Bermain dengan Waktu

Waktu yang tersisa hanya tinggal lima belas menit tetapi tugas makalah yang harus dikumpulkan masih setengah lagi. Bagaimana bisa aku untuk mengumpulkannya tepat waktu. Tamat sudah riwayatku kali ini. Haruskah aku mengulang mata kuliah ini lagi tahun depan? Tanyaku pada diri sendiri.

Tidak. Aku tidak akan sudi untuk mengulang mengambil mata kuliah ini lagi untuk tahun depan, aku tidak akan gagal. Aku bulatkan tekadku. Jari-jemariku menari mengetikkan huruf demi huruf di atas keyboard. Aku tak pedulikan lagi waktu yang tersisa kini.

Tugas selesai. Namun, hanya ada waktu lima menit yang tersisa, mana mungkin untuk mengumpulkan tugas ini tepat waktu. Aku masih harus print tugas ini segera. Seandainya waktu berhenti. Ya, waktu berhenti untuk aku gunakan melakukan semua yang bisa aku lakukan.

Dan entah sejak kapan ada sebuah jam beker di samping laptopku. Jam beker berbentuk katak tersebut menunjukkan pukul tujuh lebih lima puluh lima menit. Secara ajaib pula suara detik jarum jam tersebut berbunyi begitu keras.

Tik-tik-tik-tik… dan seterusnya.

“Hei, berhentilah bergerak! Jadikan waktu berhenti hingga aku selesaikan semuanya!” umpatku pada jam beker tersebut.

Aku segera pindahkan data tugasku ke dalam flashdisk. Mematikan laptop dan beranjak dari kamar kostku menuju tempat foto kopi yang menyediakan jasa print. Semua aku lakukan secepat aku bisa.

Di tengah segala kepanikan dan pikiran kalutku, aku tak sadari jarum jam di jam beker berbentuk katak tersebut tak bergerak sedikit pun. Tak ada yang bergerak, jarum pendek, jarum panjang ataupun jarum yang tipis. Jarum yang menyatakan detik tersebut berhenti bergerak.

Setengah berlari aku bergegas menuju tempat foto kopi terdekat. Segera menancapkan flashdiskku ke dalam port USB. Print tugas makalahku, membayar, dan segera bergegas kembali menuju ruang dosen untuk menyerahkan tugas.

“Baik, ibu terima tugasmu. Ternyata kamu bisa on time juga dalam menyerahkan tugas,” ucap Bu Friska padaku.

“Hah? On time? Dari mananya on time?” tanyaku dalam hati.

“Maaf bu, bukankah saya sudah terlambat?” tanyaku tak mengerti.

“Lho terlambat bagaimana? Lihatlah jam, sekarang masih jam tujuh lima puluh enam menit, sedangkan batas pengumpulan jam delapan. Jati kamu belum terlambat.”

Aku menatap kea rah jam dinding yang berada di ruang dosen. Benar, sekarang masih pukul tujuh lima puluh enam menit. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah aku baru saja selesai mengerjakan tugas satu menit yang lalu? Dan tak mungkin aku berjalan, nge-print tugas, kembali jalan lagi hanya dalam waktu satu menit.

Aku merasakan ada getaran dari dalam tasku. Aku rasa hapeku mendapat SMS atau ada telpon masuk. Tak lama kemudian aku baru sadar, hapeku ada di dalam kantong celanaku. Lalu apa yang bergetar di dalam tasku?

Aku buka tasku, asal-muasal getaran tersebut dari sebuah benda yang aku rasa aku tak masukkan. Jam beker berbentuk katak. Benda itu lagi. Apa yang membuat benda ini bergetar? Aku menatap jarum jam yang ada di jam beker tersebut. Masih tak bergerak.

“Hei bergeraklah,” aku kocok-kocok jam beker tersebut. Kemudian aku melihat lagi ke arah jarum jam beker tersebut. Jarum jam kembali bergerak.

“Jam beker yang aneh,” ucapku sembari menatap jam beker yang tiba-tiba muncul dalam hidupku ini.

Sebentar lagi jam Sembilan, kelas Pak Riyanto yang sangat membosankan akan segera dimulai. Aku berjalan lambat menuju kelas. Sungguh, kalau bisa aku ingin untuk menyegerakan waktu, berakhirlah segera hari ini. Aku ingin hari ini menjadi hari yang indah tanpa pertemuan kelas Pak Riyanto.

Kelas sudah penuh dengan anak-anak lain. Aku istirahatkan diriku di bangku paling belakang. Berharap ada keajaiban yang muncul, hal itu mungkin Pak Riyanto pergi atau apalah. Aku ingin kelas ini ditiadakan.

Sosok itu muncul, lima menit sebelum jam perkuliahan dimulai. Presensi mulai diedarkan, kelas dimulai. Aku kembali menatap jam beker katak yang berada di genggaman tanganku. Dengan usil aku putar jarum jam menuju pukul duabelas.

“Baik semuanya, kita mulai kelas,” ucap Pak Riyanto.

“Mulai kelas? Pak, sekarang sudah saatnya kelas berakhir,” ucap seorang temanku.

“Hah? Apa? Emangnya siapa dia? Berani bener bilang seperti itu pada dosen ga jelas satu ini?” ucapku dalam hati. Aneh dan begitu ganjil.

“Hah?” Pak Riyanto tak mengerti.

Ia mentap jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. “Oh, iya. Sekarang sudah jam duabelas. Entah bagaimana, waktu berlalu cepat. Lalu apa yang telah kita pelajari harini ini?” tanyanya pada seluruh kelas.

“Apa semua sudah pada gila? Sekarang masih jam Sembilan!” aku kesal dengan keanehan yang terjadi. Aku menatap layar hapeku dan tertera di sana jam duabelas.

“Lho?” aku dibuat tak mengerti.

Aku baru sadari, jam beker katak yang sedang aku pegang ini adalah jam beker ajaib. Bisa untuk menghentikan waktu, untuk memajukan waktu, serta untuk memundurkan waktu. Bagaimana bisa? Entahlah, tetapi hal tersebut membuatku bisa untuk mempermainkan waktu sesukaku.

Waktu istirahat siang tiga menit lagi habis, kelas akan segera dimulai kembali. Aku belum puas dengan waktu istirahat yang begitu singkat ini. Maka aku mundurkan waktu, aku kembalikan pada pukul sebelas siang. Saat aku baru saja keluar kelas.

“Mau ke mana?” tanyaku pada seorang teman sekelasku.

“Mau ke kelaslah, emang mau ke mana lagi. Kan bentar lagi udah kelas,” ucapnya dengan nada kesal.

“Emang sekarang jam berapa?” tanyaku dengan nada merendahkan.

“Jam satu lah, emang gue bodoh,” ucapnya kesal.

“Coba dulu cek deh, sekarang berapa,” ucapku sombong.

Ia pun segera memeriksa jam di hapenya.

“Eh, masih jam sebelas. Sepertinya tadi udah jam satu deh. Kok bisa terasa aneh begini ya?” ucapnya bingung.

“Aduh, udah tua nih. Memeriksa jam berapa aja lupa,” ejekku padanya. Aku segera meninggalkannya.

Indah sekali, sekarang aku merasa menjadi penguasa akan kehidupa ini. Aku bisa memanipulasi waktu sesukaku. Tak ada lagi hal yang tak bisa aku lakukan. Semua hal yang tak bisa aku lakukan bisa aku lakukan seperti yang aku minta. Semua janji bisa aku tepati, semua hal bisa untuk aku lakukan dengan hal terbaik. Inilah hidup!

Semua orang yang ada di sekitarku pun merasa kehidupan yang mereka alami sekarang menjadi aneh. Mereka merasa terkadang kehilangan diri mereka secara tiba-tiba. Baru saja akan memulai suatu kegiatan tetapi mereka harus menyadari, waktu kegiatan tersebut haruslah telah selesai dan hasilnya mereka tak mendapat apa-apa. Seakan dalam waktu yang lama mereka diam tak melakukan apa-apa.

Malam tiba, larut di tengah gelap aku mulai tuk pejamkan mata. Aku letakkan jam beker katak yang begitu berharga tersebut di sebelas tempat tidurku. Sesaat kemudian, hapeku berbunyi. Aku kembali terbangun, bagaimana bisa hapeku berbunyi? Bunyi yang muncul dari hapeku adalah bunyi alarm yang aku pasang jam lima pagi.

Saat aku melihat jam di hapeku, benar sekarang jam lima pagi. Bagaimana bisa? Aku langsung alihkan pandanganku ke arah jam beker katakku. Jam tersebut kini telah menghilang.

Aku buka korden kamarku. Langit di kala subuh. Bagaimana bisa? Bukankah baru saja jam sebelas malam? Dan kini semua keanehan waktu seakan berbalik menyerangku. Aku tak tahu bagaimana bisa terjadi. Seakan semua menjadi tak beraturan. Jam berapa sekarang?

Sebelum sempat aku menyadari pagi tiba, siang sudah datang. Tak lama kemudian, waktu berhenti. Jarum jam tak kunjung bergerak dari tempatnya. Apa yang sedang terjadi?

Selesai

22.19 WIB (dalam keadaan nyata)

15 November 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s