Si Penjepit

Cinta itu tak bisa untuk kita mengerti, cinta itu adalah sebuah perasaan yang tiba-tiba saja bisa muncul dari balik kabut takdir. Sebuah perjumpaan mengawali perasaan tersebut, melalui perjumpaan langsung atau juga bisa dari sebuah perjumpaan tak langsung. Mungkin melalui chatting, salah kirim sms atau juga dengan cara lain yang tak bisa kita mengerti tuk dilogika.

Berawal dari sebuah obrolan kecil kisah sebuah perasaan bernama cinta bermula pada kehidupan seorang gadis belia yang baru saja masuk perguruan tinggi negeri satu ini. Ia masih saja tersenyum kala dirinya tak ada di hadapan matanya, saat ia tutup matanya pun mungkin dirinya yang ada di dalam pikirannya.

“Lia, ngapain sih loe senyum-senyum mulu?” tanya Ela seorang teman dekatnya.

“Ah, enggak apa-apa kok. Kan gue manis kalo lagi senyum jadi bisalah tebar pesona gitu,” ucap Lia pada sahabatnya satu ini.

“Ih.., narsis loe,” Ela pun mengeluarkan mimik anehnya.

“Biarin,” singkat padat ucap Lia.

“Lia, Ela, tunggu…,” tak jauh dari tempat mereka berada dari arah belakang mereka seorang cewek berjilbab memanggil mereka, cewek berjilbab itu bernama Imel.

“Mel, cepetan. Benar lagi kita ada kelas linguistik. Tahu kan dosennya galak, jadi jangan sampe telat gih,” Ela menyuruh Imel tuk berjalan lebih cepat, Imel pun berlari kecil tuk menyusul Ela dan Lia.

Pelajaran linguistik yang cukup menyebalkan tetapi apa mau dikata inilah makanan sehari-hari bagi anak-anak sastra. Belajar linguistik adalah hal yang sangat pentiong untuk mempelajari sebuah bahasa.

Namun, di pojok kelas Ela malah lagi asyik-asyiknya smsan dengan seseorang. Hal tersebut terlihat dari tangannya yang begitu sibut memijit angka-angka yang ada pada handphonenya. Di sisi lain, Imel dan Lia sedang asyik mengobrol sendiri dengan suara pelan. Sedangkan sang dosen? Yah, beliau masih sibuk berbicara di depan kelas tanpa ia sadari sedari tadi sedikit yang mendengarkan perkataannya.

“Mel-mel, tahu ga sih. Dia tuk cakep banget!! Apa lagi pas kemaren saat ia pake rompi,” curhat Lia pada sahabatnya satu ini.

“Ye, kalo udah suka mah pake apa aja jadi cakep tahu, dasar aneh. Udah bilang aja wo ai ni,” celetuk Imel mengomentari curhatan Lia.

“Enak aja, cewek tu enggak mengawali tetapi menuggu dari cowok,” ucap Lia.

“Kalo udah ngebet ya udah, kan juga udah ada emansisapi.”

“Elo aja sana yang jadi sapi, gue mah ogah. Pokoknya cewek itu nunggu,” ucap Lia kekeh dengan pendiriannya.

Depok hari ini sedang di guyur hujan, sejak tadi pagi hingga siang ini hujan masih saja belum berhenti mengguyur kota ini. Di sebuah mall bernama Margo City, Lia, Imel, dan Ela sedang asyik menikmati waktu mereka berbelanja di sebuah swalayan.

“Banyak banget sih belinya,” ucap Imel pada Lia yang terlihat membawa banyak hal dalam keranjang belanjaannya.

“Kan juga untuk satu bulan jadi banyak dong?” jawab Lia santai.

“Tuh, si Ela juga beli banyak,” lanjut Lia.

“Borong, Mbak?” ucap seorang cowok yang tiba-tiba muncul di hadapan Lia dan Imel.

“Hehehe, iya nih…,” ucap Lia sedikit malu.

Cowok yang tiba-tiba muncul ini bernama Firos. Ia adalah anak sastra Korea, wajahya cukup tampan dan punya sedikit inner handsome tersendiri bagi cewek-cewek. Ia adalah anak yang pendiam dan ramah, kadang juga jadi tempat curhat teman-teman satu angkatannya yang kebanyakan cewek.

“Loe sendiri lagi ngapain di sini?” tanya Imel.

“Biasa, main. Ehm…, sekalian jajan juga sih, hehehe..,” jawab Firos sembari tersenyum.

“Ehem-ehem…,” Ela tiba-tiba saja muncul mengageti Lia, Imel, dan Firos.

“Ela, apa kabar?” Firos tersenyum pada Ela, sedangkan Ela sendiri cuek.

“Biasa aja,” balas Ela singkat.

Selesai berbelanja Imel, Lia, dan Ela pun pergi menikmati hari libur mereka tuk kembali menjelajahi isi Margo City. Firos sendiri sudah ada janji dengan keluarganya.

“Aih-aih, tiba-tiba gebetan muncul di margo nih..,” ledek Ela pada Lia.

“Loe sendiri gimana Ela? Sama tuan madu kok sekarang jarang kelihatan jalan bareng sih?” balas Lia.

“Lho kan Khodir sedang sibuk ma tugasnya jadi ga pantes kalo aku ganggu dia,” Ela pun jadi curcol.

“Wah, kalian ini ya? Yang pada udah punya dan yang lagi cari pasangan,” Imel pun ikut-ikutan nyaut.

“Tapi kan keren si Ela, panggil Khodir dengan panggilan Du-du?! Eh.., ternyata singkatan dari kata madu. Yang ada honey kali?!” Lia pu tertawa nyaring, tawanya cukup mengerikan karena seperti mbak kunti. Inilah mengapa beberapa teman kostnya yang pindah kost setelah mendengar suara tawanya di malam hari. Mereka pikir itu suara mbak kunti beneran. Memang horor satu anak ini.

Di kesempatan lain, Ela dan K-O (sebuah panggilan baru bagi Khodir dari seorang anak) sedang asyik menikmati makan siang mereka di kantin sastra. Mereka terlihat asyik mengobrol berdua.

“Aduh.., sakit nih tangan gue!” Lia langsung saja duduk di kursi tempat Ela dan Khodir berada.

“Ni anak, muncul tiba-tiba, langsung ngeluh lagi,” Khodir langsung mengomentari keberadaan Lia.

“Tahu ga, gue tadi kejepit. Nih lihat bekasnya,” sebuah bekas jepitan di jari manis tangan kanan Lia diperlihatkan ke Ela dan Khodir.

“Terus kenapa?” Khodir tak peduli dengan keadaan tangan Lia, memang tak peduli.

“Mang kenapa bisa gitu? Kasian..,” ucap Ela ngeledek.

“Tadi pas kelas MPK Agama, gini ceritanya…”

Pelajaran MPK agama siang itu adalah waktu untuk presentasi. Di kesempatan tersebut kelompok tiga yang beranggotakan Firos, Ita, Nindy, Dika, dan Januar mendapat kesempatan maju. Di kelompok tersebut, Firos menajdi perwakilan kelompok untuk presentasi. Saat maju, Lia sedang ingin menutup bindernya dan tak sengaja menjepit jari manisnya dengan binder saat melihat Firos dan Firos pun tersenyum menatapnya.

“Wkwkwkwwk…hahahaha…,” Khodir tertawa ngakak mendengar cerita Lia.

“Terus loe gimana?” tanya Ela.

“Gue pas kejepit pun langsung jerit gitu, semua anak pada lihat. Malu banget deh gue…,” Lia menceritakan kejadian yang ia alami di kelas MPK Agama.

“Makanya, besok lagi jangan kalap?” Khodir pun kembali mengomentari keadaan Lia.

“Ini lagi, kalap apaan sih?” Lia jadi marah-marah sendiri.

“Udah-udah, jangan berantem, Du sana loe beliin Lia minuman dulu gih, baik deh,” Ela pun menyuruh madu-nya untuk berbaik hati membelikan minuman pada temannya satu ini yang sedang kena musibah.

“Oke!”

Perpustakaan terlihat ramai seperti biasa, di lantai dua terlihat beberapa anak sastra korea sedang belajar dengan seorang native korea. Di sisi lain terlihat anak-anak ilmu perpustakaan sedang sibuk mencari buku-buku yang mereka sendiri tak berminat untuk membacanya. Mungkin hanya untuk memfotokopi halama recto-verso-nya. Tentunya untuk tugas Metadata untuk temu kembali A mereka.

Di basement atau lantai dasar, anak-anak sastra Indonesia dan anak sastra Cina sedang mengerjakan tugas mereka secara berkelompok. Ela, Lia, dan Imel pun terlihat sedang sibuk dengan tugas mereka. Mereka tak hanya sibuk mengerjakan tugas, kesibukan lain mereka tak lain adalah bergosip ria.

“Eh, Lia hubunganmu ma si penjepit gimana? Masih berjalan mulus?” tanya Imel.

“Penjepit? Kepiting kali?!” celetuk Ela yang dilanjutkan tawa ngeledek.

“Udah-udah ga usah dibahas, kita lagi ngerjain tugas nih…,” Lia tak mau tuk membahas tentang kisah cintanya. Ehm, kisah cinta? Ini juga termasuk kisah cinta kah? Entahlah…

“Cie-cie, yag ga mau bahas tentang si penjepit,” Ela masih juga ngeledek Lia. Imel pun ikut-ikutan tertawa.

“Ntar dateng beneran loh kalo diomongin?” Imel bicara dengan nada lirih seperti sebuah bisikan.

“Tu bener, si Firos lagi turun tangga,” Ela pun menunjuk cowok yang sedang menuruni tangga perpustakaan.

“Firos, sini dong?!” panggil Ela.

Firos pun mendekati Ela, Lia, dan Imel. Mereka berempat pun akhirnya hanya berbicang-bincang tak jelas ke arah mana. Firos pun sempat menanyakan keadaan tangan Lia yang terjepit senin kemarin. Ela dan Imel hanya tertawa mendengar pembicaraan mereka berdua.

Untuk selanjutnya, hubungan antara Firos dan Lia itu saya serahkan pada pembaca semua. Mereka jadian atau pun tidak, semua tergantung imajinasi kalian ataupun silakan kalian buat lanjutan cerita ini. Saya hanya bisa membuat cerita hanya sampai sini. Dari sinilah saya akan berikan lanjutan cerita ini pada kalian secara keseluruhan.

Indah atau pun tidak kisah antara Firos dan Lia itu kembali pada imajinasi cara tulis kalian untuk lanjutan cerita pendek ini. Terima kasih…

Sekian

5 Juli 2010-13.14 WIB

Disuruh tulis: terinspirasi dari seorang teman satu fakultas!!!

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s