Putri. Kau malah enak-enakkan memperkenalkan diri.”

“Oh ya, aku Momo. Aku Sapi baik hati, teman baik Bibo,” Momo si Sapi tak mau kalah memperkenalkan dirinya. Ia pun seperti Bibo sedang menggunakan baju perang.

“Hehehe, maaf-maaf. Oke, aku akan perkenalkan satu lagi anggota dari tiga kesatria yang akan menjadi tokoh utama cerpen ini, ya dia adalah Lana si Landak, dia paling tenang antara kami bertiga. Hehehe…,” sembari berlari dari kejaran musuh Bibo masih sempat untuk memperkenalkan teman seperjuangannya.

Bibo, Momo, dan Lana berjuang sepenuh tenaga untuk menyelamatkan Sang Putri. Mereka berlari sembari terus bertarung menghadapi prajurit-prajurit yang terus mengejar mereka. Sang putri yang baru saja mereka selamatkan terpaksa harus ikut bersama mereka berkejar-kejaran dengan para prajurit.

“Wah, menyebalkan sekali. Kenapa jumlah mereka tidak berkurang sedikit pun. Bisa-bisa aku mengeluarkan jurus rahasia nih,” komentar Bibo yang semakin kesal dengan ulah para pengejar yang tak pantang menyerah.

“Bibo, tenanglah. Bibo fokus pada putri, lindungi dia. Lana dan Momo yang kan mengurus para prajurit bandel ini,” ucap Lana mencoba untuk menenangkan Bibo.

“Baik Lana, Putri maaf telah membuat putri terus berlari seperti ini. Sebentar lagi kita akan segera sampai ke dermaga dan kita akan terbebas dari kejaran prajurit tidak tahu malu ini,” Bibo yang baru saja kesal berubah menjadi Bibo yang optimis dan semangat. Ia tersenyum lembut.

“Iya, terima kasih Bibo, Momo, Lana. Kalian memang yang terbaik,” ucap Sang Putri.

Putri Ulfa, ia adalah putri dari kerajaan Baggrania, sebuah kerajaan yang damai tentram. Kerajaan yang dipimpin oleh raja yang adil ini secara tiba-tiba diserang oleh sebuah kerajaan Fabelia. Entah apa yang terjadi pada kerajaan Fabelia, karena selama ini kerajaan Fabelia adalah kerajaan yang baik dan tak pernah menyulut api peperangan dengan kerajaan lain.

Namun, kali ini kerajaan Fabelia berniat untuk menguasai kerajaan Baggrania. Bibo, Momo, dan Lana yang tahu akan tindakan kerajaan Fabelia mencoba untuk menghentikan tindakan dari kerajaan Fabelia. Sayangnya, mereka bertiga belumlah cukup untuk menghadapi kekuatan kerajaan Fabelia. Hingga akhirnya, mereka bertiga harus mundur dengan hanya menyelamatkan Sang Putri. Raja dan ratu telah ditahan oleh jendral kerajaan Fabelia, Vapiro.

“Putri, itu kapal kita. Apakah putri bisa untuk mempercepat lari Putri? Karena Momo dan Lana terlihat sudah begitu lelah mengurus para prajurit pantang menyerah yang mengejar kita,” Bibo yang merasa begitu kasihan pada Momo dan Lana mengatakan hal yang sejujurnya terjadi.

“Bibo, aku masih bisa lebih cepat lagi. Ini akan menjadi usaha terakhirku karena nafasku pun sudah hampir habis,” ucap Putri Ulfa.

“Terima kasih, Putri,” Bibo tersenyum.

Putri, Bibo, Momo, dan Lana pun mempercepat lari mereka. Tak sia-sia usaha Putri Ulfa, mereka akhirnya selamat dari kejaran para prajurit dan pergi meninggalkan dermaga dengan sebuah kapal kecil.

Kapal yang membawa Putri dan tiga kesatria terdiam di tengah lautan. Entah, apa yang sedang mereka rencanakan saat ini. Kapal tersebut seakan mati mencari arah angin, tak tahu ke mana akan menuju.

“Wah, pemandangan yang indah. Lautan yang terbentang luas, awan-awan putih yang berarak. Ehm…, baru kali ini Ulfa melihat pemandangan seperti ini,” Putri Ulfa terlihat begitu senang.

“Wah Putri, masih juga bahagia meski sedang dalam pelarian,” Bibo garuk-garuk kepala melihat Putri Ulfa yang begitu ceria.

“Itu artinya Putri Ulfa adalah putri yang hebat, ia tidak merasa ada tekanan dalam hatinya meski dalam keadaan seperti ini,” balas Lana.

“Hehe, iya. Lalu apa rencana kita selanjutnya? Aku buntu nih,” tanya Bibo pada Momo dan Lana.

“Sebaiknya kita pergi ke kota Greresit, di sana ada Qie. Dia adalah informan yang mungkin akan sangat membantu kita,” ucap Lana memberi saran.

“Ehm, bagus juga. Aku setuju, karena dari sini pun kota Greresit cukup dekat. Kita bisa mengistirahatkan badan kita di sana,” Bibo tersenyum ringan.

“Kita dalam misi, Bibo. Jangan berpikir untuk beristirahat,” Momo geleng-geleng kepala.

“Tak apalah, nikmati saja. Jarang-jarang loh kita bisa pergi-pergi ke tempat seperti itu,” Putri Ulfa ikut dalam perbincangan.

Kapal bergerak ke arah utara, menuju Kota Greresit. Angin yang menghembus menjadi teman mereka untuk mengarahkan kapal menuju dermaga kota Greresit.

Ramai, itulah yang terjadi di dermaga Kota Greresit. Kota transit ini memang menjadi kota yang berkembang. Suasana dagang yang tercipta menjadi ciri khas yang tak akan terpisahkan. Lalu lalang orang di armada, menurunkan dan menaikkan muatan menuju dan dari kota lain.

“Di mana kita bisa temukan, Qie?” tanya Bibo.

“Tempat di mana kau bisa temukan banyak informasi yang terekam di sana,” balas Lana.

“Pustika?”

“Tepat sekali.”

Gedung terbesar di setiap kota di setiap kerajaan, tiada lain dan tiada bukan. Itu adalah Pustika, di sanalah tempat informasi terekam disimpan untuk dipelajari. Gedung Pustika di kota Greresit berbentuk setengah bola. Tak tahu apa yang ingin disampaikan oleh pencipta gedung tersebut dengan bentuk yang seperti itu.

“Halo!!” ucap Bibo lantang saat memasuki Pustika.

“Hei, jangan berisik Bibo. Banyak orang sedang membaca informasi terekam di sini,” Momo mencubit pipi Bibo.

“Hehehe, maaf-maaf,” Bibo mengusap-usap pipi kirinya yang baru saja dicubit Momo.

“Qie biasanya berada di lantai dasar. Ia pasti sedang membaca Daluang-daluang yang berhasil ia perbaiki.”

“Wah Lana serba tahu ya?” Putri Ulfa yang sedari tadi takjub dengan isi Pustika mulai berkomentar.

Mereka berempat pun menuju pintu yang berada di dasar Pustika. Di sana terdapat tulisan “Dilarang Melanjutkan Perjalanan—Bukan untuk Umum”. Lana tak menghiraukan tulisan tersebut ia melanjtukan langkahnya.

“Ih, Lana tidak sopan. Kan tidak boleh melanjutkan, kita malah masuk ke daerah terlarang,” celoteh Bibo.

Lana hanya diam dan memandang Bibo dengan pandangan yang mengisyaratkan ucapan “Bibo, jangan main-main”.

“Hehehe, maaf Lana. Kan biar enggak bosan aja,” Bibo mengalihkan pandangan pada hal lain yang pasti tidak ke arah tatapan mata Lana.

“Dasar, Bibo,” Putri Ulfa mencubit kedua pipi Bibo dari belakang.

Mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu besi. Lana mengetuk pelan, tiga kali berturut-turut. Tak ada jawaban dari dalam. Ia kembali mengetuk pintu besi tersebut.

“Qie, buka pintu. Ini Lana,” ucap Lana.

“Aih-aih, ternyata Lana. Tumben ke sini, ada perlu apa nih?” ucap suara dari dalam pintu besi.

“Pastinya sesuatu yang penting hingga aku mencarimu,” ucap Lana singkat.

“Huh, baiklah. Seperti biasa, kau selalu berkata singkat.”

Pintu besi terbuka, wanita berkacamata bertubuh gemuk terpampang jelas di hadapan Bibo, Momo, Lana, dan Putri Ulfa. Ia tersenyum dan mepersilakan tamunya untuk duduk di dalam ruangan tersebut.

“Lana, informasi apa yang kau butuhkan dariku?” tanya Qie langsung pada inti.

“Aku suka seperti itu, tanpa banyak basa-basi. Aku ingin tahu tentang apa yang terjadi pada kerajaan Fabelia.”

“Ehm…, oke aku akan jelaskan tentang yang terjadi di sana. Kau perlu tahu tentang kerajaan yang selama ini telah membesarkanmu dan dua orang temanmu itu. Terutama si Beruang yang sedang asyik mengacak-acak meja kerjaku yang penuh dengan daluang-daluang baru.”

“Hehehe, maaf,” Bibo yang ketahuan penasaran dengan daluang-daluang yang dimiliki Qie kembali untuk menata daluang-daluang tersebut.

“Kerajaan Fabelia saat ini dikuasai oleh seekor naga. Ia dari bangsa Drakoid, raja singa Leon telah ia kalahkan dan ia menjadi raja yang ingin menguasai tiga kerajaan penguasa segel alam. Kerajaan Baggrania adalah target pertama. Karena hingga saat ini ia masih belum menemukan letak segel alam di Negara Baggrania, ia belum menyerang kerajaan lain.”

“Ehm…, bukankah bangsa Drakoid bisa dikalahkan oleh bangsa Raja Hutan? Kenapa ini malah terbalik?” tanya Momo heran.

“Baiklah, hal itu aku akan ceritakan kisahnya. Sebuah kisah yang aku dapatkan dari kota Ciberon. Saat di sana, aku pergi ke sebuah Keraton, di sana ada keramik-keramik yang mengisahkan tentang terciptanya bangsa Drakoid. Bangsa Drakoid berasal dari bangsa ikan, awalnya hiduplah sekumpulan bangsa ikan-ikan di sebuah sungai. Karena terjadi sebuah gempa, daratan menurun dan terciptalah air terjun. Bangsa ikan yang berada di bagian bawah sungai yang telah menjadi air terjun ingin kembali ke atas. Mereka berusah sekuat tenaga untuk naik ke atas.”

“Begitu banyak ikan-ikan yang gagal untuk naik ke atas. Suatu hari ada seekor ikan yang bisa mendaki ke atas, ketika ia berada di atas ia berubah menjadi naga. Dari sanalah tercipta bangsa Drakoid. Naga berbentuk seperti bangsa ular memang mudah untuk dikalahkan oleh bangsa Raja Hutan. Namun, bangsa Drakoid yang tak puas dengan apa yang ia miliki ingin untuk menuju langit hingga akhirnya ia kembali berubah menjadi bangsa Drakoid baru, yaitu naga berkaki dua dan bertangan dua dengan sebuah sayap di punggungnya.”

“Itulah bangsa Drakoid yang kini menjadi penguasa Fabelia,” Qie menjelaskan sambil memperlihatkan keramik-keramik yang terdapat di layar sabaknya.

“Ehm…, begitu. Berarti yang kita harus lakukan sekarang adalah menuju ke Kerajaan Fabelia dan kembali menciptakan kedamaian di sana,” Bibo yang sedari tadi diam langsung angkat bicara.

“Ya, mungkin begitu. Namun, sebelum kalian pergi. Bawalah empat Bunga Nazhma ini, madu di dalam Bunga Nazhma bisa kalian gunakan untuk peghilang dahaga dan penambah semangat,” ucap Qie.

“Terima kasih, Qie,” Lana menerima empat tangkai Bunga Nazhma.

“Ayo kita ke Kerajaan Fabelia!!!” mata Bibo berapi-api. Ia sudah tahu kemana ia kini harus melangkah.

Kerajaan Fabelia. Bibo, Momo, dan Lana sudah menghabisi seluruh prajurit semut yang menghadang mereka. Kini mereka harus menghadapi tiga Jendral besar Kerajaan Fabelia. Monyu Monyet, Kola Koala, dan Vapiro si Ular Kobra.

“Heh, bertemu dengan kalian lagi nih. Sepertinya kita tak pernah bosan untuk menjadi musuh ya?” komentar Bibo saat bertemu Monyu dan Kola.

“Hei-hei, kali ini kan kita bertemu dengan mereka karena mereka harus mengabdi pada raja busuk bangsa Drakoid. Sebelum ini, mereka berdua sudah menjadi teman kita, Bibo,” ucap Momo santai.

“Iya-ya, ehm…, aku bosan harus melawan Kola dan Monyu, aku serahkan mereka berdua pada kalian. Momo, lana.”

“Siap!” ucap Momo dan Lana berbarengan.

“Aku akan urus ular jelek yang sepertinya menarik untuk dicoba, hehehe…”

Akhirnya pertarungan satu lawan satu pun dimulai. Lana dan Momo beraksi dengan tangkah. Baku hantam yang tak terelakkan. Tanpa banyak membuang waktu Lana dan Momo dapat cepat mengalahkan musuh mereka.

Sementara itu, Bibo sedikit kewalahan menghadapi Vapiro. Jendral ular ini cukup hebat. Serangannya gesit dan terkadang mengecoh, terutama buntutnya yang cukup berbahaya karena mengandung racun.

“Bibo, butuh bantuan?” tanya Momo.

“Hehehe, tidak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri. Lihat baik-baik teman-teman.”

Bibo menutup matanya dan mulai untuk membuat kuda-kuda. Sebuah teknik bertarung dengan nama kedamaian hati. Vapiro tersenyum sombong. Ia kembali menyerang Bibo. Namun, kali ini semua serangan Vapiro dapat dihindari oleh Bibo. Bibo kembali membuka matanya dan membalas serangan Vapiro. Tanpa banyak waktu yang terbuang, Vapiro sudah terdesak.

“Hei-hei, tunggu dulu. Bila kau berani memukulku, aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada Putri yang kalian lindungi,” Vapiro tersenyum dingin. Menunjuk ke arah balik punggung Bibo.

Putri Ulfa tertangkap oleh pasukan Kerajaan Fabelia. Ia dibawa oleh prajurit semut ke tengah lapangan pertarungan di atas istana.

“Huh, bosan sekali aku melihat adegan seperti ini. Apakah tidak ada tokoh jahat yang lebih pemberani tidak menggunakan tawanan untuk menang?” ucap Bibo kesal.

“Bibo, Momo, Lana. Maafkan Ulfa, Ulfa merepotkan kalian terus,” ucap Putri Ulfa sedih.

“Hehehe, taka pa Putri, ini bukan kesalahan Putri. Semua akan baik-baik saja,” Bibo tersenyum.

“Sekarang saatnya!” saat Bibo lengah Vapiro menyabetkan ekornya yang berbisa.

“Bibo, awas!” teriak Putri Ulfa yang dengan seketika menerjang tubuh Bibo. Sabetan ekor Vapiro pun mengenai betis Putri Ulfa.

“Putri, Putri. Apakah Putri baik-baik saja?” Putri Ulfa terlihat sudah tidak sadarkan diri. Bunga Nazhma yang ada di kantong saku Putri terjatuh dan tak sengaja terbuka kelopaknya hingga madu yang ada di dalam bunga tersebut keluar membasahi betis Putri Ulfa yang terkena sabetan ekor Vapiro.

Bibo meletakkan tubuh Putri Ulfa, ia terlihat begitu kesal dengan apa yang terjadi. Tak ada ampun bagimu, itulah kata-kata yang tercermin dari wajah Bibo pada Vapiro.

Benar, dengan secepat kilat Bibo berlari menyongsong Vapiro. Langsung saja serangan demi serangan  Bibo sarangkan di tubuh Vapiro. Hingga ia tak sadarkan diri.

Tanpa diduga, sebuah makhluk besar terbang di atas mereka. Meluncur cepat ke arah Momo dan Lana. Menangkap mereka berdua, ia adalah bangsa Drakoid yang menjadi raja di Kerajaan Fabelia.

Ia meremas tubuh Momo dan Lana di angkasa, kemudian membantingnya ke tanah.

“Momo, Lana!!!” teriak Bibo. Kedua temannya terlihat tak berdaya. Tergeletak di tanah.

“Giliranmu,” ucap naga.

“Hah, raja busuk kaulah yang akan tidur dalam mimpi buruk,” Bibo kembali membentuk kuda-kuda. Kali ini kuda-kuda yang Bibo ciptakan adalah kuda-kuda yang diajarkan oleh Master Norman. Inilah teknik rahasia yang ia pelajari dari tiga pertanyaan yang Master Norman tanyakan padanya.

“Kau pegang tetapi tidaklah benda, kau ikuti bukanlah pemimpin, dan memberimu kekuatan tetapi bukanlah senjata ataupun aji-aji”.

“Master, saatnya aku buktikan bahwa aku lulus menempuh ujian terakhirmu ini,” ucap Bibo yang tak tertuju pada siapa pun.

Pertarungan sengit pun terjadi, Bibo yang ukuran badannya tak sebanding dengan bangsa Drakoid bisa terus bertahan dan menyerang. Namun, raja tak kalah hebat. Bibo yang akhirnya bisa menaiki tubuh raja segera menuju kepalanya dan menyerang kepala sang raja.

Sayang, akhirnya Bibo tertangkap dan segera dilempar ke bawah oleh raja yang sedang terbang tinggi di angkasa.

“Boooom….!!!” Suara tubuh Bibo yang menyentuh tanah.

Terlihat Bibo benafas dengan sulit. Ia mencoba untuk bangkitkan tubuhnya. Berdiri di kedua kakinya. Menatap sang raja naga. Satu kuda-kuda ia telah persiapkan.

Sang raja naga terbang menghampirinya dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan sigap, Bibo mengungguli kecepatan sang raja naga dan langsung menyerang kening sang raja kemudian memukul perutnya.

“Sial-sial-sial!!!” batin Bibo kesal, “Sungguh sulit sekali untuk mengalahkan makhluk satu ini.”

Bibo kembali menjaga jarak, mundur untuk memperhitungkan sesuatu. Namun, tak ada waktu bagi Bibo. Sang Raja Naga telah siap untuk menerkam. Ia sudah membuka mulutnya untuk menelan Bibo. Bibo melempar begitu saja apa yang ada di dalam genggaman tangannya ke dalam mulut sang raja. Kemudian menutup mulut sang raja dengan menendang dagunya.

Sang Raja Naga terguling-guling. Asap hitam keluar dari tubuhnya. Tubuhnya yang hitam berangsur-angsur menjadi hijau.

“Apa yang terjadi?” tanya Bibo pada apa yang ia lihat.

Setelah asap hitam menghilang dan raja naga kembali membuka matanya. Ia terlihat bingung.

“Apa yang terjadi padaku?” tanyanya pada dirinya sendiri.

“Hei beruang, apa yang terjadi padaku?” tanya sang raja naga pada Bibo.

Dengan sikap kuda-kuda Bibo masih mencoba untuk bersiap bertahan ataupun menyerang.

“Hei, jawab pertanyaanku. Bukan malah kuda-kuda seperti itu. Kau mau mengajakku berkelahi?” ucap naga kesal.

Bibo bingung sendiri pada apa yang ia lihat dan dengar. Naga yang baru saja ia lawan sudah berbeda karakter dengan yang tadi.

Sedikit lama, Bibo dan naga berbicara. Karena sikap Bibo yang terkadang emosian dan tidak begitu terjaga ucapannya. Mereka berdua malah berantem mulut.

“Hei-hei, kalian berdua. Berhentilah berkelahi,” ucap sebuah suara dari balik punggung Bibo.

“Ah, Putri. Momo, Lana. Kalian baik-baik saja? Wah, keajaiban.”

“Iya, Bibo. Ulfa baik-baik saja. Hanya sedikit kesemutan betis kiri Ulfa.”

“Hem, kami baik-baik saja, Bibo,” ucap Momo yang memapah Putri Ulfa.

Lana hanya terdiam sembari memapah Putri Ulfa juga.

“Aku senang kalian selamat, bagaimana bisa?” tanya Bibo tak percaya.

“Bunga Nazhma,” ucap Putri Ulfa.

“Bunga Nazhma yang tak sengaja madunya tercecer dan terkena betis kiri Ulfa mengobati racun yang Ulfa terima.”

“Ya, begitu juga dengan kami. Kami baik-baik saja karena Bunga Nazhma yang tanpa kami sadari mengobati sakit yang kami rasa,” ucap Lana.

“Ah,” Bibo teringat pada apa yang tadi ia lakukan. Ia tadi melempar Bunga Nazhma yang ada di genggaman tangannya ke mulut naga.

Selidik punya selidik, akhirnya diketahui hal yang terjadi pada naga adalah ia keracunan dan membuatnya menjadi seperti itu. Setelah ia menelan Bunga Nazhma, ia kembali tersadar dari keracunan yang ia rasa selama ini.

Akhirnya naga kembali memberikan tahtanya kepada Leon sang raja Kerajaan Fabelia. Ia pun membebaskan raja dan ratu Baggrania. Ia meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan.

Semua kembali menjadi lebih baik. Bibo yang telah selesai menjalankan tugas langsung menjatuhkan dirinya, ia tak sadarkan diri karena terlalu lelah. Tiga jurus pamungkas ia keluarkan dalam pertarungan kali ini. Tubuhnya sudah tak bisa lagi menahan lelah yang ia rasa…

Semua tersenyum menatap ke arah Bibo. Ia tertidur dengan ekspresi wajah tersenyum pula.

Selesai!!!

Assalamualaykum wr wb, wah akhirnya cerpen dongeng kali ini selesai juga terealisasikan. Senang sekali. Semoga kalian senang pula dalam membacanya. Terima kasih untuk segala dukungan kalian.

Permadi Heru P

1.57 WIB

Depok 18 Mei 2012

 

Bunga Nazhma, bunga misterius yang hanya ada di taman Ibdu. Rahasia apa yang ada di dalam bunga tersebut? Bibo kembali beraksi, kali ini bersama patner baru dan seorang anak laki-laki yang muncul di dunia Dongeng. Segera!!!^^v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s