cerpen dewasa

Pria dan Wanita

Pria muda, melangkah tanpa tujuan. Ia lalui hari-hari yang terus berganti tanpa menemukan apa tujuan dari rutinitas yang ia lakukan, ia tak pernah menanyakan tentang masalah  itu. Ia hanya terus melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia melangkah, lalui setiap sudut kehidupannya tanpa banyak bertanya mengapa ia lakukan itu, di mana akhir dari segala rutinitasnya, apa yang sesungguhnya ia lakukan, kapan segala yang berada di sekitarnya berakhir, dan siapa sesungguhnya dirinya sendiri.

Ia hanya berjalan di tengah kehidupannya. Bergulat dengan keadaan yang menyapanya. Memperjuangkan kehidupannya yang ia tak sadari bahwa begitu sepi. Hitungan detik tak lagi ia hiraukan, hari adalah hitungan yang ia miliki dalam hidupnya. Sehari telah berlalu, kemudian hari baru pun muncul. Hari yang selanjutnya akan terbentang di esok pagi. Namun, masih adakah esok bila ia mati saat itu?

Kota yang begitu sibuk, ia melangkah di trotoar jalan yang padat dengan orang-orang yang juga berlalu lalang. Di sampingnya, jalan raya yang macet tak lagi menjadi pemandangan yang mengherankan. Sudah menjadi hal yang biasa. Polusi dari pembuangan kendaraan bermotor pun tak ingin ketinggalan ikut meramaikan keadaan kota. Langkah-langkah lebarnya begitu cepat berayun. Berhenti pada sebuah halte dan kembali melangkah masuk ke dalam angkutan yang tiba beberapa saat kemudian.

Waktu seakan berhenti, langkah kaki terhenti sejenak. Di hari yang baru ini, ada hal yang berbeda yang belum pernah pria muda itu rasakan. Ia merasakan langkahnya terhenti dari rutinitasnya yang melangkah begitu cepat dengan langkah lebar. Sosok wanita muda memesona, gadis yang begitu manis, matanya tertuju pada gadis tersebut. Ia sedang duduk di sebuah taman kota, taman yang setiap pagi ia lalui. Taman yang selama ini tak pernah membuatnya berhenti. Namun, kali ini taman tersebut menghentikan langkahnya. Bukan taman tersebut tepatnya, gadis manis yang berada di dalamnya. Menghentikan langkahnya.

Ia hidup untuk dirinya sendiri selama ini, dengan langkah yang cepat ia bergerak. Adakah kematian yang menyapanya? Hingga ia tak bergerak dari tempatnya berdiri. Sesaat, terasa begitu lama. Ia tak mati, ia hanya terbangun dari tidurnya layaknya seorang yang mati. Ia mati dari inderanya, dari otaknya, dan dari hatinya. Sampai beberapa saat yang lalu, karena sekarang hatinya tergerak, berdegup jantungnya berbeda dari yang biasa.

Gadis manis itu, ia membangunkan kematian hidup pria muda tersebut yang hanya bergerak layak robot. Bergerak tanpa hati, hanya melakukan sesuai apa yang harus ia lakukan. Gadis tersebut, membaca dengan santai di pagi hari. Di hari yang indah, di hari yang cerah. Damai dalam penghayatan akan bacaan yang ia pegang.

Pria muda tersadar. Ia tersentak. Lamunannya jauh entah hingga ke mana. Suatu tempat yang indah. Kini, ia sudah mendarat kembali dalam kehidupannya. Menatap sosok gadis manis tersebut. Ia palingkan wajahnyadari sosok gadis tersebut, ia langkahkan kembali kakinya ke tempat tujuannya. Meski langkahnya telah beranjak dari tempatnya terhenti, matanya tak lagi menatap wajah gadis manis tersebut, raganya telah tak berada di dekat taman tersebut. Hati dari pria muda tersebut telah tinggal di dekat taman tersebut, mungkin kini telah melangkah menuju taman tersebut. Membelokan langkah kaki ‘robot’nya ke langkah kaki hatinya yang tanpa sengaja temukan apa yang sesungguhnya ia nanti.

Hari-hari sang pria muda kini telah berganti baru. Meski tak begitu berbeda dengan apa yang terjadi selama ini. Ada hal yang membuat hari-hari sang pria muda menjadi lebih bermakna. Ia selalu menghentikan langkahnya di dekat taman, menatap wajah manis gadis yang sering berada di taman tersebut. Kadang gadis tersebut bermain bersama anak-anak kecil di sana, kadang membaca buku, kadang berlari-lari mengitari taman tersebut untuk berolahraga.

Namun, kadang gadis tersebut tak mucul. Hingga hari yang suram pun muncul dalam hati sang pria muda tersebut. Ia habiskan hari tersebut untuk bertanya pada taman dengan tatapannya, “Mana gadis manis yang berada di taman? Hei taman, apakah kau tahu dimana ia sekarang?” pertanyaan itu tak hanya ia tanyakan pada taman tersebut tetapi juga ia tanyakan sepanjang hari pada hatinya, menanyakan atas hilangnya sang gadis manis dan saat hari berikutnya gadis tersebut muncul, sebuah senyum cerah terukir di wajah pria muda tersebut. Pria tersebut hanya menatap gadis tersebut sesaat setiap harinya. Gadis menjadi energi bagi harinya, bagi raganya.

Hingga suatu hari, sang pria muda tersebut sudah di ujung hidupnya. Meski ia masih muda, ia tak lagi dapat menggerakkan tubuhnya. Ia sudah diambang kematian. Hanya tinggal menunggu ajal mengetuk pintu kehidupannya, mengajaknya keluar dari kehidupan dan menuju ke kematian. Itu sudah dekat, sangat dekat.

Pria tersebut berteriak dalam hatinya. Ia seperti gila, gila dalam menjalani hidupnya yang kembali mati. Gadis manis tersebut, tak lagi berada di taman tempat ia bisa menemukannya. Sehari berlalu tanpa kehadiran gadis tersebut, harinya sepi, hari kedua tanpa kehadiran gadis manis tersebut, harinya semakin tandus. Hingga hari pun berganti minggu, berganti bulan, tak ada gadis manis tersebut dalam kehidupannya lagi. Ia menggila. Bertanya tanpa sebab ke segala penjuru, bertanya dengan hatinya yang tak bisa orang lain mengerti.

Sampai pada saat ini, ia terbaring tanpa daya dengan hati yang masih terus bertanya, “Di mana gadis manis tersebut?”.

Selesai

 

12.00 WIB 5 Maret 2011.

Sebuah cerpen yang terinspirasi dari Norman. Mungkin bukan terinspirasi lebih tepatnya hanya melanjutkan apa yang ingin diciptakan. Mungkin tak banyak alasan aku menulis cerpen ini, aku hanya merasa cerpen ini begitu pas untuk ku tulis saat ini. Kisah seorang pria muda. Ia melangkah tanpa arah. Huffft.., sekian dari saya. Bila akhirnya apa yang Norman inginkan dari maksud yang ia ceritakan berbeda dengan apa yang aku tulis semoga itu menjadi sebuah hal yang bisa membedakan apa yang diterima dengan yang diberi. Dan secara tidak langsung, inilah hidup ada lebih dan kurangnya….

Lalu apakah gadis manis itu tak menyadari keberadaan pria muda tersebut? –mungkin bersambung-

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

One comment on “cerpen dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s