belum ada judulnya

 

Pagi ini aku sudah disibukkan oleh mencuci baju dan beberapa pakaian lain yang sejak hari senin kemarin berlum juga dicuci, hari kamis yang begitu sibuk tentunya. Mungkin ini belum seberapa, karena hari ini adalah hari spesial yang sudah aku rencanakan sejak hari Minggu kemarin. Di jalan menuju kampus aku bertemu dengan seorang teman satu jurusanku yang berbeda kelas. Anggi Aprillia, itulah namanya. Aku memang sudah janjian dengannya untuk meminjam kartu mahasiswa miliknya. Ada sebuah rencana yang telah aku persiapkan…

“Anggi, sudah agak lama menunggu?” tanyaku padanya.

“Belum kok, nih KTMku. Jangan sempe ilang ya? Terus juga pake yang bener jangan dipake untuk hal-hal yang enggak-enggak. Awas aja kalo itu sampe kejadian. Ntar gue kutuk jadi batu,” cerocos Anggi saat menyerahkan kartu yang bila hilang sama saja kehilangan uang seratus ribu tersebut.

“Oke Bu Anggi, Malin tidak akan menjadi anak yang durhaka pada Ibu. Ibu jangan khawatir, Malin akan memulangkan KTM Ibu,” ledekku sembari berakting seperti Malin Kundang anak durhaka. Setidaknya aku anak theater jadi dalam penghayatan tidak kalah sama akting artis-artis di tipi-tipi yang udah menjiwai peran mereka.

“Hari ini ada kelas Raka?” tanya Anggi.

“Ehm…, ada nanti jam satu, jadi hingga jam satu aku kosong dan sekarang aku ada acara udah di tunggu nih,” aku menatap jam tanganku yang aku kenakan di lengan kananku. Jam yang menjadi satu-satunya oleh-oleh yang aku minta dari ibadah haji mama dan papaku.

“Mau naik bis juga?” Anggi kembali bertanya sembari melangkah berjalan ke halte.

“Yup, pastinya naik bis. Udah bayar masa ga dinaikin entar uangnya ga berguna dong, hehehe..,” Anggi pun tersenyum mendengar leluconku.

Selanjutnya, aku dan Anggi pun naik bis yang mengantar kami menuju halte fakultas kami, tepatnya fakultas tempat kami belajar bukan fakultas milik kami. Tak terasa bis yang kami tumpangi sudah berada di depan halte fakultas yang kami tuju. Di seberang jalan, di halte yang setipe dengan tempat kami turun seorang anak perempuan terlihat menanti seseorang. Ia duduk sendiri di sana. Sementara di jalan samping halte tersebut, orang-orang berjalan secara teratur di terotoar menuju fakultas yang letaknya tak jauh dari halte tersebut.

Anggi pun ikut bersama rombongan menuju arah fakultas, sedangkan aku melangkah menuju gadis cantik yang sedang menunggu tersebut. Ia memang menungguku di sana. Ya, aku punya acara dengan gadis satu ini. Gadis yang sungguh ingin tahu tentang universitas tempat aku kuliah ini. Oleh karena itu aku akan menjadi guide tournya untuk hari ini. Anggi yang sebelumnya melihatku menuju ke arah gadis yang sedang menunggu tersebut pun pasti akan bertanya-tanya. Namun, itu hanya perkiraanku.

“Udah lama nunggu?” tanyaku pada gadis tersebut.

“Dikit, Kakak ini bohong. Katanya enggak akan telat,” ucap gadis tersebut dengan  nada merajuk yang sudah terbiasa aku dengar dari sikapnya yang sedikit manja bila denganku.

“Hehehe…, ya maaf. Kan bisnya tadi telat sampe halte tempat kakak kost,” kilahku dengan alasan yang memang itu benar adanya.

“Ini, kartu yang akan membuatmu bisa naik sepeda yang berada di selter sana,” aku berikan KTM milik Anggi padanya. Aku langsung pergi tuk menyeberang ke tempat selter alat transportasi gowes seluruh dunia.

“Ih, kakak ini. Masa ninggalin aku gitu aja..,” kembali nada merajuk terdengar dari gadis yang sangat bangga dengan hidung mancung yang ia miliki.

“Ye, siapa juga yang salah. Kan kita memang mau ke seberang,” aku tak pedulikan ucapan gadis itu. Aku memang sangat suka membuat ia jadi kesal padaku, karena ia cukup lucu kalau sedang kesal. Wajah yang tak bisa marah terlalu lama saat marah padaku.

Saat sedang akan meminjam sepeda gowes yang dijaga oleh seorang petugas, petugas tersebut cukup jeli melihat bahwa adikku bukanlah orang yang sama dengan wajah yang ada di foto kartu tersebut. Namun, sedikit trik aku buat penjaga tersebut bahwa ia adalah orang yang sama. Meskipun  ia terlihat masih sangsi dengan ucapanku yang sudah aku buat seoptimis mungkin. Membenarkan sesuatu yang salah dengan teknik psikologi keyakinan dan perasaan tak bersalah serta raut wajah santai.

Setelah mendapat izin untuk mengambil satu sepeda gowes untuk menikmati alur merah trek sepeda, aku dan gadis tersebut pun memulai perjalanan mengelilingi kampus dengan sepeda. Ia begitu senang saat bersepeda di jalur merah trek sepeda. Ia memang paling suka bersepeda saat kecil, bersama teman-teman perempuannya ia sering tuk bersepeda di sore hari dulu. Aku pun ikut senang saat menatap wajahnya yang berhias senyum indahnya.

Jam duabelas, aku dan dia yang sedari tadi sudah mengelilingi kampus dengan sepeda dan bis yang telah disediakan oleh kampus pun akhirnya mengakhiri perjalanan tuk mengelilingi kampus. Aku dan dia sekarang sedang berjalan menuju fakultas tempatku kuliah. Berjalan beriringan, badannya merapat ke tubuhku. Ia memang tipe pemalu, penakut, dan cukup pendiam. Aku tersenyum menatapnya, ia memegang lenganku erat seperti takut kalau aku akan meninggalkannya. Tentunya hal tersebut tak mungkin aku lakukan.

Beberapa sosok orang menatap ke arahku, ada yang aku tidak kenal dan ada pula yang aku kenal tentunya. Wajah dengan senyum misterius dan ada juga yang memasang wajah heran menatapku. Atau sesungguhnya bukan menatapku tetapi menatap wajah cantik seorang gadis yang sedang berada di sampingku. Aku hanya memasang santai yang biasa aku berikan ke setiap orang yang aku kenal ataupun tidak.

“Hei, tuh dilihatin orang. Balas senyum gih,” ledekku.

“Ih, Kakak. Aku kan enggak kenal mereka,” aku tersenyum mendengar jawabannya. Jawaban yang memang akan segera aku patahkan.

“Tetapi mereka kenal sama Kakak,” balasku.

Ia tak membalas, hanya membalas dengan tatapan wajah marahnya dan sedikit cubitankesalnya di lenganku.

Beberapa adik angkatan yang sudah ku kenal terlihat heran dengan kedantanganku bersama seorang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Langkahku terus aku tujukan ke arah masjid fakultasku. Di sebuah perseberangan aku melihat beberapa temanku melihatku dan wajah mereka pun tak kalah dengan wajah-wajah adik-adik angkatanku yang menunjukkan wajah sedikit heran mereka. Ada juga mungkin dari mereka yang menatapku dengan wajah kagum. Sebuah penghargaankah?

“Leonita, kamu lagi shalat atau tidak?” tanyaku padanya.

“Ehm.., hari ini lagi enggak shalat, Kak,” jawabnya santai.

“Owh.., ya udah kalau begitu kita ke perpustakaan dulu. Kamu tunggu di situ. Tenang. Aman kok, ga usah takut, nanti Kakak pinjamin netbook untuk surfing ke dunia maya.”

“Iya deh,” balasnya singkat.

Di perpustakaan aku bertemu dengan Vivi, teman satu angkatan yang berasal dari prodi tetangga. Aku berkata padanya untuk titip makhluk yang bernama Leonita padanya. Sedikit menggoda Leonita, mengatakan bahwa ia sedikit galak jadi jangan buat main-main. Setelah itu aku tak tahu apa yang mereka berdua lakukan.

Di masjid teman-teman satu jurusanku sudah banyak, mereka terliaht cengar-cengir padaku. Aku balas dengan cengiranku yang tak kalah menawan. Buset dah, aku cukup percaya diri juga untuk mengatakan bahwa aku menawan. Namun, hal tersebut tak membuat teman-temanku akan diam saja setelah melihat teman mereka satu ini menggandeng cewek cantik.

“Siapa cewek tadi, Ka?” tanya Nezra.

“Iya nih, loe udah punya carpac ya?” tanya David.

“Cantik tuh, gila hebat juga loe,” Brian berkomentar.

“Kenalin ke kita-kita dong..”

Semua teman-temanku pun bertanya dan berkomentar secara berurutan. Mereka memang begitu kepo alias pengen banget tahu dan juga biasa dikenal sebagai sok pengen ikut-ikutan eksis berita. Itu mungkin karena ini adalah salah satu hal yang cukup bagus untuk jadi trading topik, karena aku dikenal sebagai cowok yang tak pernah dekat dengan cewek dan cukup tenang dalam urusan cewek atau pun masalah percaturan cinta ala anak yang mengaku mahasiswa. Biasanya hanya ikut-ikutan mengatakan ‘gula-gula’ ataupun sejenisnya saat ada mahasiswi yang cukup enak untuk dilihat.

“Entar aku kenalin, enggak lebih. Oke?” jawabku singkat dan segera menuju tempat wudhu yang sudah banyak orang. Adzan telah berkumandang beberapa menit lalu berarti sebentar lagi shalat dzuhur pun akan segera ditunaikan.

Ia masih asyik mengarungi dunia maya saat aku mendatanginya. Ia memang anak yang begitu suka untuk berselancar di dunia maya. Melihat-lihat berita artis ataupun hanya ingin mencari-cari berita terbaru tentang keadaan sosial.

“Udah laper belom?” tanyaku yang sengaja aku gunakan untuk mengagetinya.

“Eh..,” Leonita terlihat sedikit terkejut.

“Kakak…, hobi banget deh ngagetin. Kalo aku jantungan gimana coba?!” langsung saja aku dimarahin sama dia.

“Hehehe.., udah ga usah jadi pikiran. Yuk kita makan,” aku langsung mematikan layar netbook yang sedang ia gunakan untuk browsing.

“Ayo ke kantin,” aku tersenyum menatap Leonita. Merapikan netbookku dan langsung menggandeng tangannya.

Di depan perpustakaan, adik angkatanku yang berbeda jurusan menatapku dengan pandangan yang cukup aneh. Aku tak mengerti tentang tatapannya. Aku tersenyum menatapnya, ia mengalihkan pandangannya. Aku pun akhirnya menjadi sedikit canggung. Seperti tersenyum kepada udara panas siang ini. Langkahku ku percepat, tanganku masih menggandeng Leonita. Leonita terllihat begitu kesusahan menyamakan langkahnya yang kecil-kecil. Ia jadi berlari kecil-kecil.

“Kakak, pelan-pelan dong..,” keluh Leonita.

Kantin sudah cukup ramai, kelas siang belum memulai perkuliahan. Anak-anak yang beristirahat pun banyak yang pergi ke kantin. Alhamdulillah aku menemukan meja yang masih kosong di antara banyak meja yang telah penuh dengan anak-anak yang sedang mengobrol ataupun makan siang. Tanpa meminta persetujuan Leonita aku telah memesan dua porsi nasi ayam bakar presto dan dua gelas es teh.

Tak lama menunggu pesananku datang. Namun, tak hanya pesanan yang datang menuju meja bundar tempatku berada. Teman-temanku pun berdatangan menuju arahku.

“Ciee.., Raka. Siapa tuh.., boleh dong kenalin ke kita-kita,” goda Seno. Seorang temanku yang paling hobi ngebanyol dan kalo ngebanyol selalu saja membuahkan gelak tawa.

“Iya nih, tadi di masjid kan udah janji,” Nezra langsung menambahi.

Leonita langsung tertunduk. Ia yang pemalu dan cukup penakut tersebut pun mematung. Aku melirik ke arahnya, berpikir sesaat. Tanganku ku letakkan di atas kepalanya. Tersenyum.

“Nama gadis cantik berbehel ini Leonita,” ucapku santai.

“Wew, namanya keren. Pacar loe cantik banget Raka,” Brian langsung saja menanggapi sebelum aku selesai bicara.

“Boleh nih kenalan,”sebelum David menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan aku sudah memberi kode untuk tidak menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.

“Bukan, dia adikku yang paling cantik!” tegasku dengan suara yang cukup bertenaga.

“Hah? Loe punya adik Raka?” tanya Seno.

Semua teman-temanku memang belum tahu bahwa aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adik satu-satunya yang aku miliki adalah Leonita. Adik yang sangat berharga bagiku.

“Beebeep..” suara ring tone handphoneku terdengar.

Di selasar tempat aku dan teman-temanku kuliah teman-temanku yang lain masih ngejonggrok. Meski sudah ada pemberitahuan dari ibu dosen, Bu Utami bahwa kelas hari ini tidak ada mereka masih belum pergi dari tempat tersebut. Hal tersebut akibat Seno yang langsung mengabari teman-teman lain bahwa aku akan mengenalkan pacarku pada mereka. Sedangkan seseorang yang akan aku kenalkan (dengan sedikit terpaksa) adalah adik kandungku.

“Owh…, itu ya pacarnya Raka. Pantes aja kok enggak mau cari pacar di sini, udah punya yang cantik,” sahut Lia saat melihat kedatangan Leonita dan diriku.

“Raka, cantik bener pacarnya. Namanya siapa?” Gita yang sedang berdiri langsung menghampiriku dan Leonita.

“Aku Gita, kamu siapa?” Gita menyodorkan tangannya untuk dijabat Leonita.

“Ehm.., Leonita,” dengan ekspresi malu Leonita menjabat tangan Gita.

“Teman-teman, aku ingin mengklarifikasi kabar enggak benernya,” ucapku kepada teman-temanku yang duduk berceceran di selasar gedung.

“Cieee.., klarifikasi pacar cantik, beneran deh Mas. Pacarnya cantik,” Shinta langsung buka suara.

“Wah Raka, cewek yang tadi nih..,” Anggi yang tadi melihat Leonita pun ikut ambil suara.

“Gini, gadis cantik ini bukan pacarku,” ucapku santai.

“Iya adikku, jadi jangan salah paham. Ia adik kandungku,” aku berkata tanpa beban.

“Ooooowh…,” paduan suara dadakan pun langsung tercipta seketika itu pula.

Sementara Leonita sendiri semakin menundukkan wajahnya yang kini berwarna merah karena malu. Ia cukup pemalu apa lagi bila dibilang cantik. Tidak bila aku yang mengucapkan, katanya gombal. Buset, emang apa gunanya gombalin adik sendiri, kecuali saat aku ingin minta buatin dia nai goreng. Hehehe…

“Perkenalkan diri dong?!” pinta Mas Ganteng ketua angkatanku yang bernama Tomo.

“Tuh, suruh perkenalkan diri. Ntar ga boleh ke sini lagi loh kalo ga perkenalkan diri. Tenang aja enggak dinakalin kok,” aku masih juga ngeledekin adikku sattu ini.

“Iya, namaku Leonita Fitria Ayu. Tempat tanggal lahir dua Agustus sembilan tiga di Solo. Sekarang masih sekolah, kelas duabelas di SMA Pahlawan Negeri program studi IPA,” dengan sedikit malu-malu Leonita memperkenalkan dirinya.

“Udah punya pacar belom?” tanya Gabriel tanpa pandang bulu.

“Belum!” aku langsung menjawab pertanyaanya, karena akulah yang melarangnya pacaran. Pokoknya tidak boleh. Itulah ucapku padanya dan Leonita pun menurut atas laranganku.

“Aku juga enggak mencari adik ipardari kalian, jadi jangan harap untuk untuk PDKT sama adikku ya?!” dengan nada galak aku menandai bahwa Leonita tidak boleh dideketin teman-temanku.

“Wah, anjing penjaganya marah-marah tuh,” langsung saja gelak tawa membuat suasana menjadi santai.

Setelah itu Leonita pun ikut duduk di selasar. Secara tiba-tiba ia pun langsung membuat konfrensi pers dan dia menjadi artis yang ditanya-tanyai. Gita, Anggi, dan teman-teman perempuanku menjadi wartawan dadakan. Biarlah, tak ada salahnya juga. Karena sebentar lagi adikku satu itu akan menjadi bagian dari kampus ini. Ku harap begitu, karena ia ingin juga tuk berkuliah di sini.

“Kakak itu orangnya nyebelin, ngeselin, sukanya ngusilin aku. Kak Raka itu paling hobi buat aku marah tapi aku sendiri enggak bisa marah lama-lama pada kakak,” tutur Leonita.

Sementara teman-temanku ada yang tertawa mendengar curhatan adikku tentang diriku, ada juga yang manggut-manggut. Betapa bervariasinya tanggapan teman-temanku tentang hobiku yang senang mengusili adikku.

“Kalo gue jadi kakakmu juga paski akan sering ngusilin kamu. Mana ada coba kakak yang tahan punya adik cantik kayak Leonita gitu enggak pengen diusilin. Namun setidaknya yang bukan kakaknya bisa nih jadi pacarnya,” sebuah tanggapan dari Reza pun langsung dijawab dengan sorakan anak-anak lain.

“Meski Kak Raka usil, jail, nyebelin, dan lain sebagainya. Kak Raka itu kakak yang baik dan cowok yang paling aku sayang,” sebuah pernyataan yang berakhir dengan kesengsaraan pada diriku. Aku ditendang-tendang oleh teman-temanku yang sedikit (eh banyak) iri padaku…

Tahun ajar baru dimulai, aku pun sudah memasuki semester lima kini. Dan di fakultas seberang. Adikku sudah memulai masa orientasinya sebagai mahasiswa baru di sana. Tugasku sebagai kesatria tuk melindungi putri pun kembali. Tak berbeda saat aku SMA. Namun, ku harap tidak seperti itu lagi untuk kali ini.

Perkuliahan dimulai di akhir bulan September, aku pun mulai tuk menikmati perkuliahanku kembali. Tugas demi tugas pun silih berganti menemani malam-malamku yang tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Layaknya hari yang kadang hujan ataupun terang. Itulah hidup.

“Kakak!!!” suara cewek yang paling aku kenal terdengar dari arah gedung paling baru dibangun di fakultasku, meskipun itu dibangun tahun sembilan delapan.

“Kenapa ada di sini?” tanyaku pada Leonita.

“Kan ada mata kuliah wajib universitas yang membuatku pergi ke sini, Kak,” jawabnya sembari tersenyum.

“Iya ya,” aku sendiri terlupa akan mata kuliah satu itu.

“Kakak perkenalkan, ini teman-temanku. Namanya Nesfita dan Prisilla,” Leonita memperkenalkan dua orang temannya yang tak kalah cantik. Upss.., aku kan juga masih normal suka juga dengan gadis yang gula-gula..

“Nesfita, Prisilla, ini kakakku yang pernah aku ceritakan,” lanjut Leonita.

“Wah ada Leonita, apa kabar?” tanya Lia yang muncul dari koperasi mahasiswa.

“Baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?” tanya Leonita.

Tanpa banyak bicara aku pun langsung menyarakan mereka untuk pindah ke kantin untuk meneruskan pembicaraan.

Aku jadi teringat, malam setelah Leonita ke kampus aku langusung membuat status di jejaring sosial yang lebih banyak ku gunakan untuk mempublish tulisanku. Di status tersebut begitu banyak komentar yang aku dapat. Lebih dari seratus komentar yang isinya tak karuan. Mulai dari yang benar, tidak benar, hingga membuat perbincangan sendiri.

Cukup sederhana statusku hanya: tamn-teman, gadis yang kalian lihat bersamaku tadi di kampus adalah adik kandungku jadi jangan salah paham. Terima kasih…

Hanya itu tetapi yang aku dapati adalah adanya perbincangan tentang cantiknya Leonita, rencana pembuatan Leonita fans club, hingga tips dan trik menaklukkan kakak Leonita yang cukup menyusahkan, pastinya yang ini tentang aku.

Dan itulah hidupku. Inilah hidupku!!!

Selesai!!!

24 februari 2011, 22.54 WIB

Permadi Heru Prayogo

 

Ga ada komentarlah untuk cerpen ini. Karena aku sendiri bingung mau komentar apa di sini, kan biasanya ada catatan penulis di akhir cerita. Pokoknya intinya kisahnya ga nyata, ga juga punya klimaks seperti cerpen-cerpen milik orang lain. Namun, aku tetep seneng. Mungkin juga tokoh Leonita akan menggantikan tokoh Nuna Kecil-Dinna Saraswati-. Waduh, bahaya dong kalo sampe kegeser tokoh paling unik tersebut? Nanti para fans Nuna kecil akan demo padaku. Yah, apa pun yang terjadi semoga Nuna akan tetap eksis. Nantikan cerpen selanjutnya ya?! Cerpen yang berkisah kembali pada kisah anak SMA. Itu sedikit bocorannya, kalo bocoran dikit aja kalo bocornya banyak enggak bocor lagi dong namanya…^^v

Lalu untuk bocoran juga, untuk cerpen yang selanjutnya itu ada tokoh yang pernah muncul di cerpen sebelumnya serta tokoh yang akan menjadi proyek selanjutnya lagi. Jadi cerpen yang punya irisan untuk cerpen yang lalu dan yang akan datang. Yah bagian mananya itu rahasia. Pokoknya jangan pada lupa ya untuk baca cerpen selanjutnya segera muncul. Secepatnya. Kalo ga bisa cepet ya maaf…^^v

Segera hadir di permadiheru.wordpress.com di bulan Maret  (InsyaAllah…).

Oh ya, pada komentar ya?! Setidaknya komentar apa gitu..^^v kritikan pedes boleh, agak manis juga boleh, asin, asem, dan umami juga ga masalah yang pasti.

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

2 comments on “belum ada judulnya

  1. Surya Serra Hu says:

    I just smile many times when reading your untitled story. Great words. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s