Dolan (Dongeng Saat Liburan^^v)

“Dimas, diminum dulu itu obatnya!” perintah ummi yang sedari tadi belum juga aku patuhi.

“Iya, bentar, Ummi. Dimas lagi siap-siap dulu,” balasku dari lantai dua kamarku.

Hari ini adalah hari ke dua aku mendogeng di TK Perwanida, sebuah TK yang berada di daerah dekat rumahku. Sementara itu, aku masih punya pekerjaan rumahku. Menyembuhkan sakit galigata atau yang biasa dikatakan sebagai sakit biduran di daerahku ini. Kalo kalian tidak tahu, sakit ini seperti alergi begitu, jadi ya ntar kadang kumat sakitnya, kadang ilang sendiri. Nah, sekarang aku lagi masa penyembuhan sakit tersebut. Setelah ummiku hilang kesabaran melihat diriku ini yang masih juga santai-santai saja menghadapi penyakit ini.

“Mau ke mana lagi hari ini?” tanya ummi saat melihat anaknya satu ini sudah rapi dengan mengenakan jaket abu-abu kesayangannya tersebut.

“Seperti kemarin, mendongeng di TK Perwanida,” balasku santai.

“Itu bonekanya ya mbok dicuci tho? Udah bau gitu, kotor lagi.”

“Ah, jangan. Ntar rusak lagi, kan sayang kalo sampe rusak.”

“Udah ah, Dimas berangkat dulu, assalamualaykum.”

Seperti kemarin, aku berangkat dengan berjalan kaki, hari ini tidak gowes lagi. Karena sungguh, lelah juga disuruh gowes dengan jalan yang menanjak begitu.

Di pertemuan kemarin, aku kurang begitu all out dalam mendongeng, aku ingin untuk yang kali ini aku bisa lebih all out dalam mendongeng. Ya, aku ingin untuk menunjukkan performa terbaikku dalam mendongeng. Ayo-ayo, Dimas pasti bisa!!!

Oh ya, sebenarnya aku mendongeng bersama seorang temanku bernama Dedy tetapi ia tidak bisa datang karena ia harus pergi ke Jogja mengurusi kegiatan perkuliahannya. Ya begitulah. Tak apa, setidaknya semangat dan niatnya membantu sangat berharga bagiku. Hehehe…

“Assalamualaykum warrohmatullahi wabarakatuh, adik-adik,” aku tunggu balasan salam dari mereka.

“Waalaykumsalam warrohmatullahi wabarakatuh,” balas adik-adik TK Perwanida dengan kompak dan semangat. Terutama untuk yang anak-anak perempuannya. Entah mengapa soal menjawab salam, anak perempuan selalu lebih ramai ya?

“Ada yang tahu, kakak ke sini mau apa?” tanyaku pada mereka.

“Mau dongeng, Kak,” balas seorang dari mereka.

“Beneran nih, kakak ke sini mau mendongeng?”

“IYAAA…”

“Ah, masa? Kakak ke sini mau dongeng? Beneran? Iya?” aku ubah gaya bicaraku menjadi gaya bicara Bibo dengan menekankan pada kata dongeng yang sedikit melejit.

Adik-adik TK Perwanida tertawa kecil dan tersenyum mendengarucapanku. Aku tak tahu lagi, bagaimana bahagianya perasaanku saat aku melihat senyum dan tawa mereka. Aku semakin tertarik dan tertantang untuk membuat mereka semakin tertawa dan semakin tersenyum indah. Wah, sungguh sebuah bayaran kontan dari mendongeng. Senyum dan tawa yang begitu indah.

Aku mulai untuk bercerita tentang Bibo, Momo, dan Lana. Cara mendongengku kali ini adalah dengan media gambar, gambar-gambar yang aku gunakan tiada lain adalah gambar-gambar yang telah dibuat oleh Dica. Adik-adik TK Perwanida begitu senang, mereka tertawa, tersenyum, saat aku menceritakan dongeng dari gambar tersebut. Tentunya aku menggunakan ekspresi, tingkah, yang sungguh-sungguh lepas. Tanpa malu lagi untuk berpura-pura menangis, bersikap kekanak-kanakan versi Bibo untuk menunjukkan karakter dari setiap tokoh dongengku tersebut.

Aku istirahatkan tubuhku setelah tiga jam berdongeng di depan anak-anak TK Perwanida. Lelah, tentu hal tersebut tak bisa dipungkiri. Namun, kelelahan tersebut tak seberapa dibanding kebahagiaan yang aku dapatkan. Aku sungguh senang, meski suaraku menjadi sedikit serak, itu tidaklah jadi masalah. Aku sedari tadi menggunakan suara tenggorokan dalam berdongeng. Aku lupa dalam menggunakan suara perut, jadi begini deh. Tak apalah, bisa jadi pembelajaran bagiku.

Ibu Ida, kepala sekolah TK Perwanida mendatangi tempatku beristirahat. Ia mulai tuk mengajakku untuk mengobrol. Aku yang memiliki sifat saguin tanpa banyak waktu sudah menguasai isi pembicaraan. Ini adalah sedikit kekuranganku, jadi pendengar yang kurang baik. Hehehe…

Tak lama kemudian, Ibu Rahma datang ke tempatku beristirahat.

“Lalu, untuk tanggal lima februari, Kak Didi bisa kan bantu kegiatan maulid nabi?” tanya Ibu Rahma, Ibu Rahma adalah guru di TK Perwanida yang tak lain adalah anak dari Ibu Wur. Ibu Wur adalah mantan kepala sekolah TK Perwanida di saat aku bersekolah di TK ini dahulu.

“InsyaAllah bisa, Bu. Saya juga tidak ada acara,” jawabku dengan senyum memukau (aih…, narsis juga ya?)

“Nanti sama siapa saja saat mengisi kegiatan tanggal lima besok?” tanya Ibu Rahma.

“Ah, saya juga belum tahu, Bu. Bila nanti ada teman yang mau bantu saya, saya dengan senang hati untuk menerimanya,” balasku santai.

Baiklah, dengan begini, liburanku berisi dengan dongeng, dongeng, dan dongeng. Hari kemarin, hari ini, tanggal lima dan juga masih ada lagi hari-hari lain nanti yang akan menantiku untuk mendongeng. Tawaran dari sepupuku untuk mendongeng di Jogja pun aku iyakan meski aku belum tahu itu kapan.

Namun, di balik itu semua. Aku jadi melupakan kegiatan roadshow yang dilakukan oleh teman-teman dari UI untuk perkenalkan UI pada anak-anak Magelang dan sekitarnya. Mengapa sih universitas segede UI harus juga dikenalin kepada mereka, mereka enggak mau masuk UI juga yang mau masuk UI udah banyak. Nah, di sini kami mau menggalang massa dari Magelang, karena anak-anak Magelang sungguh sedikit dibanding dari daerah lain. Penyebabnya ya karena udah ada UGM, UNDIP, UNY, dan universitas-universitas bagus lain di jawa tengah dan jogja.

Oke, apa yang aku tuliskan di atas sungguh enggak ada korelasi dengan kegiatan dogengku. Namun, aku sebagai bagian dari DGM (Duta Generasi Magelang) ingin minta maaf pada teman-teman DGM karena enggak pernah ikut roadshow. Hehehe…

Alhamdulillah, tidak disangka-sangka, tidak dinyana-nyana. Bantuan datang!! Beberapa teman-temanku mau untuk membantu ikut kegiatan mendongengku. Pertama, Dedy, ia sudah tidak ada kegiatan di Jogja, maka ia dengan senang hati ikut untuk bantu-bantu. Dia menjadi PJ HPD, hehehe, serasa lagi dalam kepanitiaan aja. Lalu tetangga samping rumahku, Ryan. Dia adalah cowok dengan bakat musik yang cukup bagus. Sehingga aku tempatkan dia sebagai pemain musik, berbekal gitar ia akan membantu untuk kegiatan ini. Kemudian, seorang cewek dari UGM. Namanya Firsty, ia anak ilmu komunikasi yang menjadi teman dari SD sampai SMAku. Ia akan membantu sebagai pembuka kegiatan mendongengku, serta menjadi pengawas anak-anak. Dan yang terakhir adalah Eri, nama aslinya Eka Risti (siapa gitu lanjutannya aku lupa), dia tak sengaja aku temukan saat aku membantu kegiatan yang itu tuh, aku sebutin di cerpen pertama. Ia lagi tidak ada kerjaan jadi dia mau bantu aku. Dia pulalah yang ikut membantuku melobi kepala sekolah agar aku bisa dongeng di SD dan TK. Terima kasih untuk kebaikkannya.

Nah, sekarang saatnya aku mendongeng. Semua sudah siap, adik-adik kecil yang sudah menanti kegiatan mendongengku telah dikondisikan untuk mendengarkan cerita. Eri sudah di tengah-tengah anak-anak tersebut agar bisa menjadi pengendali keadaan bila saja ada yang mulai untuk membuat rebut. Seperti biasa.

Kalau biasanya aku langsung mendongeng, kali ini aku ingin awali dengan bernyanyi bersama. Mumpung ada pemain musik gratis yang mau bantu, jadi mengapa tidak aku pergunakan dengan sebaik-baiknya. Ini nih namanya aji mumpung, ya aji mumpung yang digunakan untuk kebaikan, boleh-boleh aja kan? Sah-sah aja kan?

Lagu pertama, lagu anak yang cukup aku sukai. Lagu dari Tasya, siapa tahu, ayo tebak lagu apa? Oke, lagu yang aku akan nyanyikan adalah anak gembala. Lagu ini akan mengantarkan aku pada dongeng Dombi si Domba. Mau tahu cerita tentang Dombi si Domba? Coba tanya pada adik angkatanku yang bernama Suryadi, dialah yang mempertemukanku dengan dongeng tersebut. Aku suka dengan dogeng tersebut, meskipun sebelumnya aku gagal dalam bercerita tentang dongeng ini. Untuk kali ini tidak akan lagi! Ayo Dimas!!!

Sumpah-sumpah-sumpah, ini adalah kegiatan dongeng terakhirku di Magelang. Dan kini, semua sudah selesai. Dua buah dongeng telah aku ceritakan, Dombi dan Negeri Suasana Hati. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa untuk nikmati hari liburanku dengan penuh kebahagiaan. Ya, liburan yang sibuk dengan menciptakan kebahagiaan pada anak-anak.

Semua ini mungkin berawal dari kesempatan yang aku buat. Aku mengajak teman-teman SDku untuk membantu aku mendongeng tetapi tak ada satu pun tanggapan dari mereka di grup FB. Namun, semua sudah berlalu. Aku mengajukan diri untuk mendongeng di TK Perwanida, mengajukan diri bersama Eri untuk mendongeng di SD Kayu Puring, dan sebagainya. Hingga teman-teman lain pun tertarik untuk ikut membantu. Ya tentunya setelah aku posting juga tentang kegiatanku ini di grup FB.

Dukungan doa dari teman-teman, keluarga, serta semua orang yang aku kenal pun menjadi semangat tersendiri bagiku. Wah serasa lagi membuat buku dan sedang mengisi kolom ucapan terima kasih nih. Sungguh, aku senang…

“Dimas, apa sih alasanmu untuk buat kegiatan ini?” tanya Firsty padaku saat kami beristirahat setelah mengisi kegiatan mendongeng terakhirku di Magelang untuk kali ini.

“Ehm.., apa ya? Ingin cari kegiatan aja kali,” balasku.

“Beneran??”

“Iya, memang begitu tapi juga bisa dikatakan aku juga lagi terapi, lagi penyembuhan penyakitku ini, hehehe,” aku tertawa kecil.

“Emang sakit apa? Terapi segala,” tanya Firsty tak mengerti.

“Ehm…,” aku diam sesaat.

“Sedikit yang tahu, dan mungkin hal tersebut enggak begitu penting juga sih. Aku itu anak inferior. Aku tak punya percaya diri yang baik, di UI aku punya komunitas dongeng juga. Namanya KODAI. Di antara teman-temanku, akulah yang banyak kekurangan, aku yang di antara teman-temanku tidak banyak bisa, hanya bisa mendongeng. Aku tak percaya diri, terutama saat mereka bercerita, saat mereka beraksi di depan anak-anak kecil. Aku seakan bukan apa-apa aku tak bisa apa-apa. Sungguh aku tak yakin, aku tak percaya diri.”

“Oleh karena itu, aku ingin untuk meningkatkan kapasitas mendongengku. Aku ingin sehebat mereka. Jadi di sini aku ingin belajar mendongeng, berlatih menjadi pendongeng yang baik. Aku ingin bersungguh-sungguh untuk mendongeng. Karena aku merasa di sinilah passion-ku berada. Ada temanku yang punya passion menulis, sekarang ia sudah membuat tiga buku, aku ingin juga sepenuh hati seperti dia dalam menjalani passion,” aku katakan panjang lebar semua alasan-alasanku mendongeng. Namun, aku tahu. Hal teramat dasar mengapa aku mendongeng adalah karena aku ingin mendongeng. Tidak lebih.

Bukan karena ingin lebih hebat, bukan karena ingin terkenal, bukan karena ini atau itu. Karena aku suka dongeng.

Liburanku sebentar lagi berakhir. Alhamdulillah IP-ku naik dan aku sekarang harus lebih semangat lagi dalam belajar dan juga menjalani hari-hariku di masa kuliahku ini. Semester enam telah menanti. Kegiatan KODAI pun pasti akan lebih rame lagi.

Setidaknya kini, aku sudah lebih baik lagi dalam bercerita. Aku bisa berdiri bersama teman-temanku di KODAI. Tak akan sia-sia segala latihan yang aku lakukan di Magelang.

Selesai!!!

Alhamdulillah, cerita tentang Dimas untuk bagian ketiga ini selesai. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Aku pun belum tahu apa yang akan terjadi, baiklah kita tunggu saja.

Dimas dan kegiatan dongengnya, bukan tentang kisah cintanya.

Semoga kalian terhibur atas cerita tentang Dimas. Semoga di lain waktu aku bisa meneruskan cerita tentang Dimas ini. Terima kasih sudah membaca.

27 Januari 2012

22.06 WIB

Permadi Heru P

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s