Axa jadi Artis

Axa Agtiera, seorang cowok tingi, cakep, putih, dan berlesung pipi yang tak sengaja kutemukan. Ehm…, walaupun aku sendiri lupa di mana dan kapan aku bertemu dengannya tetapi seingatku dia add aku sebagai temannya di jejariug sosial dunia maya. Awal mula kenal aku tak begitu tertarik tetapi sejalannya waktu aku dan dia pun bisa jadi teman yang baik. Inilah yang kusebut sebagai takdir pertemuan, siapa sangka pertemuan dengan seseorang bisa menjadikan kita dekat dan lebih bisa mengenal karakter orang lain.

“Assalamualaikum,” sebuah salam pembuka dari Axa saat bertemu denganku di perpustakaan FIB.

“Waalaikumsalam, sudah selesai kelas?” aku pun membalas salam Axa.

“Alhamdulillah sudah selesai semua, kamu sendiri gimana Heru?” tanya Axa.

“Sudah selesai juga kok, ini baru aja selesai keluar dari kelas, hehe..,” aku tersenyum tanpa alasan, yah seperti biasa tersenyum adalah salah satu kebiasaanku kan katanya senyum itu ibadah.

“Kalo gitu boleh ngobrol-ngobrol?” tanya Axa.

“Ye, boleh aja lagi. Kayak siapa aja, emang artis apa harus buat jadwal dulu untuk ngobrol.”

“Bukannya kamu Afgannya FIB?” seloroh Axa bercanda padaku.

“Ye, ini lagi ikut-ikutan. Yang kemarin ikut Bipop UI siapa?” balasku tak mau kalah.

Kami pun mulai untuk mengobrol. Oh ya, aku belum mengenalkan Axa Agtiera secara lengkap. Ia adalah mahasiswa sastra jepang 2008, berarti dia lebih tua setahun di atasku. Ia juga cowok berwajah kalem dan cakep (eits, jangan dikira aku maho ya? Aku hanya mengatakan hal yang jujur), suaranya biasa-biasa aja sih setahuku tapi entah saat bernyanyi karena aku tahunya dia ikut kontes bintang pop UI dan masuk ke semi final (berarti suaranya bagus). Setahuku juga ia pengguna aku-kamu beda dari anak-anak Jakarta lain yang lebih banyak menggunakan loe-gue, sebetulnya juga ga jadi masalah sih…

“Aku mau tanya, gimana perasaanmu bila teman dekatmu sedikit acuh padamu saat ini?” tanya Axa padaku.

“Ehm…, gimana ya? Aku sih tetep peduli pada mereka, eh dia karena cuma satu orang ya? Hehehe..,” jawabku sembari sedikit bergurau.

“Terus bila merasa terasing dari teman-teman dekat gimana?”

“Aku sendiri sudah pernah mengalami hal tersebut, teman-temanku semasa SMA sangat-sangat hebat, mereka anak-anak super sibuk, ada yang jadi ketua OSIS ada yang anak olimpiade, ah pokoknya prestasi baiklah. Terus saat ingin main ma mereka mereka sendiri sibuk, sering jadinya aku sendirian, yah apa mau dikata. Saat seorang teman lebih mementingkan pacarnya dan aku terlupakan juga salah satu moment yang pernah terjadi padaku. Aku mau gimana lagi? Itu hidup mereka dan aku merasa tak berarti bagi mereka tetapi mau dibuang bagaimana pun aku sendiri tak peduli. Mereka tetap jadi temanku. Kini pun saat aku sms teman-temanku kadang mereka tak balas smsku, mereka punya dunia mereka sendiri dan semoga menyukai dunia mereka, di sini hanya bisa mendoakan mereka tetap bahagia, hehe..,” tuturku panjang lebar dan tak terasa hal tersebut adalah curcolku. Axa sadar atau tidak itu bukan urusanku tetapi setidaknya aku jadi sedikit lega juga.

“Wah, kamu mang baik banget ya? Bijak pula. Kamu masih muda tetapi berpikir lebih dewasa dariku,” puji Axa.

“Weleh, ga juga. Sebetulnya aku sendiri masih payah,” aku tersenyum mendengar pujian Axa.

“Hei, Sam,” Axa menyapa seorang cewek yang aku juga kenal. Ia bernama Rani tetapi entah mulai kapan Axa pun memanggilnya Sam. Untuk sapaan ini sebaiknya aku tak akan ceritakan pada kalian.

“Sam-sam, ini siapa sih yang ngajarin loe pake sapaan itu?” Rani atau Sam marah-marah tak jelas pada Axa.

Perlu untuk diketahui juga, Sam adalah teman Axa sedari TK-SD-SMP-SMA, mereka satu sekolah hingga sekarang pun masih satu sekolah, satu fakultas lagi tetapi sekarang mereka beda jurusan Axa Jepang dan Sam Korea. Betapa menderitanya Axa yang selalu bersama cewek satu ini (hehehe…, maaf ya Kak Rani^^v)

“Ups…, ada Permadi. Oh…, ternyata Min-Ho (panggilan Axa khusus Rani) sukanya sama cowok? Suka ma Heru?” Sam tiba-tiba saja mengadili keberadaanku.

“Apaan sih?” ucapku sinis.

“Asyik, ternyata Heru ma Min-Ho itu maho. Kasihan…,” Sam tambah bertingkah seperti anak kecil.

“Heru, harap sabar ya kalo sama Rani si Sam ini,” Axa geleng-geleng kepala.

“Udah biasa kok.”

Rani pun ngeluyur gitu aja. Mungkin tak terima atas ucapan Axa yang ngenak banget di hatinya tetapi aku yakin, cewek kayak dia tak akan mengambil hati perkataan Axa.

“Eh, Heru. Bagaimana menurutmu bila aku jadi artis?” Axa memulai kembali pembicaraan.

“Cocok kok? Kan udah ada Rayi-RAN, terus mbak KCB, tambah satu kamu juga keren. Ntar jadi kayak Afgan, ganteng bertalenta menyanyi,” celetukku.

“Tidak akan merasa minder kan nanti? Hehehe,” Axa bertanya dengan nada bercanda.

“Ehm…, kayaknya kebalik deh. Kamu itu yang jaim ga ntar temenan ma aku yang cowok biasa-biaa aja,” balasku.

Tiga bulan berlalu begitu cepat. Akhir-akhir ini pun aku jadi jarang melihat keberadaan Axa di musholla FIB ataupun di perpustakaan. Memang sih, aku lebih sering berada di selasar gedung delapan jadi jarang juga tuk bertemu dengannya.

“Her, loe tahu ga yang namanya Axa anak jepang 08?” tanya Gita padaku.

“Tahu, memang kenapa?” tanyaku penasaran.

“Suka ya, Git?” ledekku pada Gita.

“Enggak, loe tahu ga sih dia kan baru aja buat video klip lagu? Dia kan sekarang jadi artis, yah lebih tepat lagi sebagai penyanyi,” jelas Gita.

“Heh? Aku baru tahu. Gimana video klipnya? Terus dia nyanyi lagu bergenre apa?” aku jadi penasaran.

“Wah Gita ya? Setelah nolak tiga cowok sekarang deketin Heru?!” tiba-tiba saja Khosyi muncul dan langsung ngecengin.

Aku melihat jam pada handphoneku dan waktu telah menunjukkan pukul 15.15 WIB. Aku pun langsung pergi dari selasar gedung delapan. Anak-anak yang sedang di selasar pun berseloroh seasal mereka.

“Wah, Heru. Kejam banget. Khosyi baru aja dateng langsung pergi,” ucap Fiqi.

“Tuh, Heru marah kan kamu cengin Khos,” Norman tak mau kalah berkomentar.

Dan yang lain, entah mereka bicara apa karena aku tak begitu mendengar lagi. Tak pedulilah, aku sendiri mau shalat.

Di musolla ku dapati Axa sedang membuka sepatunya. Ia menatapku sembari tersenyum.

“Assalamualaikum,” salamku padanya, tak lupa ku sodorkan tanganku tuk berjabat tangan dengannya.

“Waalaikumsalam,” jawabnya, ia pun meraih tanganku dan menjabatnya.

“Sekarang sudah jadi artis nih? Wah…, jadi yang dulu itu bukan bercanda ya?” aku memulai tuk berbincang padanya.

“Hehe, iya tuh. Pas Bipop kemarin ada produser yang menawiku untuk mencoba membuat satu single, ya udah aku iyakan saja. Bukannya aji mumpung tapi bila ada bakat sedikit mengapa tidak diasah lebih,” Axa menerangkan bagaimana dia bisa sampai jadi artis.

“Keren-keren, minta tanda tangan dan foto bareng gratis kan? Atau sekalian gratisin aku makan di kansas nih?” aku mulai lagi tuk bercanda.

“Iyalah, sama teman sendiri bayar pula. Toh aku juga belum jadi artis, baru satu lagu, entah bagaimana tanggapan pasar dengan laguku. Aku sendiri belum tahu,” Axa berkata denan bijak.

Setelah itu kami pun mengambil air wudhu dan shalat ashar berjamaah. Semoga saat ia menjadi terkenal nanti ia tak akan menjadi kacang lupa kulitnya. Bukan bermaksud ingin tetap dikenang olehnya bukan itu tetapi semoga ia tetap ingat. Siapakah yang telah menciptakannya, sipa yang selalu memberinya kesempatan tuk menghirup udara secara bebas, semoga tetap bisa shalat tepat waktu secara berjamaah. Karena tak jarang orang yang telah jauh melangkah di panggung gemerlap ketenaran tak urung lebih mementingkan urusan duniawinya.

Bisa bertemu dengan cowok satu ini adalh sebuah pertemuan yang berarti. Memang, setiap pertemuan itu tak ada yang sia-sia tetapi ada sebuah pertemuan yang berarti lebih. Pertemuan di mana kita bisa menjadi lebih baik saat mengenal orang bukan saat pertemauan yang membuat kita lupa dan menjauh dari kebaiakan tersebut.

Depok Town Square, di food court. Aku harus lebih banyak untuk bersabar saat ini, perutku sudah lapar tetapi teman makanku saat ini sedang memenuhi permintaan para penggemarnya. Ya, Axa. Kini ia sudah menjadi seorang artis papan atas, album pertamanya yang bertajuk cinta dan persahabatan disambut baik oleh kalangan rakyat jelata hingga anak-anak orang kaya  bin tajir. Genre jazz menjadi inti albumnya, walaupun ada dua lagu bergenre pop dan satu bergenre rock. Aku sendiri tak menyangka dia bisa berteriak-teriak menyanyikan lagu rock tersebut.

Sedikit bocoran nih, sebelumnya aku sudah download secara ilegal di internet untuk beberapa lagunya tetapi secara tidak disangka aku diberi tiga buah cd albumnya secara cuma-cuma plus sebuah buku berjudul kokology. Hahai…, aku hapus semua deh lagu ilegal tersebut^^v

“Sudah bisa kita mulai makan-makannya?” wajahku sudah sangat terlihat kelaparan.

“Bukannya sudah datang dari tadi? Mengapa tidak makan dahulu?” tanya Axa.

“Lha, kamu yang traktir kok aku tinggalin makannya. Kan ga lucu,” jawabku.

“Oh ya, terima kasih untuk traktirannya Kak Axa…,” aku tersenyum menatap makanan di hadapanku.

“Iya,” ucap Axa singkat.

“Ayo kita berdoa dahulu,” aku dan Axa pun berdoa bersama. Selanjutnya aku selesaikan tugasku tuk mencicipi hingga habis makanan yang sudah tersedia di hadapanku. Hohoho…

Axa tetap menjadi Axa yang aku kenal. Seorang teman yang baik dan semakin baik malah saat ini. Teman, ya seorang teman. Teman adalah seseorang yang tak mudah begitu saja diputuskan hubungannya. Dalam sebuah buku aku juga temukan kata-kata yang cukup menarik untuk dimaknai. Begini bunyinya: walaupun kita adalah anggota dari sebuah salon yang begitu saja mudah tuk memotong rambut orang, kita tak akan bisa begitu saja memotong hubungan kita sebagai teman.

Ya, teman adalah seorang di mana kita bisa berbagi. Saat senang, saat sedih. Aku yakin, seorang teman tak akan pernah keberatan tuk mendengar keluh kesah kita, alih-alih ia-mereka- mungkin kan merasa senang , karena mereka bisa berguna tuk membantu teman tersebut. Menjadi tempat sampah tuk membuang uneg-uneg yang ada dalam otak. Itulah teman.

Namun, sebagai teman. Kita juga harus mengerti perasaan teman kita juga. Jangan terlalu bergantung pada teman pula, teman juga manusia ada kalanya merasa kalut dan butuh waktu sendiri. Waktu tuk dimengerti bukan hanya tuk terus mengerti. Adik kelasku berkata “lebih indah saat kita mengerti bukan saat kita ingin dimengerti”.

Ehm…, sepertinya aku terlalu panjang untuk bercerita tentang pikiranku ya? Semoga cerita di atas bisa menghibur. Terima kasih…

Selesai

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

4 comments on “Axa jadi Artis

  1. Axa says:

    wah ketika pertama kali melihat judulnya aku kaget sekali hehehe (mengapa tiba2 ku jadi artis,,,,padahal aku hanya mahasiswa biasa) ^^v tapi setelah ku baca secara keseluruhan, seperti biasa kamu menghadirkan suatu pesan tersembunyi dibalik cerpen2 mu itu… bagus sekali dan aku berterimakasih karna pesan tersebut tersampaikan padaku dan aku bisa banyak belajar kembali… sekali lagi terimaksih permadi dan terus berkarya^^v kamu pasti bisa^^ amin

  2. wAAAHHHH, ahahaha… Cie kak Axa….di “aminin” ajaaa ^_^

  3. silvia says:

    Waduh, saya jadi penasaran dengan sosok seorang axa yang diceritakan disini. Sepertinya sosok yanhg mendekati sempurna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s