Nuna Kecil 3

Pernah mengalami rasa suntuk saat dalam kelas? Merasa ingin cepat-cepat kelas berakhir dan berganti dengan istirahat? Hal itulah yang sedang dialami oleh Dinna Saraswati atau yang lebih kita kenal sebagai Nuna Kecil. Ia terlihat tidak begitu bersemangat, tatapannya kosong ke arah langit di luar jendela kelas, tangannya mulai untuk memutar-mutar ballpointnya di selembar kertas. Coretan-coretan tak berarti ia torehkan dengan tidak semangat.

“Cepetan selese kek, ni pelajaran. Bete nih,” ucap Dinna dengan wajah suntuk.

“Tenang aja kali, masih ada lima belas menit lagi,” balas Fika yang sesungguhnya tidak diharapkan balasannya oleh Dinna.

“Ih, nyambung-nyambung aja.”

“Hehehe, segitunya kali,” gurau Fika pada Dinna.

Lima belas menit yang tersisa akhirnya Dinna gunakan dengan sepenuh hati untuk lebih menerawang jauh ke langit tinggi. Tiba-tiba dalam lamunannya tersebut terbersit sosok yang sudah satu bulan ini tidak ia jumpai. Tanpa ada kabar, ia pergi. Ia hanya tahu bahwa sosok tersebut pergi karena ada tugas.

‘Heh, dasar kakak nyebelin!!! Pergi begitu aja ya? Awas nanti kalo pulang, Nuna lempar dari lantai dua!!!’ Dinna menggembungkan pipinya bertanda ia sedang kesal.

Sosok kakak yang kadang muncul dan pergi di rumah memang menjadi sosok yang sering untuk menjadi teman bicara Nuna, meski kadang kakak satu itu belih sering menjailinya Nuna merasa kesepian setelah satu bulan tidak melihat sosok satu itu.

“Dinna, kenapa kamu menggembungkan pipimu? Ada yang salah denganmu?” Ibu Sekar, guru bahasa Indonesia Dinna yang melihat tingkah Dinna pun bertanya tentang hal yang Dinna lakukan.

“Ah, tidak, Bu. Saya cuma kesal sama kakak saya yang tidak pulang-pulang, saya kan kangen,” ucap Dinna spontan.

“Oh, rindu sama kakak ya? Rindu sama kakak atau sama pacar?” Bu Sekar yang sering bercanda, mencandai Dinna.

“Kalo pacar, ada di kelas ini kok, Bu. Jadi enggak perlu kangen segala, tuh si Rico,” saut Fatia.

“Oh, begitu?”

“Ehem.., cieeee…!!!” sontak kelas akhirnya menjadi ramai. Dinna menjadi bahan ledekan yang akhirnya menutup perjumpaan mata pelajaran bahasa Indonesia.

“Ini nih, gara-gara kakak yang nyebelin!!” ucap Dinna kesal sembari memutar-mutar sedotan yang berada di dalam gelas teh hangat yang ia pesan.

“Hahaha…, kamu itu yang aneh-aneh. Bisa-bisanya bicara spontan seperti itu, itu seperti minta diledekin aja,” Fika tersenyum geli mengomentari ucapan Dinna.

‘Heh, sama aja nih anak. Bukannya baik-baikin aku malah tambah ngeledek, susahnya punya temen kayak gini,’ tak ada kata yang terucap dari mulut Dinna. Ia hanya terus menikmati tempe mendoan yang terhidang di depannya dengan wajah tetap kucel.

“Asek…, makan mendoan nih pagi-pagi. Comot dikit boleh nih,” Kiki yang baru saja muncul langsung mencomot tempe mendoan milik Dinna yang sudah ia potong kecil-kecil.

“Aduh…, mimpi apa aku semalam. Udah tadi jadi bahan ledekan teman-teman di kelas, sekarang jatah tempe mendoanku pun diambil oleh monster pengantar barang,” Dinna geleng-geleng kepala.

“Eh, si Nuna, ngeratapin nasib ya, Neng?” ledek Kiki tanpa pandang bulu.

“Monster pengantar barang, bagaimana dengan kerjaan jadi kurirnya? Masih lanjut?” tanya Dinna. (untuk lebih jelas tentang kegiatan Kiki dan jasa pengantaran barang yang dia lakukan, bisa dibaca di cerpenku yang lain, judulnya Kiki Delivery)

“Hohoho, tentu masih. Namun, karena si kakak angkatan kita yang satu itu, yang hobi ngerepotin untuk pinjam ini itu melaluiku lagi di Depok untuk kuliah lagi sekarang jadi kurang job nih, hohoho,” tanpa permisi tangan Kiki kembali mencomot potongan kecil tempe mendoan Dinna.

“Heh, beli sendiri sana,” Dinna pun akhirnya kesal dengan Kiki yang comat-comot tempenya. Kiki yang sadar dengan hawa murka Dinna langsung kabur menuju mushola sekolah untuk sholat Dhuha.

“Assalamualaykum,” salam terucap tunai dari mulut Dinna saat melangkah masuk ke dalam rumah. Tiada tanda-tanda keberadaan manusia di dalam rumah tetapi pintu depan tidak terkunci hal tersebut sudah biasa terjadi, hal yang mungkin terjadi adalah Bunda lupa untuk mengunci pintu karena sedang pergi ke warung dekat rumah.

“Ehm.., bau-baunya sepertinya kakakku yang geje satu itu udah pulang deh,” ucap Dinna saat menatap beberapa piring kotor berada di dapur.

Dinna pun berlari menaiki tangga. Membuka pintu kamar kakaknya, tergeletak begitu saja tas ransel bermotif belang-belang berwarna hitam  abu-abu di dekat pintu kamar, sesosok cowok dengan lelap terbaring di kasur yang berada di lantai. Dinna mendekati sosok tersebut.

“Kakak, BANGUN!!!” Dinna tanpa perasaan mengambil bantal yang menjadi penyangga kepala kakaknya dan langsung menutupkan bantal tersebut ke wajah kakaknya.

“Ehm…, ehm…,” hanya itu suara yang terdengar dari dalam bantal tersebut.

“Kakak jahat, kakak enggak kasih tahu kalo pergi, terus kakak juga enggak kasih kabar. Udah atu bulan, Kak! Kakak nyebelin. Pokoknya Kakak harus minta maaf sama Nuna,” meski Dinna berkata dengan kesal wajahnya terlihat begitu gembira. Ya, ia gembira atas munculnya kakak satu-satunya yang ia miliki.

“Hufft.., Nuna…” Adi yang akhirnya bisa keluar dari sekapan bantal di wajah menatap wajah adik satu-satunya yang sedang tersenyum ceria.

“Jangan ganggu kakak kalo lagi tidur. Tahu ga sih kakak capek tahu..,” Adi pun mencubit gemas kedua pipi Dinna dengan cepat, Dinna yang belum siap pun tak dapat untuk menghidar dari cubitan kakaknya itu.

“Aduh.., sakit Kakak,” Dinna mengusap-usap kedua pipinya dengan keuda tangannya.

“Siapa suruh gangguin kakak dulu,” Adi bangkit dari kasur dan segera mengambil kacamata yang ia letakkan di meja belajarnya yang berantakan.

“Habis Nuna senang, Nuna kangen,” gigi-gigi berkawat pun terlihat berjejer saat Dinna tersenyum.

“Kakak, kapan sampai?” tanya Dinna.

“Ehm…, kayaknya tadi jam sepuluh,” Adi melangkah keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.

“Kakak kok enggak kasih tahu Nuna kalo kakak pergi?” Nuna membuntuti kakaknya yang turun ke bawah.

“Nanti ya, Kakak ceritain. Sekarang kamu makan dulu sana, kakak mau sholat dulu,” Adi menguap sembari berjalan dengan bergoyang-goyang. Sepertinya ia belum bangun sepenuhnya.

“Sholat apa, Kak?” tanya Dinna.

“Ehm…, sholat dzuhur?” ucap Adi tak yakin.

Sementar Dinna menatap jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore!

“Maaf ya, kakak enggak kasih kabar. Hape kakak rusak, terus juga di tempat kakak melakukan penelitian, sinyal yang diterima senin-kamis tapi bukannya Bunda udah kaish tahu Nuna ya?” tanya Adi di teras atas.

“Iya, Bunda udah kasih tahu sih tapi kan enggak langsung dari Kakak,” elak Dinna.

“Ini juga mendadak, penelitian ini seharusnya dilakukan minggu depan tapi dimajuin seenak hati sama dosen, eh tapi kakak punya cerita bagus loh. Cerita dongeng ini Kakak dapat saat kakak ke perpustakaan di daerah tersebut,” Adi menyeruput teh panasnya.

“Ayo kakak cerita, Nuna pengen denger,” wajah Nuna sudah terlihat begitu antusias mendengar cerita dari kakaknya.

“Oke, gini ceritanya cowok tersebut bercerita dengan peralatan yang ada. Ia membawa bantal, membawa sendok, piring, lalu sepasang sandal.”

“Wah, lucu ya, Kak. Dia bawa benda-benda seperti itu,” Dinna terlihat semakin tertarik dengan cerita yang akan diceritakan kakaknya.

“Nah, dia bercerita nih. Ayo simak deh ceritanya:

Pada suatu hari, ada sebuah bantal, ia terlihat bersemangat. Tiba-tiba sebuah sendok muncul.

“Hei sendok, apa kabar?” tanya bantal.

“Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?” balas sendok.

“Aku selalu bersemangat,” ucap bantal.

Tak lama kemudian piring dan sepasang sandal muncul.

“Wah lagi kumpul-kumpul ya?” ucap sandal kanan.

“Tumben ya kita bisa kumpul begini,” sandal kiri menambahi.

“Sedang diskusi tentang apa ini?” tanya piring.

“Enggak lagi diskusi apa-apa kok. Kita cuma lagi ngobrol aja,” jawab bantal.

“Bantal selalu ceria ya?” ucap piring.

“Iya, begitu juga dengan sendok yang selalu segar,” balas sandal kanan dan kiri.

“Ah, tidak begitu juga. Aku selalu ceria karena aku senang, aku bsa berguna bagi manusia.”

“Begitu juga denganku. Aku selalu segar karena aku selalu dicuci setelah aku digunakan oleh manusia.”

“Benar-benar, aku juga merasa senang. Aku merasa senang saat aku bisa untuk membantu manusia,” piring ikut menanggapi.

“Iya, tepat sekali. Kita bisa untuk membantu manusia meskipun kita hanya hal kecil. Bantal bisa membantu manusia agar bisa tidur lebih nyenyak, beristirahat. Piring dan sendok membantu manusia untuk kegiatan makan, dan aku dan pasanganku ini membantu menjadi alas kaki bagi manusia saat berjalan,” ucap sandal kanan panjang lebar.

“Menyenangkan ya bila kita bisa berguna bagi manusia, terutama saat manusia tersebut juga berterima kasih kepada kita dengan merawat kita. Kita bisa berkontribusi meski kita hanya hal yang kecil,” sandal kiri melanjutkan.

“Iya-iya, kita berguna saat kita digunakan dengan tepat oleh manusia,” bantal mengakhiri percakapan.

Nah, begitu ceritanya, Nuna,” Adi mengakhiri cerita dongeng yang ia dengar saat ia pergi ke sebuah daerah yang cukup trepencil.

“Ehm.., unyu…,” Dinna terlihat kenak-kanakan dengan sikap dan mimik wajahnya.

“Tapi kak, pendongengnya sama persis dalam mendongeng seperti apa yang kakak ceritakan?”

“Ehm.., dia lebih baik sih, lebih menarik. Kata-katanya lebih mudah dipahami oleh semua orang. Kan dia bercerita ke anak kecil, sedangkan kakak cuma bercerita sama Nuna, kalo Nuna ga ngerti jadi payah dong, hehehe..”

“Nuna, ayo sekarang apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita tersebut?” tanya Adi pada Dinna.

“Ehm.., apa ya? Emang ada, Kak?” tanya Dinna tak yakin.

“Tentu ada, dongeng tuh pasti ada pesan moral yang ingin disampaikan ke pendengar,” jawab Adi.

“Ehm, ini: kita harus menyayangi benda-benda yang kita miliki karena mereka adalah benda-benda yang membantu kegiatan kita.”

“Yup, tepat sekali. Kita harus menjaga apa yang kita miliki dan menyayanginya. Lalu, yang dapat kita pelajari dari cerita tersebut juga tentang konribusi, kita bisa untuk membantu meski hal kecil hal tersebut pasti akan bernilai lebih bila kita melakukan dengan ikhlas dan benar. Melakukan sesuatu tepat guna, seperti tadi bantal untuk tidur kan gunanya tepat tuh,” Adi menjelaskan panjang lebar.

“Wah, Kakak jadi pendengong aja sana. Pantes kok..,” Dinna tersenyum cerah kepada Kakaknya.

Sore sudah semakin gelap. Matahari sudah di ujung perjumpaan di hari ini. Adi dan Dinna pun masuk ke dalam rumah. Menutup pintu teras.

Minggu yang cerah, Adi sudah siap untuk pergi jalan-jalan hari ini. Motor bebeknya sudah ia panasi. Tas selempang sudah tergantung di badannya, helm full face sudah di genggaman tangannya. Ia hanya tinggal menunggu satu hal yang belum muncul juga di depan rumah.

Pintu rumah terbuka, sosok Nuna muncul dengan pakaian siap jalan-jalan. “Kakak, Nuna siap untuk jalan-jalan,” wajah cerah Nuna terlihat begitu jelas hari ini.

“Ayo cepetan, kita langsung berangkat nih,” Adi sudah naik ke motor bebeknya. Dinna berlari kecil untuk segera duduk di belakang Adi. Jika dilihat-lihat lagi mereka tidak terlihat seprti kakak-adik yang akan pergi jalan-jalan tetapi bagaikan kekasih muda.

“Kakak, kita cari hape baru dulu untuk Kakak,” Dinna mengawali pembicaraan saat sampai di sebuah mall.

“Ehm.., iya juga ya? Ayo kita toko ponsel!” Adi berucap dengan semangat.

Setelah beberapa kali mampir ke beberapa counter handphone, Adi dan Dinna mengakhiri pencarian handphone baru ke toko ponsel yang memang cukup terkenal dan offical. Setelah beberapa menit dihabiskan untuk bertanya-tanya dan mengobrol, Adi memutuskan untuk membeli sebuah handphone bertipe musik.

“Oke, kita sudah beli hape sekarang. Selanjutnya kita akan pergi ke mana nih?” tanya Adi pada Dinna.

“Kita ke toko pakaian yuk, Kak? Nuna mau cari baju baru. Udah lama Nuna enggak beli baju nih, hehehe..,” Dinna tersenyum pada kakaknya.

‘Hah? Beli baju? Aduh…, belanja ibu-ibu nih..,’ batin Adi.

Langkah Dinna yang sedari tadi terus berjalan menyusuri mall pun berhenti di sebuah toko distro meski sedari tadi banyak toko-toko pakaian yang berserakan di mall tersebut tetapi tak ada yang menarik perhatian Dinna. Naun, kali ini Dinna tertarik pada sebuah toko ditro.

Dinna melangkahkan kakinya masuk ke dalam toko tersebut.

“Wah, bajunya lucu-lucu,” ucap Dinna melihat baju-baju yang digantunng di hanger.

Sementara Dinna mencari-cari baju yang ia inginkan Adi pun melihat-lihat koleksi pakaian cowok yang ada di toko tersebut.

“Hei Nuna, kamu mau ga jaket ini?” tanya Adi sembari memperlihatkan sebuah jaket berwarna abu-abu dengan lambang reverse (panah dua arah)kecil di sisi kiri baju dan dan lambang besar di belakang jaket dengan tulisan di bawahnya “MATE”.

“Jaket apa ini, Kak?” tanya Dinna.

“Ini namanya jaket pasangan, jadinya kakak pakai jaket yang untuk cowok dan kamu pakai yang jaket untuk cewek. Gimana? Mau ga?” tanya Adi.

“Mau-mau, Kakak yang beliin kan? Iya, Nuna mau!” ucap Dinna dengan senang.

“Ya udah, anggap aja Kakak lagi baik hati sama kamu,” balas Adi sembari tersenyum.

Sebelum mereka pergi meninggalkan toko tersebut, mereka sempat untuk difoto oleh para pegawai toko tersebut karena telah membeli pakaian pasangan. Meskipun Adi telah menjelaskan bahwa mereka adalah kakak-adik pegawai tidak mempedulikan hal tersebut. Foto tersebut seakan mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sedang membawa jaket pasangan yang mereka beli. Hal tersebut pun digunakan oleh Adi untuk minta difoto dengan gaya yang sama dengan hape barunya.

Waktu olahraga dimulai, anak-anak kelas XI IA 4 berbaris untuk mengikuti pemanasan. Namun, sebelum pemanasan dimulai obrolan dan gosip lebih dahulu diawali oleh anak-anak perempuan kelas XI IA 4.

“Wah, Dinna sekarang sudah punya pacar ya?” tanya Hesti.

“Hah? Pacar? Pacar yang mana?” Dinna tidak mengerti tentang pertanyaan Hesti.

“Ah, itu loh yang fotonya jadi PP-mu di FB. Ganteng juga ya Din, boleh dong dikenalin ke kita-kita,” Hesti kembali menggoda Dinna.

“Oh, itu. Dia bukan pacarku, ia sih kita berdua beli jaket pasangan, jaket cinta tapi dia itu kakakku, suer deh. Itu bukan pacarku,” Dinna mencoba menjelaskan.

“Ah, ngeles aja. Ciee…” Refa langsung saja ikut nimbrung.

Pelajaran olahraga dimulai. Namun, hingga akhir pelajaran olahraga bahkan hingga hari ini berakhir, Dinna masih juga diberondong oleh pertanyaan tentang cowok yang bersamanya di PP FB-nya.

Foto tersebut memang dijadikan foto profil miliknya karena itu adalah kenangan yang tak terlupakan saat kakaknya membelikannya sebuah jaket dan jaket tersebut adalah jaket pasangan yang cukup lucu. Saat ia dan kakaknya jalan bersama dan memakai jaket tersebut terasa begitu dekat. Begitulah hal yang Dinna rasa tentang jaket cintanya.

Selesai

9 Juni 2011, Bekasi-Pekayon 10.50 WIB

Alhamdulillah akhirnya selesai juga cerpen ini. Cerpen yang sudah lama tidak aku buat. Cerita tentang Nuna dan kehidupannya. Bear kan, muncul lagi cerita tentang Nuna, setelah vakum dan berpikir untuk tidak dilanjutkan lagi akhirnya rasa rindu untuk membuat cerita tentang Nuna muncul lagi. Kali ini Nuna kembali muncul, mungkin yang besok adalah kisah tentang artis kita Axa, dan mungkin pula tentang cewek yang punya keajaiban dengan masakannya, Aidna.

Ternyata memang susah untuk menghilangkan rasa ‘cinta’ pada cerita sendiri. Cerita pendek ini semoga sedikit memberi hiburan. Semoga ada hal yang bisa dipelajari di dalamnya. Salam semangat. Bulan Juni, bulan liburan. Selamat liburan. Beneran aku sangat suka, aku menulis tentang Nuna lagi. Nuna Kecil beneran cerita yang menyenangkan untuk aku tulis-bagiku^^d

Permadi Heru

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s