Percaya Pada Dirimu

Percaya Pada Dirimu

Masa SMA adalah masa yang paling mengasyikkan di sana banyak hal yang bisa kita pelajari. Ada di mana masa-masa kita merasa semangat untuk menjalani hidup dan berputus asa karena sesuatu hal. Namun, di samping itu semua masa SMA adalah masa yang paling asyiki bagi sebagian orang.

Pemikiran itu tak beda dengan pemikiran Doni. Ia merasa hidupnya sungguh menyenangkan di masa SMA ini dibanding dengan masa SMP dan mungkin masa kuliah yang nantinya membutuhkan kedewasaan dalam bertindak dan tanggungjawab. Menjadi pelajar yang cukup aktif dibidang kegiatan ekstra dan anak baik-baik di lingkungan rumahya. Itu adalah hal yang lebih dari cukup untuk hidupnya, baginya itu adalah yang menyenangkan.

Hujan turun di awal hari rabu kali ini. Di bawah sebuah payung Doni berjalan menuju sekolahnya bersama seorang temannya yang baru ia kenal sejak kelas sepuluh kemarin.

“Aku suka hujan di pagi hari,” ucap Doni pada temannya tersebut.

“Bukankah itu sama seperti kata-kata tokoh utama dalam cerpenmu?” balas seorang temannya yang bernama Nufi.

“Hehe, iya, memang aku dan tokoh utama cerpen tersebut tidak beda jauh dalam menyukai hujan di pagi hari,” Doni tersenyum.

“Memang menagapa kamu kok menyukai hujan di pagi hari? Bukankah itu mengganggu kegiatan orang-orang?” tanya Nufi penasaran.

“Kamu juga tahu kan? Hujan adalah bentuk karunia Allah pada makhluknya tanpa ada hujan tumbuh-tumbuhan akan kering rerumputan akan mati dan sapi tidak bisa lagi makan sabun,” Doni menatap Nufi dengan pandangan serius.

“Sapi makan rumput!! Bukan makan sabun!!” Nufi yang menyadari perkataan Doni yang ngawur pun terkecoh dengan sikap Doni yang dikiranya sedang serius.

“Hehehe, wajahku ga pantes ya? Serius kok salah ngucapin kata.”

“Lalu kenapa?”

“Rumput butuh air dan air hujan sangat baik untuk mempertahankan kehidupan makhluknya yang bernama tumbuhan, air hujan yang mengandung nitrogen berbeda dibanding air PAM ataupun air sungai, air hujan memang berarti dan bernilai lebih untuk tumbuhan.”

“Intinya aja gimana? Kamu seneng banget sih jelasin sesuatu itu ribet dan sulit untuk dimengerti,” Nufi sudah tidak tahan dengan penjelasan Doni yang selalu jauh dari inti.

“Intinya, hujan di pagi hari adalah mensyukuri dan tetap terus dan harus bisa mengatasi hambatan dalam menjalankan tugas sehari-hari dan juga bisa jadi waktu berdoa yang asyik,” Doni tersenyum dan sepertinya Nufi pun tidak mengerti dengan ucapan Doni. Tak apalah itu urusan Nufi yang tak tahu akan ucapan Doni yang memang harus butuh penerjemah ke bahasa manusia normal dari bahasa manusia purba.

“Gus, Gus.., kamu punya lanjutan buku komik ichigo 100% yang nomor empat dan seterusnya ga?” tanya Doni mengawali pembicaraan.

“Ga ada Don, komik itu cuma dibuat dalam bahasa Indonesia cuma sampe nomor tiga itu pun bajakan. Kalo mau cari baca aja di onemanga.com,” balas Bagus masih sibuk ngutak-atik laptopnya.

“Ah, ga temen nih, masa ga dikasih sih.. dasar anak PC,” ujar Doni manyun.

“Heh, kamu sendiri gimana? Kamu tuh anak ekstra literatur malah baca komik. Gimana anak buahmu kalo ketua ekstra sastra dan menulis aja hobinya malah baca komik. Kamu tuh seharusnya baca majalah sastra sana Horizon!!!” Bagus tiba-tiba sewot.

“Oh iya, aku belum buat materi untuk pertemuan hari ini…,” Doni dengan santai berkata, wajah tanpa bersalah muncul dengan wajarnya.

“Gubrak deh…, kenapa kamu bisa jadi ketua ekstra literatur sih?”

“Kayaknya karena ga ada yang lain atau karena aku punya bakat ya?” Doni pun meninggalkan kelas dengan santainya. Sementara Bagus dibuat menyesal dengan pertanyaannya sendiri karena jawaban yang ia dapati hanya jawaban bodoh dari mulut Doni.

Bagus pun kembali mengutak-atik laptopnya kembali. Di masa kelas sepuluh, Doni dan Bagus pertama bertemu adalah saat mereka masuk di ekstra literatur. Namun, karena Bagus lebih konsen pada ekstra komputer ia pun tidak meneruskan ekstra literatur di kelas sebelas sekarang. Sedangkan sekarang ia dan Doni berada di kelas yang sama. Kelas XI IPS.

Sore hari yang cerah, anak-anak ekstra literatur pun mengadakan kegiatan di alam terbuka. Setiap dari anak kelas sepuluh diwajibkan untuk membuat sebuah puisi tentang apa yang ia lihat. Tak ada batasan dalam tema dan bentuk puisi. Beberapa antara mereka terlihat menikmati dan mudah saja membuat puisi tersebut dan yang lain berpikir dengan serius dalam pembuatan puisi tersebut.

“Reza, kalo kamu buat sebuah puisi puisi tentang apa yang akan kau buat?” tanya Nufi pada Reza.

“Aku ga kepikiran tuh…, coba tanya si ketua payah satu itu. Dia pasti sedang membuat puisi dalam otaknya,” Reza menunjuk Doni yang sedang berada di tengah-tengah lapangan upacara yang berumput hijau.

“Kalo dia sih ga usah ditanya, anak seperti dia ga akan bisa ditebak jalan pikirannya. Walaupun suka pada sastra dan suka menulis, ia paling demen baca buku tentang kesehatan dan anatomi tubuh manusia,” Nufi geleng-geleng kepala.

“Yakin Nuf?” Reza tampak tak percaya.

“Coba aja ke rumahnya, di kamarnya banyak buku tentang kesehatan, anatomi tubuh manusia bahkan buku sexiologi pun ada. Aku juga heran, buku yang ia punya ku kira buku tentang sastra ternyata bukunya beragam. Buku sastra yang ia punya juga ga sedikit pula,” Nufi menjelaskan tentang Doni yang menurutnya tidak bisa diprediksi.

Kegiatan ekstra pun berakhir. Anak-anak kelas XI tidak langsung pulang karena akan mengadakan rapat evaluasi ekgiatan hari ini. Di akhir rapat percakapan tak penting atau sering disebut ngobrol pun dimulai.

“Don, aku pinjam buku tentang sexiologi yang katanya Nufi kamu punya itu dong?” Reza memulai obrolan tersebut.

“Kamu juga tertarik ya? Keren loh…, aku juga mau mempelajarinya lagi..,” Doni tersenyum.

“Hah? Bacaan kamu kayak gitu Don?” Riris tak percaya akan apa yang ia dengar.

“Iya, aku suka baca bacaan tentang kesehatan asyik loh? Sexiologi juga bagus kok untuk dipelajari, karena sesungguhnya tak ada sesuatu yang tabu untuk dipelajari bila itu konteksnya dalam mencari pengetahuan,” ucap Doni santai.

“Bisa bijak juga kamu,” Rahmat menimpali ucapan Doni.

“Jangan ngira ya? Aku ini bijak tahu? Hohoho..,” sepertinya Rahmat akan merasa menyesal dengan ucapannya barusan. Mendengar sautan Doni yang kekanak-kanakan mananya yang bijak…

“Sebetulnya, kita butuh untuk mempelajari sexiologi, hal tersebut berguna karena bila tak ada bimbingan yang tepat kita bisa saja terjerumus pada hal-hal yang tidaklah kecil akibatnya. Kasus pemerkosaan, kasus hubungan sebelum menikah dan masalah-masalah lain, termasuk banyaknya anak-anak seusia kita yang menonton video porno karena mereka kurang dalam pengetahuan untuk mempelajari tentang sex. Bimbingan yang tepat adalah hal yang sangat penting untuk menciptakan generasi brmoral dan berakhlak baik, pembelajaran tersebut pun harus dalam pengawasan orang yang lebih megerti ataupun sudah matang dalam mempelajarinya seorang dokter contohnya,” sebuah petuah penuh makna pun terlontar dari bibir Doni. Semua anak yang sedang duduk pun bengong mendengar perkataan Doni.

“Mempertahankan cinta? Apa ya?” Nufi bingung sendiri dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Doni. Sebuah pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan mempertahankan cinta.

“Ga usah bingung, jawab aja sepemikiranmu,” ucap Doni.

“Kamu ini buat cerpen aneh-aneh aja sih, cerpen kok judulnya mempertahankan cinta. Enggak kayak biasanya, kamu buat cerpen tentang cinta…,” Nufi melirik ke arah Doni dengan tatapan curiga.

“Ga usah curiga, aku cuma mau mencoba membuat sebuah cerita tentang cinta. Kalo semua ceritaku yang dulu itu imajinasi sekarang mau ku buat yang sedikit remaja,” Doni sudah mengetahui pikiran temannya yang satu ini.

“Nufi…!!!” teriak teman-teman Nufi dari arah depan Nufi dan Doni.

“Ada apa?” tanya Nufi tak mengerti.

“Wah, selamat ya? Karyamu cerpenmu yang kamu kirim ke ajang lomba cerita remaja mendapat juara satu senasional,” ucap salah satu temannya yang langsung memberinya sebuah pelukan dan jabatan tangan selamat pada Nufi.

“Ini! Di sini!” sebuah majalah yang terbit hari ini telah ia pegang dan tercatum di majalah tersebut nama Nufi sebagai juara satu lomba ajang penulisan cerpen remaja.

Nufi pun menatap Doni, Doni hanya tersenyum kecil kepadanya. Nufi merasa tak enak pada Doni, karena ia mengikuti lomba tersebut tanpa seorang pun tahu bahwa ia ikut dalam lomba tersebut.

“Selamat ya, Nufi?!” ucap Doni.

Seharian itu Doni terlihat begitu tak semangat dalam menjalani harinya. Di kelas ia terlihat begitu malas, saat istirahat pun ia hanya tidur-tiduran di kelas.

“Doni, maaf ya bila aku tidak memberi tahumu kalau aku ikut sebuah lomba menulis cerpen..,” ucap Nufi pada Doni saat mereka pulang bersama setelah selesai membersihkan ruang ekstra literatur.

“Mengapa kamu harus minta maaf? Kamu ga salah kok,” ucap Doni dengan nada datar.

“Tapi.., tapi kamu…”

“Iya, aku hanya cemburu! Aku iri padamu, aku hingga sekarang belum bisa membuat sebuah cerpen yang baik, sebuah cerpen yang bisa aku banggakan. Cerpenku hanyalah cerpen biasa. Aku iri padamu yang punya bakat menulis…,” ucap Doni jujur.

“Kamu salah! Aku pun tak punya bakat. Kamu salah…, Don, cerpenku yang kali ini sangat terinspirasi oleh cerpen-cerpenmu. Kamu masih ingatkan tentang cerpenmu yang berjudul cerita sampah kertas, cerita rumput liar? Dua cerpen itu sungguh bagus dan aku pun sangat menyukai cerpen-cerpen tersebut. Sebetulnya hal yang bisa buat aku bisa menang juga karena kata-kata dalam cerpenmu yang dulu..,”

“Percayalah pada dirimu, ya. Itulah ahal yang kau ajari padaku dan kau pun harus percaya pada dirimu. Kamu bisa untuk terus membuat cerpen yang terbaik seperti sat kamu menulis cerpen sebelumnya…,” ucap Nufi.

“Iya, aku baru sadari sekarang. Baik, aku akan tetap percaya pada diriku dan aku pun pasti bisa untuk membuat cerpen yang bagus kelak…,” Doni tersenyum. Nufi pun ikut tersenyum.

Selesai..

maaf cerpen ini sebetulnya kurang begitu sempurna untuk dibuat tetapi semoga ada hal yang bisa kalian pelajari^^v

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s