Selalu Untuknya

“Kak Aristya, kapan kau kan buka hatimu untukku…?” ucapku lirih saat ku termenung sendiri di kamarku. Meratapi nasibku yang tidak beruntung dalam hal cinta.

“Kenapa sih ga sadar juga aku di sini mengharapkanmu?” lanjutku uring-uringan. Kesal, sebel, tetapi juga berharap perasaan hatiku saat ini.

Kantin sekolah masih sepi pagi ini. Mbak penjaga kantin pun baru siap-siap untuk menata makanan yang akan dijual hari ini. Aku berniat untuk membeli air mineral, karena aku merasa haus pagi ini.

“Mbak-nya…, beli air mineralnya dung?” pesanku pada penjaga kantin. Belum sempat mbak penjaga kantin mengambilkan pesananku, terdengar suara cowok yang memesan makanan. Suara itu sangat familiar sekali denganku.

“Mbak, nasi goreng dong?” pesan suara itu, hatiku tersentak mendengarnya. Itu adalah suara Aristya, Aristya yang…

“Pagi, Mira?!” sapanya padaku seraya tersenyum simpul. Senyumnya begitu indah, lesung pipinya pun memukau.

Aku terdiam sejenak, aku amati lekat-lekat wajah kakak kelasku satu ini. Ia begitu cakep, keren, serta memukau. “Pagi, Kak Aris,” aku pun membalas senyumnya dengan senyumku yang tidak kalah manisnya.

“Kok pagi-pagi sudah ke kantin? Belum sarapan ya?” tanyanya sambil mengambil tempe goreng yang sudah ditata untuk dijual.

“Enggak kok? Aku tadi haus, jadi aku beli air putih,” jawabku.

“Lho, Kak Aris sendiri pagi-pagi kok sudah jajan nasi goreng?” aku balas bertanya.

“Oh, aku sih tadi belum sempat sarapan. Ibuku kan masih di Palembang jadi untuk sementara aku harus buat sarapan sendiri, sedangkan aku kan orangnya on time kalo nunggu angkutan? Jadi lebih pentinga angkutannya?!” jawab Kak Aris sambil tersenyum, inilah salah dua dari serangkaian salah-salah yang membuatku jadi salah satu cewek yang menyukainya. Sikapnya yang ramah serta senyumnya yang terasa menyejukkan.

“Ini, Mas, nasi gorengnya?” mbak penjaga kantin menyodorkan nasi goreng pada Kak Aristya.

“Mau nemenin aku makan?” tanyanya sambil menatapku.

“Boleh aja?!” ucapku datar. Namun, dalam hatiku tidak sudah tidak karuan lagi. Ga mungkin hatiku datar aja. Secara!!! Kak Aristya ngajak aku nemeni dia makan…

Sambil menikmati menyaksikan Kak Aristya makan, aku dan Kak Aristya ngobrol-ngobrol. Tidak punya topik yang pasti dalam pembicaraan kami tapi pembicaraan itu sangat seru. Kadang, Kak Aristya menyelipkan guyonan-guyonan yang segar. Pokoknya seru deh…

“Uh…, suntuk nih? Pelajaran biologi atau lagi mendongeng sih, Pak?” keluhku dalam hati. Pelajran biologi memang menjadi momen yang paling tidak menyenangkan dalam dunia pembelajaranku saat ini.

“Mir, Mir, lihat tuh yang lagi berjalan ke sini?” Unge, teman akrabku menggoncang-goncangkan tubuhku. Aku tersentak kaget dibuatnya.

Saat aku menatap keluar jendela kelasku, aku dapati Kak Aristya dan teman-temannya berjalan menuju arah kelasku. Mungkin ia akan pergi ke perpustakaan yang letaknya dekat dengan kelasku.

“Cie…cie…, segitunya? Kedip dung, Mbak? Mas-nya kan juga ga akan langsung hilang kalo kamu kedip?!” ledek Unge.

“Unge!!” aku menatapnnya dengan tatapan marah. Namun, bukannya takut ia malah ngikik. Tersenyum ala Mbak kunti.

Sekali lagi, inilah saat yang paling buat aku hancur. Buat aku merasa dunia terasa tidak adil bagiku. Saat aku tahu, saat aku menyaksikan. Kak Aristya menatap dia dengan penuh harap. Walaupun Kak Aristya juga tahu setiap tatap harapnya tak akan tersampaikan padanya…

Namun, mengapa sih saat dia ada di hadapan Kak Aristya, Kak Aristya masih juga menatapnya? Kak Aristya, tidakkah kau sadari setiap tatap harapmu membuatku hancur. Aku sedih, karena dalam hatimu hanya ada namanya. Mengapa harus dia?

Nafsu makanku pun secara ajaib menghilang. Nasi sayur yang berada di hadapanku pun akhirnya hanya menjadi mainan bagiku. Aku benci, aku benci saat Kak Aristya menatapnya.

“Mira,” sapa Kak Aristya yang sedang berjalan menujuku.

“Iya, Kak. Ada apa?” tanyaku, ku hentikan pula langkahku menuju gerbang sekolah.

“Ehm…, ada waktu ga sekarang?” tanyanya sedikit salah tingkah. Ia jadi terlihat lucu. Namun, tetap saja keren!!!

“Mira sih selalu ada waktu untuk Kak Aristya,” ucap Unge tiba-tiba, “Jagain Mira ya, Kak?” Unge pun langsung saja pergi dan gabung sama anak lain untuk menuju gerbang.

“Memangnya ada apa, Kak?” tanyaku penasaran.

“Enggak ada apa-apa sih, cuma mau ngobrol aja. Mau?” ajaknya padaku.

“Boleh aja, di mana?” aku balas bertanya.

“Gimana di dekat tempat parkir? Di sana kan ga terlalu banyak orang juga ga terlalu sedikit orang,” Kak Aris memberi saran.

“Ayo aja,” tanpa ku sadari senyum mengembang di bibirku. Hatiku pun berbunga-bunga.

Daerah di dekat tempat parkir memang menjadi tempat yang lumayan asyik untuk ngobrol. Terutama bagi muda-mudi yang menjalin kisah cinta. Aku jadi sedikit salting saat tiba di sana. Yang ku lihat hanya cowok-cewek yang lagi pacaran. Namun, ada juga sih yang lagi ngumpul-ngumpul sepulang sekolah.

“Mau ngobrol tentang apa sih, Kak?” tanyaku saat kami sudah duduk di sebuah anak tangga menuju tempat parkir.

“Aku bingung mau mulai dari mana, tapi intinya aku butuh saran darimu,” aku baru kali ini melihat wajah Kak Aristya begitu serius. Tatapannya menuju ke suatu tempat yang tak bisa ku jangkau.

“Memang ada maslah apa sih, Kak?” tanyaku sambil menatapnya.

“Menurut Mira, cinta itu apa?” tanya Kak Aristya yang masih memandang jauh ke suatu tempat.

Hatiku mencolos. Aku tersentak oleh pertanyaan Kak Aris, inilah yang buat aku tak mengerti pikiran cowok. Mereka terlalu blak-blakan, “Menurutku, cinta itu perasaan yang tak bisa untuk diungkapkan dengan kata. Ia begitu rumit serta membingungkan. Namun, cinta adalah perasaan yang indah,” jawabku lancar.

“Jawaban yang keren,” ucapnya sambil tersenyum kepadaku.

“Cinta memang sulit untuk kita mengerti ya?” lanjutnya.

“Betul, begitulah cinta,” jawabku singkat.

“Sampai-sampai, kita tak pernah sadari bahwa sejauh apa pun cinta yang kita miliki tak tersentuh oleh dia yang kita cintai, kita tetap terus mencintainya,” Kak Aris menghela nafas dan kembali menatap ke suatu tempat yang jauh di sana, “Menurutmu, bila aku terus mencintai seorang yang tak akan pernah lagi mencintaiku, apakah termasuk dari orang yang bodoh?”

Hatiku tertohok. Sakit…, entah dari mana pisau itu. Secara ajaib hatiku tertusuk oleh pisau itu. Aku ga kuat tapi aku paksakan tuk tidak menangis. “Enggak kok, bila memang cinta mengapa tidak? Kak Aris berhak mencintai orang lain secara bebas. Namun, hal yang harus Kak Aris camkan itu bila kita mencintai orang lain bersiaplah untuk bertepuk sebelah tangan. Karena kemungkinan itu selalu ada,” ucapku dengan nada memberi semangat. Ya memberi semangat pada diriku sendiri.

“Aku benar-benar tak mengerti, aku merelakannya pergi dariku. Namun, aku masih saja berharap untuk ia kembali ke sisiku.”

“Sebegitunya kah, Kakak mencintainya? Memberikan yang terbaik baginya? Namun, terus terluka karenanya?” ucapku dalam hati. Hatiku miris. Hatiku terasa teriris-iris oleh ucap Kak Aris.

“Aku masih berharap pada Sherish,” saat Kak Aris ucapkan nama gadis itu hatiku semakin tak karuan.

“Sherish, seberapa berartinyakah dia bagi Kak Aris? Aku di sini sakit, Kak. Sakit. Sakit mendengar Kakak terus mencintai dia yang telah pergi meninggalkan Kakak. Aku di sini selalu berharap pada Kakak untuk mencintaiku. Namun, aku tak pernah ada dalam hati Kakak…,” batinku terasa bergejolak. Air mata dalam diriku telah siap untuk ditumpahkan. Namun, sekali lagi aku paksakan perasaanku.

“Tetap semangat aja ya, Kak? Semoga Sherish bisa mendengarkan permintaan hati Kak Aris,”  ucapku dengan senyum yang begitu menyayat hati, “Kenapa cinta Kakak selalu untuknya? Bukan untukku?” lanjutku dalam hati.

Kak Aris hanya membalas senyumku dengan senyumnya yang begitu manis. Senyum serta lesung pipinya membuatku semakin tak kuat menahan perasaanku.

“Bagi Kak Aris, aku itu apa? Sebagai siapa dalam hidup Kak Aris?” aku beranikan diriku untuk bertanya pada Kak Aris. Aku tahu, bila aku mendengarnya aku semakin sakit…

“Sebagai adikku…”

Aku menangis sejadi-jadinya. Ku tumpahkan air mataku hingga aku merasa puas, hingga ku merasa tak ada lagi rasa sakit dalam hatiku. Air mata itu tak henti-henti pula bila aku mengingat semuanya. Tentang cintaku yang bertepuk sebelah tangan, tentang Kak Aris yang masih berharap pada Sherish, tentang diriku yang hanya ia anggap sebagai adiknya, tentang segala hal yang telah terjadi…

Aku hanya berteman Copu, sebuah boneka kecil yang ku miliki sejak dulu. Aku menatap boneka itu, aku masih sesenggrukan. Entah sudah berapa menit aku menangis. Kecewa, sedih, patah hati, dan pula berbagai macamperasaan lainberkumpul dalam hatiku kini.

Aku merasa tidak kuat. Aku kembali menangis. Menangis, menangis, dan terus menangis…

Sehari sudah, ku harus kuat untuk jalani hidupku ini. Dengan perasaan yang begitu hancur aku harus terus meneruskan hidupku. Mungkin terlalu berlebihan tapi aku memang benar-benar patah hati.

Istirahat pertama memang menjadi waktu yang tepat untuk ke kantin mencari jajanan. Saat aku dan Unge sedang berjalan ke kantin, saat itu aku berpapasan dengan Kak Aris. Ia melempar senyum padaku, memberi salam layaknya hari-hari biasanya.

Seketika itu pula aku kembali mengingat hari kemarin. Rasa sakit akan hati yang teriris kembali rasuki hatiku. Namun, aku harus kuat. Ku paksa diriku untuk membalas senyumnya.

Aku harus kuat. Ya! aku harus kuat, aku ga boleh begitu saja kalah akan kenyataan ini…

Tamat!!!

Advertisements
This entry was posted in cerpen.

5 comments on “Selalu Untuknya

  1. Ehm, cinta emang kadang2 menyakitkan, tapi apakah yang menyakitkan itu cinta, bkankah cinta itu indah? bkankah cinta itu menyenangkan? bkankah cinta itu sweet memory and moment

    ehm, to me something that hurt someone hearth is not love…

    nasehat buat mira, masih banyak cowok yang lebih baik
    hahaha…just kidding

  2. permadi says:

    baik ris, terima kasih^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s