Nuna Kecil

Namaku Adi, aku seorang mahasiswa di sebuah PTN di sebuah kota besar di jawa. Ehm.., sebetulnya hal tersebut tak perlu aku jelaskan pula, karena di sini aku akan bercerita tentang kehidupanku. Eh, salah-salah aku akan menceritakan tentang ‘nuna kecilku’. Sehingga siapa pun aku itu tak begitu jadi masalah. Karena di sini aku hanya menjadi tokoh orang pertama bukan tokoh utama atau hanya sebagai pencerita. Silakan baca ceritaku ya?!^^v

Sore yang indah, ya menjadi sore yang begitu menyenangkan untuk aku nikmati dengan membaca komik sembari mendengarkan radio. Namun, sore yang seharusnya kunikmati untuk menyegarkan pikiranku di kala liburan kali ini sudah terganggu oleh sebuah suara yang berasal dari kamar adikku.

Sebuah suara pintu yang dibanting. Dari bagaiman cara adikku satu ini menutup pintu seprtinya ia sedang kesal. Aku melongo dari kamarku dan melihat ke arah kamar adikku satu-satunya ini. Tiada suara yang terdengar dari dalam kamar. Aku langsung saja beranjak dari tempat tidurku dan menuju kamar adikku.

“Assalamualaykum, Dinna,” ucapku melangkah masukku ke arah kamar adikku.

Oh ya, adikku ini perempuan. Ia sekarang telah menjadi anak SMA tepatnya sudah kelas XI SMA. Namun, meski sudah kelas XI, ia tetap sedikit kekanak-kanakan. Tak jadi masalh sih… namanya juga remaja. Ups, lupa lagi nih, nama panjang adikku Dinna Saraswati. Bila ada yang mau add dia di fb juga boleh…

Aku tak butuh jawaban atas salamku tuk terus mendekati tempat tidur adikku satu ini. Aku tahu, adikku ini lagi sedih atau kecewa ataupun perasaan yang sejenisnya. Inilah penyakit yang akhir-akhir ini sering mengganggunya.

“Sekarang kenapa lagi?” tanyaku yang telah duduk di tempat tidurnya. Ia masih saja memeluk bantalnya dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal tersebut. Aku yakin, bantal tersebut sudah basah oleh air mata Dinna. Ini bukan yang pertama jadi aku cukup percaya diri dengan tebakanku.

“Heh, jangan umpetin wajahmu di balik bantal, ntar malah ga bisa nafas loh?” aku mengambil bantal yang ia gunakan tuk melindungi wajahnya dari tiap hal yang meantapnya, entah itu boneka-bonekanya ataupun dirinya sendiri yang terpantul oleh cermin yang berada di kamarnya.

“Kalo ada masalah, cerita aja. Ga usah diumpet-umpetin. Katanya udah gede..,” aku masih terus mencoba tuk membujuknya melepaskan bantal dari pelukannya.

“Kakak, aku sedih..,” langsung saja, sebuah wajah yang jelek binti tak enak dipandang muncul dari balik bantal.

“Iya…iya, kakak tahu. Ayo cerita aja,” ku tarik lengan kanan Dinna agar ia duduk di tempat tidurnya setelah tadi beberapa saat berbaring telungkup.

“Tapi kalo aku terus-terusan curhat sama kakak, aku ga bisa jadi dewasa dong kak?” mimik wajah yang sangat ku kenali pun muncul. Menatap diriku dengan mata merah ciri khas habis nangis.

“Enggak, curhat pun bisa kok membuatmu jadi lebih dewasa. Dengan curhat, kamu bisa tuk lebih dewasa dalam menilai, bagaiman seseorang memberi saran dan kamu juga bisa tuk melihat pemikiran orang lain, bisa belajar dari sudut pandang yang lain. Ya udah, kita terusin nanti ya? Sekarang kamu ganti baju dulu ya? Nanti kita sharing-sharing di teras depan,” aku mengucek-ucek rambut adikku satu ini.

“Iya kak,” Dinna pun tersenyum, anak satu ini memang mudah tuk berganti mood.

Beberapa menit kemudian, Dinna sudah berganti pakaian dan sudah siap tuk bercerita tentang kekecewaan yang telah ia alami hari ini. Ia pun bercerita tentang hari-hari yang ia lalui beberapa waktu yang lalu di sekolah. Sebuah cerita yang umum tuk diceritakan, cerita tentang cinta di sekolah. Ia mulai cerita layaknya anak kecil menceritakan sebuah cerita rahasia yang tak boleh orang lain tahu, aku disuruh berjanji tuk tidak akan memberitahuan pada siapa pun.

“Iya, kakak janji. Kalau kakak bohong, kakak akan membelikan Dinna sebuah nintendo DS,” aku tersenyum sembari mengacungkan jari membentuk lambang victory ataupun peace…

Cerita pun dimulai, ini kisah tentang perjalanan cinta adikku yang menurutku sungguh aneh dan tak pernah aku pikirkan seperti itu. Kok bisanya gitu?! Gini nih ceritanya, adikku memiliki dua orang teman sebut saya mr X dan mrs A. Dua orang ini katanya sih suka-sama-suka tapi saat adikku bertanya pada si mr X ia berkata tidak suka. Namun, adikku kekeh banget ngerasa ia punya rasa pada temannya si mrs A. Ia pun bertanya pada temannya si mrs A, apakah ia suka pada mr X. Nah akhirnya nih, si mrs A ngaku ia suka pada mr X. Saat lagi sibuk-sibuk jadi mak combang dan mencari info se-falid mungkin tentang dua makhluk yang ingin dijodohin ini.

Ternyata adikku ini menyadari akan perasaan hatinya. Sebuah perasaan yang mungkin ia lupakan beberapa waktu yang lalu, mencuat dan ia sadari kii. Ia sebetulnya suka juga dengan mr X. Nah, di sini nih masalahnya. Adikku satu ini ingin kekeh mau jodohin kedua temannya tapi hati tak mengizinkan tuk terus lanjut tapi (lagi) ia udah janji pada mrs A. Usut punya usut pun mr X semakin tidak suka dengan sikap adikku yang sedikit maksa mr X tuk segera nembak mrs A, sehingga ia jadi marah pada adikku. Sedangkan mrs A juga ikut-ikutan bete pada adikku atas tindakan yang ia rasa kurang menyenangkan.

Wah-wah-wah… rumitkah? Owh.., ini bukan sinetron ya? Ini kisah cinta adikku bila ada yang berani-berani untuk membuat sinetronnya aku akan hajar dia. Aku tidak terima!!!

“Oke, sekarang Dinna lebih baik tuk tidak memperpanjang masalah dahulu. Semuanya dibuat beku dulu hingga mereka berdua sudah agak mencair dalam maslah ini. Kemudian, hal terpenting di sini. Dinna lebih memilih hati atau teman?”

“Eee………,” sebuah jawaban yang menunjukkan bahwa aku-bingung.

“Oke-oke, itu bisa tuk dipending dulu. Dinna, ingat ya? Tidak semua orang akan berpikir seperti yang Dinna pikirkan. Orang adalah organisasi komplek yang hanya tersusun oleh satu sudut pandang jadi tak mudah tuk kita memahaminya. Tindakan Dinna sebetulnya baik tapi menurut kakak, Dinna sudah terlalu jauh tuk mengurusi urusan orang lain, itu tidaklah pantas. Bukankah mereka bisa menyelesaikannya sendiri?”

“Tapi kak?!”

“Sebelum Dinna mencoba tuk menyelesaikan masalah yang besar, coba selesaikanlah dulu masalah yang kecil. Dinna sudah di dalam wilayah orang lain yang sesungguhnya tidak layak kita jejaki begitu saja, Dinna sudah menjajah itu namanya,” aku tersenyum. Wajah adikku terlihat seperti sedang berpikir.

“Aku ingin kedua temanku bahagia kak,” sebuah jawaban yang sudah bisa kutebak dari awal.

“Iya, lalu demi membahagiakan orang lain kita pantas tuk terlukakah? Wajibkah tuk membahagiakan orang lain sementara kita sendiri terluka. Mungkin kata-kata ini kejam tapi kakak ingin tegaskan. Tak ada orang yang tak ingin bahagia. Betul kan?”

“Oke nuna kecil, mungkin segitu saja yang akan kakak berikan padamu. Sebaiknya nuna kecil pahami di mana letak nuna kecil sekarang dan apa yang harus nuna kecil lakukan. Kakak rasa, nuna kecil sudah dewasa. Kakak akan tunggu berita terbarunya ya?” ku lanjutkan kata-kataku setelah beberapa saat berhenti. Memberi ruang untuk nuna kecil yang masih terus berperang dengan dirinya.

Sesaat kemudian keadaan pun sepi. Aku terdiam sembari menatap wajah adikku. Ia pun diam dan entah apa yang ada dalam pikirannya karena aku bukanlah seorang ahli dalam menebak pikiran orang.

“Kakak, aku suka dengan panggilan nuna kecil. Mulai sekarang panggil aku nuna kecil ya?” wajah ceria seketika itu pula muncul di hadapanku.

“Ehm?” aku bingung dengan pemikiran adikku. Baru saja ia bermasalah dengan kehidupan di sekolahnya, sekarang sudah ceria karena nuna kecil. Alhamdulillah bila begitu. Bialah hal tersebut dikesampingkan dahulu. Masih ada waktu tuk memikirkannya di lain waktu.

“Iya, sekarang panggil nuna kecil deh..,” kembali, aku mengucek-ucek rambut adikku. Sebuah hal yang sering aku lakukan bentuk sayang pada adikku satu ini nih…

“Kakak ini nyebelin!!!” si nuna kecil sudah bawel dengan semena-mena di sore hari di hari ulang tahunku.

Namun, hal tersebut tak membuatku berhenti tuk terus mengendarai motorku, karena adikku yang marah-marah sedang marah di dapur rumah kami sedangkan aku sendiri sedang di jalan. Sehingga, aku pun tak tahu tentang kebawelan yang adikku lakukan.

Bunda yang berada di dapurlah yang menjadi korban marah-marah adikku satu ini. Beliau langsung saja menenangkan dengan sebuah senyuman dan kata-kata bijaknya.

“Ini kan hari ulang tahun kakak, tapi kenapa kakak malah udah pergi ke kost? Aku kan sudah susah-susah buat kue brownies kesukaannya. Kok malah pergi sih?!” keluh adikku di dalam pelukkan bunda.

“Iya, kakakmu pasti datang. Tenang aja. Ia pasti tahu kok?” begitu bunda menenangkan adikku yang sedih akan tindakanku yang kabur ke kost di hari ulang tahunku.

Ku hentikan motorku di depan sebuah rumah. Aku buka pintu rumah tersebut sembari mengucapkan salam. Selesai ku mendengar balasan salamku tanpa basa-basi, adikku langsung marah-marah di depanku.

“Kakak ni giman sih? Katanya udah di kost? Kenapa pulang ke rumah? Kakak nyebelin!!” begitulah ucapan selamat yang ku terima dari adikku.

“Tadi kan kakak lihat nuna kecil pergi ke tempat les buat kue, jadi kakak pun berpikir tuk merubah rencana pulang ke kost besok aja,” jawabku santai.

“Makasih kak,” nuna kecil pun tersenyum mendengar jawabanku.

“Dapet kue apa nih?” tanyaku.

“Ada deh..,” balas adikku si nuna kecil.

“Ah paling buatan nuna kecil ga enak…,” godaku padanya.

“Hiiih…, kakak nih,” langsung saja sebuah bantal yang berada di kursi ruang tamu dilempar ke arah kepalaku.

Akhirnya kami pun menikmati kue brownies buatan adikku. Sementara nun jauh di sana, ayah yang sedang berada di banjarmasin harus rela hanya mendapat foto kue brownies buatan adikku dan dengan sedikit usil aku tambahi sebuah pesan dalam email yang ku kirmkan pada beliau.

Ayah, karena ayah tak bisa tuk mencicipi brownies buatan Dinna. Adi ceritain aja ya rasanya?! Gini nih rasanya: ehm.. untuk pemula cukup enak. Manis, dengan sedikit hangus di bagian bawah tapi intinya ‘ENAK’ hehehehe…

Hari berganti hari, kini aku pun telah menjadi kakak angkatan. Sementara itu, adikku yang tahu aku menjadi panitia OSPEK fakultas memperingatkanku dengan tegas untuk tidak tebar pesona pada adik-adik angkatan. Namun, mau bagaimana lagi setelah OSPEK berakhir, di akun jejaring sosialku begitu banyak maba-maba yang menambah aku menjadi teman. Entah bagaimana caranya mereka tahu akunku yang bukanlah menggunakan nama asliku. Akunku adalah ilalang hijau.

Adikku pun langsung menginterogasiku mengapa banyak adik-adik angkatanku yang menambah aku menjadi temannya. Dengan santai ku jawab tidak tahu…, jawaban yang sangat menyebalkan bagi adikku tetapi itulah yang terjadi. Sebetulnya, inti dari masalah adalah adikku jealous. Takut ntar kakaknya diambil sama maba bening, berparas cantik, berwajah manis, bersenyum bidadari.

Hal yang membuatnya cukup marah padaku karena aku tak menandainya di note yang kubuat. Karena, biasanya aku tag dia di note yang aku buat. Aduh-aduh, dasar ank kecil satu ini. Ya, kadang aku pun sering mengejeknya anak kecil karena ia selalu saja kekanak-kanakan.

Dan kisah terakhir yang aku ketahui tentang adikku satu ini. Ia sedang dekat dengan seorang cowok, akunya ia jalan dengan seorang cowok di tanggal 29 ramadhan kemarin. Eh, ni anak ramadhan-ramadhan bukannya ikut pengajian malah main ma cowok. Untung aja hujan saat itu, jadi dia cuma pergi ke sebuah departement store dan swalayan.

Ya sudahlah, semoga ia menjadi lebih dewasa dalam bertindak. Itu saja harapanku. Karena sudah malam, aku sekarang ingin tidur. Mungkin segini dulu nih cerita tentang nuna kecilku yang penuh aral merintang dalam dunia cintanya. Hehehe..

Sssssssssssstt……….., jangan sampe yang punya nama tahu ya kalo dia menjadi subjek di cerpenku. Ntar minta komisi lagi. Kan susah tuh. Ga main-main biasanya kalo nuna satu ini minta royalti. Hehe, udah-udah. Adikku juga suah tidur. Salam dari dia untuk kalian semua. Katanya, jangan lupa pake helm kalo naik motor, helm yang SNI ya?_kerena gambar utama di jejaring sosialnya, si nuna lagi pake helm, hehehe.._

Sekian, terima kasih…

22.42 WIB, 15 September 2010

Permadi Heru

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

5 comments on “Nuna Kecil

  1. bagus says:

    Pertamax gan

  2. […] awam silakan cari tahu dan bisa juga baca sedikit tulisanku di sini. Iya, di situ tadi, bukan di sini, apa lagi yang di sini. Sekarang, kita bisa berinvestasi reksadana di pasar uang (yang mana tingkat […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s