Cerita Burung Beo

Burung beo, burung yang telah kita ketahui sebagai burung yang bisa tuk menirukan perkataan manusia. Ini adalah sedikit kisah tentang seekor burung beo. Kisah yang kudapat dari guru ngajiku. Semoga kita bisa tuk mengambil pelajaran dari kisahnya, selamat membaca…

Di suatu malam, saat guruku bermalam di rumah seorang temannya beliau medengar suara “Magelang-magelang” , suara seorang kernet mobil umum. Guruku pun terjaga kembali sesaat setelah beliau tertidur.

“Jam segini masih ada mobil?” tanya guruku

“Bukan, bukan suara dari kerenet, itu berasal dari burung beo di samping rumah. Karena rumah ini dekat dengan terminal maka burung beo tersebut menirukan ucapan kernet-kernet tersebut,” sang pemilik rumah pun menjelaskan asal suara tersebut.

Seekor burung beo hanya bisa tuk menirukan tanpa tahu arti ataupun kandungan makna yang ada dalam ucapan tersebut…

(kisah di atas hanyalah kisah pembuka tuk cerita inti di bawah…)

Seorang kiayi memiliki seekor burung beo. Kiayi tersebut mengajari burung beo tersebut tuk mengucapkan asma Tuhannya dengan ucapan “Lailahaillah..” terus-menerus kiayi tersebut mengajari burung beo tersebut hingga akhirnya burung beo tersebut bisa tuk mengucapkan kata tersebut.

Di suatu sore saat pak kiayi memberi makan pada burung beo tersebut burung tersebut dengan lancarnya tuk bersyahadat dengan ucapan “lailahaillah” yang telah diajarkan oleh pak kiayi. Pak kiayi senang burung beo tersebut bisa tuk ucapkan akta-kata tersebut.

Setelah selesai memberi makan pada burung beo tersebut pak kiayi tersebut pun pergi meninggalkan burung tersebut. Saat itu, pak kiayi lupa tuk menutup pintu sarang burung tersebut hingga akhirnya burung tersebut keluar dan.. “Cieeet..!!!” itu ucap sang burung beo saat diterkam oleh seekor kucing dan akhirnya menjadi makan malam kucing tersebut.

Pak kiayi yang melihat burung beonya mati menangis. Warga yang telah mengenal baik pak kiayi da burung beonya merasa ikut bersedih,

“Pak, jangan bersedih. Biarkan kami tuk mencari pengganti burung tersebut dan pak kiayi bisa kembali mengajari burung baru tersebut,” ucap seorang warg kepaa pak kiayi.

“Aku menangis bukan karena kematian burung beoku, tetapi aku menangsi meratapi kehidupanku, aku tak tahu ucapan apa yang akan menjadi ucapan terakhirku. Karena bila setiap harinya ku membaca syahadat tak bisa menjadi jaminan saat ku mati nanti aku kan mengucapkan kata tersebut di akhir hayatku,” jawab pak kiayi dengan bijak.

Pelajaran yang bisa kita petik dari cerita di atas adalah

  1. Kita tak tahu ucapan apa yang akan menakhiri hidup kita di dunia.
  2. Burung beo tersebut hanya bersyahadat dengan lisan tetapi belum belum bersyahadat dengan hatinya. Maka saat ia diterkam kucing bunyi burunglah yang ia keluarkan.
  3. Saat kita akan diterkam oleh Izroil nantinya bisakah kita ucapakan syahadat? Ataukah kata-kata lain yang terucap? Bila hanya lisan yang berucap tetapi hati belum meyakini bahwa “tiada tuhan selain Allah” mungkin saja saat mati nanti kita tak bisa tuk ucapkan kata-kata tersebut tetapi masih ada waktu untuk kita tuk terus mengingat hal ini.
  4. semoga berguna, terutama bagi penulis dan umumnya bagi kita semua. Terima kasih…
Advertisements

2 comments on “Cerita Burung Beo

  1. afifah says:

    ceritanya sangat menarik banget,dan kita yang disini ikut kagum…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s