Cinta Atas Nama Allah SWT

Cinta Atas Nama Allah SWT

Seminggu telah berlalu setelah Firman mendapat tantangan yang diberikan oleh adik kelasnya. Ia sesungguhnya tidaklah ditantang oleh adik kelasnya tetapi Firmanlah yang merasa ditantang oleh adik kelas tersebut. Selama seminggu ini pun Firman menjadi orang yang berbeda dari biasanya, ia lebih tak terduga dan tak dapat dimengerti jalan pikirannya dibanding hari-hari biasanya…

Sore hari di hari rabu, matahari sudah jatuh dari tahtanya di langit, ia sudah lengser ke arah barat menuju tempatnya akan terbenam berganti oleh gelap malam. Firman masih duduk sendiri di kantin sekolahnya, ia terlihat asyik bermain dengan handphonenya.

“Mas, kok belum pulang?” tanya Bu Jum yang mulai memberesi kantinnya dari makanan-makanan kecil dan memasukkannya ke lemari gantung di dinding kantin.

“Biasa Bu Jum, mencari inspirasi. Di rumah juga ga ada kerjaan,” balas Firman seraya tersenyum.

“Sebentar lagi ujian nasional loh, Mas. Apa enggak belajar?” tanya Bu Jum kembali.

“Tiap hari udah belajar terus Bu Jum, jadi kalo sekarang liburan dari belajar boleh dong?! Hehehe,” Firman pun bangunm dari duduknya dan mulai membantu Bu Jum untuk bersih-bersih kantin.

“Aduh, Mas ga usah bantu. Nanti biar mbake aja yang bantu,” ucap Bu Jum.

“Biasanya juga saya bantu-bantu kan Bu Jum? Jadi tak masalah kan?”

Mungkin sudah direncanakan atau hanya kebetulan, adik-adik kelas yang mengikuti ekstra KIR (Karya Ilmiah Remaja) sudah selesai mengikuti kegiatan ekstra tersebut dan mereka pun menyempatkan diri untuk jajan di kantin Bu Jum. Seorang adik kelas berjilbab yang sudah dikenal oleh Firman pun ikut mengunjungi kantin Bu Jum.

Kantin Bu Jum pun mulai ramai akan obrolan anak-anak yang ikut ekstra KIR dan beberapa anak OSIS yang memang sering ngumpul di GO (Gua OSIS) setiap harinya walaupun tidak ada rapat.

“Kok masih di sini, Mas?” tanya Dwi, ia adalah ketua OSIS pada tahunnya sekarang.

“Lagi kurang kerjaan aja,” jawab Firman singkat.

“Ah, kalo Mas Firman sih biasa gitu. Suka sampe sore di kantin Bu Jum, bantu-bantu Bu Jum, kali-kali aja nanti dapat makan gratis, gitu kan Mas?” Reiner ikut ambil bagian dalam percakapan.

“Wah, tepat sekali. Baru kali ini ada yang mengerti pikiranku.. hehehe,” Firman pun membalas seasalnya.

“Kakak kelas yang aneh,” ucap Hardinna menimpali.

Percakapan pun terus berlanjut, tak terasa waktu berputar begitu cepat. Firman dan yang lain pun pergi ke arah masjid sekolah, karena waktu telah menunjukkan pukul 16.10 WIB. Mereka yang belum shalat ashar pun mengambil air wudhu dan shalat. Firman mendapat bagian menjadi imam, hal tersebut karena ialah yang paling tua. Walaupun sesungguhnya imam dalam shalat bukanlah dilihat dari umur terlebih dahulu, melainkan dari seberapa banyak hafalan surat dalam Al-Qur’an.

Seusai shalat Firman pun langsung menjalankan misinya. Adik kelas berjilbab yang tadi ikut berjamaah pun sudah keluar dari masjid sekolah. Firman mendekati adik kelas tersebut dan mulailah percakapan di antara mereka.

“Aidna, boleh mengobrol sebentar?” tanya Firman.

“Iya, boleh saja,” jawab Aidna.

Entah bagaimana terjadinya, tanpa dikomando teman-teman Aidna menghilang begitu saja. Keadaan menjadi sepi dan yang tersisa hanya Firman dan adik kelasnya yang bernama Aidna.

“Mau ngobrol apa? Tapi maaf Mas saya tidak bisa lama-lama, nanti angkot yang ke arah rumah saya sudah tidak ada,” Aidna memulai pembicaraan.

“Ehm.., cuma sebentar kok? Aku cuma mau ehm…, gimana ya? Jadi bingung juga ngomongnya…,” Firman terlihat jadi salah tingkah.

“Mau ngomong apa? Bilang aja lagi, ga usah sungkan,” ucap Aidna.

“Gini, langsung aja ya? Aku suka sama kamu, maukah jadi kekasihku?!” Firman langsung menembak pada inti percakapan.

Aidna terlihat sedikit janggal mendengar kata-kata tersebut. Ia pun langsung diam, ia terlihat sedikit berpikir.

“Bagaimana?” tanya Firman.

“Saya akan memberikan jawaban pada Mas bila Mas Firman bisa menjawab pertanyaan dari saya ini, jawaban dari Mas Firman akan menentukan jawaban saya,” Aidna pun membalas dengan memberikan sebuah tantangan untuk ‘menjawab dengan tepat’.

“Pertanyaannya apa?” sekarang giliran Firman yang tercengang. Ia tak pernah menduga adik kelasnya yang satu ini malah akan memberinya sebuah pertanyaan untuk sebuah jawaban yang ia nanti.

“Begii pertanyaannya, bagi Mas Firman apa yang dimaksud dengan ‘Cinta Atas Nama Allah SWT’?” tanya Aidna.

“Mas Firman tak harus jawab sekarang, bila Mas Firman sudah siap untuk menjawab saat itu pula saya siap untuk memberikan jawab, tentunya setelah saya mendengar jawaban Mas Firman,” lanjut Aidna.

Firman pun mengerti maksud dari pertanyaan tersebut. Aidna ingin tahu tentang cara pikirnya tentang arti cinta yang ada dalam definisinya.

“Oke, aku akan mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaanmu,” Firman pun tersenyum, dalam hatinya ia merasa tertantang atas pertanyaan Aidna. Setelah itu mereka pun berpisah, Aidna pergi ke aras GO dan Firman ke arah tempat motornya berada.

Hari-hari berikutnya Firman pun disibukkan dengan membaca beebrapa buku remaja Islami, buku-buku berbau pink (cinta) ala Islam dan novel-novel Islami pun ia babat habis. Mulai dari Jangan Nodai Cinta karya O. Solihin dan Iwan Januar, Mengapa Harus pacaran, Berburu Cinta aras Nama Allah SWT (yang sebetulnya bukanlah buku tentang ‘cinta’) karya Muhammad bin Ismail Al ‘Umrani, bahkan novel Sandiwara Langit pun ikut dalam buku-buku pencarian jawaban pertanyaan Aidna.

“Wah-wah-wah, ini anak sudah sangat aneh kali ini…, tiba-tiba saja membaca buku kayak ginian. Ga seperti biasanya, ada apa nih?” tanya Irul teman dekat Firman.

“Mau tahu aja kamu, Rul. Baca buku kayak ginian tuh asyik, keren tahu. Nih baca bagian ini, keren deh,” Firman pun menyodorkan buku Berburu Cinta atas Nama Allas SWT pada Irul pada bab Mnejadi Pendengar yang Baik.

Irul pun membaca dengan saksama, dalam waktu beberapa menit saja ia telah selesai membaca bab tersebut. Ia pun mengangguk-angguk, “Wow, keren-keren tapi sayang ya ga ada ayat Al-Qur’annya?”

“Ya namanya juga karya orang, pasti ada kekurangannya tapi bagus kan? Sekarang setelah kamu baca, giliran kamu praktekkan. Aku mau bicara dan silakan menjadi pendengar yang baik,” Firman pun menghadap ke arah Irul.

Selanjutnya ia pun menceritakan tentang tantangan yang diberikan oleh Aidna. Irul hanya terus diam dan mendengarkan, maksudnya adalah mempraktekkan apa yang baru saja ia baca tetapi sesekali pikiranya ngelantur ke arah yang entah pergi ke mana…

Assalamualaikum, tahajud yuk?!

Sebuah pesan singkat Firman kirimkan ke teman-temannya melalui sms. Pesan tersebut pun menuju ke nomor handphone Aidna. Semenjak hari rabu kemarin ia semakin rajin beribadah, inikah dampak positif dari tantangan tersebut tetapi hal yang menjadi pertanyaan adalah ia melakukan semua hal tersebut karena memang ingin beribadah ataukah hanya karena Aidna?

“Hoi, ngapain bengong?” tanya Aris yang membuyarkan semua lamunan Firman tentang hal-hal yang terjadi beebrapa waktu yang lalu, tentang hal-hal yang terjadi seminggu ini.

Di satu minggu ini pun Firman jadi lebih dekat dengan Aristya atau lebih sering dipanggil Aris, ia adalah ketua DIS (Rohis Sekolah) tahun kemarin. Ia mulai banyak bergaul dengan anak-anak DIS dan belajar lebih tentang Islam dari mereka dan terlebih dari Aris, terutama tentang cinta. Cinta yang diajarkan Aris ternyata bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Ia mulai mengerti bahwa cinta tak sekedar perasaan yang biasa-biasa saja. Cinta menjadi perasaan universal dan kembali pada hakekatnya. Aris mengajarkan tentang stratifikasi cinta yang sebelumnya tak pernah ia sadari saat belajar dari buku-buku yang selama ini ia baca.

Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-ruimah tempat tinggal yang kmau sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At-Taubah: 24)

Dari sebuah ayat tersebut Aris menjelaskan stratifikasi cinta yang menjadi model, cara ia menjelaskan bahwa ada hal-hal penting yang lebih harus diutamakan daripada diri sendiri ataupun hal-hal yang kita sukai.

“Aidna, sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu seminggu yang lalu,” ucap Firman pada Aidna di depan perpus sekolah.

“Iya, silahkan Mas Firman jawab,” senyum simpul menghiasi wajah Aidna saat itu, entah apa perasaan yang sedang ia rasakan saat itu.

“Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa ‘dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak…’ itu ada di surat Ali Imran. Dan jawabanku atas pertanyaanmu apa yang dimaksud dengan ‘Cinta Atas Nama Allah SWT’? adalah cinta yang tulus, cinta yang tak mengenal perbedaan status sosial, cinta yang tak begitu memperdulikan keadaan fisik melainkan cinta yang tulus arena Allah SWT.”

Aidna mengangguk dan tetap diam, ia merasa ia belum berhak untuk berkata sekarang. Ada hal lain yang ingin Firman utarakan, ia menunggu sesaat. Menanti lanjutan kata-kata Firman.

“Apakah jawabanku benar?” tanya Firman.

“Tak ada jawaban yang salah dan tak ada pula jawaban yang benar seratus persen, karena pemikiran orang berbeda-beda, Mas.”

“Lalu apa jawabanmu?”

“Untuk saat ini jawabanku adalah mungkin kita masih tetap bisa menjadi teman, Mas. Dalam hidup ini tiada yang tak mungkin, kita masih punya banyak waktu untuk melakukan berbagai hal. Bila kita jodoh suatu hari nanti berikan saya jawaban yang lebih dari jawaban Mas Firman saat ini.”

“Ehm…, jadi begitu ya? Baiklah. Selama kita masih bisa jadi teman mengapa tidak?” Firman pun tersenyum.

Firman pun memberikan jalan pada Aidna untuk kembali ke kelasnya. Firman berdiri dengan pikiran yang pergi jauh entah ke mana. Dalam pikirannya ia sadari, dalam waktu seminggu ini ia baru hanya mendapat sedikit dari hal-hal yang seharusnya ia cari lagi untuk jawabannya.

Waktu kembali bergulir seperti hari-hari yang lalu. Firman dan Aidna pun kembali pada porsi mereka masing-masing. Mereka kembali mejadi teman tetapi sedikit perubahan terjadi, Firman di kala tertentu jadi lebih sering mengirim sms pada Aidna.

Tujuh tahun telah berlalu, Firman dan Aidna pun kini sudah lebih dewasa semenjak waktu mereka berdua bicara tentang cinta. Firman telah menyelesaikan studinya begitu pula dengan Aidna. Mereka pun secara tak sengaja dipertemukan kembali oleh Sang Pencipta di sebuah hari yang dingin. Saat hujan membasahi bumi, saat butiran-butiran air hujan berjatuhan ke bumi.

“Assalamualaikum,” sapa Firman.

“Waalaikumsalam,” jawab Aidna.

“Aidna, apa kabar?” sebuah pertanyaan basa-basi yang cukup klise mengawali pembicaraan.

“Alhamdulillah baik, seperti yang Mas Firman lihat saat ini,” jawab Aidna.

“Aidna, boleh aku menjawab kembali pertanyaanmu tujuh tahun yang lalu?” tanya Firman.

“Tak ada larangan untuk menjawab pertanyaanku, hingga kapan pun Mas Firman ingin menjawab,” balas Aidna.

“Cinta Atas Nama Allah SWT adalah cinta yang tak melanggar aturan-Nya. Cinta yang tetap menjaga kesucian cinta tersebut, cinta yang tak hanya boleh dan benar tetapi cinta yang harus pula sejalan dengan aturan Allah. Bila cinta diartikan sebagai bentuk hubungan pacaran itu tak lebih dari mendekati zina, dan aku sungguh berterima kasih padamu, karena telah menolakku. Cinta atas nama Allah SWT adalah cinta yang diridhoi oleh-Nya. Cinta yang dibalut oleh sebuah hubungan yang suci. Itu jawabanku atas pertanyaanmu waktu itu. Namun, sesungguhnya itu hanyalah penyempitan arti cinta yang hanya berhubungan antara rasa cinta dua insan manusia. Lalu apakah engkau mau menikah denganku?”

Aidna tersenyum mendengar perkataan Firman, kakak kelasnya semasa SMA yang sekarang sudah lebih dewasa dari waktu mereka berbicara tentang cinta di masa SMA.

versi lain cinta atas nama Allah SWT-diperpanjang

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

4 comments on “Cinta Atas Nama Allah SWT

  1. Ayu rahayu says:

    Sedikit tmbAhan.Seindah-indahnya dan sebaik-baiknya cinta adalah cinta yg didasarkan akan kecintaan kita kpd Allah swt. dmana bila kt cnta kpdnya akn smkn mndktkn kta kpd Allah. Cerpen yg mnarik. Dari ksh nyata ya? Dtnggu crta slnjtnya

  2. Axa says:

    wah aku terharu membaca bagian yang terakhirnya permadi^^

  3. sa says:

    Maaf,,aq bru slse membca.x skrg..

    Keren.. Keren bgt.! Awl.x agk membggkan n membsnkan,,tp isi.x,,stlh firman menyatakan cinta itu,,mulai asik.. Jwbn2.x,,bgus.. Pokok.x keren..^^b

    Maaf klo comment.q ga ngenakin atw sejns.x..n_n

  4. ammarulloh says:

    Cinta adalah perasaan yang diberikan kepada kita (manusia) oleh ALLOH SWT disaat kita menemukan seseorang yang paling kita sayangi dan yang selalu kita puji sehingga kita rela melakukan apa saja untuknya. Cinta dapat mengubah rasa pahit menjadi manis,sakit menjadi sembuh,kemarahan menjadi rahmat,penjara menjadi telaga. Cinta yang membimbing kita kepada jalan yang lurus(benar) dan mengenalkan kita kepada Sang Penguasa (ALLOH SWT) dan membuat kita rajin beribadah kepadaNYA itulah Cinta yang sejati.
    itu hanya pendapat saya mengenai cinta,maaf jika ada kesalahan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s