Cita-cita dan Cinta-cinta Ver. 2

Assalamualaikum, apa kabar teman-teman semua. Semoga kalian dalam keadaan baik-baik saja. Cerpen ini adalah sekuel dari cerpen Axa jadi Artis, sama seperti cerpen yang terdahulu, kisah berkutat pada kehidupanku yang sedang berkuliah di Universitas Indonesia, tepatnya di Ilmu Perpustakaan dan Informasi FIB UI.

Kisah ini hanyalah kisah fiktif, meskipun nantinya banyak nama-nama dan sifat-sifat yang kalian dapati sama dengan kenyataan itu karena aku mengambil nama tokoh dan sifatnya seperti orang yang sesungguhnya. Hal tersebutlah yang membuatku mudah pula dalam pembuatan cerpen ini. Karena aku hanya memasukkan orang-orang yang aku kenal dalam cerpen ini. Bagi yang belum membaca cerpen Axa jadi Artis sebaiknya baca dahulu biar bisa lebih mengerti jalan cerita cerpen ini(meskipun kalo tidak baca dahulu juga tak apa-apa).

Wah sepertinya aku sudah terlalu banyak berbicara di awal cerpen ini ya? Maaf bila kata-kataku di awal ini cukup membosankan tuk dibaca. Semoga kalian bisa menikmati cerita ini. Kritik saran dengan lapang dada aku terima untuk menambah dan meningkatkan mutu tulisanku. Terima kasih!!!!

Wassalamualaikum!!!^^v

Cita-cita dan Cinta-cinta Ver. 2

September, menjadi bulan yang indah untuk mengawali semester baru. Meskipun sesungguhnya kuliah sudah dimulai di akhir bulan agustus kemarin tetapi kenyataan berkata lain. Waktu yang sangat singkat dan mepet hari lebaran membuat anak-anak yang mudik di liburan semester genap kemarin enggan tuk masuk kuliah di akhir bulan agustus.

Di bulan september ini, setelah liburan lebaran perkuliahan yang sesungguhnya akan dimulai. Masa-masa ospek jurusan pun akan dimulai oleh tiap-tiap jurusan di FIB. Setahun sudah masa ospek berlalu bagiku dan teman-teman di ilmu perpustakaan. Kini, aku dan yang lainnya sudah menjadi mahasiswa semester tiga.

Klaster terlihat sepi siang ini, aku sempatkan diri tuk beristirahat di tempat ini. Karena mungkin cukup sulit aku tuk bisa menikmati istirahat di tempat ini, aku akui sih tempat ini memang tempat yang cukup terkenal di FIB. Namun, sepanjang tahun kemarin aku lihat isi dari tempat ini hanya gadis-gadis berjilbab, membuatku enggan tuk duduk di sini.

“Assalamualaikum, Heru!” sapa Axa padaku, ia pun langsung duduk di sampingku.

“Waalaikumsalam, wah ada artis nih. Apa kabar nih? Lebaran kemarin banyak job manggung ga?” tanyaku yang aku balut dengan canda.

“Hah, kamu ini suka banget sih ngeledek, alhamdulillah ga ada kerjaan. Aku memang menolak kesibukan untuk lebaran. Lebaran menjadi moment yang tak akan aku sibukkan dengan kegiatan mengisi pundi-pundi uang, ntar malah kayak Qorun kan enggak baget,” jawab Axa tersenyum.

“Ada apa nih? Kok tumben ajak aku ngobrol lagi? Ntar para fansmu cemburu kamu malah berduaan denganku di sini,” aku masih saja terus ngeledek, yah kapan lagi coba bisa ngeledekin artis.

“Cuma mau sharing-sharing aja, kan kamu cukup bijak untuk aku ajak ngobrol obrolan ringan tetapi tetap berisi, itulah Heru. Betulkan?” terlihat sekali Axa cukup baik dalam memuji tetapi sesungguhnya aku tak sehebat yang ia ucap, boro-boro bijak, kadang masih kekanakan malah iya.

“Satu sama ya? Kita usaikan saja ledek-ledekannya, yuk kita kembali ke jalan yang benar, kita kembali pada pokok tujuan kita berbincang di sini,” jarang aku tuk serius tetapi entah mengapa sekarang aku jadi sedikit ingin serius.

“Aku tadi ga ngeledek loh? Beneran deh, di cerpenmu tuh banyak juga kata-kata bijak di dalamnya,” kata Axa.

“Ya udah, terima kasih. Eh ngomong-ngomong nih, kak Axa tadi ngajak ngobrol, kita mau mengobrol tentang hal apa nih?” tanyaku pada Axa.

“Oh, ini aku ingin tanya pendapatmu tentang menjalani hidup, kan ada pepatah hidup tu mengalir layaknya air kamu setuju ga sih?” tanya Axa.

“Aku merasa kurang sepaham, mungkin aku belum bisa memaknai pepatah tersebut, tindakanku tidak salahkan?” lanjut Axa.

“Hehehe…, kok malah tanya sama aku sih Kak Axa nih?! Aku juga ga ngerti mau jawab apa coba.”

“Aku ajak kamu ngobrol untuk sharing ini malah balas tanya. Udah gitu ga mau ngasih pemikiranmu lagi? Ntar ga aku traktir lagi nih?”

“Aih, kok tega sih? Udah juga jadi penyanyi terkenal kok gitu sih? Wah tega nih?! Aku nangis nih,” jawabku sembari bergurau.

“Kalo gitu ya udah, jawab aja. Apakah ga suka nih diajak sharing tentang hal tersebut? Kalo gitu jawab dong!” desak Axa padaku aku sebelum aku sempat tuk mengatakan apa-apa.

“Aku setuju dengan pepatah tersebut, karena saat aku libran kemarin aku sempat menghabiskan novel KCB2 yang sebelumnya aku hentikan membacanya. Merasa kasihan pada nasib Furqon, jadi ikut sedih. Hohoho, aneh-aneh aja ya?” jawabku curcol.

“Gini, di novel karya Kang Abik tersebut aku menemukan pemikiran lain tentang prinsip hidup mengalir bagai air, aliran air yang jatuh dari tempat yang tinggi dengan jumlah yang banyak bisa menjadi energi potensial tuk membangkitkan listrik. Itulah air terjun, prinsip hidup mengalir seperti air aku pikirkan sebagai kita, diri kita memiliki potensi untuk menggerakan lebih dari air. Bila air saja bisa tuk menciptakan listrik. Bagaimana dengan ciptaannya yang bernama manusia yang telah diikrarkan dalam Al-Qur’an sebagai makhluk yang paling sempurna. Maka potensi kita bisa saja tak hanya tuk memutar baling-baling tuk menghasilkan listrik tetapi kita bisa tuk memutar dunia ini,”

“Oh, gitu ya?”

“Kamu memang bijak ya Heru?” wajah Axa terlihat ramah dengan senyumnya. Aku paling tak suka dengan adegan seperti ini, karena sebetulnya aku tak sebijak yang aku katakan, aku hanyalah tak lebih seorang anak payah yang masih harus belajar lagi.

“Ga usah muji gitu ah?! Aku masih harus banyak belajar, aku tak sebijak yang engkau pikir Kak Axa,” aku hanya tersenyum lemah.

pikiranku beredar pada sosok-sosok yang sesungguhnya lebih pantas tuk dikatakan sebagai sosok yang bijak dan lebih berilmu dibanding diriku. Aku hanya mencomot sedikit demi sedikit ilmu dari mereka. Belajar dari teman-teman sebaya, belajar dari Aristya, Yusuf, Imron, Iwan, Ihan, Fajri, serta teman-teman lain bila dibanding mereka aku hanyalah remaja payah yang masih butuh banyak belajar. Mengejar bayang-bayang teman-temanku yang semakin hebat di depanku, sebuah cita-cita atau mungkin juga bisa kukatakan sebagai ambisi pribadi. Ambisi yang indah dan bagus, menurutku begitu sih.

“Aku jadi terinspirasi nih, benar juga ya? Aku akan menjadikan prinsip hidup seperti air yang mengalir sebagai salah satu prinsip hidupku. Air terjun yang mengalir dari atas ke bawah karena adanya gravitasi bumi secara ilmiah dan taqwa kepada Allah dengan bertasbih mengikuti hukum alam tuk jatuh ke bumi dari tempat yang tinggi,” wajah Axa terlihat begitu cerah, tak bisa dipungkiri ia memang tipe cowok bersemangat dan ramah.

Aku pun hanya membalas senyum, aku mengacungkan jempolku padanya menandakan aku ikut mendukung.

Tak terasa, percakapan yang sebentar itu pun sudah setengah jam berlalu. Meskipun inti pembicaraan selesai dan kami masih punya obrolan lain tetap saja obrolan pun harus diakhiri, Axa punya kelas jam satu siang ini dan aku ingin mengerjakan tugas. Aku dan Axa berpisah di depan musholla FIB, Axa menuju gedung enam dan aku menuju tempat di mana anak ilmu perpustakaan banyak terlihat, tiada lain adalah gelap.

Sabtu pagi yang cerah, hari ini aku dan Irul telah sepakat untuk main basket di FIB, beruntung sekali lapangan basket FIB sepi dari anak-anak. Aku dan Irul pun langsung masuk ke lalapangan dan mulai tuk pemanasan. Tak lama berselang, teman-teman yang lain pun muncul di lapangan, Rei, Khosyi, Ara, dan Echa datang ke lapangan FIB.

“Wah, pada datang nih. Tanpa di jarkom pun kalian bisa datang ya ke lapangan basket,” ucapku bercanda.

“Siapa yang ga jarkom? Ada jarkom tuh dari Irul katanya sabtu ini kita main basket. Dasar loe aja  yang ga dapet jarkom,” ucap Rei.

“Heh? Weleh?” ucapku dalam hati.

“Mas Permadi, saya mau lihat nih kehebatan Mas Permadi main basket,” Khosyi yang anak tim basket FIB melempar bola padaku.

“Aduh, Khos. Aku ma kamu tuh hebat kamu jadi jangan suka ngeledek deh,” aku hanya medrible-drible bola basket sekenanya.

Setelah selesai pemanasan aku dan lainnya pun bermain tiga lawan tiga setengah lapangan. Echa yang notabenenya anak sepakbola dan sedikit autis ini pun ikut main. Permainan lebih bayak didominasi dengan gelak tawa dari tingkah laku Echa. Ia memang jagonya autis.

Kegembiraan bersama teman mungkin juga haruslah ada dalam cerita hidup ini. Menjadi bagian dari aliran air yang ceria tuk melepas penat, karena kadang hidup tak selalu indah. Aliran air yang menikmati alur. Hidup tak seharusnya dihadapi dengan ketegangan, ada kalanya kita tuk lebih santai dalam menghadapi tantangan hidup. Memulai kembali dengan otak yang lebih jernih dan tidak buram dalam menghadapinya.

“Her, loe ga minat nerbitin cerpen-cerpen loe? Gue baca cukup bagus loh cerpen-cerpen loe?” tanya Gita di suatu kesempatan.

“Ehm…, kayaknya belum siap tuk diterbitin deh? Tahu sendiri kan masih banyak celah di cerpen-cerpenku, aku sendiri kadang suka tuk tidak publish di blogku,” ucapku datar.

“Setidaknya coba dulu, tahu kan temen gue yang dah buat novel, dia awalnya tak merasa cukup pantas tetapi akhirnya terbit juga novel perdananya,” Gita pun ikut-ikutan menyemangatiku setelah dua orang telah secara suka rela mendukungku tuk semangat menulis dan terbitin cerpen-cerpenku.

“Iya juga sih, aku juga punya cita-cita bisa jadi penulis tetapi…”

“Ga biasanya Heru pake kata tetapi, setahu gue Heru tuh pantang berkata tetapi selalu ada jalan dan pasti bisa, itu yang dulu gue sering dengar dari mulut loe,” Gita memotong ucapanku. Tak tahu dari mana asalnya Gita tiba-tiba menjadi seorang penyemangat ulung dan bisa-bisanya memuntahkan semua kata-kata yang pernah aku ucapkan.

Aku hanya tersenyum lemah. Aku teringat kata-kata Mario Teguh dalam sebuah acara di televisi swasta, ia berkata “Sangat bodoh bila anda membuang doa-doa teman-teman, saudara, ayah dan ibu anda hanya karena hal kecil, karena sebuah kata tetapi…”. seketika itu pula ingatanku kembali pada liburan semester duaku yang lalu. Kata-kata yang terlontar sedikit menyesakkan dadaku, “Apa gunanya saya mendoakan Mas, suatu saat nanti bisa jadi penulis terkenal bila Mas sendiri tidak mau menulis lagi.” Kata-kata tersebut membuatku sedikit sadar, bahwa ada orang-orang yang benar-benar percaya bahwa aku bisa tuk menjadi penulis.

“Heh, ngalamun lagi loe Her,” Gita langsung memukulku dengan kertas fotokopian  tugas.

“Eh, iya..,” aku jadi kikuk sendiri. Bisa-bisanya aku ngalamun.

Cita-cita itu ada di masa depan, bukan di masa lalu. Ia adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Kemungkinan itu terjadi sama besarnya dengan usaha yang dilakukan individu tersebut, bukankah guru-guru ngajiku telah mengajari tentang hal tersebut? Aris, Mas Fais, Pak Sim, dan semua orang yang ada di sekitarku. Kata-kata mutiara yang sederhana yang mudah tuk dihafalkan ‘man jadda wajada-siapa yang berusaha ia akan mendapat apa yang ia usahakan’. Sebuah cita-cita, hal yang diharapkan terjadi di esok hari. Cita-cita yang digapai di dunia dan cita-cita yang ada di akhirat…

Cinta dan cita, kadang dua kata ini sering muncul di kepala. Berputar-putar di dalam otakku, berevolusi layaknya bumi memutari matahari, bulan memutari bumi, dan kata tersebut memutari inti otakku yang sesungguhnya tak aku tahu juga intinya seperti apa.

Hal tersebut sepertinya tercipta karena aku sering sekali menjadikan dua hal tersebut topik dalam pembicaraan. Mulai dari hanya ngeledek Khosyi ataupun yang lain, membicarakan tentang masalah-masalah remaja zaman sekarang bersama Ilma, sampai membaca status-status teman di jejaring sosial dan mengomentarinya layaknya seorang pakar, sedangkan diri sendiri pun ga hebat bahkan payah.

Namun, kadang juga dapat pencerahan dari hal-hal tersebut. Dari ucapan-ucapan teman-teman terutama ucapan Ilma yang lebih sering serius, Tante yang sudah ahli terutama urusan yang menyangkut kedewasaan bertindak, meskipun kadang hobi juga bikin bingung dan menjerumuskan pada pikiran yang lebih ruwet (eh, itu mah kesalahanku sendiri kali^^v). Komentar-komentar orang-orang pada status teman yang kadang aku juga komentari ataupun nebeng beken dengan menyukai status tersebut.

Hari demi hari terus berlalu, kuliah pun kini semakin sibuk. Tugas-tugas semakin menumpuk dan UTS pun sudah menanti di depan mata. Aku yang kadang terlalu santai tuk mengatur waktu pun kini harus merasakan indahya jadi death liner sejati, banyak tugas yang aku kerjakan mepet waktu pengumpulan tugas. Sedih juga melihat aku yang kurang siapkan waktu khusus untuk tugas, alih-alih malah banyak main.

“Cita-cita atau cinta-cinta? Kalau aku akan pilih keduanya,” ucap Axa santai. Aku dan Axa kembali mengobrol, kali ini kami mengobrol di mushola setelah shalat dzuhur.

“Lalu bagaimana bila cinta dan cita-cita tak sejalan?” tanyaku, kali ini giliranku yang bertanya tentang pemikirannya terhadap suatu hal. Sharing-sharing yang kadang menjadi bahan inspirasi tuk membuat cerpen inspirasi tuk terus memperbaiki diri.

“Sepertinya cita-cita dan cinta itu sejalan, sejauh kita bisa tuk mendefinisikan cinta sebagai suatu hal yang universal. Kita bisa tuk menjaga cinta dan cita kita dalam satu jalan bukan?”

“Cinta itu luas, mencintai orangtua kita dengan membuat mereka bangga atas prestasi kita dan membahagiakan mereka di suatu hari nanti juga termasuk cinta yang sejalan dengan cita-cita bukan? Sejalan pula dengan tujuan akhirat kita, patuh kepada orangtua juga termasuk ibadah kepada Allah lho? Ingat kan? Ibadah yang setara dengan jihat fisabillah,” jelas Axa padaku, penjelasannya cukup sederhana dan sangat dekat dengan kehidupan remaja.

Aku hanya diam dan tetap terus mendengarkan ucapannya, tak kusangka Axa sebijak ini. Aku yakin, Kak Axa orangnya berilmu dan bijak tetapi sungguh aku baru tersadarkan sekarang. Aku bukanlah sebanding dengan ilmunya yang pastinya lebih tinggi daripada diriku.

“Apa Heru lagi suka seseorang nih?” tiba-tiba Axa bertanya padaku tentang hal yang cukup sensitif.

“Enggak kok?! Mengapa Kak Axa berkata begitu?” aku jadi penasaran.

“Cuma penasan aja, ga biasanya kamu bertanya tentang cita-cita dan cinta,” jelas Axa.

“Walaupun iya, itu wajar kok? Tetapi tidakkah sebaiknya kita membahagiakan orangtua kita dahulu? Barulah kita berpikir untuk cinta-cintaan. Jodoh itu enggak ke mana. Gadis yang sholehah pasti akan menantimu di depan sana. Namun, sebelum tuk menyambutnya kita sambut dahulu harapan-harapan orangtua kita tentang kesuksesan kita.”

“Aku pun ingin tuk membahagiakan kedua orangtuaku dahulu, mereka adalah orang-orang yang ingin melihatku sukses. Mereka yang selalu berdoa untuk kesuksesanku, terutama umiku. Beliau selalu dan selalu sayang padaku. Saat aku ingin minta buatin sesuatu umiku selalu dengan senang hati membuatkannya. Kata abiku, kalo aku tak sayang sama umiku kebangetan banget deh. Aku jadi malu sendiri, hehehe..,” aku tak bisa tuk sembunyikan perasaanku saat itu.

“Wah, Heru kangen sama umi abi ya?” Axa tersenyum melihat mimik wajahku yang seikit sendu.

“Hehehe, kayaknya iya nih.”

Ya, aku akan mendahulukan cita-citaku tuk membuat umi abiku bangga padaku daripada aku harus berkutat pada kejar-kejaran dengan cinta. Toh jodoh enggak ke mana, bila suatu hari nanti aku sudah bisa tuk membahagiakan umi abi barulah urusan cinta aku akan pikirkan lagi. Sekarang cukup tuk membuat kedua orangtuaku bangga padaku.

Mengapa harus berpikir rumit-rumit ataupun harus susah sendiri mikirin hal yang bukanlah menjadi kapasitasku saat ini, kapasitasku saat ini adalah belajar, berbakti kepada orangtua dan tentunya beribadah pada Allah SWT. Pacaran? Hem…, kayaknya enggak deh.

Aku tak tahu tentang pikiranku, tiba-tiba saja aku jadi teringat pertanyaan Irul yang belum bisa aku jawab dengan baik saat itu, ia bertanya, “Bila seorang yang loe suka diambil orang karena loe ga deketin dia dengan sungguh-sungguh gimana?” aku sudah tahu jawabannya sekarang. Cita-citaku tuk membahagiakan orangtuaku lebih penting daripada hanya mencoba tuk deketin dia yang aku suka. Meskipun tak tertutup aku bisa tuk lakukan keduanya secara bersamaan tetapi tidak untuk pacaran ataupun bentuk lain yang mendekatinya. Hal yang harus aku lakukan adalah fokus pada kapasitasku saat ini, sebagai pelajar adalah belajar, sebagai anak adalah membuat orangtua bahagia, dan menjadi hamba adalah beribadah kepada-Nya.

Cinta itu misteri yang tak bisa kita tebak akhirnya, akhir bahagia taupun tidak tak ada yang pernah tahu. Namun, cinta pada orangtua membuat mereka bahagia setidaknya bisa menjadi bentuk cinta yang indah tuk dipertahankan. Menjadi ibadah bagi yang menyadarinya dan menjadi pembuka ridho Tuhan pada yang berilmu bahwa ridho Allah berada pada ridho orangtua dan murka Allah berada pada murka orangtua.

“Heru, hari ini kayaknya terlihat semangat banget. Udah belajar ya semalem?” tanya Ilma.

“Heru mah jangan dikata, dia kan rajin anaknya,” puji Tiwi padaku.

“Ehm.., eggak juga tapi aku kemarin dapet petuah dari Kak Axa, aku jadi semangat gitu, sharing-sharing yang membahagiakan,” ucapku datar. Namun, ekspresiku terlihat sekali bahwa aku sedang senang.

Cita-cita yang sejalan dengan cinta memanglah sangat indah. Cita-cita yang dibalut dengan cinta atas semua yang aku kerjakan, dibalut oleh rasa cinta pada orangtua, pada teman-teman yang selalu mendukung, pada semuanya, dan tentunya pada Tuhan yang masih memberi waktu tuk hidup di duia. Menjadi semangat yang mengalir bersama darah di dalam tubuh.

Cita-cita dan cinta-cinta, mungkin ini adalah sedikit dari kisahku. Suatu saat nanti, pasti aku akan bertemu dengan kisah hidupku yang akan menempatkanku sebagai seseorang yang harus mencari cinta. Namun, untuk urusan tersebut masihlah jauh untuk aku tempuh, cita-citalah yang harus kusambut terlebih dahulu. Cita-cita tuk membahagiakan orangtuaku, cita-cita mengejar mimpiku tuk menjadi penulis yang baik.

Jalani hidup dengan kapasitasku saat ini. Bukan menjalani hidup yang sesungguhnya bukanlah kapasitasku mungkin tidaklah bijak. Mencari cinta di saat aku masih punya tanggungan tuk menyelesaikan studiku, membahagiakan orangtuaku, dan meraih mimpiku itu bukanlah hal yang selayaknya aku lakukan saat ini.

Selsesai!!!

14.58 WIB, 22 Juli 2010!!^^v

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

One comment on “Cita-cita dan Cinta-cinta Ver. 2

  1. Axa says:

    hehehhe kamu itu memang paling bisa ya^__^ aku setuju klo kamu cba terbitin cerpen2 mu,, siapa tahu? (hal yg tak pernah kita tahu didepan sana, tak sepatutnya hanya diintip melainkan dicoba bukan?? ^^v

    semngat!!!! aku mendukungmu^^!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s